Sharing: The Last Two Months of the Third Semester

Today it’s the third day of the Lunar New Year and I just came back from celebrating Lunar New Year with my family in Quanzhou-Fujian Province. When I left the Tianhe Coach bus terminal Guangzhou on Jan 19 evening, it’s was packed with passengers who could enter the waiting area around one hour before their departure. The passengers in front of the ticket counter not as much as the previous ten days when I bought my ticket. I went to Xiamen by sleeping bus and arrived the next morning to visit my mother’s cousin. In the evening, I went to Nan’an by bus for two hours. No traffic jam during the trip Guangzhou-Xiamen-Nan’an. Ming bought the Xiamen-Nan’an ticket through his cellphone and when I was in Xiamen, I entered the booking number in a ticket machine to get the ticket. Ming’s family has a shop which is selling the lunar new year decoration so it’s a busy time. The next day, I stayed in another family in Da Xia Mei after having supper with the other family. The son or grandson of the family will paste the 对联 (dui lian = pair of lines of verse written in red paper vertically down the sides of a doorway) several days before 除夕(chu xi=the lunar new year eve). I helped to wrap a local food made of flour with fish inside. I attended the Mandarin Lunar New Year eve Mass in Quanzhou, there would be Mandarin New Year Mass too. After mass, there was a memorial prayer for a man who died a year ago. I had Lunar New Year dinner with Ming’s family and then watched the live show on CCTV (China Central Television). It’s a common practice to prepare an offering altar at home with the head, tail and or foot of a pig (represent the wish to have good health, well-being and joy to everyone), a whole chicken and or duck, a whole fish. The fish is represent the wish to have balance at the end of the year: 年年有余(nian nian you yu because the word for fish is 鱼yu which have the same pronounciation with 余)。There were fireworks before midnight and firecrackers even two days before as people went to the temple. After praying at home right after midnight, people usually go to the temple. The common practice is visiting the parents and siblings of the husband on the first day of lunar new year and visiting the parents and siblings of the wife on the second day of lunar new year. Usually people will go to the ancestor hall (and not go to the grave) and spend the rest of the two days at home. Many (or maybe all) stores are closed and there is no bus from Nan’an to Quanzhou on the first the of lunar new year. In the evening, I went to Da Xia Mei again till Jan 24 evening as I leave for Shenzhen-HongKong by a sleeping bus with cctv (closed circuit television) camera. For this five days trip, I stayed overnight in three houses, visiting 13 houses, and had meals in six houses; learned a little bit about Chinese New Year and Wedding customs and also heard about the people who have much better (economic) life after the opening of China. It’s a new year’s customs to give red envelopes to the children, wear new clothes, have new hairdo (the hairdo fee usually goes up before new year), use new dishes even though it’s not as special as before as people have better (economic) life now so many things are common daily expenses instead of special for the new year. I arrived in Shenzhen bus station the next morning 4.00 am and wait in a hotel lobby as the Lowu immigration open at 6.30 a.m. There were long queue before 6.30 a.m. That’s about this Lunar New Year celebration, which is the year of dragon. The pictures during my visit are available at!/media/set/?set=a.10150509111291556.360432.658706555&type=1.
Our optional tourism class had an outing to Foshan, around one hour from Guangzhou to visit a big statue of the God of Mercy (观音Guan Yin), Xiqiao Mountain, and Huang Fei Hung’s place including watching the lion dances
The final exam was on Jan 4-6 and the graduation ceremony was on Jan 13. My grade in reading-writing is 89, listening is 91, conversation is 96.1. My article for the writing competition was published in the school magazine. Several of our classmates visited my room after the graduation ceremony to have Indonesian instant noodle.
After buying the bus ticket for going to Xiamen on Jan 7, I visited two Filipino patients in Modern Hospital and heard that one of the patients whom I visited several weeks ago passed away in the Philippines. As we finished praying together, the wife of one of the patients told me that she saw light when we prayed so she took a picture but I couldn’t see the light in the picture at her cellphone. I believe God can show up in so many ways and it’s a personal experience so I only can give thanks to God for her experience.
I attended the Thanksgiving Mass of silver jubilee of Filipino Diocesan Pastoral Center for Filipino (and other Asian Migrants and Ethnic Minorities) at St. Paul Convent’s School Chapel on Jan 8. There were performances from the Philipinos and Indonesians after the Mass. For more about it can be read in
I visited four mandarin speaking women in Lo Wu Correctional Institution on Jan 9. Most of the times, I asked questions and listened to their sad stories and if I don’t understand what they said, we change the topics. All of them are from mainland China. I couldn’t hold my tears as I listened to one of their stories.
The school arranged an outing to Nanxiong city to see the ancient passage of Meiguan pass and Zhuji Lane, and then go to Shaoguan city the next day to see Danxia Mountain and Shaoguan University. On the way to Guangzhou, we stopped at a farm to pick Shatang orange up from the tree.
As we are still celebrating lunar new year so I want to wish you:
Happy Lunar New Year! Wish you all the best in the year of Dragon.
Xin nian kuai le! Gong xi fa cai, shen ti jian kang, wan shi ru yi.

Hong Kong, January 25, 2012

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Liputan: Hidup Menggereja Buruh Migran Indonesia di Hong Kong

Dalam rangka ulang tahun ke-25 Diocesan Pastoral Center for Filipino (and other Asian Migrants and Ethnic Minorities), diadakan Ekaristi Syukur dengan tema “As we gather to give thanks, and with courage we continue our journey…” pada tanggal 8 Januari 2011 bertempat di Kapel Biara St. Paul Hong Kong. Perayaan Ekaristi, yang dihadiri lebih dari 600 buruh migran dari Filipina dan Indonesia ini, dipimpin oleh Rm. Edward Khong didampingi oleh delapan konselebran termasuk Rm. Johannes Indarta, SVD, serta dua orang imam tamu Rm. Hariawan Adji, O.Carm dan Rm. Alexander Agung, O.Carm. Perayaan Ekaristi diadakan dalam bahasa Inggris, Tagalog dan Indonesia serta lagu-lagu berbahasa latin oleh kelompok koor Indonesia. Acara dilanjutkan dengan penampilan tari dan lagu beberapa kelompok buruh migran Filipina dan buruh migran Indonesia termasuk tari Jaipong. Sr. Felicitas Nisperos, RGS selaku direktur Pusat Pastoral untuk Migran mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam acara ini.
Sekitar dua minggu sebelumnya, diadakan misa Natal berbahasa Indonesia di Kapel Biara St. Paul, yang diikuti oleh sekitar 500 umat. Tema Natal kali ini adalah “Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya” sebagai ucapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam kehidupan para buruh migran di Hong Kong. Pada perayaan agung ini, Rm. Johannes Indarta, SVD dibantu oleh Rm. Reginaldus Amleni, SVD menerimakan Sakramen Baptis kepada lima orang calon baptis. Acara kemudian dilanjutkan dengan ramah-tamah dan hiburan persembahan kreatif dari umat.
Di samping itu juga diadakan Natal Oikumene yang bertema “Kesukaan besar….”di Gereja ICA North Point. Lebih dari 1000 jemaat dari 14 Gereja Indonesia di Hong Kong bergembira bersama Pangeran Siagian, yang secara khusus diundang oleh Panitia Natal untuk membawakan pujian Natal. Pada kesempatan yang indah ini, Konsulat Jendral Indonesia, Bapak Teguh Wardoyo , S.H. turut hadir dan memberikan kata sambutan. Acara juga dimeriahkan oleh dua lagu Natal persembahan dari kelompok koor Gereja Katolik. Perayaan yang berlangsung selama tiga jam ini ditutup dengan berkat dari para gembala gereja.
Ketiga kegiatan di atas adalah bagian dari karya pelayanan Gereja kepada para buruh migran, yang bermula di tahun 1987, dimana Bapa Uskup Hong Kong John Baptis Wu meresmikan satu ruangan di gedung Catholic Centre sebagai tempat pelayanan bagi para buruh migran Filipina. Kemudian dibentuk sebuah komisi pelayanan untuk para buruh migran di tingkat Keuskupan, yang terdiri dari Bapa Uskup atau wakilnya, para biarawati, imam dan awam. Pada bulan Maret 2006, Keuskupan Hong Kong mulai melayani buruh migran Indonesia dan saat ini dilayani oleh Rm. Johannes Indarta, SVD dan Sr. Flora Nirmala, RGS. Jumlah buruh migran Indonesia saat ini ada sekitar 140 ribu orang, yang semuanya wanita dan bekerja dengan gaji sebesar HKD. 3,740.00/per bulan dengan kontrak selama dua tahun untuk membersihkan rumah, menjaga anak, atau merawat anggota keluarga majikan mereka yang sakit. Para buruh migran ini berasal dari berbagai tempat di Indonesia melalui agen tenaga kerja, yang akan memotong gaji mereka sebesar HKD 21,000 selama tujuh bulan pertama kontrak. Pada kenyataannya, ada begitu banyak penyimpangan, seperti gaji yang di bawah standar, tidak ada libur satu hari/minggu, bekerja pada hari libur tanpa uang lembur, penyiksaan secara fisik maupun secara mental oleh majikan, kekerasan seksual, dll.
Pusat Pastoral untuk Migran ini melayani semua kaum buruh migran yang mendapat permasalahan, mulai dari masalah kesehatan sampai masalah keimigrasian, yang dilakukan dengan memberikan pembinaan, pendampingan dan pendidikan. Saat ini, Pusat Pastoral untuk Migran memiliki tenaga tetap beberapa orang awam Filipina, tiga biarawati RGS, dan tiga imam SVD di samping para sukarelawan. Mereka juga menyediakan dua rumah penampungan masing-masing berkapasitas 30 orang, di samping bekerjasama dengan pekerja sosial dari lembaga sosial tingkat Keuskupan Caritas. Secara rutin di rumah penampungan diadakan pembinaan kerohanian yang bersifat umum (menjangkau semua keyakinan), group sharing, rekreasi bersama, seminar tentang berbagai aspek kehidupan dan hukum, kursus bahasa dan pelatihan keterampilan, seperti menjahit dan memasak.
Selama ini Konsulat Jendral RI menawarkan tempat untuk beribadah, yang bisa menampung 70 orang. Umat Indonesia pada awal tahun 2006 sekitar 50-60 orang, tetapi terus bertumbuh. Mengingat terbatasnya personel dan sarana (tempat dan peralatan gereja), para suster dari Serikat Gembala Baik dan para imam dari Serikat Sabda Allah mencoba mendampingi umat dengan bekerja sama dengan paroki, organisasi sosial, dan sekolah Katolik. Atas kebaikan para Suster FSP (Daughters of St. Paul) dan dukungan dari keuskupan Hong Kong, umat Katolik Indonesia diijinkan memakai kapel besar yang bisa menampung 800 orang beserta fasilitasnya, yang berada di kompleks sekolah St. Paul di kawasan Causeway Bay (di depan Konsulat Jendral RI). Selain itu, untuk semua akitivitas gerejani, mereka juga dapat memakai lapangan dan ruang terbuka sekolah yang beratap dan dilengkapi dengan meja dan kursi. Saat ini untuk misa hari Minggu, diikuti oleh lebih dari 200 orang umat, sedangkan untuk misa Natal/Paskah sekitar 600 orang. Banyak di antara mereka yang tidak dapat mengikuti Misa setiap minggu, karena tidak dapat hari libur atau karena tempat tinggal yang jauh dari lokasi gereja sehingga membutuhkan biaya yang banyak untuk menjangkaunya.
Meskipun tidak memiliki sarana sendiri dan juga waktu libur yang hanya satu hari seminggu, kegiatan komunitas ini tidak ubahnya seperti kegiatan yang dilakukan oleh umat di paroki dengan biaya bersumber dari umat.
Pendampingan yang dilakukan oleh para imam dan biarawati berlandaskan empat nilai utama, yaitu: nilai kerohanian, nilai pembentukan kepribadian, nilai pembinaan berorganisasi dan nilai cara hidup bermasyarakat / hidup sosial. Berikut ini adalah kegiatan yang berakar dari ke empat nilai tersebut: pembentukan kepengurusan dari dan untuk umat, Misa, persekutuan doa, rekoleksi, koor, tari, drama, Katakese bagi mereka yang ingin menerima Sakramen Pembaptisan, kursus bahasa Cantonese, keterampilan tangan, seminar – seminar berdasarkan kebutuhan umat, konseling dengan waktu dan tempat yang fleksibel mengingat umat tidak memiliki kesempatan untuk menelepon selain jam istirahat atau malam hari, media (Warta Katolik, Website, Katalog Keuskupan, artikel di majalah), rekreasi bersama yang diadakan dua kali dalam setahun pada hari libur selain hari minggu, kegiatan Oikumene termasuk perayaan Natal/Paskah bersama, lomba volley antar Gereja dan warta Oikumene.
Kerjasama dengan ‘Gereja pengirim’ dari Indonesia sudah berjalan dengan baik, misalnya salah satu pasangan belajar kursus pernikahan di Keuskupan Hong Kong, kemudian bisa diteruskan di Keuskupan di Indonesia. Selain itu melalui Pastor Paroki di Indonesia, umat yang dibaptis di Keuskupan Hong Kong bisa meminta dengan mudah kapan saja pembaharuan surat Pembaptisannya, karena semua urusan administrasi sudah dipusatkan di Paroki St. Joseph Hong Kong, sebagai paroki para buruh migran.
Banyak persoalan yang dialami para buruh migran bersumber pada masalah keluarga. Keluhan umum yang sering terdengar adalah: suami menyeleweng, anak-anak terlantar, sekolah anak terbengkalai, uang yang dikirim dipakai untuk berfoya-foya oleh suami. Persoalan-persoalan semacam ini membuat seorang buruh migran tidak dapat berkonsentrasi dalam pekerjaan dan akhirnya mempengaruhi kualitas pekerjaannya. Kesalahan dalam pekerjaan dan kondisi psikologis (gelisah, murung, marah) yang dialami bisa berakibat pada pemecatan atau bahkan bunuh diri.
Menurut Rm. Indarta, terbatasnya tenaga imam dan biarawati, yang bisa mendampingi para buruh migran menjadi salah satu kendala pelayanan kepada para buruh migran ini, di samping terbatasnya tempat untuk melakukan aktivitas rohani. Karenanya beliau mengharapkan agar ‘Gereja penerima’ dengan ‘Gereja pengirim’ dari Indonesia bisa bekerjasama dengan lebih baik, sehingga para buruh migran yang sudah dibantu penyelesaian masalahnya di Hong Kong, dapat dibantu sewaktu tiba di Indonesia.

Hong Kong, January 12, 2011

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Liputan: Perayaan Natal 2011 di Guangzhou

Konsulat Jenderal RI
Misa malam Natal berbahasa Indonesia di Konsulat Jendral RI diadakan pada pukul 19.00 diikuti oleh sekitar 100 orang mayoritas mahasiswa. Panitia Natal telah menyiapkan kartu Natal dan bingkisan Natal bagi semua umat yang datang. Mereka memasak makanan Indonesia dan menjualnya sebagai upaya panggalangan dana.
Misa Natal berbahasa Indonesia diadakan di tempat yang sama pada pukul 14.00, yang dihadiri oleh hampir 100 orang juga. Acara dilanjutkan dengan perayaan Natal dan ulang tahun kedua PDKK Hati Kudus Yesus, yang diisi dengan permainan, pemutaran video kilas balik PDKK, tiup lilin ulang tahun PDKK, tukar kado serta makan bersama.
Feliana Tandiono, Ketua Panitia Natal PDKK Hati Kudus Yesus 2011, mengharapkan agar dengan perayaan Natal kali ini, umat dapat merasakan kehadiran Kristus, tidak hanya di dunia tetapi juga di dalam hati mereka dan semakin banyak umat yang akan memuji dan menyembah Yesus lebih dalam lagi. Dikatakannya pula bahwa banyak orang datang ke Gereja untuk mengucapkan syukur kepada Allah tetapi hanya sedikit orang yang mengerti bahwa Allah dan umat manusia mempunyai hubungan yang sangat erat.

Katedral Hati Kudus Yesus
Misa malam Natal berbahasa Mandarin di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Guangzhou diadakan sebanyak pada kali pukul 16.30, 18.30, 20.00 dan 22.00 ditambah satu kali Misa bahasa Korea pukul 14.00, sedangkan di aula Katedral berlangsung tiga kali pada pukul 18.30, 20.00, 22.00. Sejak siang sudah banyak orang yang berkunjung ke Katedral, dan semakin bertambah banyak dengan semakin larutnya malam. Arus lalu lintas di depan Katedral dialihkan ke jalan lain karena jalan dipenuhi dengan orang-orang yang antri masuk Gereja maupun yang sekedar melihat-lihat dan mengambil foto dari kejauhan, tidak peduli dengan dinginnya malam yang sekitar 10 derajat Celcius. Sejak sore sudah terlihat puluhan polisi berada di area Katedral. Kebanyakan dari pengunjung adalah orang-orang muda, dengan bando berlampu bernuansa Natal. Sampai jam 24.00 masih sangat banyak pengunjung yang ingin masuk ke Katedral sampai akhirnya Katedral dibuka sampai 25 Desember pukul 01.30, yang diisi dengan lagu-lagu Natal dan berkat dari imam.
Jadwal Misa Natal berlangsung seperti jadwal Misa hari Minggu, yaitu pukul 6.30 (Cantonese), 7.30 (Cantonese), 10.30 (Mandarin), 15.30 (Inggris). Katedral masih dipenuhi pengunjung selain umat, tapi kali ini tidak tampak barisan polisi lagi. Pengunjung hanya ada di halaman Katedral, tidak sampai meluber ke jalan raya. Misa berbahasa Inggris, yang biasanya mayoritas diikuti oleh orang-orang Afrika, kali ini diikuti oleh cukup banyak orang lokal. Salah satu pengunjung mengatakan baru pertama kali mengikuti Misa karena ingin tahu meskipun dia tidak mengerti bahasa Inggris. Sebagaimana hari Minggu, ada petugas yang akan menanyakan kepada beberapa orang lokal yang diduga bukan umat Katolik, apakah mereka sudah dibaptis, meskipun sudah diumumkan bahwa hanya umat yang sudah dibaptis yang boleh menerima Komuni. Ada beberapa wanita yang berpakaian seperti malaikat membagikan brosur tentang Gereja Katolik kepada para pengunjung.
Kelas Katekumen Minggu pagi tetap berlangsung di hari Natal, yang dilanjutkan dengan perayaan ulang tahun bagi para peserta yang lahir di bulan Desember dan Januari.
Malam harinya diadakan perayaan Natal di aula Katedral yang terbuka untuk umum. Acara dibuka dengan lagu-lagu Natal berbahasa Mandarin dan Inggris oleh beberapa kelompok koor lokal dewasa, mahasiswa dan anak-anak, orang-orang Filipina, Afrika, serta Korea. Acara dilanjutkan dengan renungan oleh salah seorang imam, doa Taize dan ditutup dengan berkat untuk para pengunjung satu per satu dari imam. Aula dipenuhi dengan pengunjung baik Katolik maupun bukan Katolik. Katedral juga masih dipenuhi pengunjung ketika berlangsung acara di aula Katedral.

Kapel Our Lady of Lourdes Pulau Shamian
Misa Malam Natal berbahasa Mandarin di Kapel Our Lady of Lourdes dimulai pukul 20.30. Pengunjung juga memenuhi Kapel yang selesai dibangun pada tahun 1892. Pintu Kapel ditutup pada pukul 23.00 untuk persiapan misa pukul 23.30, yang diperuntukkan bagi mereka yang harus seharian bekerja. Ketika misa berakhir sekitar pukul 23.50, sudah banyak anak muda di depan pintu yang ingin mendengar lonceng Natal tepat pukul. 00.00. Maka imam dan umat menyanyikan beberapa lagu Natal dari menara Kapel lalu bersama-sama menghitung mundur sampai pukul 00.00 tiba dan kemudian membunyikan lonceng Kapel. Imam dan umat lalu mengucapkan “Shengdan kuaile” (=Selamat Hari Natal) dan pengunjung serentak menjawab “Merry Christmas” dengan gembira, ketika imam mengucapkan “Merry Christmas” mereka mulai meninggalkan Kapel. Di Pulau Shamian banyak terdapat gedung-gedung berarsitektur Eropa sehingga tempat tujuan orang-orang yang ingin mengetahui tentang Natal di sana.
Misa Natal berbahasa Mandarin diadakan pukul 08.00 dan masih dipenuhi pengunjung selain umat. Malam harinya diputar film “Nativity” di dalam Kapel.
Kelompok koor GIVEN yang terdiri dari beberapa mahasiswa lokal mengadakan konser Natal pada malam Natal pukul 19.00 dan hari Natal pukul 11.00.

Kapel St. Antonius Huashi
Di Kapel St. Antonius diadakan misa Malam Natal pada pukul 10.00, yang dikuti oleh sekitar 80 orang.

Diperkirakan jumlah orang yang berkunjung ke Katedral dan Kapel Shamian bertambah 30% dibanding tahun lalu. Di internet banyak beredar informasi tentang Hari Natal karenanya banyak kaum muda yang rela antri berjam-jam agar bisa masuk ke Gereja pada malam Natal. Natal bukanlah hari libur di China, meskipun demikian hiasan Natal tampak dimana-mana terutama di pusat-pusat perbelanjaan. Pusat grosir pernik-pernik Natal ada di sekitar Katedral sehingga di bulan Oktober sudah tampak pernik-pernik Natal di sana.

Hong Kong, January 1, 2012

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Christmas Letter 2011

It’s the last day of Christmas Octave today. I just finished the Christmas Fun day with my sisters in Hong Kong. It’s really fun time together by singing, playing and eating together.
Here are my Christmas Octave stories. Fr. Peter invited several Indonesians and GIVEN choir to sing Christmas songs and have communion service with the Indonesian patients at Fuda hospital on December 17. A week later, several Indonesians and I visited several Indonesian patients in Fuda hospital again to pray together with them and their families.
On December 24, I went to Cathedral around 4.00 p.m. to see the crowd before going to Our Lady of Lourdes Chapel to pick up the wine for the Indonesian Mass. There were many visitors and several policemen around Cathedral. There were five masses inside Cathedral including in Korean and three masses in the hall. The Indonesian mass was attended by around 100 Catholics and non Catholics. After mass, I went to Cathedral again and I saw more visitors with the lighted Christmas hairband. Most of them are young adult who were willing to queue in a cold night for more than one hour to go inside Cathedral.
A Chinese student and I attended the Mandarin CCD class followed by a birthday party for the CCD partisipants in the morning of December 25. He is studying master degree in Christianity. I accompanied him to attend Mass for the first time in the third Sunday of November and then he registered for CCD class on the second Sunday of December. As I would attend the Indonesian Mass, so I couldn’t accompany him to attend the Christmas Eve Mass. Unfortunately, it’s too crowded for him so he decided to go home. After lunch, I attended the English Mass in Cathedral. There were still many visitors and several “angels” were distributing booklets about the Church. There are more visitors than ordinary Sundays English Mass. Before attending the Christmas celebration in Cathedral, I had a supper with one of my sisters. There were several choirs singing the Christmas songs including GIVEN choir, Phillipines choir, African choir and Korean choir. A priest gave a reflection and then followed by Taize prayer and blessing by the priest one by one. Later on, Sr. Mary Clare invited me to see her new office so I arrived dorm around 11.00 p.m. Even though the last Christmas Eve Mass in Cathedral was at 10.00 p.m., the Cathedral was opened till December 25 around 01.30 a.m. as so many visitors wanted to go inside Cathedral. More information about the Christmas celebration in Guangzhou can be read in:
After class pictures taking on December 26, we had lunch together with two of our teachers. The last classes would be on December 30 as the final exam will be on January 4-6, 2012.
I enjoyed the visit of Br. Rano, Br. Herry and his father on December 27 while preparing the black sticky rice pudding. In the evening, two Chinese and one Equadorian friends were enjoying the Indonesian fried noodle and black sticky rice pudding. It has been several times that I cooked Indonesian desserts e.g. rice pudding, black sticky rice pudding, and sweet potato and banana with coconut milk on Tuesdays for several friends. A Vietnamese student moved to Xiamen last September so she gave me her rice cooker. I didn’t think to use the rice cooker until receiving invitation from one of the teachers to eat a Cantonese dessert. Her invitation gave me an idea to invite my friends for Indonesian desserts. So that’s how God put the two together, the idea and the utensil.
A Chinese friend called me on December 28 as she wanted to see me so badly. She said something happened to her that’s why she didn’t contact me for almost one year and she would tell the story when we meet. As I had a supper with friends that evening and she would leave Guangzhou the next day so I decided to accept her invitation to have second supper with our friends. Her baby is being hospitalized for four months and her husband went back to his country. For several months, she didn’t want to tell me the condition of her baby as she didn’t want to make me sad but now she is ready to tell me about it as she heard that there is a good treatment for her baby in Indonesia. I failed to get her number through our friends after her number couldn't be contacted for several months. Amidst all the problems that she has, she still as optimistic as the last time I met her. When I invited her to pray together, she said she didn’t know how to pray anymore as she prayed a lot already. I lead our prayer together and then after prayer, she said that she has a hope now.
After the optional class HSK exam on December 30, I went to Hong Kong for the New Year. It’s a time to be grateful (again) for what God has done in my life during this year especially in being presence in China, to be more aware that “Immanuel-God with us” in my daily life.
And, last but not the least, I want to thank you for all your support, gift, love and prayers during this year and wish you:

Merry Christmas
Happy New Year
May Jesus, born into this world…be good to you…and be your strength and consolation at the beginning of the New Year. (St. Louise de Marillac)

Hong Kong, December 31, 2011

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible