Renungan: Minggu Adven II 2011

Yes 40: 1-5, 9-11, Mzm 85: 9ab, 10-14, 2 Ptr 3:8-14, Mrk 1:1-8

Hello PWKI-ers, jumpa lagi!
Minggu ini kita mendengar (kembali) bahwa Nabi Yesaya telah menubuatkan kedatangan Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun untuk mengajak orang bertobat sehingga meluruskan jalan bagi Tuhan. Banyak orang yang mengaku dosa dan meminta dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Ajakan pertobatan ini juga disampaikan oleh Petrus, dalam bacaan ke dua, ketika menyatakan bahwa kita harus berusaha agar pada hari penghakiman terakhir kita tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya dan dalam perdamaian dengan Dia. Di masa kini, ajakan pertobatan ini ditunjukkan juga oleh warna yang mendominasi perayaan liturgi, mulai dari pakaian imam sampai lilin adven, yang berwarna ungu kecuali pada Minggu Adven ketiga, yang berwarna merah muda. Ajakan pertobatan ini meliputi pertobatan terhadap dosa pribadi dan dosa sosial. Di sisi lain, kita juga juga diajak untuk melihat (kembali) pengakuan dosa sebagai suatu kesempatan untuk hidup lebih berkenan kepada Allah, dan tidak melihatnya sebagai suatu beban. Sesungguhnya dengan berlama-lama memikul beban dosa, membuat kita hidup semakin berat, meskipun mungkin tidak disadari. Ada sebuah cerita tentang ikan sapu-sapu. Ada orang yang mempunyai aquarium berisi ikan-ikan koki. Lumut mulai tumbuh dengan sehat di aquariumnya karena dia tidak sempat membersihkannya sehingga aca aquariumnya mulai buram dan ikan-ikan kokinya berkurang keindahannya. Jadi, dia menyempatkan untuk membeli ikan sapu-sapu. Tanpa membersihkan airnya, ikan sapu-sapu ini langsung dimasukkan ke dalam aquarium. Keesokan harinya, ikan-ikan kokinya tampak begitu indah .... Tetapi bukankah memang ikan-ikan koki itu warnanya indah. Ehhh .... tapi kok lain ya? Warnanya bukan saja indah, tapi begitu bersinar. Lalu diamatinya ikan-ikan koki itu dengan sirip mereka yang panjang bagaikan kain sutera yang berkibar-kibar seolah ditiup angin. Di pojok akuarium, ada seekor ikan hitam yang tidak bersinar sama sekali, seolah sedang menepi dalam dunianya sendiri dan takut untuk bergabung dengan koki-koki indah itu. Lalu disadarinya bahwa ikan-ikan kokinya terlihat begitu indah dan bersinar bukan karena ikan-ikan itu yang berubah, tetapi keadaan di sekitar merekalah yang berubah. Lumut-lumut yang membuat kaca akuarium buram sudah lenyap! Ya, lenyap! Kaca akuariumnya kembali bening sehingga ikan-ikan indahnya terlihat semakin indah. Ikan yang tidak menarik yang dibelinya dengan harga murah itu telah melahap habis lumur-lumut itu. Memang untuk itulah ikan itu dibeli, tetapi dia menyangka akan mendapat ketakjuban yang luar biasa seperti ini. Pertobatan adalah seperti ikan sapu-sapu yang memakan lumut-lumut dosa, sehingga aquarium hati kita menjadi bersih. Dengan demikian diri kita yang indah, sejak awal kita dijadikan oleh Allah, tidak buram tertutup lumut-lumut dosa melainkan kembali indah dan bersinar.
Adven juga menjadi masa untuk merenungkan (kembali) panggilan untuk menjadi profetik dan mistik, sebagaimana dilakukan Yohanes Pembaptis.
Menjadi Yohanes Pembaptis masa kini ini dapat diwujudkan lewat kesaksian hidup akan pertobatan pribadi. Adalah tidak mudah untuk bersikap menghadapi perubahan cuaca global, menghadapi arus konsumerisme, menghadapi perbedaan pendapat dengan orang lain, dan lain-lain. Tetapi, lewat masalah-masalah sehari-hari, besar dan kecil, terbuka peluang bagi pertobatan pribadi, lewat pilihan-pilihan hidup yang kita ambil, misalnya dengan berpikir dan bertindak “hijau”, bergaya hidup sederhana, atau bersedia bertumbuh lewat perbedaan pendapat.
Masa Adven memanggil kita pada pertobatan sehingga kita dapat semakin bersatu dengan Allah. Inilah masa yang disediakan oleh Gereja untuk hidup dalam keheningan, pengorbanan dan pengudusan.
Bagi sebagian orang, mungkin tidak mudah untuk menjadi hening mengingat begitu banyaknya kesibukan, termasuk kesibukan menyiapkan pesta Natal (atau pesta Adven?). Keheningan bisa dimulai dengan menyediakan waktu di pagi hari sebelum memulai kegiatan atau malam hari sebelum tidur (mulai dengan 10 menit doa Yesus misalnya) atau bahkan di sela-sela kegiatan sehari-hari.
Pengorbanan bisa dilakukan mulai dari hal kecil dengan memberikan sedekah kepada pengemis di pinggir jalan sampai menjadi donatur kegiatan sosial sebagaimana yang dilakukan PWKI, memberikan pakaian/sepatu/jaket layak pakai kepada mereka yang membutuhkan, menjadi tenaga sukarela di berbagai organisasi seperti Midwest Workers Association, Faith and Fellowship. Pengorbanan juga termasuk memberi lebih banyak waktu untuk berdoa.
Hanya Allah-lah yang Kudus sehingga pengudusan hanya ditemukan dalam Allah. Pengudusan kita adalah dengan memiliki hubungan pribadi dengan Allah, masuk dalam hidup Allah lewat Kristus, yang adalah jalan, kebenaran dan hidup. Kita dipanggil untuk semakin serupa dengan Kristus dengan menyadari bahwa hal ini tidak bisa kita lakukan sendiri tetapi “semuanya adalah rahmat” sebagaimana yang dikatakan oleh Santa Theresia Kanak-kanak Yesus.
Inilah saatnya untuk melakukan semua hal yang bisa kita lakukan untuk menyediakan penginapan bagi Yesus di hati kita sehingga menjadi semakin serupa Kristus ketika Adven berakhir, karena kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi orang baik tetapi dipanggil untuk menjadi kudus. Saya akan mengakhiri renungan ini dengan kutipan dari buku “Surprised by Canon Law II” karangan Pete Vere dan Michael Trueman: “Jawaban pendek atas pertanyaan siapa yang bisa menjadi Santo/Santa adalah bahwa Anda mungkin menjadi Santa/Santo. Allah memanggil kita semua untuk menjadi Santo/Santa, dalam pengertian bahwa Ia menginginkan kita semua untuk menjadi kudus dan hidup bersamaNya selamanya di Surga. Tetapi mungkin hanya sedikit dari kita yang akan dikanonisasi menjadi Santo/Santa….”

Guangzhou, 27 November 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible




P.S. Renungan ini ditulis untuk milis Paguyuban Warga Katolik Indonesia Chicago