Sharing: Kegiatan "Live in" di Filipina



Setelah transit semalam di Kuala Lumpur akhirnya sampailah saya di bandara Clark, Filipina. Saya menuju terminal bis Dau dengan taxi karena ketinggalan bis bandara. Kondektur bis menurunkan saya di terminal bis Pasay padahal saya sudah menunjukkan petunjuk lokasi tertulis dari Sr. Nenita Tapia, MM, dimana saya seharusnya turun di EDSA Megamall. Akhirnya dengan taxi saya menuju biara Maryknoll (http://sisters.maryknoll.org).

Upacara Penerimaan
Acara perdana adalah upacara penerimaan Genie, Laura dan saya sebagai peserta “live in” Maryknoll. Acara dibuka dengan pengantar dari Sr. Nenita selaku ”Admissions Contact Person”, dilanjutkan dengan penyalaan lilin, lagu ”Companions in the Journey”, sharing dari tiap peserta, pengalungan rangkaian bunga melati. Setelah pembacaan dari Konstitusi Maryknoll Sisters, Roma 10: 13 – 17 dan Mazmur 139, acara dilanjutkan dengan doa dan lagu penutup. Upacara penerimaan ditutup dengan makan bersama.

Kuliah
Ada beberapa kuliah yang saya ikuti, yaitu kuliah terbuka di Institute of Formation and Religious Studies (IFRS) oleh Prof. Reimund Bieringer dari Universitas Katolik Leuwen Belgia dengan topik ”Mary Magdalene: One Person Many Images” dan ”When Love is Not Enough: A Theo-Ethic of Justice”. Selain itu juga kuliah terbuka di East Asian Pastoral Institute (EAPI) dengan topik “Phoebe, Prisca and Junia: Leading Women in the Letters of St. Paul” dari pembicara yang sama.
Kuliah terbuka berikutnya dengan topik “Doing Theology of Mission with Contemporary Adequacy” oleh Prof. Brendan Lovett, SSC bertempat di IFRS.
Saya juga mengikuti Kelas Pengantar Hidup Religius oleh Rm. Carlos Ronquillo, CsSR dan Pengantar Kitab Suci oleh Rm. Mer Viuya, MJ di Rumah Seminar CB.
Kelas selanjutnya yang saya ikuti adalah ”Contemporary Moral Issues” oleh Rm. Carlos Ronquillo, CsSR selama enam hari dan Inggris Dasar selama satu bulan di IFRS.
Saya juga mendapat pelajaran singkat tidak resmi mengenai Feminisme dari Sr. Virginia, MM yang juga menjadi pengajar di IFRS dan Shibashi (semacam Tai-chi) dari Sr. Marisa, MM.

KunjunganTempat pertama yang saya kunjungi adalah Miriam College, sekolah milik Maryknoll Sisters yang sudah diserahkan sepenuhnya kepada awam pada 1978.
Sebelum mengikuti upacara kaul sementara di kapel CB Tagaytay, saya mengunjungi biara RGS di Tagaytay, yang menjual selai, makanan kecil dan lain-lain.
Kunjungan berikutnya adalah kepada ibu-ibu muda di Jala-jala yang menjadi responden disertasi Sr. Teresa Dagdag, MM. Kami mengunjungi empat rumah tetapi bertemu dengan lebih dari sepuluh ibu-ibu muda. Foto kiri di samping rumah salah satu ibu muda, yang digunakan untuk tempat menjahit, terbuat dari anyaman bambu berlantai tanah. Kami sempat dijamu sup makaroni. Rumah “Maryknoll by The Lake” Jala-jala, yang terbuka bagi mereka yang ingin mengadakan retret atau pertemuan, lokasinya menghadap ke danau Laguna.
Bersama Sr. Mary Clare, MM saya mengunjungi tempat rehabilitasi untuk orang buta yang dikelola pemerintah serta ke perkampungan kumuh di dekat biara.
Kunjungan ke biara CB di sebelah rumah untuk mencari Rm. Anton Galih membuat saya berkenalan dengan Sr. Neriza, IJ, yang sedang menjalani tahun sabatikal setelah menjadi misionaris di Nigeria. Beliau merupakan satu-satunya Filipina di tarekatnya
Kunjungan ke Maryknoll Ecological Sanctuary Baguio diisi dengan beberapa kegiatan, yaitu: melakukan perjalanan kosmis sebanyak empat belas perhentian, yaitu: terciptanya alam semesta, bumi, air, dinosaurus, mamalia, burung, tanaman, primata, manusia pertama, kehidupan di gua, kehidupan berburu, sampai munculnya agama-agama termasuk Islam dan perhentian terakhir adalah Maryknoll Sisters Bio-Shelter. Selain itu saya juga melukis gerabah, melihat pameran seni, kunjungan ke Atok bersama staf Yayasan Igorota dan melihat koor Maryknoll Sanctuary yang mengkhususkan untuk pendidikan bumi dan kegiatan lingkungan.
Kunjungan ke Atok menjadi sangat berkesan karena saya harus mendaki bukit sepanjang 4 km pulang pergi. Semula saya mendaki sekitar 400m untuk mengikuti presentasi dan praktek cara pembuatan tungku dari tanah liat, setelah makan siang, saya turun ke jalan raya dan mulai mendaki 1600m. Sepanjang perjalanan dan bahkan sewaktu masih di Baguio, saya hanya bisa memohon kepada Tuhan supaya saya bisa menyelesaikan perjalanan ini meskipun saya tahu saya tidak sanggup. Ketika akan pulang, kami masih dibekali kentang satu dus yang dibawakan turun ke jalan raya oleh ibu pekerja kesehatan (yang bekerja tanpa digaji) di atas kepalanya padahal saya sempat berpikir membawa badan saja sudah tidak sanggup apalagi harus membawa satu dus kentang. Selain itu masih ditambah satu dus sayuran yang sudah disiapkan di jalan raya. Keesokan harinya saya tidak merasakan kelelahan maupun keletihan, sehingga saya sungguh merasakan doa saya dijawab.
Dalam rangka memperingati Hari Wanita Sedunia, saya menghadiri ”Ecumenical International Women’s Day 2007” bersama Sr. Alma, MM dan Sr. Tereret, MM.
Saya juga mengunjungi biara suster SS.CC dan biara frater Camillians di Quezon City dan bertemu dengan beberapa orang suster dan frater dari Indonesia.
Kegiatan selanjutnya adalah berkunjung ke Our Lady of Victory Training Center for Youth Handicapped (OLV) di Davao. Saya sempat berfoto bersama calon senator di airport Davao.
Acara pertama setiba di Davao adalah menghadiri penganugerahan Datu Bago Awards 2007 untuk Sr. Virgeen Healey, MM. Acara ini diliput oleh media cetak dan elektronik jadi saya sempat masuk koran dan televisi.
Sehubungan dengan ”open house” Pusat Pengembangan Kesehatan Davao, maka saya berkesempatan makan babi panggang, yang biasanya merupakan makanan untuk pesta karena mahal harganya.
Kunjungan ke pulau Samal, dengan naik ferry dari Davao, diisi dengan mengajar anak-anak kebanyakan dengan cacat tubuh dan hanya mengerti bahasa Visayas. Saya bertugas mengajar anak kelas I dan II dengan buku bahasa Inggris yang sudah disiapkan oleh Genie, tidak lama kemudian, saya merasa membosankan. Akhirnya saya memberi soal matematika dan meminta anak-anak untuk membaca soal dan jawabannya dengan bahasa Inggris. Ternyata anak-anak antusias dengan acara ini.
Wisuda mahasiswa Myanmar yang mendapat beasiswa untuk kuliah di Ateneo de Davao menjadi kegiatan selanjutnya. Saya mendapat kesempatan untuk mendengar langsung kondisi Myanmar, yang menutup diri terhadap dunia luar sejak berpuluh-puluh tahun lalu, baik dari mahasiswa maupun dari Sr. Mary Grenough, MM yang menjadi misionaris di Myanmar.

Acara selanjutnya adalah wisuda anak-anak SD dan pemberian penghargaan untuk siswa berprestasi termasuk anak-anak yang tinggal di OLV Samal.
Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh ”Philippine Agency for Community and Family” (PACAF) Mindanao adalah terlibat adalah kompetisi tukang bangunan dalam membangun dapur di Riverdrive Gawad Kalinga (GK) hasil kerjasama pemerintah dan salah satu produsen semen. GK adalah program pengadaan perumahan yang diorganisir oleh Couple for Christ (sudah ada GK di Jakarta), dimana penduduk yang ingin mendapatkan rumah harus menyediakan tenaga kerja (biasanya istri dan anak-anak karena suami harus tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga) sejumlah jam tertentu sedangkan material dan tanah disediakan oleh GK bekerjasama dengan pemerintah dan donatur.
Acara bersama PACAF yang lain adalah wisuda PACAF Technical Training Program bekerjasama dengan ”Holy Cross of Davao College” dan berkunjung ke peternakan bebek bersama tiga orang suster tarekat SMRA dari Bangladesh, yang sedang libur dari kuliah di Universitas St. Thomas Manila.
Selain mempunyai pusat pelatihan untuk anak muda yang cacat, OLV yang dimotori oleh Sr. Cecilia Wood, MM juga memiliki klinik fisioterapi, peternakan burung puyuh, tanaman hias dan anggrek, sawah di Magsaysay, kerajinan tangan, pembuatan kursi roda dan kaki palsu.
Keinginan untuk mengikuti acara bernuansa karismatik terpenuhi ketika ”The Loved Flock” mengadakan Seminar Hidup baru dalam Roh meskipun mayoritas berbicara dalam bahasa Tagalog, yang diterjemahkan oleh Genie.

Saya juga mengikuti rekoleksi yang diadakan oleh muda mudi OLV, yang dihadiri oleh muda mudi OLV Samal, OLV airport dan OLV Sasa sendiri.
Saya kembali ke Quezon City dari Davao setelah Minggu Palem sehingga saya berkesempatan mengikuti “Araneta Lenten Recollection” di Araneta Center pada hari Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci pagi sampai siang hari. Acara ini diikuti oleh ribuan umat dan diorganisir oleh Paroki Maria Bunda Penolong Abadi, yang terbuka untuk keluarga-keluarga di luar paroki juga.
Kunjungan ke Jala-jala untuk kedua kalinya sewaktu rapat regional Maryknoll Sisters Filipina, dimana saya juga ikut mendengarkan jalannya rapat dari pagi sampai sore selama dua hari dan mensharingkan pengalaman selama live in.
Pemilu di Filipina sangat berbeda dengan di Indonesia, karena mereka memilih langsung para senator dan partai dengan menuliskan namamya satu per satu. Salah satu bentuk konret partisipasi Gereja Katolik Filipina dalam Pemilu adalah berdirinya Parish Pastoral Council for Responsible Voting (PPCRV), yang diakui keberadaannya oleh Komisi Pemilihan Umum (Comelec).
Keinginan untuk mengetahui tentang energi dan ”healing” terpenuhi ketika saya berkesempatan untuk bertemu dengan Rm. Bolaatao, SJ, yang mengajar ”Hypnotherapy and Hypnosys” di Ateneo. Saya mendengar nama Rm. Bu untuk pertama kalinya ketika bertemu Rm. Anton Rosari, SVD dalam Ekaristi pemakaman Rm. Fransiskus Madhu, SVD. Meskipun hanya bertemu sekitar tiga puluh menit karena Rm. Bu sudah lelah, saya sempat diajarkan cara menyembuhkan seorang mahasiswinya yang sedang sakit kepala.

Ibadat Perpisahan
Ada pertemuan ada pula perpisahan. Tidak terasa empat bulan telah berlalu, saya harus pulang ke Indonesia karena masa berlaku visa sudah habis. Setelah makan malam, diadakan ibadat perpisahan di kapel Maryknoll Sisters Quezon City tidak lupa dengan lagu ”Don’t be Afraid”, yang merupakan salah satu penghiburan untuk saya karena salah satu liriknya adalah ”speak my words to foreign men and they will understand” .
Archie, salah seorang murid yang sangat antusias dengan soal yang saya berikan ketika mengajar di OLV Samal dan tidak bisa berbahasa Inggris, memberi kulit kerang suatu pagi. Semula saya pikir, dia bermaksud menunjukkan kulit kerang tersebut tetapi akhirnya saya mengerti bahwa kulit kerang itu untuk saya. Ditegaskannya niatnya itu kepada Genie sehingga Genie pun meminta saya untuk menyimpan kulit kerang itu karena merupakan hadiah. Archie kembali memberikan kulit kerang beberapa hari kemudian dan mencoba untuk bercakap-cakap dengan saya dalam beberapa kesempatan meskipun saya selalu bertanya ”What do you mean?” dan pembicaraan menjadi tidak menyambung karena dia tetap berbicara dengan bahasa Visayas.
Setiap kali melewati kios korannya, saya selalu tersenyum atau mengucapkan ”Good Morning” dan segera berlalu menuju Gereja Paroki untuk mengikuti Ekaristi harian. Tetapi hari itu saya berangkat agak pagi sehingga terpikir untuk mengajaknya bercakap-cakap. Dia langsung berkata ”I Love You, Sister” ketika melihat saya. Saya terdiam sesaat, tidak tahu harus mengucapkan apa. Dia bahkan tidak tahu nama saya! Akhirnya kami pun bercakap-cakap tentang keluarganya setelah saya juga mengatakan ”I Love You too” dengan lirih. Saya bahkan baru menanyakan namanya sepulang dari Gereja.
Dua pengalaman yang sulit dimengerti tetapi sungguh menjadi bukti penyelenggaraan Ilahi, sebagaimana pengalaman-pengalaman, yang lebih dari yang saya harapkan ketika saya berani mengatakan ”Here I am Lord to do Your Will”.

Surabaya, 29 Juni 2007
Hari Raya St. Petrus dan Paulus



Linda AB, M.M. - linda_ab06@yahoo.com
Let’s make God’s love visible