Renungan: Minggu Adven II 2010

(Bacaan Hari Minggu Adven II tahun A: Yes 11:1-10, Rom 15:4-9 dan Mat 3:1-12)
Dalam masa Adven, Gereja secara khusus mengajak kita semua untuk secara aktif menyiapkan diri menyambut kedatangan Penyelamat dunia.
Bacaan Pertama Minggu Adven II menyatakan tentang Raja Damai yang akan datang karena orang Yahudi pada masa Yesus sedang menantikan seorang Mesias/Penyelamat. Dalam Yesaya 11: 1 dikatakan tentang asal dari Raja Damai, yaitu Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yg akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikatakan tunggul adalah pangkal pohon yang masih tinggal tertanam di dalam tanah sehabis ditebang. Jadi Mesias yang akan datang, merupakan suatu kehidupan baru dan buah yang keluar dari sesuatu yang sudah ditebang.
Mesias yang akan datang memiliki karakter yang dipenuhi dengan Roh Allah sebagaimana dinyatakan dalam Yesaya 11: 2-3a: Roh Tuhan akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan TAKUT AKAN TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan Tuhan. Yang menjadi dasar dari itu semua adalah Takut akan Tuhan – ini juga seharusnya menjadi dasar dari segala komitmen kita untuk mengenal, mencintai dan melayani Dia. Masa Adven bisa menjadi masa untuk merenungkan komitmen kita, baik dalam komunitas sel maupun komunitas yang lebih besar, apakah kita mengalami pertumbuhan/perubahan karakter selama bergabung dengan komunitas?
Mesias akan datang untuk membawa keadilan Allah dengan cara yang sangat berbeda dengan cara yang ada pada masa itu. Sebagaimana dikatakan dalam Yesaya 11: 3b-5: Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan,...kejujuran…kebenaran…kesetiaan.
Kedamaian antara sesama manusia dan antara manusia dengan seluruh ciptaan telah rusak karena kejatuhan manusia dalam dosa sebagaimana dalam Kejadian bab 3-4 (Manusia jatuh ke dalam dosa dan Kain membunuh Habel). Tetapi kehadiran Penyelamat Dunia akan membawa damai antara sesama manusia dan antara manusia dengan seluruh ciptaan, sebagaimana dalam Yes 11: 6-9: Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya. Kedatangan Mesias memulihkan hubungan manusia dengan Allah karena dosa manusia diampuni, dan manusia didamaikan kembali dengan Allah. Pemerintahan Mesias adalah pemerintahan yang penuh damai sehingga digambarkan sebagai Taman Firdaus yang dipulihkan. Karenanya ketika Yesus menjadi Raja dalam hidup kita, kita akan merasa damai sejahtera meskipun bukan berarti tidak ada konflik/masalah.
Bertobat artinya meninggalkan kehidupan lama dan melangkah untuk melakukan kehendak Tuhan. Pertobatan merupakan buah dari pengampunan Allah dalam hidup kita, sehingga kesadaran akan kasih pengampunan ini, akan membawa pada pertobatan yang sejati.
Yesus datang untuk mengubah dunia dan Dia memulainya dari kehidupan kita. Roh Kudus, yang adalah agen perubahan, memampukan kita untuk berpartisipasi dalam proses perubahan dunia ini.
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjadi Pembawa Damai Allah:
Melakukan pertobatan secara terus menerus termasuk melalui Sakramen Pengakuan Dosa.
Menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan --- Ada yang mengatakan Perubahan bukanlah perubahan hingga terjadi suatu perubahan. Dalam Matius 3: 10-12 dinyatakan Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api....Alat penampi sudah ditangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan. Pengadilan Allah berlaku bagi semua orang, termasuk kita yang sudah dibaptis secara Katolik, tanpa kecuali.
3. Mewartakan Kabar Baik - supaya semua bangsa tahu bahwa Yesus datang dan Dia membawa perdamaian bagi dunia, bedakan dengan Mat 28: 19-20: Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman termasuk melalui sharing pengalaman iman dalam hidup sehari-hari sebagaimana biasa kita lakukan dalam persekutuan doa, tetapi tentu tidak terbatas pada waktu persekutuan doa saja. Saya belajar untuk mensharingkan pengalaman iman ketika mengikuti Sekolah Evangelisasi Pribadi di Surabaya. Setiap dua minggu sekali, kita diminta menuliskan pengalaman iman kita. Dari pengalaman ini, saya kemudian menuliskan pengalaman-pengalaman saya dengan lebih detail karena saya memang suka menulis dan mengirimkannya kepada teman-teman melalui email, berkembang menjadi blog, sampai akhirnya menerbitkan sebagian dari pengalaman-pengalaman saya dalam sebuah buku dengan harapan dapat menjangkau lebih banyak pembaca.
4. Berpegang teguh pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci, yang tentunya harus dimulai dengan membacanya.
5. Menjadi pembawa damai, bukan hanya sebagai penjaga damai. Pembawa damai bukan berarti anti konflik. Yesus tidak menghindari konflik, namun Dia selalu menjadi pembawa damai ketika konflik terjadi. Yesus telah mengubah hidup kita supaya kita dapat menjadi pembawa damai di tengah dunia.
6. Dengan adanya kedamaian, akan tercipta kerukunan sehingga kita sehati dan sesuara memuliakan Dia sebagaimana dalam Rom 15: 5-6: Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus dan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Dia pun turut memuliakan namaNya seperti tertulis dalam Rom 15: 9 dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: ''Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.” dan Yesaya 11: 10: Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.

Dengan demikian masa Adven tidak hanya menjadi masa untuk merenungkan komitmen kita dalam komunitas ini tetapi juga untuk merenungkan apa yang telah dan bisa kita perbuat untuk menjadi pembawa damai dan kabar baik bagi orang-orang di sekitar kita.
Saya akan mengakhiri renungan pada malam ini dengan sebuah artikel dari buku Burung Berkicau oleh Anthony de Mello, SJ:
Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini: 'Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan aku selalu berdoa: Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia!'
'Ketika aku sudah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi: 'Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku: keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas.'
'Sekarang ketika aku sudah menjadi tua dan saat kematianku sudah dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya sekarang adalah: 'Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri.' Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku!'
Setiap orang berpikir mau mengubah umat manusia. Hampir tak seorang pun berpikir bagaimana mengubah dirinya.


Guangzhou, 3 Desember 2010


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

P.S. Materi renungan ini dari HSM Surabaya, ditulis ulang untuk Komsel Zhongda-Guang Wai pada 3 Desember 2010