Sharing: ...Ajarku Menyadari Kau Slalu Sertaku...





Keinginan untuk menyelesaikan studi empat tahun mendorong saya untuk memanjatkannya lewat Novena Hati Kudus Yesus. Meski begitu saya juga mohon kerendahan hati untuk menerima apa yang terjadi karena saya menyadari bahwa banyak faktor yang mempengaruhi kelulusan saya. Apalagi bila mengingat karakter dosen pembimbing utama saya. Beliau terkenal galak, sangat teliti dan sebut lain yang sejenisnya, tetapi karakter seperti ini justru menantang saya untuk memintanya menjadi dosen pembimbing.

Keinginan itu ternyata tinggal keinginan. Saya tetap seorang mahasiswa dengan setumpuk kertas-kertas dan disket ketika bulan Oktober tiba. Sempat terlintas pemikiran, seandainya saya benar-benar melepas semua kegiatan non-akademik saya, mungkin saya bisa mewujudkan keinginan itu. Tetapi ternyata saya juga tidak begitu yakin. Akhirnya saya berpikir, mungkin ada rencana lain yang telah disediakanNya untuk saya. (semoga saja saya tidak membenarkan diri).

Kegagalan ini ternyata membawa banyak hal. Beberapa obsesi behasil saya wujudkan meski masih ada yang harus saya kubur. Saya lebih banyak merefleksikan apa yang selama ini saya alami dan ini membuat saya lebih jujur terhadap diri sendiri.

Dengan perantaraan Novena Hati Kudus Yesus lagi, saya panjatkan keinginan saya untuk ujian sidang di bulan Desember 1993. Beberapa hambatan sudah di depan mata, dosen pembimbing utama hanya ada di tempat setiap Sabtu padahal sebelumnya beberapa kali harus ke luar kota. Tetapi akhirnya keluar juga keputusan beliau bahwa saya bisa ujian sidang tanggal 18 Desember 1993 (satu-satunya hari yang mungkin di bulan itu). Akhirnya tepat di hari terakhir pendaftaran ujian sidang (sepuluh hari sebelum ujian sidang), saya berhasil mendaftarkan diri meskipun sebelumnya harus was-was karena masalah tanda tangan dosen pembimbing, fotocopy dan keterangan bebas pustaka belum selesai. Kebetulan hari itu adalah hari terakhir novena saya.

Hampir bisa dipastikan saya ujian tanggal tersebut, tetapi saya sangat menyadari bahwa banyak hal bisa terjadi dalam sepuluh hari tersebut.

Novena sekali lagi. Kali ini Tiga Salam Maria. Persiapan untuk ujian boleh dibilang amburadul soalnya malah pengen rileks. Tiba juga hari H-nya. Saya rasanya lebih takut kalau batal daripada menghadapi ujiannya, mungkin ini karena kalau batal berarti saya harus ujian di tahun 1994 (meski cuma berbeda beberapa hari). Untungnya ujiannya jadi juga, meski pembimbing utamanya harus ke rumah sakit dulu dan akhirnya ujian hanya sebentar karena beliau harus pergi lagi. Hari itu juga saya dinyatakan lulus tetapi rasanya biasa-biasa saja tuh!

Satu masalah selesai. Tuhan masih mau mendengarkan doa saya meski hidup doa saya (masih) amburadul bahkan malah sering terlambat Ekaristi ketika menyiapkan ujian sidang.

Masih ada yang harus dikerjakan, yaitu perbaikan skripsi dan melengkapi beberapa syarat agar bisa mengikuti wisuda. Muncul masalah juga karena persetujuan ketua jurusan belum keluar padahal hari pendaftaran wisuda hampir berakhir. Untunglah keterangan bebas skripsi akhirnya bisa keluar setelah saya berjanji untuk membawa skripsi dengan tanda tangan ketua jurusan.

Pada akhirnya, saya diwisuda juga pada bulan Januari lalu. Begitu banyak hal yang dapat saya petik hikmahnya. Bagaimana saya benar-benar merasa bergantung padaNya apalagi ketika saya sudah putus asa. Tiap kali, yang menguatkan saya hanya keyakinan bahwa kalau memang sudah waktunya saya akan didampingiNya untuk meraih apa yang saya cita-citakan.

Akhirnya saya ingin menutup tulisan ini dengan penggalan sebuah lagu…Semua yang terjadi di dalam hidupku, ajarku menyadari Kau slalu sertaku. Bri hatiku selalu bersyukur padaMu, karna rencanaMu indah bagiku.

A.B. Lindawati P. (Alumnus IPB tinggal di Mojoagung)

P.S. Tulisan ini dimuat di Buletin SUKA Mei 1994