Sharing: Pengalaman Berdoa dalam Bahasa Roh (Kudus)


15 – 18 April 2004 lalu, saya mengikuti Retret Awal di Pertapaan Karmel Tumpang. Pertapaan ini merupakan tempat para suster yang tergabung dalam serikat Putri Karmel, yang didirikan oleh Rm. Yohanes Indrakusuma O.Carm
Motivasi awal ikut retret ini karena sudah lama sekali saya tidak pernah mengikuti retret (terakhir tahun 1993, itupun hanya sebagai fasilitator) ditambah lagi, beberapa orang menyatakan bahwa retret awal itu bagus. Ketika kehidupan duniawi saya semakin meningkat dengan berjalannya waktu, kehidupan rohani saya justru terjun bebas. Tidak pernah misa harian, hanya menjadi Katolik Na-Pas, tidak pernah membaca Kitab Suci dan tidak pernah mengaku dosa sejak dua tahun lalu.
Tetapi di sisi lain, saya menyadari betapa baiknya Dia sepanjang hidup saya. Sudah lama saya tidak bisa berdoa lama-lama, hanya bisa mengucapkan “Terima kasih Tuhan untuk semua yang aku dapatkan”. Saya tidak mempunyai kehidupan yang selalu menyenangkan, ada saatnya ketika saya juga mengalami pengalaman yang menyedihkan, tetapi saya tahu bahwa semua ada hikmahnya, ada banyak pelajaran yang dapat saya petik dari pengalaman-pengalaman menyenangkan maupun menyedihkan.
Retret dimulai sore hari dimana udara cukup dingin, dengan diiringi suara jangkrik yang sangat keras.
Tidak ada yang istimewa di hari pertama selain menu vegetarian (dan ini berlangsung selama retret) dan tidak bisa men-charge HP (bisa dibayangkan berapa biaya yang harus dibayar oleh pihak pertapaan kalau 475 peserta men-charge HP 1 jam/hari padahal biaya retret hanya Rp. 80,000 untuk 4 hari 3 malam lengkap dengan makan dan snack)
Ketika konseling kepada salah suster di siang hari ke-2 saya menanyakan mengapa tangan saya bisa bergerak-gerak sendiri ketika adorasi (penghormatan kepada Sakramen Maha Kudus) padahal saya sudah tidak mengikuti Taoisme sejak 4 tahun lalu. Ketika mengikuti Taoisme, dengan bersila dan mengucapkan kalimat-kalimat tertentu, tangan saya bisa bergerak-gerak sendiri meskipun semula dalam posisi menyembah di depan dada.
Malamnya setelah usai adorasi, saya dan teman sekamar berdiskusi, bagaimana para suster bisa bernubuat bahwa ada 2 orang ibu yang diminta bertobat karena pernah melakukan aborsi, dll. Apakah para suster mengatakan itu berdasarkan konseling pada siang harinya dan juga bagaimana orang yang pernah melakukannya akan merasa bahwa yang dimaksud adalah dirinya karena bukan tidak mungkin yang pernah melakukan aborsi sebanyak 10 orang misalnya. Salah seorang teman sekamar, seorang ibu, menyatakan bahwa pada waktu suster tersebut bernubuat demikian, dia langsung menangis sejadi-jadinya karena memang dia pernah melakukan aborsi dan ternyata menurut suster, kepada suaminya ketika konseling siang harinya, anak yang sudah diaborsi tersebut sedang meminta perhatian orang tuanya, dimana diwujudkan dengan kenakalan yang dilakukan oleh anak bungsunya. Jadi memang benar, suster bernubuat, mengalami penglihatan dari Tuhan sendiri.
Misa di hari ke-3, membuat saya menangis tersedu-sedu tanpa tahu apa sebabnya ketika akan menyambut komuni.
Saya sudah menyiapkan 2 pack tisue ketika acara pertobatan dan penyembuhan luka batin di sore harinya karena berdasarkan pengalaman mengikuti rekoleksi penyembuhan luka batin beberapa tahun yang lalu, saya menangis cukup lama.
Tapi ternyata saya tidak menangis sedikitpun, saya hanya berdoa bahwa saya tidak bisa bertobat dan menyembuhkan luka batin saya sendiri, maka saya minta Tuhan sendiri yang melakukannya.
Akhirnya tibalah sesi pengakuan dosa dan beruntunglah saya sanggup mengaku dosa setelah kurang lebih 2 tahun tidak pernah melakukannya. Lega rasanya.
Pada waktu makan malam seusai sesi pengakuan dosa, saya sempat berbicara kepada seorang teman sekamar bahwa saya pikir Tuhan telah menghapus air mata saya seperti dalam lagu yang kami nyanyikan siang harinya.
Tibalah waktunya pencurahan Roh Kudus, yaitu malam terakhir. Saya duduk bersila kira-kira di baris ke lima dari depan. Seorang Ibu, yang bersila di depan saya tiba-tiba terjatuh (resting in the spirit) ketika didoakan oleh dua orang suster.
Tibalah 2 orang suster di dekat saya dan mulai berdoa dalam bahasa Roh. Tangan dan mulut saya mulai bergerak-gerak, sempat akan jatuh tapi tidak jadi, sampai akhirnya kedua suster tersebut berjalan ke belakang saya. Saya sempat terisak-isak tetapi tidak ada airmata yang keluar. Sempat terpikir, mengapa tidak terjadi apa-apa, terjatuh tidak, berdoa dalam bahasa Roh juga tidak. Tapi ternyata tangan saya terus bergerak-gerak dan juga mulut terus bergerak-gerak sampai akhirnya mengeluarkan suara, hanya dua suku kata tetapi berulang-ulang. Saya bisa menghentikannya tetapi kemudian akan terjadi lagi.
Yang terpikir adalah, apakah benar ini Roh Kudus, sampai akhirnya salah satu suster bernubuat bahwa ada yang belum percaya bahwa mendapat karunia dari Allah, maka percayalah. Saat itu juga airmata saya menetes.
Saya kemudian percaya bahwa malam itu saya benar-benar mendapat karunia untuk berdoa dalam bahasa Roh.
Saya beberapa kali mengikuti persekutuan doa karismatik, bahkan sempat mengikuti seminar hidup baru dalam Roh meskipun tidak secara penuh, dan biasanya saya hanya bisa terheran-heran ketika melihat beberapa orang mulai menangis dengan histeris, memuji dalam bahasa Roh dan dengan satu pertanyaan kapan saya juga bisa berdoa dalam bahasa Roh.
Ketika para suster mulai memuji Allah dengan menggunakan bahasa Roh, ternyata saya secara otomatis juga mengikutinya, demikian juga ketika misa penutup pada keesokan harinya.
Saya sungguh percaya bahwa karunia bahasa Roh yang saya dapatkan sungguh merupakan rencana Tuhan sendiri dan Tuhan sendiri yang menyiapkan saya yang tidak pantas ini untuk menjadi pantas menerima karunia ini.
Kini, dalam kesempatan-kesempatan tertentu, saya memilih berdoa dalam bahasa Roh, baik dengan suara keras maupun dengan suara lirih, karena seringkali saya tidak tahu apa lagi yang harus saya doakan.
Semoga pengalaman iman ini sungguh menjadi kesaksian bahwa janji Yesus untuk mengirimkan Penolong benar-benar ditepati-Nya.

Surabaya, 8 Mei 2004



Linda AB (linda_ab06@yahoo.com)
Stasi St. Aloysius Gonsaga Mojoagung, Paroki St. Yosef Mojokerto