Sharing Panggilan untuk Misa KKI HKG 21 Agustus 2011







Selamat siang semuanya. Pertama-tama saya ucapkan banyak terima kasih kepada Romo John Indarta, SVD yang telah memberi kesempatan, untuk mensharingkan panggilan saya sebagai seorang suster Maryknoll.


Nama saya Anastasia Lindawati, dilahirkan di Jombang, menempuh pendidikan di sekolah Katolik sampai SMA dan dibaptis sewaktu kelas tiga SMA.


Sebagaimana saya tuliskan dalam buku saya “Menghitung Berkat” halaman 37: “Semasa kecil, saya sempat berpikir untuk menjadi sus­ter. Ketika kuliah, saya sering melakukan wawancara dengan para suster tentang kehidupan membiara. Tapi kemudian saya tidak berminat menjadi suster dengan pemikiran bahwa suster tidak bisa mempersembahkan Misa. Pekerjaan seorang suster bisa dilakukan dengan menjadi awam tetapi pekerjaan seorang imam tidak bisa dilakukan oleh seorang awam. Kalau saya seorang laki-laki, saya mau menjadi imam.”


Setamat kuliah, saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya, sampai akhirnya saya mengalami pertobatan kedua ketika mengikuti Retret Awal di Pertapaan Karmel Tumpang tahun 2004. Saya kemudian mengikuti Sekolah Evangelisasi Pribadi di Surabaya.


Ketika sedang duduk di depan gua Maria di Pertapaan Karmel Tumpang, di bulan Oktober 2005, saya mulai menangis ketika menyadari betapa Tuhan sangat memberkati saya, dan mulai berpikir tentang panggilan hidup saya. Saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan empat bulan kemudian. Saya mulai mengunjungi beberapa komunitas biarawati, mengikuti beberapa retret dan Sekolah Evangelisasi se-Asia Pasifik di Australia.


Saya mengenal Maryknoll Sisters pada bulan Juni 2006, melalui dua orang imam yang pernah menjadi murid Maryknoll Sisters sewaktu masih frater di Bandung. Komunikasi saya dengan Maryknoll Sisters berlangsung melalui email, mengingat tidak ada biara Maryknoll Sisters di Indonesia sejak kemerdekaan Timor Leste.


Saya menjalani “live in” di Maryknoll Sisters Filipina selama empat bulan dan diterima untuk menjalani masa orientasi sebagai calon Maryknoll Sisters, sehingga saya berangkat ke Amerika Serikat pada bulan Juli 2007. Selama masa orientasi di Chicago, saya tinggal bersama para calon suster yang lain dan suster pendamping, bergiliran melakukan kegiatan sehari-hari, mengikuti kuliah, mengunjungi pasien di rumah sakit dan penderita HIV/AIDS, menjadi tenaga sukarela di pusat kehamilan, dll.


Saya mengucapkan kaul kemurnian, kemiskinan dan ketaatan, untuk tiga tahun pada tanggal 9 Agustus 2009 di New York, dimana saya berjanji untuk hidup sederhana, dan dengan ketaatan sebagai wanita selibat dalam komunitas, mengikuti Injil, dan berkomitmen untuk melayani misi universal Gereja. Saya mendapat penempatan pertama di regio Cina yang meliputi Cina, Hong Kong dan Macau. Saat ini saya sudah belajar Putonghua selama dua semester di Guangzhou dan akan melanjutkannya untuk dua semester lagi. Selama di Guangzhou, saya bersama PDKK “Hati Kudus Yesus” mengadakan kunjungan kepada penderita kanker di rumah sakit, penderita kusta dan orang-orang dengan cacat mental.


Bila melihat kembali perjalanan hidup religius saya, maka itu merupakan cerita tentang kesetiaan Allah terhadap janjiNya sebagaimana tertulis dalam Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma 8: 28 “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Saya sudah pernah memutuskan untuk tidak menjadi biarawati semasa kuliah tetapi ternyata Tuhan memanggil untuk kedua kalinya.


Yang menjadi tanda sebagai seorang suster Maryknoll adalah cincin dengan logo Chi Rho, yaitu dua huruf pertama dalam bahasa Yunani yang artinya Kristus, dan lingkaran yang melambangkan dunia. Motto Maryknoll Sisters adalah Membuat Cinta Allah Kelihatan, yang menjadi inspirasi motto saya, Mari kita melakukan hal sederhana dengan cinta yang sederhana untuk membuat Cinta Allah Kelihatan.


Setelah menyerahkan sebagian besar sekolah termasuk Maryknoll Convent School di Kowloon Tong, rumah sakit termasuk Our Lady of Maryknoll Hospital di Wong Tai Sin, kami melakukan berbagai jenis pelayanan di Afrika, Asia, Amerika dan Kepulauan Pasifik, seperti mengadakan latihan kepemimpinan, mengajar, merintis proyek penambah penghasilan, dan melayani penderita HIV/AIDS.


Dalam buku “Kasih Sahabat” yang saya tulis bersama Romo Lukas Batmomolin, SVD, saya menulis: Dalam refleksi untuk memilih tempat misi pertama, saya menuliskan sebagai berikut “Saya menyadari betapa kecil diri dan kemampuan yang dapat saya sumbangkan dalam pelayanan kepada misi universal Gereja, tetapi betapa besar saya disemangati untuk terus melangkah karena misi tidak semata-mata melakukan sesuatu untuk orang lain, tetapi juga berada bersama orang lain, mendengarkan, berbagi dan berdoa bersama mereka.” (halaman 47).


Semoga setelah mendengar sharing panggilan ini, minat untuk menjadi biarawan/wati muncul lagi, apapun konggergasinya karena saya mendengar beberapa orang mengatakan dulu pernah ingin menjadi biarawati. Setiap konggergasi memiliki kharisma masing-masing dan kita mempunyai kisah panggilan yang unik. Saya sendiri telah mengunjungi 8 biara termasuk Maryknoll, sebelum akhirnya bergabung dengan Maryknoll. Bagi yang berminat mengetahui mengenai Maryknoll, bisa melihatnya di website http://www.mklsisters.org/, atau bisa juga dengan melihat di blog saya http://anastasialindawatimm.blogspot.com/.


Saya akan mengakhiri sharing ini dengan kutipan dari Mother Mary Joseph pendiri Maryknoll Sisters “Setiap orang, dengan pekerjaannya masing-masing, dengan daya tariknya masing-masing, dipakai oleh Allah sebagai sarana khusus untuk melakukan pekerjaan tertentu untuk menyelamatkan jiwa tertentu.”


Terima kasih banyak untuk doanya bagi para imam dan biarawan/wati, mohon tidak berhenti mendoakan kami, terutama saya, supaya kami bisa menjadi imam dan biarawan/wati yang sebagaimana yang Tuhan inginkan dan semakin banyak yang terpanggil untuk menjadi imam, biarawan/wati. Amin.



Hong Kong, 21 Agustus 2011




Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.


Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible