Opini: Penyerahan Diri kepada Tuhan = Masih Relevankah di Jaman yang Serba Canggih ini??

Sidang pembaca tentu sangat mengenal Bunda Maria, teladan orang beriman, bagaimana Dia menjawab tugas yang diberikan Allah kepadaNya. Tanpa bertanya ba bi bu lagi, Dia menerima tugas untuk mengandung Kristus dengan penuh kerendahan hati pula, padahal waktu itu Dia belum menikah meskipun sudah bertunangan. Dia tidak memikirkan bagaimana tanggapan orang bila melihatNya mengandung sebelum menikah.
Tetapi itu terjadi lebih kurang 2000 tahun yang lalu, pada saat belum banyak, kalau tidak boleh dikatakan sedikit sekali terjadi pergeseran nilai-nilai ke-Tuhan-an oleh nilai-nilai duniawi. Sekarang jaman telah berubah begitu banyak, dimana manusia dituntut untuk bersikap rasional, sikap yang mau tidak mau telah merubah hubungan manusia dengan Tuhan.
Penyerahan diri kepada Tuhan tidaklah mudah karena menyangkut iman. Dengan iman, kita percaya bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu dan kita bisa berharap daripadaNya.
Tapi tidakkah hal ini akan membuat kita menjadi orang yang pesimis, tidak percaya pada kemampuan sendiri, senantiasa merasa dirinya lemah? Jawaban atas pertanyaan ini berbunyi “tidak,” sekali lagi “tidak!!” Mengapa demikian? Ini semua karena penyerahan diri kepada Tuhan tidak hanya sekedar penyerahan diri, hanya sebagai dalih.
Misalnya saya sebenarnya kita mampu mendapat nilai yang lebih baik tapi karena merasa ingin menjadi orang Katolik yang baik, maka kita serahkan saja semuanya kepada Tuhan. Baik ya diterima, jelek ya diterima karena itu sudah kehendak Bapa, padahal sebenarnya kita malas untuk belajar lebih giat. Ini hanya sekedar contoh sederhana, masih banyak contoh yang bisa diambil sebagai bahan refleksi.
Sebenarnya dalam menyerahkan diri kepada Tuhan, kita juga harus punya suatu keyakinan yang menurut kita sudah baik, pas, bagus. Karena dengan adanya keyakinan ini, kita dilecut untuk berusaha meskpun kita tidak tahu keyakinan kita itu sudah sesuai belum dengan kehendak Tuhan. Hasil akhir tetaplah di tangan Tuhan, manusia hanya bisa berusaha, Tuhanlah yang menentukan.
Satu hal lagi, yang dituntut dari penyerahan diri kepada Tuhan adalah usaha kita. Kemalasan tidak bisa dijadikan dalah bahwa kita telah menyerahkan segalanya ke tangan Tuhan.
Dengan berserah diri kepada Tuhan, ingat tidak hanya sekedar menyerahkan diri, tetapi dengan penuh kerendahan hati mau menerima segala kehendak Tuhan, kita menjadi tenang setidak-tidaknya tidak terlalu kecewa bila kita mengalami cobaan, kita bisa menilai cobaan itu sebagai suatu hikmah, ada pelajaran yang bisa kita petik.
Tidak hanya itu, penyerahan diri kita kepada Tuhan akan membuat kita selalu ingat akan keterbatasan-keterbatasan kita. Tidak menjadikan kita sebagai orang yang sangat ambisius, karena bagaimanapun juga bagi orang yang bercita-cita terlalu tinggi tentu sangat sakit kalau jatuh. Ambisius boleh-boleh saja, asal ingat dengan keterbatasan-keterbatasan kita.
Jadi penyerahan diri kepada Tuhan masih relevan, bahkan sangat relevan di jaman yang serba canggih ini. Minimal sebagai kontrol diri.
Kita semua harus masih belajar banyak kepada Bunda Maria dalam hal penyerahan diri. Hendaknya kita tidak hanya mengatakan “Ya Bapa, saya serahkan segalanya kepadaMu.” Tetapi juga “Berilah saya kerendahan hati supaya saya dapat menerima apapun kehendakMu.” Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu (Mat 7:7). Kita juga dapat memintanya kepada Bunda Maria agar memberi bimbingan kepada kita supaya berani seperti Dia.

Bogor, 27 Agustus 1990


A.B. Lindawati P.