Puisi: Teruntuk Seorang Clara

Suatu hari,

berbulan yang lalu

kamu datang dengan sebuah berita,

berita yang cukup mengejutkanku

sebuah tawaran datang kepadamu

Ketua Mudika, itulah isi tawarannya.

Tentu saja aku tidak bisa memberi apa-apa

kecuali anjuran untuk menerima dan sebentuk dukungan.

Hari demi hari berlalu

dan bulan pun berganti

sudah cukup banyak cerita bergulir dari bibirmu
segala suka dan duka sebagai seorang ketua
tapi di atas semuanya itu
kulihat kamu cukup sukses
dalam mendinamiskan kegiatan mudika.
Tapi,
hari ini
Kamu datang lagi dengan sebuah berita,
berita yang lagi-lagi mengejutkanku.
Pengunduran diri, itulah isi beritamu.
Tapi kali ini bukan dukungan yang aku berikan
karena…
ini bukanlah berita yang bisa aku duga sebelumnya
dan juga tentunya tidak aku harapkan
sekitar jam sembilan kamu masih sempat mengatakan
“Paskahan, koor sukses”
Tapi jam satu kamu datang dengan berita yang mengejutkan itu.
Terus terang aku menyayangkan keputusanmu yang satu ini
karena aku berharap kamu bisa menjadi contoh
bagi kaum muda yang lain
yang mau memberi dari kekuranganmu.
Mungkin aku tidak akan pernah mendengar lagi
Cerita tentang kegiatan Mudika di Paroki kamu
Malam ini,
ketika kutulis tulisan ini
aku masih sangat berharap kamu masih membuka untuk sebuah pertimbangan
karena aku juga masih berharap
keputusanmu itu kamu ambil dengan “emosi.”
Tidakkah kamu lihat
adik-adikmu masih butuh sosok kamu
sosok yang siap membimbing dan mendampingi mereka
Aku masih berharap…
dan semoga harapku ini sama dengan mereka,
adik-adikmu

Bogor, 20 April 1992

Yang masih berharap,

A.B. Lindawati

NB: Kugoreskan ini untuk C.Selly


Tambahan dari Selly 24 Agustus 2011: Ketua mudika pengganti adalah adik kelas yang selama ini dekat dengan Selly sehingga merupakan kaderisasi. Hikmahnya jadi ketua itu masalah mudah, bertahan di tengah badai adalah perkara tersulitnya.