Sharing: Karunia Penyembuhan


Dalam retret Karunia Roh Kudus yang saya ikuti pada 24 – 27 Februari 2005 di Pertapaan Karmel Tumpang, diberikan pengarahan oleh Sr. Vianey P. Karm, Sr. Stefani P. Karm dan Sr. Andrea P. Karm tentang sembilan karisma dari Roh Kudus yang dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kuasa untuk berkata-kata (berkata-kata dalam bahasa Roh, menafsirkan bahasa Roh dan nubuat), kuasa untuk bertindak (iman, mukjizat dan penyembuhan) dan kuasa untuk mengetahui (berkata-kata dengan hikmat, berkata-kata dengan pengetahuan dan membeda-bedakan Roh)
Wokshop penyembuhan dilakukan 26 Februari sebelum makan malam. Acara dilakukan di kapel Maria Bunda Karmel setelah pengarahan tentang kuasa penyembuhan oleh Sr. Andrea. Mula-mula salah seorang suster memberikan contoh bagaimana melakukan doa perintah untuk orang yang sakit punggung dan pinggang.
Salah seorang ibu menjadi relawan karena sakit punggung yang dibuktikan dengan jari-jari tangan kanan dan kiri yang berbeda sekitar 1.5 cm ketika berdiri tegak. Kemudian suster melakukan doa perintah agar otot-otot tangan tersebut kembali ke tempat semula sehingga menjadi sama panjang, dengan dibantu seorang peserta untuk memegang tangan yang terulur ketika didoakan. Semua peserta retret diminta menumpangkan tangan dan berdoa dalam bahasa Roh ke arah ibu tersebut. Saya menumpangkan tangan dan berdoa dalam bahasa Roh ke arah ibu tersebut dan tak terasa saya menitikkan air mata haru. Dalam waktu singkat tangan ibu tersebut menjadi sama panjang sehingga suster mengatakan Amin dan proses pemanjangan jari tersebut berhenti.
Selanjutnya seorang bapak menjadi relawan karena sakit pinggang yang dibuktikan kaki kanan dan kiri yang tidak sama panjang ketika diukur dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk. Seorang peserta retret melakukan doa perintah didampingi penumpangan tangan oleh semua peserta retret yang lain dan para suster dari tempat duduknya masing-masing. Ternyata kaki bapak itu menjadi sama panjang, meskipun doa perintah yang dilakukan terputus-putus karena masih harus didikte oleh suster. Saya kembali menitikkan airmata haru ketika melakukan penumpangan tangan dan berdoa dalam bahasa Roh.
Tibalah saatnya melakukan workshop dalam kelompok kecil. Saya sekelompok dengan Wiwiek, Erlina, Luky, seorang ibu dan anak dari Durenan Malang dan seorang ibu lain, sehingga total ada 7 orang, sayang saya tidak menanyakan nama ibu-ibu ini. Ibu dari Durenan tersebut menderita sakit punggung dan sempat bermaksud menjadi relawan tetapi sudah ada relawan lain. Jari telunjuk, tengah dan manis ibu ini tidak sama panjang, karenanya saya melakukan penumpangan tangan dan doa perintah dalam bahasa Indonesia agar jari-jari tangannya menjadi sama panjang dilanjutkan dengan doa dalam bahasa Roh. Semua anggota kelompok melakukan penumpangan tangan. Jari telunjuk dan jari manis ibu ini kemudian bergerak memanjang tetapi jari tengahnya tidak kunjung memanjang menyamai tangan satunya . Saya sampai bingung, kapan doanya akan diselesaikan karena sudah cukup lama. Akhirnya saya katakan Amin. Ternyata ibu tersebut menjadi sembuh sakitnya meskipun jari tengahnya belum sama panjang. Tangan saya bergerak-gerak sedangkan anggota kelompok yang lain menyatakan terasa panas ketika melakukan penumpangan tangan.
Ibu yang satunya menderita sakit punggung dan pinggang tapi ketika diukur tangan dan kakinya ternyata sama panjang. Akhirnya Erlina melakukan doa perintah dalam bahasa Indonesia agar mendapatkan kesembuhan pada tangan dan kakinya, sedangkan kami semua melakukan penumpangan tangan. Beberapa orang dari kami merasakan hawa panas kembali. Ibu inipun mendapatkan kesembuhan.
Kalau sebelum mengikuti retret karunia ini, saya melihat kuasa penyembuhan sebagai kuasa yang sulit didapatkan meskipun saya rindu untuk mendapatkannya, maka rasanya sulit dipercaya bahwa begitu sederhananya kuasa penyembuhan ini karena Yesus sendiripun pada masa hidupnya juga menyembuhkan dengan cara sangat sederhana.
Kuasa untuk menyembuhkan ini bisa menyembuhkan penyakit fisik, rohani, emosional maupun karena kuasa gelap. Tetapi kita hanya sebagai saluran bagi Tuhan untuk melakukan penyembuhan karena penyembuhan itu sendiri tergantung pada beberapa hal : iman, kepentingan yang lebih tinggi, misalnya santo-santa yang harus menderita sakit berat sebagai silih bagi dosa oranng lain, permintaan yang spesifik, dosa, salah diagnosa, misalnya penyakit karena kuasa gelap didoakan doa penyembuhan luka batin, tidak mau menerima obat sebagai sarana penyembuh, belum waktunya, Tuhan mau memakai orang lain untuk menyembuhkan, lingkungan sosial yang menghalangi penyembuhan dan lain-lain.

Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh. (Mrk 16 : 17-18)

Surabaya, 3 Maret 2005





Linda AB (linda_ab06@yahoo.com)
Stasi St. Aloysius Gonsaga Mojoagung, Paroki St. Yosef Mojokerto