Cerpen "Maafkan Aku, Theo.."
















“Kuliah hari ini sampai di sini dulu, minggu depan kita mulai Bab VI,” suara bariton Pak Harjadi menggema di seluruh ruang kuliah dan ini cukup membuatku tersentak dari lamunanku di deretan belakang. Beberapa hari ini aku lebih suka duduk di deretan belakang sampai - sampai teman - teman heran karena itu di luar kebiasaanku. Tentu saja ini semua ada maksudnya. Aku ingin melamun sepuasnya.
“Valent, ke kantin yuk!” suara Sisil tiba - tiba sudah sampai di telingaku.
“Nggak ah...males,” kataku sambil membereskan buku-buku. ”Aku mau langsung cabut nich!”
“Koq tumben sih kamu akhir-akhir ini suka sendu?” tanyanya dengan rasa ingin tahu. “Ada masalah? Ama siapa? Theo? atau?”
Belum selesai perkataannya aku langsung menyela. “Nggak ada apa-apa koq cuma badanku agak nggak enak akhir-akhir ini. Aku cabut dulu, ya!”
Dengan gontai aku tinggalkan Sisil yang masih bengong.
“Sorry Sil, aku nggak bisa mengatakannya sekarang meski aku tahu kamu cukup bisa dipercaya,” batinku.
Kuakui, beberapa hari ini aku begitu tanpa semangat untuk kuliah, belajar dan kegiatan lainnya. Aku bingung bagaimana aku harus bersikap.
Sesampainya di kost, aku langsung tiduran sambil menatap langit-langit kamarku. Merenung....itulah yang saat ini aku lakukan! Entah sudah berapa jam dari hari ini yang telah kuhabiskan untuk pekerjaan satu ini, padahal hari masih siang. Aku menarik nafas panjang seolah ingin melepaskan semua beban yang ada di dadaku.
***
Hari ini hari Sabtu, hari yang seharusnya dinanti-nanti dengan sukacita, terutama bagi mereka yang telah punya doi seperti aku ini. Tapi kini lain masalahnya. Aku malahan takut menantikan hari menjadi sore, tak lain karena nanti sore Theo akan datang! Itu yang dikatakannya dalam suratnya yang terakhir.
Tiga kali malam minggu aku mencoba menghindarinya dengan kabur ke Jakarta, ke rumah tanteku. Tapi aku tidak pernah menghubunginya padahal ia juga di Jakarta. Di kost aku hanya bilang kalau aku ke rumah teman. Semua ini tentu ada sebabnya, ya.....aku mulai jenuh dengan hubunganku dengan Theo, yang telah berjalan tiga setengah tahun. Aku lupa mengapa tiba-tiba saja aku menjadi jenuh!
Hubungan kami berawal ketika aku masih di TPB (Tingkat Persiapan Bersama), sedang Theo sudah tingkat II, dan kini aku sudah tingkat IV sedang Theo sudah bekerja di Jakarta.
Kini kejenuhan itu telah memuncak, tepatnya tiga hari yang lalu, sehingga tanpa aku minta tiba-tiba muncul keinginan itu yang mungkin bagi orang lain merupakan sesuatu yang aneh karena selama ini hubunganku dengan Theo adem ayem saja.
Tapi, nanti sore aku sudah tidak mungkin menghindarinya. Aku harus berani mengatakannya, karena itulah kenyataan yang harus kami hadapi. Tanpa aku sadari, tiba-tiba saja masa-masa indah yang pernah kualami bersama Theo berputar kembali dalam pikiranku, seperti rekaman video saja.
Ketika kami berjalan-jalan di kebun Raya, menyusuri Jl. Pajajaran, keliling Bogor Internusa dan kenangan indah lainnya.
***
Mungkin karena kelelahan, aku tertidur dan baru terbangun ketika pintu kamarku diketuk Tasia.
“Valent, Theo udah datang tuh!”
“Tolong suruh tunggu dulu, ya....Thank's, Tas!”
Dengan malas aku bangkit dari tempat tidur kemudian mandi. Sambil berpakaian aku meyakinkan diri bahwa keinginan itu sudah mantap, jadi untuk apa aku harus bimbang lagi. Aku harus mengatakannya secara terus terang kepada Theo. Tapi aku masih bingung bagaimana cara mengatakannya agar dia tidak marah.
“Ah....terserah nantilah!”
Sebelum keluar kamar aku berdoa, kekuatanku untuk menghadapi masalah besar aku serahkan dalam penyelenggaraan-Nya. Mungkin ini yang terbaik bagiku.
Dengan hati-hati aku duduk di samping Theo yang asyik nonton TV. Dia menoleh sambil tersenyum tipis.
Ya, Tuhan......aku masih ingin menikmati senyum itu, senyum yang membuatku tertarik kepadanya ketika pertama kali melihatnya saat perkenalan antara mahasiswa baru dengan asisten agama Katolik. Tapi, tiba-tiba sebuah bayangan melintas di pikiranku. Aku menghela nafas!
“Valent, tumben kamu ada! Sudah empat kali aku kemari, tapi baru sekarang kamu ada. Kamu selalu ke rumah teman selama tiga kali malam minggu yang lalu, tapi tidak pernah meninggalkan pesan secuil pun. Padahal kamu tahu aku akan datang lewat surat-suratku. Kamu juga tidak membalasnya,” kata Theo.
”Kamu baik-baik aja, kan?”
“Aku baik-baik aja koq dan suratmu sudah aku terima,” jawabku tanpa semangat. “Sorry, aku nggak membalasnya.”
“Tapi koq kamu lemes banget sich!” tanyanya dengan nada khawatir. “Ada apa?”
Aku menarik nafas panjang seakan ingin melepaskan semua beban yang menghimpit dadaku.
“Entahlah Theo.......” jawabku sambil menunduk. “Aku bingung.”
“Ada masalah? Katakan saja!” katanya dengan sabar.
Ah......masihkah dia akan sesabar ini kalau sudah tahu keinginanku? batinku.
“Aku bingung bagaimana aku harus mengatakannya kepadamu,” kataku lirih.
“Katakan, please. Aku akan membantumu semampuku. Atau kita ngobrol sambil jalan-jalan. Atau......makan aja dulu ke Internusa, ehm.....”
“Kita ke Internusa aja ya!” jawabku cepat.
Tanpa berganti pakaian terlebih dahulu, aku dan Theo pergi setelah menulis pesan di daftar bepergian. Di sepanjang jalan kami cuma berdiam diri. Theo memilih “Kedai Asih” sebagai tempat mengisi perut, dan kami memilih di pojok. Aku hanya berbicara ketika memesan makanan, mulutku seakan terkunci.
“Theo, boleh aku bertanya?” tanyaku setelah mengumpulkan segenap keberanian.
“Sejak kapan aku melarangmu bertanya? Tanya aja!”
“Kamu nggak marah?”
“Lho......aku khan belum tahu pertanyaannya. Tapi......baiklah aku janji nggak akan marah."
Tuhan, kuserahkan semuanya kepada-Mu kalau memang sesuai dengan kehendak-Mu aku mohon bukalah hati dan pikiran Theo, agar dia tidak marah mendengar penjelasanku ini.
“Theo, bagaimana seandainya kalau cewekmu minta putus dengan tiba-tiba?”
“Valent, kamu nggak serius, kan?” tanyanya gusar.
“Aku kan sudah bilang seandainya.”
Theo terdiam sesaat. Dia nampak berpikir kemudian menghela nafas.
“Terus terang Valent aku belum pernah berpikir sampai ke sana karena aku belum pernah mengalaminya. Tapi rasanya aku nggak bisa menerima.”
“Tapi Theo, cewek ini ingin putus karena dia merasa jenuh dengan hubungannya selama ini. Dia ingin sesuatu yang lain hadir dalam hidupnya, dan ini tentu saja menuntut sesuatu, yaitu harus putus.”
“Valent.......memang benar, mencintai itu berarti akan turut berbahagia bila pasangan kita berbahagia. Tapi itu kan jarang sekali bisa diterapkan dalam kehidupan nyata, apalagi bila kita berada di pihak yang tidak enak. Itu bisa dicapai bila kita mencintai dengan cinta sejati, yang ukurannya sangat relatif sekali. Sudahlah......lebih baik kita makan. Tuh makanannya sudah datang.”
Kami pun kemudian melahap makanan yang ada di depan kami, tapi aku makan tanpa selera, meski perutku lapar sebab aku masih belum puas dengan jawaban Theo tadi.
***
“Valent, aku tahu bukan itu kan persoalanmu?” tanya Theo setelah selesai makan, “Please, katakan!”
Aku menarik nafas panjang lagi.
“Theo terus terang aku jenuh dengan hubungan kita sekarang ini. Aku sendiri tidak tahu mengapa. Itu sebabnya akhir-akhir ini aku selalu menghindarimu ke Jakarta. Aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku cuma ingin melupakan segala yang pernah ada di antara kita, sampai akhirnya tiga hari yang lalu, tiba-tiba terlintas dalam pikiranku untuk....”
“Keinginan untuk putus?” tanya Theo dengan gusar menyela pembicaraanku.“Kamu jangan gila Valent! Kamu sendiri tahu kan apa arti dirimu bagiku? Kita sudah berpacaran selama tiga setengah tahun. Valent, itu bukan waktu yang pendek, telah banyak kenangan tercipta selama itu, apalagi kedua orangtuaku sudah tahu mengenai hubungan kita, malahan sudah setuju. Tantemu juga sudah tahu walaupun kedua orang tuamu belum, karena menurutmu kamu akan memberi mereka surprise di hari wisudamu. Bahkan kita sudah merencanakan kedua orang tuaku akan datang ke rumah orangtuamu untuk melamarmu setahun setelah kamu diwisuda. Akankah semua rencana yang telah kita susun berantakan?”
Aku menundukkan kepala mendengar perkataannya. Ya......aku tahu, aku adalah cinta pertamanya meskipun dia juga pernah mengatakan bahwa aku bukanlah pacar pertamanya. menurutnya dia cuma iseng ketika kutanya mengapa dia pacaran dengan cewek-cewek sebelum aku. Kata orang, “first love never die”. Benarkah? Itu masih tanda tanya besar bagiku. Harus kuakui, sungguh berat membuyarkan semua rencana-rencana kami toh kenyataan telah berbicara lain.
“Dia begitu mencintaiku, sampai-sampai nyawanya pun rela dikorbankan untukku. Kini aku ingin menunjukkan cintaku kepadanya. Namanya Christ.”
“Ja....jadi.....kamu ingin putus denganku karena kamu mencintai orang lain?” tanya Theo dengan suara gemetar. Kemudian ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya sambil menunduk. “Lalu apa artinya aku selama ini buatmu?”
“Theo....aku belum selesai bicara, jangan salah paham! memang benar aku ingin putus karena aku ingin menunjukkan cintaku kepadanya. Tapi dia adalah Yesus, aku lebih senang menyebutnya Christ. Ya......aku ingin menjadi mempelai-Nya dengan memasuki kehidupan membiara,”
“Hah.......”
“Kamu jangan memotong pembicaraanku dulu, Theo, Aku tahu ini sangat berat bagimu, tapi bukan hanya bagimu tetapi juga bagiku. Ketahuilah, sebenarnya aku sudah pernah mempunyai pikiran untuk hidup membiara tetapi setelah berpacaran denganmu pikiran untuk itu hilang sampai akhirnya hal itu muncul kembali. Aku kini nggak bisa menolaknya karena aku sudah beranggapan bahwa mungkin inilah jalan hidupku. Aku dipanggil untuk menjadi salah satu barisan abdi-Nya.”
“Aku baru akan memulai babak baru dalam hidupku ini setelah aku diwisuda, tetapi aku memutuskan untuk memberitahukan hal ini kepadamu sekarang, karena aku tidak mungkin menghindarimu terus-menerus. Lagipula aku tidak ingin menambah kenangan manis bersamamu dalam hidupku. Kamu mengerti, kan?” tanyaku penuh harap.
Theo terdiam mendengar penjelasanku. Aku sempat melihat butiran bening mengambang di sudut matanya. Ya.....aku bisa memahami bagaimana perasaannya. Aku sendiri heran mengapa aku begitu lancar mengungkapkan segalanya, bahkan aku menjadi begitu kuat menerima kenyataan. Kami sama-sama membisu cukup lama sampai akhirnya Theo menatapku masih dengan tatapannya yang lembut.
“Valent, aku menyadari aku nggak mungkin menghalangi niatmu itu karena pasti sudah menjadi kehendak-Nya, tapi ketahuilah, aku tidak mungkin bisa berhenti mencintaimu. Mungkin cinta kita tidak harus bersatu. Aku hanya bisa berdoa, semoga kamu bisa menjadi suster yang baik dan penuh semangat melayani seperti Ibu Teresa.”
“Thank's untuk pengertianmu, Theo,” kataku sambil menahan tangis.
“Kita pulang sekarang?”
Aku hanya bisa mengangguk.
***
Dalam gelapnya malam kami menembus gerimisnya kota hujan sambil terkadang berlari-lari kecil menghindari air hujan yang terus-menerus menyirami bumi. Tidak ada yang keluar dari mulut kami berdua.
“Theo, aku harap kamu tabah menghadapi kenyatan yang pahit ini. Percayalah, aku akan selalu berdoa untuk kebahagianmu,” kataku setiba di kost.
“Valent, dalam hati kecilku penuh tanda tanya. Mampukah aku menjalani hari-hari yang akan datang dengan penuh ketabahan? Kuatkah aku menatap masa depan yang terbentang di hadapanku tanpa kamu di sisiku?” tanya Theo lirih.
“Maafkan aku, Theo.”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Valent. Semua ini bukan salahmu dan juga bukan salahku. Entahlah salah siapa!” Theo terdiam sejenak.
“Valent, bolehkah aku mengajukan satu permintaan untuk terakhir kalinya?”
“Katakanlah Theo, aku akan berusaha memenuhinya.”“Maukah kamu tetap memakai namamu sendiri setelah kamu memakai busana biara? Suster Valentina, suatu nama yang bagus dan penuh kenangan.”
“Aku berjanji akan memakai nama itu Theo, untuk mengenangmu dan kita tetap bersahabat, kan?”
“Tentu saja! Baiklah.......aku pulang dulu!”
“Selamat jalan Theo! Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu”
“Thank's, " jawabnya singkat.
***
Dengan langkah gontai Theo berjalan ke halaman. Aku menatap punggungnya yang semakin jauh dengan pandangan kabur. Aku hanya bisa berdoa, semoga Theo mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku dan tidak mengecewakan lagi. Sudah cukup berat beban yang dipikulnya kali ini. Ya.....Theo memang baik, banyak sifat plus yang kutemukan pada dirinya. Tapi......ternyata Tuhan menghendaki lain. Setelah bayangan Theo tidak tampak lagi, aku segera masuk ke dalam. Langsung aku ke kamar begitu selesai mencoret daftar berpergian. Aku tahu apa yang akan terjadi di ruangan berukuran 3 x 4 m2 itu.

A.B. Lindawati P.Ruang Tunas Muda Mingguan Hidup no. 43 tahun XLIV 28 Oktober 1990

Dipersembahkan untuk temen-teman eks SMAK Kosayu, terutama lulusan 1988/1989