Sharing: Retret di Pertapaan OCSO Rawaseneng


Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa (Luk 5 : 16)

Retret pribadi dengan Rm. Abas Frans Harjawiyata, OCSO sudah saya rencanakan sejak akhir Maret 2006. Saya berangkat dengan bis malam ke Temanggung pada 9 September 2006. Sesampai di Temanggung keesokan paginya, saya mengunjungi Panti Asuhan Bethesda, yang dikelola oleh suster-suster Penyelenggaraan Ilahi. Sr. Krista, PI mengajak berkeliling lokasi panti asuhan dan berkenalan dengan beberapa anak dan pengurus panti asuhan.
Saya mencarter angkutan kota di depan Plaza Temanggung karena belum ada penumpang satupun supaya tidak terlambat mengikuti Ekaristi di Pertapaan Rawaseneng, yang dimulai jam 10.00 bbwi. Saya disambut oleh Rm. Bavo, OCSO yang bertugas di kamar tamu. Setelah Ekaristi, saya berbincang-bincang dengan seorang wanita, yang tidak kunjung mendapat pekerjaan yang tetap di usianya yang ke-35. Saya hanya bisa memberinya nasihat baik, dan bukan Kabar Baik, ketika melihatnya menangis. Selama Ekaristi atau ibadat, para rahib duduk berhadapan di depan altar pada tempat duduk masing-masing sedangkan umat duduk menghadap altar.
Setelah itu dilanjutkan ibadat siang I. Ibadat siang II diadakan jam 14.30 bbwi dan dilanjutkan ibadat sore jam 17.30 bbwi yang disusul dengan pentahtaan Sakramen Maha Kudus selama 15 menit. Acara hari minggu ditutup dengan ibadat penutup pada jam 19.50 bbwi yang dilanjutkan dengan Salve Regina dimana semua lampu mulai dimatikan kecuali lampu yang menyorot ukiran Bunda Maria di atas Tabernakel, Lonceng Angelus dan percikan air suci satu per satu oleh Romo Abas.
Keesokan harinya saya sudah bersiap-siap mengikuti ibadat bacaan padahal baru jam 02.35 bbwi. Saya sempat keheranan karena masih sepi sekali padahal seharusnya sudah terlambat lima menit. Ternyata ibadat baru dimulai jam 03.30 bbwi, akhirnya saya kembali ke tempat tidur. Setelah ibadat bacaan dilanjutkan dengan meditasi dan ditutup dengan Lonceng Angelus sekitar jam 04.45 bbwi. Ibadat pagi diadakan jam 06.00 bbwi. Ibadat siang I diadakan jam 08.00 bbwi, sedangkan ibadat siang II pada jam 12.00 bbwi yang ditutup dengan Lonceng Angelus. Ibadat sore diadakan jam 14.30 bbwi. Ekaristi harian diadakan jam 17.30 bbwi yang dilanjutkan dengan meditasi. Ibadat penutup dilakukan seperti hari Minggu.
Pertapaan Santa Maria Rawaseneng merupakan pertapaan trappist (OCSO) pertama di Indonesia, terletak di 700 m di atas permukaan laut, siang hari cukup panas tetapi di malam hari angin bertiup cukup kencang. Menyediakan kamar tamu 15 buah lengkap dengan selimut tebal dan air panas untuk melayani umat yang akan retret. Suasana pertapaan cukup hening terutama bila jumlah tamu hanya beberapa orang. Pertapaan memiliki perkebunan kopi dan beberapa tanaman lain serta peternakan sapi perah sehingga tiap hari disediakan susu sapi segar bagi peserta retret. Selain itu juga ada pabrik kopi dan pembuatan keju, yoghurt, mentega, bakery, serta kue-kue kering sebagai usaha memenuhi kebutuhan hidup para rahib.
Setiap hari saya bertemu dengan Romo Abas sekitar 1 jam membicarakan banyak hal, termasuk tentang panggilan, inti hidup membiara, sejarah monastik, sejarah kontemplatif dan aktif. Saya sungguh bersyukur bisa konseling dengan Romo Abas, yang sudah menjadi novis di Belanda di usianya yang baru 20 tahun dan menguasai lebih dari sepuluh bahasa ini. Beliau akan meletakkan jabatannya sebagai Abas pada 1 Oktober 2006.
Hari Rabu pagi saya mengunjungi biara suster St. Dominikus yang bersebelahan dengan pertapaan dan membaca konstitusi suster-suster St. Dominikus di Indonesia.
Saya mengunjungi dam yang berjarak satu km dari pintu masuk pertapaan. Sepanjang perjalanan, yang berupa jalan setapak dari tanah, hanya terdengar suara burung, angin dan langkah kaki saya. Terkadang saya melambatkan langkah kaki hanya untuk menikmati berjalan dengan lambat dalam keheningan. Di dekat dam ada sumur artesis yang menjadi sumber air bagi pertapaan Saya hanya bertemu dengan tiga orang sepanjang perjalanan dari dan ke dam. Kemarau yang panjang membuat tanah perkebunan begitu kering.
16 September 2006 saya mengunjungi makam yang terletak di dalam kompleks pertapaan, melewati kandang sapi-sapi perah, berbincang-bincang dengan Fr. Didimus, OCSO termasuk tentang iman, panggilan dan kesehatan.
Ketika sedang membereskan barang-barang untuk pulang, tiba-tiba terlintas dalam pikiran, yang sebenarnya harus dicari adalah kebenaran ataukah pembenaran.
Setiap pagi saya tidur kembali setelah ibadat bacaan sampai tiba waktunya ibadat pagi. Malam harinya, sudah siap untuk tidur sekitar jam 20.30 bbwi kecuali malam terakhir berbincang-bincang dengan Sr. Lisabeta, OP dari Purwokerto sampai sekitar jam 22.00 bbwi.
Suatu malam ketika sedang adorasi di Gereja Pertapaan, saya tiba-tiba berdoa dalam bahasa Roh dengan cukup kencang ketika mengingat St. Dominikus. Siang harinya saya membaca bahwa St. Dominikus berlutut dan berdoa agar diperkenankan menguasai bahasa Jerman karena ingin menaburkan sesuatu yang rohani kepada para peziarah Jerman, dan setelah berdoa dapat berbicara bahasa Jerman dengan jelas,
Ada beberapa peserta retret, baik pribadi maupun kelompok yang bergantian datang karena ada yang retret satu - dua hari tetapi ada juga yang cukup lama. Di hari-hari terakhir, saya belajar berbicara dengan berbisik-bisik sebagaimana para suster, padahal sebelumnya waktu makan menjadi ajang sharing dengan peserta retret yang lain, mulai dari perusakan lingkungan hidup sampai hidup membiara.
Ibadat yang tujuh kali sehari termasuk Ekaristi tidak membuat hari-hari membosankan. Nada favorit pendarasan mazmur saya adalah nada enam dan tujuh. Semua mazmur dan kidung dinyanyikan, tak jarang saya hanya mendengarkan saja daripada membuat kacau koor para rahib.
Di hari-hari pertama, saya cukup heran dengan bunyi kayu yang beradu tiap kali para rahib akan duduk ketika ayat pertama mazmur pertama sudah selesai dinyanyikan, padahal sebelumnya hanya terdengar suara mazmur, ternyata bunyi alas bangku yang diletakkan pada tempatnya ketika akan duduk.
Sesekali beberapa rahib tampak berada di sekitar kamar tamu pertapaan karena tempat bekerja tidak semuanya tertutup untuk umum, seperti toko, perkebunan, dan pabrik kopi meskipun ada rahib yang khusus bertugas untuk kamar tamu.
Tak terasa mata saya basah ketika angkutan kota mulai bergerak meninggalkan pertapaan. Perjumpaan dengan para rahib dan sesama peserta retret menambah pengalaman hidup dalam keheningan. Lima minggu kemudian, saya menerima buku Ziarah Batin Seorang Rahib, yang diterbitkan sebagai kenangan syukur 75 tahun Romo Abas yang berisi 17 refleksi hidup rohani yang pernah ditulisnya, isinya tentu bagus sekali. Terima kasih banyak.



Linda AB