Sharing: Surat dari Desa Giritirta

Salam damai dalam Kristus,
Selamat berjumpa kembali! Saat ini saya berada di rumah Bapak Kepala Desa Giritirta, Kec. Pejawaran, Kab. Banjarnegara, Rumah yang akan saya tempati selama dua bulan Kuliah Kerja Nyata (=KKN) saya di desa ini. Lewat tulisan ini saya ingin menceritakan pengalaman saya hidup di desa ini selama sembilan hari.

Mengenal Desa Giritirta
Dari Banjarnegara, desa ini dapat ditempuh dengan bis yang dilanjutkan dengan colt bak terbuka, yang merupakan angkutan pedesaan di sini dan jalan kaki di jalanan yang naik turun dan berbatu lebih kurang 20 menit dimana total semuanya lebih kurang dua jam.
Makanan utama di sini adalah nasi jagung (baru pertama kali ini saya mencobanya). Penduduk biasanya mandi di pancuran dan buang air di atas kolam ikan. Jalanan desa berbatu yang naik turun tetapi tempat saya tinggal merupakan dusun terbawah. Listrik menyala 18.00-07.00 WIB karena memakai kincir.
100% penduduk di sini beragama Islam (di Kec. Pejawaran, jumlah umat Katolik bisa dihitung dengan jari tangan, kalau tidak salah lima orang).
Di desa ini ada kesenian yang dinamakan Jepin yang dimainkan oleh beberapa orang laki-laki. Mulanya seperti menari biasa tapi kemudian ada yang “ndadi” (bahasa Jawa), bisa makan apa saja dan bahkan bisa disuruh apa saja. Yang sedang “ndadi” ini sangat menurut pada pelatihnya, sepertinya ada roh yang masuk ke tubuh yang “ndadi” ini (di sini disebutnya “mendem” atau “mabuk” meski tidak minum minuman keras) dan bila roh tersebut akan keluar maka tangan yang bersangkutan dikatupkan dan kemudian ditempelkan pada wajah. Alat musik yang digunakan untuk mengiringi adalah gendang dan terbang. Siang tadi saya berkesempatan melihat mereka latihan…yang saya khawatirkan cuma satu, yaitu kalau tiba-tiba saya diserang oleh yang “ndadi” karena saya adalah orang asing, makanya begitu melihat latihan mereka, saya mohon supaya Tuhan mau menurunkan Roh KudusNya tetapi saya serahkan segalanya kepadaNya. Menurut informasi yang saya dapatkan, Jepun ini menggunakan “black magic” dan biasanya ada di dusun yang hidup keagamaannya belum kuat.
Ada juga kesenian yang dinamakan Ebig, kalau di tempat lain katanya disebut kuda lumping, yang juga pakai acara “ndadi.”

Mengenal Saudara Seiman Secara Tidak Sengaja
Setiba di desa, kami harus membuat makalah lokakarya tingkat kecamatan, yang berisi rencana kegiatan yang akan dilakukan berdasarkan hasil survey selama dua hari di desa masing-masing (ada enam desa yang menjadi lokasi KKN).
Ketika lokakarya, pejabat-pejabat di tingkat Kecamatan diperkenalkan. Ketika mendengar nama Kepala Puskesmas, dr. Agustinus, saya langsung berpikir bahwa beliau seorang Kristen. Sayangnya saya tidak mempunyai keberanian untuk bertanya secara langsung (karena nama beliau tidak disebut oleh Romo Paroki Purbalingga maupun Wonosobo).
Akhirnya saya tahu bahwa beliau seorang Katolik ketika saya harus menjemputnya karena teman sedesa saya sakit. Di dinding rumahnya terpasang sebuah salib, hanya saja beliau tidak biasa ke gereja Banjarnegara, melainkan di Yogyakarta.

Mengikuti Perayaan Ekaristi
Katika tahu saya ditempatkan di Kecamatan ini (saya memang sayang berharap bisa berKKN di Banjarnegara, terutama karena ingin mencari pengalaman), saya menghubungi Romo Paroki Purbalingga dan Wonosobo untuk mendapatkan informasi tentang gereja terdekat. Bahkan saya mendapatkan beberapa nama umat Katolik yang dekat dengan lokasi saya.
Salah satu nama yang disebutkan tinggal di Kec. Karang Kobar (antara Kec. Pejawaran dan Banjarnegara). Di sini biasa diadakan misa wilayah tiap Kamis Pon (di daerah ini, hari pasaran lebih memasyarakat dibanding penanggalan Masehi). Dari beliau saya tahu bahwa hidup sebagai umat Katolik juga penuh tantangan. Biasanya misa wilayah ini digilir di rumah umat tetapi kemudian beliau berinisiatif untuk mengubah garasinya menjadi kapel tetapi baru tiga kali kapel ini digunakan, sudah muncul keberatan dari masyarakat. Akhirnya kapel ini tidak digunakan lagi.
Setelah Ekaristi hari Sabtu sore di Banjarnegara, saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan seorang guru, atas informasi Romo dari Paroki Wonosobo, tetapi belum sempat saya temui karena tinggal di desa lain. Dari beliau saya tahu bahwa menjadi seorang umat Katolik di daerah ini harus benar-benar kuat bahkan dalam surat undangannya untuk menghadiri misa wilayah di Karang Kobar besok, beliau mengatakan bahwa akhir-akhir ini umat Katolik di Karang Kobar dituntut kepasrahan total dalam berekspresi.
Gereja Banjarnegara merupakan stasi dari Paroki Wonosobo. Selama KKN saya tetap bisa mengikuti Ekaristi Minggu, meskipun saya tidak mempunyai banyak pilihan seperti ketika tinggal di Bogor, yang bisa ada 3-5 kali Ekaristi untuk hari Minggu saja. (Bila saya ingin mengikuti Ekaristi pada hari Minggu, bisa ke Wonosobo atau Purbalingga yang berjarak lebih kurang satu jam dari Banjarnegara). Ini bisa saya lakukan karena di Banjarnegara ada rumah yang bisa untuk menginap (karena kalau sore sudah tidak ada lagi angkutan pedesaan dari Karang Kobar). Sehingga tidaklah aneh bila umat yang dari “gunung” menginap setelah Ekaristi baik di Gereja Banjarnegara maupun di Karang Kobar. Kalau hari Minggu, di Gereja Wonosobo ada Ekaristi dalam bahasa Jawa (tentunya ini sayang untuk dilewatkan, khan?)
Saya sangat bersyukur meskipun berada di “gunung” saya tetap bisa mengikuti Ekaristi (bahkan pada hari pertama di Banjarnegara, saya sudah tahu letak Gereja meskipun saya adalah satu-satunya mahasiswa Katolik di Kecamatan ini), mengenal umat Katolik di sini berkat bantuan Romo dari Paroki Purbalingga dan Wonosobo sehingga saya tidak menjadi umat Katolik yang “hilang” selama dua bulan.

Hidup Sebagai Umat Katolik di Desa
Di desa ini ada empat mahasiswa KKN, dua laki-laki beragama Islam, dan dua perempuan beragam Kristen Protestan dan Katolik.
Saya tidak mengatakan bahwa saya seorang Katolik tetapi keluarga Kepala Desa sudah tahu (salah satunya karena tidak pernah bangun pagi saat shalat subuh). Tetapi saya tetap membuat tanda salib sebelum memulai makan meskipun di sebelah saya ada Ketua Pemuda Muhammadiyah maupun di rumah penduduk.
Dalam pertemuan-pertemuan dengan penduduk, saya tidak memulai pembicaraan saya dengan “Assalamualaikum Wr. Wb” tetapi terkadang saya menjawab “Walaikum salam.”
Rencananya saya akan menghadiri pengajian yang dilakukan di rumah-rumah karena secara implisit salah satu teman laki-laki sedesa saya mengatakan bahwa saya tidak boleh masuk Mesjid, meskipun ketika ada pengajian akbar, Ketua LKMD mengundang saya untuk hadir, demikian juga Ibu Kepala Desa sempat menanyakan “nanti ke Mesjid?” ketika melihat di pundak saya ada kerudung, sehabis membantu konsumsi. Kini saya sudah punya kerudung sendiri.
Saya sempat diajak berbicang-bincang dengan pemimpin pengajian akbar, yang mengatakan tentang kesesuaian antara Islam dengan falsafah China.
Sekian saja “surat dari desa.” Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari surat ini.


Giritirta, 17 Februari 1993



A.B. Lindawati P.

P.S. Surat ini ini ditulis ulang pada 28 Agustus 2011