Serba-Serbi: Lebih Jauh dengan Alkitab

PENGANTAR

Dalam bulan ini, Gereja merayakan Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Ada baiknya kita mengenal lebih jauh Alkitab kita, bukan sekedar membaca atau mendengarkan ayat-ayat yang tertulis di dalamnya. Beberapa pertanyaan yang mungkin selama ini ada di benak pembaca, dicoba dijawab lewat tulisan ini.

Alkitab biasa disebut Perjanjian karena berisi perjanjian antara Allah dengan manusia, yang merupakan suatu hubungan yang istimewa. Perjanjian yang terjadi sebelum Yesus Kristus dicatat dalam Perjanjian Lama, sedangkan yang terjadi melalui Yesus Kristus dicatat dalam Perjanjian Baru, yang merupakan kelanjutan, peningkatan dan penyelesaian perjanjian sebelumnya.

NASKAH ASLI SUDAH HILANG

Alkitab terdiri dari beberapa kitab, dimana kitab-kitab yang diterima oleh semua gereja disebut Kanonika (=termasuk daftar kitab-kitab suci). Di samping itu masih ada yang disebut Deuterokanonika (=termasuk daftar kitab-kitab suci yang lain) yang hanya dipakai oleh Gereja Katolik dan Yunani Ortodoks.

Daftar resmi kitab-kitab suci semula disusun oleh ahli kitab Yahudi. Jemaat Kristen semula memakai daftar ini tetapi kemudian menyusun daftar sendiri, yang jumlahnya lebih banyak. Gereja Katolik meneruskan tradisi jemaat Kristen ini, sedangkan jemaat Reformasi menggunakan daftar dari ahli kitab Yahudi.

Naskah-naskah yang ditulis oleh penulis asli sudah lama hilang. Naskah-naskah ini ditulis di atas semacam kertas yang terbuat dari sejenis gelagah yang banyak terdapat di Mesir (disebut papirus) atu di atas kulit binatang yang telah diolah (disebut perkamen).

Naskah–naskah ini disalin dengan tangan sehingga sangat mungkin terdapat kesalahan yang kebetulan saja terjadi atau sengaja dibuat atas dasar macam-macam pertimbangan atau karena cara menulis dan bentuk huruf yang berbeda. Tentunya sudah diupayakan untuk memulihkan seperti asliny, tetapi ternyata tidak selalu berhasil baik.

Naskah Perjanjian Lama ditulis dalam Bahasa Ibrani, Aram dan Yunani, sedangkan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Saat ini Alkitab sudah diterjemahkan lebih dari 1500 bahasa, tetapi ternyata tidak satupun terjemahan yang memuaskan semua orang dan tak satupun yang dapat sepenuh-penuhnya dipercayai.

Pembagian atas bab dan ayat baru dilakukan sekitar tahun 150M, yang dimaksudkan untuk memudahkan mengutip dan menemukannya kembali. Pembagian ini ternyata tidak sama dalam semua terbitan.

KARYA MANUSIA DAN KITAB ALLAH

Alkitab serentak karya manusia dan kitab Allah. Melalui pikiran, perasaan dan perkataan manusia, Allah menyatakan rencana, karya dan kehendakNya kepada kita, umat pilihannya.

Alkitab, yang merupakan pengalaman iman selama 2000 tahun, haruslah dibaca sesuai cirinya. Contohnya dalam Perjanjian Lama banyak berisi hokum, maka haruslah dipahami bahwa ini berlaku masyarakat tertentu, pada waktu tertentu dan pada tingkat perkembangan tertentu, sehingga tidak bisa berlaku dimana-mana dan senantiasa.

Alkitab bukanlah ilmu pengetahuan atau buku sejarah atau buku pedoman ilmu kemasyarakatan, jadi tidak akan ditemukan bagimana masyarakat manusia seharusnya tersusun. Juga bukan katekismus melainkan kitab Agama yang menceritakan tentang Allah dan tentang manusia dalam hubungan timbale balik, siapa Allah bagi manusia dan siapa manusia di hadapan Allah. Alkitab juga ditulis menurut alam pikiran masyarakat Israel pada waktu itu, yang tentunya juga lain bila dibandingkan dengan kondisi saat ini dan tempat lain.

Naskah-naskah yang ada ini tidaklah disusun menurut urutan waktu penulisan sehingga tidak heran bila mengetahui bagian pertamanya ditulis tidak paling awal.

Alkitab perlu dibaca sebagai kita yang menyapa kita sendiri, membina dan merangsang kepercayaan kita supaya dapat menghadapi masa yang akan dating dan meneruskan iman kepercayaan yang sama. Alkitab ditulis oleh umat Allah dan bagi umat Allah sepanjang sejarah selanjutnya.

ALKITAB DI INDONESIA

Terjemahan dalam bahasa Indonesia diterbitkan sebagai Alkitab, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam terjemahan baru, yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, ditambah dengan Kitab-kitab Deuterokanonika, yang diselenggarakan oleh Lembaga Biblika Indonesia. Terjemahan ini diterima dan diakui oleh Majelis Agung Waligereja Indonesia. Umat Katolik tentunya dianjurkan untuk membeli Alkitab yang seperti ini.

Selain itu juga tersedia terjemahan ke dalam bahasa Indonesia sehari-hari Kabar Baik, Kitab Suci dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari. Yang terakhir ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan terjemahan standar seperti yang tertulis dalam alinea di atas, melainkan untuk melengkapi dan memenuhi kebutuhan.

Mojoagung, 23 Juli 1994


A.B. Lindawati P.

P.S. Dari berbagai sumber, diketik ulang pada 31 Agustus 2011