Renungan: Hukum yang Terutama

Hari Minggu Biasa XXX, Hari Minggu Misi Sedunia
Bacaan I: Kel 22:21-27; Bacaan II: 1Tes 1:5c-10; Injil: Mat 22:34-40

Dalam Injil kita mendengar tentang Hukum yang Terutama dan pertama, yaitu Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Artinya mengasihi Allah dengan total, artinya pertama-tama mencari kehendak Allah dan bukan kehendak sendiri bahkan juga bukan kehendak orang tua, pacar, suami, istri, dll meskipun bukan tidak mungkin kehendak Allah tampak dalam kehendak mereka. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mohon rahmat untuk menjadi pribadi seperti yang Allah inginkan.
Sedangkan Hukum yang kedua, yaitu Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Beberapa contoh konkritnya bisa dilihat di dalam bacaan pertama, dimana kita mendengar bagaimana bertindak terhadap orang-orang yang tidak mampu, terhadap orang asing, terhadap janda dan anak yatim, terhadap orang yang meminjam uang dan menggadaikan pakaiannya. Ketika kita kehabisan uang karena kiriman uang terlambat datang, menjadi pendatang di tempat baru, kehilangan orang tua atau pasangan hidup, kita tentu berharap ada yang menolong, terutama secara materi.
Bagaimana bersikap terhadap barisan pengemis di depan Gereja? Memberi mereka sedekah padahal ada yang mengatakan bahwa memberi kepada penggemis membuat mereka semakin malas. Dalam buku kolaboratif saya dengan Romo Lukas Batmomolin, SVD yang berjudul Kasih Sahabat, saya menuliskan: “Saat itu saya sedang berjalan di depan sebuah pertokoan. Ada seorang lelaki berkulit hitam melambaikan sepotong kertas dengan tulisan meminta USD. 1.00, sepertinya dia bisu. Saya tetap berjalan sambil membuka dompet saya. Tidak ada uang USD. 1.00 di dompet, jadi saya memberi isyarat kepadanya bahwa saya tidak mempunyainya. Saya terus melangkah sampai berbelok di tikungan jalan dan tibatiba terlintas dalam pikiran saya bahwa saya bisa memberinya USD. 5.00. Saya membuka dompet sambil berjalan kembali ke arahnya. Dia tidak ada lagi di tempatnya. Saat itu, saya hanya bisa berpikir, bahwa saya telah melalaikannya, yang bisa jadi adalah Yesus yang dihadirkan dalam hidup saya. Ini menjadi pengalaman yang sangat berarti untuk saya, meskipun saya menyadari bahwa saya masih sering lalai dalam membantu sesama yang membutuhkan.” Sejak saat itu, saya berusaha memberi sedekah, terutama kepada yang cacat dan mengatakan dalam hati “maafkan saya karena tidak bisa memberi” ketika melewati pengemis tanpa memberi sedekah karena berbagai alasan. Saya juga pernah melihat beberapa pengemis sedang bermain judi.
Kasih kepada sesama ini juga tecermin dalam pesan Bapa Paus Benediktus XVI untuk Hari Minggu Misi Sedunia ke-85 yang jatuh hari ini: Mewartakan Injil berarti Gereja harus menyentuh sendi-sendi kehidupan manusia dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Pasti tidak akan dapat diterima, sebagaimana dinyatakan oleh Hamba Tuhan Paus Paulus VI, kalau di dalam evangelisasi tema-tema pemberdayaan manusia, keadilan, kemerdekaan dari aneka bentuk penindasan, yang pada gilirannya berkaitan dengan hormat terhadap otonomi lingkungan politik, harus diabaikan. Mengabaikan masalah-masalah kemanusiaan saat ini “akan mengabaikan suatu pesan Injili bagi kita berkenaan dengan kasih kepada sesama yang menderita dan lapar” (Desakan Apostolik Evangelii Nuntiandi, 31.34). Beliau juga mengatakan: Misi atau tugas perutusan universal tersebut melibatkan semua orang, meliputi segala sesuatu dan sepanjang segala masa. Injil tidak hanya menjadi milik mereka yang menerimanya secara eksklusif, tetapi juga merupakan suatu rahmat yang harus dibagi-bagikan, kabar gembira yang harus disampaikan kepada orang lain. …. Banyak kebudayaan sedang berubah, antara lain oleh globalisasi, oleh aliran-aliran pemikiran relativisme yang sangat kuat, suatu perubahan yang membawa kita kepada mentalitas dan gaya hidup yang mengabaikan pesan Injil, seolah-olah Tuhan tidak ada, yang berarti hanya mengagung-agungkan kesejahteraan hidup, gampang mendapatkan uang, karir dan kesuksesan sebagai tujuan hidupnya, meskipun bertentangan dengan nilai-nilai moral.
Bersama dengan Rasul Paulus, kita berani mengatakan bahwa pesan Injil bukan disampaikan dengan kata-kata saja, tetapi dengan kekuatan Roh Kudus, sehingga kita sungguh bisa menjadi saksi hidup dalam mewartakan Injil, karena kita tidak hanya berkata-kata tetapi juga melakukannya. Ini tentunya butuh komitmen setiap saat.

Guangzhou, 20 Oktober 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

P.S. Materi renungan ini untuk Komsel St. Theresia pada 20 Oktober 2011