Renungan Natal 2015: Sang Penyelamat

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari

Dalam Injil Lukas, kita mengetahui tentang Kabar Gembira kepada Maria.  Ini yang dikatakan malaikat Gabriel kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.  Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah yang Mahatinggi.  Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurnya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaanNya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:31-33).
Orang Israel abad pertama tidak ada yang tidak tahu arti ayat ini:  anak ini akan menjadi pemenuhan janji kepada raja Daud.  Dia akan menjadi raja dunia, yang akan membawa damai dan persatuan kepada bangsa-bangsa.
Seoarang malaikat mengatakan kepada para gembala di padang, “Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Luk 2:11). Juru Selamat dalam bahasa Yunani adalah Soter, yang berarti “penyembuh.” Dalam bahasa Latin adalah Salvator, Saviour dalam bahasa Inggris. Dalam mitos-mitos dan legenda-legenda tua, raja yang sejati akan mendatangkan penyembuhan di negaranya, sedangkan raja yang jahat akan membuat seluruh negara sakit.
Penyembuh ini adalah “Kristus dan Tuhan.” Christos berarti yang diurapi, dan ini merupakan penekanan yang jelas tentang ke-Daud-annya, karena Daud telah diurapi sebagai raja oleh nabi Samuel, dan semua penggantinya telah diurapi. Bayi ini akan menjadi pusat pemerintah di seluruh dunia; dia akan menjadi pengatur dan gubernur, seseorang yang menentukan.
Hal ini lebih jauh ditekankan dengan panggilan “Tuhan”—Kyrios dalam bahasa Yunani dan Dominus dalam bahasa Latin. Dia adalah orang yang seharusnya mendominasi kita, mengatur setiap aspek hidup kita.
Segala sesuatu diputarbalikkan dengan kata-kata malaikat selanjutnya, “Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Luk 2:12) Daud yang baru, Kristus Tuhan, Sang Dominus, pusat dan pengatur segala sesuatu, raja alam semesta…adalah seorang bayi?  Seorang bayi yang dibungkus lampin sehingga tidak bisa bergerak?  Terbaring dimana?  Di tempat yang kotor, tempat makan binatang-binatang?
Semua ini adalah puisi dan drama Natal.  Tetapi kekuasaan ilahi dibuat nyata dalam kelemahan, sebab kekuasaan ilahi tidak lain adalah cinta, memberikan diri sendiri, terhubung dengan yang lain, menjadi makanan bagi mereka yang ada di sekitar kita.
Bersama sang malaikat, muncullah sejumlah bala tentara surga.  Kita seharusnya tidak menjadi sentimentil mengenai para malaikat ini.  Mereka tidak lucu dan bukan bayi-bayi montok yang bermain harpa.  Mereka mewakili bala tentara surga, yang jauh lebih berkuasa daripada semua bala tentara di bumi.  Raja damai mempunyai bala tentara yang lebih kuat daripada yang ada di bumi.

Ada kabar gembira tentang Natal.  Seorang raja baru telah lahir, yang membawa bala tentara surga, dan bermaksud membawa damai dan persatuan kepada bangsa-bangsa.

Christmas Letter 2015

Dear brothers and sisters in Christ,  

         How was your Christmas celebration?  Hopefully you have more time to be present instead of "buy presents", wrap people in hugs instead of "wrap presents", send love instead of "send cards", donate food instead of "shop for food", make time for people instead of "make cookies", be the light instead of "set the lights", and enjoy party without stress instead of "plan parties" (Jody McKinney).


We just finished our beautiful Christmas carols and vigil Mass at our main chapel followed by refreshment.  

As you may know that I left Hong Kong on December 7 after a farewell at the Holy Family Church including sending off to Hong Kong on my last day in Shenzhen: http://anastasialindawatimm.blogspot.com/2015/11/sharing-2015-thanksgiving-letter.html and with our region including Columban Sisters.  It’s not easy no leave but I believe it’s time to let go and move forward to my second part of renewal and reflection phase.    There is time for everything.
               I enjoyed my time with our Retirement Community in Monrovia, including a party hosted by Fr. Gerry, MM, outing with Richard, Srs. Joy, Kathryn, Dolores, and Dorothy.
      My second stop was in Chicago to meet several friends, including sharing my life and ministry in China with our Integration House Community, attending Simbang Gabi at St. Thomas the Apostles’ Church and accompanying Bishop Xu and his group from mainland China.

     I arrived at Maryknoll Sisters Center on Dec 18 and started to go around our big house, for the first time after 6 years, including attending the Christmas party of Development Department and helping Santa Claus’ visit to our elderly sisters.         During Advent, I prepared the Christmas Campaign at Holy Family Church by inviting the parishioners to donate their Advent saving money in a plastic folder for our charity fund.  I also translated the last eight days of Advent Reflections by Fr. Robert Barron to Indonesian language and uploaded to my blog with their permission.
I was home for my first part of renewal and retreat last July and then went for pilgrimage to Shanghai, Taiyuan and Qingdao.  Here are several short updates about the last eight months of 2015.
      With the help of several volunteers, I organized three youth gatherings: pilgrimage to Fujian, pilgrimage to Zhaoqing and World Mission Sunday; two volunteer trainings and one couple gathering at Holy Family Church.

        I helped a Walk to Emmaus Week End, a workshop at Maryknoll Society House and Maryknoll Sisters Open Day as part of Hong Kong Diocese programmes for the Year of Consecrated Life besides continuing to visit inmates both in Lowu Correctional Institution and Tailam Center for Women in Hong Kong.   

      I attended our annual Maryknoll Barbeque, Memorial Mass for Maryknollers, Maryknoll Society Thankgiving Day celebration, Symposium on “The Influence of Christianity on the Chinese Society”, Asia East World Section Meeting in Jeju Island, Indonesian Oikoumene Vocal Group Competition, Reflection Day led by Fr. Tanguy-Marie POULIQUEN, Annual General Meeting of Prisoners’ Friends’ Association, the Priesthood ordination of Fr. Vincentius, SJ, and School Opening Mass of MCS. 
      Thank you very much for all your support, hospitality, love, gifts and especially your prayers during this year.  

May the Blessings of Peace, the Beauty of Hope, the Spirit of Love, and 
the Comfort of Faith be your gifts this Christmas season!
Merry Christmas and Happy New Year!

New York, December 24, 2015
with love and prayer,


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Renungan Adven 24 Des 2015: Jangan Takut!

Jangan Takut

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari

Homily Natal yang pertama disampaikan di bukit Yehuda, yang mengelilingi kota Betlehem, yaitu kabar gembira yang disampaikan oleh seorang malaikat pada malam Natal.
Kata pertama yang dikatakan oleh malaikat adalah “Jangan takut!” Frase ini bertebaran dalam Kitab Suci!  Ketika sesuatu dari demensi yang lebih tinggi memasuki dunia kita, dia biasanya mengatakan, “Jangan takut.” Paul Tillich, seorang teolog Protestan terkenal, menyatakan bahwa ketakutan adalah persoalan yang mendasar, ketakutan mengikat hampir semua bentuk ketidaknormalan manusia.  Kita melindungi diri sendiri ketika ketakutan, kemudian kita berlaku kasar kepada orang lain.  Jika Natal berarti Allah bersama kita, bahwa Allah diantara kita, bahwa Allah dekat, maka seharusnya kita tidak menjadi takut.
Malaikat mengatakan, “Jangan takut, sebab sesuangguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa.” (Luk 2:20) Malaikat ini adalah penginjil besar pertama, karena dia mengatakan kabar gembira dan kabar ini untuk semua orang.  Beberapa waktu kemudian, Yesus mengatakan kepada para muridNya untuk mengatakan kekuasaanNya sampai ke ujung dunia.
Apa sebenarnya kabar gembira?  Malaikat mengatakan kepada kita,  “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud.” (Luk 2: 11) Mengapa Daud ditekankan?  Daud bersama dengan Abraham dan Musa adalah tokoh yang sangat penting dalam sejarah Israel.  Dia lahir di Betlehem dan tiga puluh tahun kemudian menjadi raja, pertama di Hebron atas suku-suku selatan dan kemudian di Yerusalem atas seluruh bangsa Israel. Dia adalah raja yang menyatukan Israel, yang mengalahkan musuh-musuh rakyat dan yang membawa tabut perjanjian ke Yerusalem.
Bersama dengan berlalunya waktu, muncul kepercayaan diantara bangsa Israel bahwa keturunan misterius Daud akan menjadi raja, tidak untuk suatu waktu tertentu dan tidak untuk kurun waktu indrawi, tetapi akan berkuasa selamanya dan untuk semua bangsa.

Raja orang Yahudi akan menjadi raja dunia: Sang Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan.

Renungan Adven 23 Des 2015: Pelajaran Besar dari Betlehem

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari

Nabi Mikha mengatakan bahwa Bethlehem-Efrata “terlalu kecil diantara kaum-kaum Yehuda” tetapi “daripadamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel” (Mi 5:1). Mikha adalah salah satu nabi kecil jadi cukup beralasan bahwa dia berkata mengenai kota kecil, Betlehem, dimana Sang Mesias yang besar akan lahir. 
Betapa hal ini sangat umum dalam Kitab Suci: pembalikkan pengharapan, yang kecil membangkitkan yang besar, hal yang sangat bagus datang dari yang sangat tidak diharapkan.  Musa yang gagap berbicara kepada Firaun yang agung, para budak mempermalukan prajurit Mesir, Daud yang kecil membunuh raksasa Goliat.
Hal yang terakhir ini merupakan hal yang penting.  Betlehem adalah kota Daud, kota gembala Raja.  Ketika Samuel sampai di kota ini untuk menemui raja yang baru, dia telah melihat semua anak laki-laki Isai tetapi kemudian diberitahu masih ada satu lagi, si bungsu Daud, yang sedang berada di padang gembala.  Dan yang tidak terlihat inilah yang diurapi oleh Allah.
Seperti inilah cara Allah, dan karenanya Mesias lahir di kota kecil, di dalam gua yang terpencil, karena tidak ada kamar untuknya di penginapan.  Tetapi melalui rahmat Allah yang luar biasa, hal yang luar biasa bisa terjadi, termasuk lahirnya Sang Mesias.

Betlehem, kota yang kecil dan tidak penting, mengajar kita tiga hal besar: hal besar berasal dari hal kecil, jangan pernah menyerah, dan selalu percaya.  Dengan tiga kepercayaan ini dalam hati kita, kita siap menyambut Hari Natal.

Renungan Adven 22 Des 2015: Yusuf yang Bijaksana

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari
 
Kita hanya mengetahui sedikit tentang Yusuf.  Tentu saja ada beberapa legenda dan cerita tentang Yusuf, tetapi pada akhirnya harus dikatakan hanya sedikit informasi tentang Yusuf.  Ada beberapa tema spiritual yang kuat tentang Yusuf, yang semuanya berpusat pada kelahiran Yesus.
Pertama, kita melihat kesedihan dan keraguan Yusuf.  Dia telah bertunangan dengan Maria dan berdasarkan hukum agama pada saat itu, pertunangan ini diberkati Allah.  Tetapi kemudian dia mengetahui bahwa tunangannya mengandung.
Ada hal yang secara universal dan kontemporer sangat mengerikan mengenai hal ini dan mengenai dinamika psikologis yang ada.  Pertunangan tersebut harus diputus: betapa memalukan dan sulit.  Apa yang akan dikatakan orang?
Tetapi lebih dari itu, pertunangan itu harus diputus karena kehamilan yang tidak wajar.  Untuk seseorang, yang mematuhi hukum dan memikirkan statusnya dalam masyarakat, hal ini sangat memalukan.  Dan lebih lagi, hal ini pasti sangat menyakiti lubuk hatinya: perasaan dikhianati oleh orang yang dicintainya.
Ada penghargaan yang sangat tinggi mengenai kesalehan dan kebaikan Yusuf, dimana dia tidak mengikuti rasa frustrasinya, yang bisa dimengerti oleh sebagian besar orang.  Dia menelan rasa sakitnya dan melihat pada perasaan Maria.  “Tidak bersedia untuk membuatnya malu,” dia memutuskan untuk menceraikan Maria secara diam-diam.  Bagaimanapun, hal ini pasti merupakan sebuah kekecewaan besar.
Pada taraf yang lebih dalam, hal ini merupakan krisis spiritual.  Apa yang direncanakan Allah?  Apa yang Allah ingin dia lakukan?  Yusuf tidak bisa melihat cara yang baik yang perlu dilakukan.
Kemudian malaikat menampakkan diri dalam sebuah mimpi dan mengatakan, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu.” Sejak saat itu Yusuf menyadari bahwa kejadian yang membingungkan ini merupakan bagian dari rencana Allah yang lebih besar.  Apa yang dilihatnya sebagai bencana, mempunyai arti dalam perspektif Allah.
Selanjutnya kita baca bahwa, “Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.  Ia mengambil Maria sebagai istrinya” (Mat 1:24). Yusuf bersedia bekerjasama dengan rencana ilahi, meskipun dia tidak mengetahui garis besar maupun tujuan terdalamnya.  Seperti Maria pada saat diberi kabar gembira, dia mempercayakan diri dan membiarkan dirinya dibimbing.


Renungan Adven 21 Des 2015: Bunda Allah

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari


Dengan semakin dekatnya hari Natal, kita kembali pada kisah Injil, yang indah dan akrab di telinga kita, Maria Menerima Kabar Gembira sebagaimana ditulis oleh Lukas.  Malaikat Gabriel pergi kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf.  Mungkin kita melihat malaikat sebagai figur yang romantis, tetapi sebaliknya dalam narasi biblis, kita melihat reaksi orang yang ketakutan, kehilangan orientasi, dan kebingungan.  Kita mendengar Maria “sangat terganggu” dengan kehadiran malaikat.
Siapa yang ingin rutinitas hariannya terganggu, sikapnya dalam membayangkan dan melihat diremehkan?   Terobosan dari supernatural ke natural selalu berupa penjungkirbalikkan.
Kemudian ada kalimat yang mengerikan: “
Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki  Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. ” Dan semua ini tanpa kehadiran seorang laki-laki.  Maria pasti dengan segera bisa merasakan bagaimana reaksi yang akan terjadi, pertama-tama kepada Yusuf dan kemudian kepada semua orang lain: bahwa dia sudah tidak setia.
 Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. ” Kita, setelah beberapa abad Kristiani, mengartikan kalimat ini dengan seadanya.   Bagaimana kalimat ini terdengar oleh Maria?  Apakah Maria mempunyai ide yang jelas tentang apa artinya dan apa konsekuensinya?  Akan dinaungi, diserbu, dan dikontrol oleh kekuasaan yang berada di luar imaginasi seseorang. 
Dan apakah Maria mempunyai perasaan yang jelas bahwa kehamilan dan kelahiran ini akan mendatangkan pembunuhan massal anak-anak di bawah dua tahun, penyingkiran  ke Mesir, berpartisipasi dalam sengsara dan wafat putera tunggalnya? Apakah Maria sudah melihat hal-hal ini?  Semua hal ini tidak mungkin ada dalam rencana Maria.  Tetapi Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Teolog dan mistik dari Jerman Meister Eckhart melihat sesuatu dengan sangat jelas – setiap umat Kristiani mempunyai panggilan seperti Maria, melahirkan Kristus.  Kita melakukan ini dengan cara dan gaya kita masing-masing menurut keadaan panggilan unik kita.  Menurutnya, kita melakukan ini dengan cara yang sama dengan Maria: dengan mengabaikan proyek-proyek dan rencana-rencana kita, pengertian akan hidup yang baik, dan persetujuan akan kehendak Allah untuk bekerja melalui kita. 

Renungan Minggu Adven IV 2015: Daud yang baru

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari

Di samping Musa dan Abraham, Daud adalah sosok yang sangat penting dalam Perjanjian Lama.  Kerajaannya mewakili pemenuhan dari sedemikian banyak harapan bangsa Israel dan sinonim dengan damai serta kekuasaan.
Daud juga telah menerima janji yang luar biasa, yang dicatat dalam Kitab Kedua Samuel.  Allah memberitahu Daud melalui nabi Natan bahwa keturunannya tidak akan berakhir, dan anak laki-lakinya akan berkuasa selamanya.
Selama kurun waktu pemerintahan Daud, bangsa Israel masih dihantui oleh raja besar dan bahkan oleh janji yang lebih besar.  Segera setelah masa Daud, kerajaannya tercerai berai, dan para raja di utara dan selatan terbukti mempunyai karakter yang cukup menyedihkan.  Tetapi rakyat, yang dipengaruhi oleh para nabi, masih berharap pada kehadiran raja yang berasal dari keturunan Daud.
Hal ini merupakan harapan yang disampaikan oleh salah satu nabi, Mikah, seorang peramal yang hidup dan menulis pada abad ke-8 sebelum Masehi, sekitar 250 tahun setelah Daud.  Menghubungkan sabda Allah, Mikha mengatakan, “ hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (Mi 5:1) Mengapa Bethlehem? Karena Betlehem adalah kota Jesse, kota Daud.  Sepanjang sejarah Israel, Betlehem adalah tempat yang kecil, “daerah pinggiran” Yerusalem yang tidak penting, tetapi merupakan kota Daud, dan dijanjikan bahwa seorang keturunan Daud akan menjadi penguasa besar.
Di bawah kekuasaan Daud, yang pendek dan bersinar, Israel bersatu tetapi setelah kematian Daud, bangsa Israel terpecah.  Mimpi bangsa Israel adalah Daud yang baru akan menyatukan bangsa Israel.
Tetapi kemudian ada mimpi yang lebih besar.  Dengarkan kembali pada Mikha: “Sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi, dan dia menjadi damai sejahtera.” Israel yang bersatu akan menjadi magnet yang akan menarik seluruh dunia.  Ketika seluruh dunia berada di bawah kekuasaan Daud, semua akan baik.

Semua ini menjadi tanda bagi kita, siapa Yesus itu dan apa misinya.  Lihatlah bagaimana dia menyatukan semua suku Israel melalui seluruh hidup publiknya, menjumpai wanita di sumur, orang yang lahir buta, Zakheus, dan orang yang kerasukan di Gerasa.  Dia berinteraksi dalam persaudaraan yang terbuka.  Dia menyembuhkan dan mengampuni.  Dia bukan sekedar baik dan seorang teman; tetapi dia melakukan apa yang diharapkan dari seorang Penyelamat dari keturunan Daud.  Dia menyatukan bangsa Israel dalam kerajaan Allah yang baru.

Renungan Adven 19 Des 2015: Kembali dari Pembuangan

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari

Ketika kita sedang menunggu, terkadang kita merasa seperti dalam pembuangan.  Pembuangan adalah tema yang sangat besar dalam pikiran pengarang Kitab Suci karena dua pembuangan besar pada dasarnya menentukan sejarah Israel: pembuangan ke Mesir dan pembuangan ke Babel. Dalam kedua kasus ini, umat kudus Allah, ras yang dipilih secara khusus, diperbudak oleh kekuasaan asing.
Nabi Barukh, yang adalah sekretaris nabi Yeremia, menulis dari Babel, dari tanah pembuangan.  Pada masa itu, Yerusalem, kota kudus yang telah dirusak oleh orang-orang Babel dan ditinggalkan, kuil dan tembok-temboknya tinggal puing-puing.  Berdasarkan hal ini, Barukh mengatakan kepada orang Israel agar “Hendaklah, hai Yerusalem, menanggalkan pakaian kesedihan dan kesengsaraanmu, dan mengenakan perhiasan kemuliaan Allah untuk selama-lamanya” (Barukh 5:1). Dengan mata kenabiannya, beliau memimpikan hari, dimana Allah akan menuntun umatNya pulang ke rumah.
Dalam terang ramalan kenabian Barukh dan sejarah panjang pembuangan dan pengharapan, kita akan melihat pada Injil Lukas.  Lukas mulai dengan menyebutkan wakil semua kekuasaan besar yang menindas Israel: Kaisar Tiberius, raja dunia; Pontius Pilatus, wakil lokal; Herodes dan saudaranya Filipus, para boneka kerajaan Romawi; Hanas dan Kayafas, para pendukung.
Mereka adalah semua orang, yang dengan berbagai cara dan tingkatan, menindas Israel.  Tetapi lihatlah bagaimana kutipan ini ditulis dengan indah: setelah menyebutkan semua figur yang terhormat dan mulia,  Lukas mengatakan kepada kita bahwa sabda Allah bukan diberikan kepada mereka, melainkan kepada figur aneh di padang pasir Yudea, nabi yang aneh dan tidak jelas yang bernama Yohanes.  
Cara Allah bukanlah cara kita.  Allah tidak menilai orang dan kejadian sebagaimana kita menilai orang dan kejadian.  Betapa aneh bahwa Allah akan hadir kepada figur yang tampaknya tidak penting ini!
Pesan apa yang diberikan Allah kepada Yohanes?  Sang Pengirim sedang datang!  Juru Selamat!  Tidak hanya seseorang yang akan membebaskan Israel untuk sementara waktu dan secara politik, tetapi seseorang yang akan membebaskan mereka dari pembuangan yang pokok, pengasingan mereka dari Allah.
Israel pasti sedang diselamatkan, dibawa pulang pulang kepada Allah.  Jadi bersiaplah untuk menerima Sang Juru Selamat.

Renungan Adven 18 Des 2015: Menunggu dalam Pengharapan yang penuh Harapan

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari   http://adventreflections.com/advent-day-20-waiting-in-hopeful-expectation/

Kita adalah orang-orang Adven - orang-orang yang menunggu.
Sesuatu (atau lebih tepat seseorang) akan datang, dan hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah menunggu dengan pengharapan yang penuh harap.
Para nabi besar Adven mengatakannya sebagai berikut: “
Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” (Yesaya 64:8).
Apakah dengan demikian kita tidak melakukan apapun? Kita duduk seperti gumpalan daging menunggu Allah untuk melakukan sesuatu dalam hidup kita? Tidak.  Sebenarnya ada hal yang sangat "aktif" tentang menunggu.

Apakah kamu ingat betapa kamu  bersemangat dan penuh perhatian ketika menunggu kedatangan seseorang?  Kamu mengawasi dengan penuh harap setiap mobil yang lewat ketika kamu menunggu di bandara.  Semua indra tersedot pada apa yang sedang terjadi; pikiranmu penuh dengan pengharapan.  Ragamu melompat.  Saya pikir, beginilah menunggu dalam arti spiritual; inilah mood Adven.
Berikut ini beberapa saran praktis selama waktu yang tersisa dalam menunggu. Pertama periksalah batinmu secara teratur. Sadari berapa besar dan kekuatan dosa dalam hidupmu, khususnya perhatikan pada dosa-dosa yang kambuh kembali. 
Kedua, berdoa. Brevir, membaca Kitab Suci, rosario, adorasi, doa Yesus-apapun yang cocok untukmu.  Tetapi bersandar pada Allah dengan perhatian khusus selama beberapa hari terakhir Adven.


Ketiga, meminta maaf. Mintalah maaf kepada orang yang sudah terluka karena dosamu.  Tidak ada cara lain yang lebih baik untuk mencapai ketidakberdayaan kita di hadapan Allah. 

Renungan Adven 17 Des 2015: Apa yang harus kita lakukan?

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari  http://adventreflections.com/advent-day-19-what-should-we-do/

Pada dasarnya, setiap orang ingin bertobat. Setiap kali muncul panggilan untuk bertobat yang jelas dan tidak berkompromi, orang cenderung akan merespons.  Orang pada akhirnya merindukan Allah, tidak peduli betapa tinggi kedudukannya dalam masyarakat, tidak peduli betapa besar rasa percaya dirinya.
Dan sebagaimana mereka yang hidup pada masa Yohanes Pembaptis, kita juga bertanya “Apa yang harus kita lakukan?  Bagaimana seharusnya kita menghidupi hidup kita?”  Tentu saja pertanyaan ini menyatakan tentang pertobatan:  lebih berhubungan dengan tindakan daripada sekedar perubahan dalam pikiran.
Kita tahu bahwa hidup kita, dengan berbagai cara, telah berjalan di luar jalur dan kita ingin mengembalikannya pada jalur yang seharusnya.  Hal ini hanya mungkin terjadi melalui beberapa hal tertentu yang kita lakukan.  Hidup spiritual pada akhirnya adalah satu set tindakan.
Jadi apa yang dikatakan Yohanes Pembaptis untuk kita lakukan?  Rekomendasi pertamanya adalah: “siapapun yang mempunyai dua mantel harus berbagi dengan orang yang tidak mempunyainya” (Luk 3: 11). Hal ini sangat fundamental dan mendasar – tetapi hampir sepenuhnya dilupakan!  Ada sebuah peringatan yang terus menerus dalam ajaran social Gereja, meskipun kepemilikan pribadi adalah baik adanya, penggunaannya harus berorientasi sosial.
Paus Leo XIII menulis dalam Rerum Novarum, “Jika pertanyaannya adalah bagaimana kepemilikan pribadi seharusnya digunakan, Gereja menjawab tanpa ragu-ragu bahwa seseorang seharusnya tidak menganggap kepemilikan pribadi sebagai miliknya tetapi sebagai kepemilikan bersama.”  Dan hal ini adalah kalimat yang mengejutkan, yang sangat efektif untuk memeriksa batin: “ketika kebutuhan pribadi sudah terpenuhi, dan ketika dengan jujur memikirkan hal ini, maka membagikan kelebihannya kepada fakir miskin adalah sebuah kewajiban.”  
Seorang Bapa Gereja Awali, St. Basil Agung, bahkan mengungkapkan ide ini dengan lebih radikal senada dengan Santo Yohanes Pembaptis: “ Roti yang ada di lemarimu adalah milik yang lapar.  Mantel yang ada di lemarimu adalah milik yang telanjang.  Sepatu yang kamu biarkan rusak adalah milik yang telanjang kaki.  Uang yang ada di lemari besimu adalah milik orang miskin.  Kamu melakukan ketidakadilan ketika kamu tidak menolong orang yang dapat kamu tolong.”

Jadi apa yang seharusnya kita lakukan pada masa Adven ini, sebagai bentuk pertobatan dan menunggu datangnya Juru Selamat?  Mengabdi pada keadilan, menyerahkan sesuai hak masing-masing dan berbagi dengan mereka yang membutuhkan.

Sharing: Second Couple Day at Holy Family Church

I organized the second couple day at Holy Family Church Shenzhen last November 28, 2015.  There were 3 couples and several women.  There were games, sharing and presentation about “Love, Sex, Marriage and Life.”  Fr. Lu couldn’t be back to Church on time due to traffic nearby so I should  adjust the itinerary.
I edited presentation from Hong Kong Diocesan Pastoral Centre for Marriage and Family, Hong Kong Catholic Marriage Advisory Council and Fr. He and asked a couple to help in reading part of the presentation.


Hong Kong, December 2, 2015

         

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible


Thanksgiving Letter 2015

Gratitude can transform common days into thanksgivings, turn routine jobs into joy, and change ordinary opportunities into blessings. (William Arthur Ward)
Happy Thanksgiving!
May God continue to bless you with good health, peace and joy!

          First of all, I want to thank you very much for all your support, love, gifts and especially your prayers as we celebrate Thanksgiving Day.    How is your Thanksgiving celebration? Our community was invited to celebrate Thanksgiving at Maryknoll Society House Hong Kong this evening.  It's a very nice celebration.
     It’s my farewell time at Holy Family Church these days as I will leave for USA on December 7, 2015 so I want to share the farewell story.
On my way to Shenzhen last Sunday morning, Ms. Liang asked me to arrive at the Church before Mass as she needs help.  Our community organized an open day last Saturday afternoon as part of the Year of Consecrated Life celebration so I went to Shenzhen last Sunday instead of Saturday. Not so long, Mrs. Liu also asked me to arrive as soon as possible because they are waiting for me.  I could guess that there would be a surprise for me.   I arrived just before “Our Father” and immediately Mrs. Liu asked me to sit with Ms. Liang in the front section.            
After announcing the couple’s gathering on Nov 28, Fr. Lu asked me to sit on the first pew because Ms. Luo, Mr. Wu and Ms. Xiong (who was intentionally removed her choir uniform and wore pink blouse) would share their appreciation on my voluntary works while showing the compilation of my pictures with parishioners.  Ms. Xiong then led the choir to sing “不简单的路=not a simple road and gave her gifts. Mr. Li, the leader of parish council, expressed his appreciation including on the presentation about “How to build together the Holy Family Church" and asked me to come back next year.  Fr. Lu also expressed his appreciation and asked me to come back besides sharing how I love the parishioners.  Fr. Lu asked me to speak so I said that I am grateful for what God prepares for me at Holy Family Church: the parishioners are generous, care and understand my limitation on Putonghua.  I couldn’t hold my tears.  Two children presented a card from the Sunday’s School Team, Mr. and Mrs. Fan with their daughter presented a pink rose bouquet and then Mr. Li gave a Holy Family Statue.
          Several parishioners expressed their gratitude after Mass and wish I will come back.  After praying with a non-Catholic guy, whom we visited at the hospital two weeks ago, I went to the back of the Church as the children and parishioners were waiting for the gathering.  Mrs. Cai provided a pink cake for the gathering.  Ms. Huang asked me to make a wish while Fr. Lu invited all of them to sing “祝你平安”(=Peace be with you.  It’s really a big surprise, which was organized by several youth.
          After the celebration, we had a meeting for youth gathering.  I expressed my gratitude for their help, informed the summary of survey and gave some guidance in planning for the 2016 gatherings.  Then, I divided them in small groups and asked each group to write a youth gathering plan and they are ready with 6 plans!  They always did more than I thought for surprise requests of e.g. pick up the cigarette butt on the street in doing charity work and gave away the bookmark on the street in doing evangelisation work.   
          Then, Fr. Lu, several parishioners and I attended Mass at the Christ the King Church of Bao An District for the feast of Christ the King followed by dinner, rosary prayer and Mass at Holy Family Church.
        Mrs. Wu and her husband invited me for hot pot dinner after evening Mass as she missed the dinner with her circle and me on Nov 9.  The Sunday’s School Teachers invited for lunch last Sunday.  
   Here is the link of the pictures: share.shutterfly.com/action/welcome?sid=0EbuWrFm4ZM2aj 
          Ok...that's it for now.  Once again, Thank you very much!  Terima kasih banyak!  多谢你!

Hong Kong, November 26, 2015
with love and prayer,


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible


Dec 4, 2015:

Fr. Lu and 8 parishioners accompanied me to go back to our convent on Dec 1, 2015.  Fr. Gabriel, MG was our host at St. Theresa’s Church.   One of the youth Ms. Xu visited our convent in the evening as she is working in Hong Kong. 

Sharing: Symposium on the Influence of Christianity in the Chinese Society

http://www.chinacatholic.org/News/show/id/33516.html

Sharing: The Second Volunteer Training of Holy Family Church



Almost 20 volunteers attended the second volunteer training of Holy Family Church on November 8 after Sunday Morning Mass.  Fr. Lu taught the song “请你告诉我该如何爱你“(Qing Ni Gao Su Wo Gai Ru He Ai Ni=Please tell me how should I love You.  Fr. Lu gave the welcome note and led the opening prayer by sing 请你告诉我该如何爱你
I started the training by showing part of the first training survey result and then gave presentation on “How to build together Holy Family Church?”   I edited part of presentation on “How to build a Parish together with Parishioners” and “The Duty of a Catholics” by Ms. Yang Yu Lian for a Parish Management workshop in Maryknoll Stanley House Hong Kong.   As usual, I asked the participants to read part of the presentation.
After lunch, we watched the washing of the feet ceremony by Pope Francis while listening to John 13: 1-15 and then washed the next person’s feet and also pray for her/him followed by a quiet reflection.  There was small group sharing and report to the whole group.  

 Fr. Lu gave the summary and gave a blessing.   Two of them brought forward the drawing of small group sharing as one of the offering at the anticipated Sunday Mass.  Several volunteers were volunteering for the Mass while the rest went home.
Three participants will give presentation on “How to build together Holy Family Church” in three different Masses on the following week end.
Here is the link of the pictures: share.shutterfly.com/action/welcome?sid=0EbuWrFm4ZM2YY

Hong Kong, November 12, 2015


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible





Sharing: 2015 Maryknoll Sisters Asia East World Section Meeting


          Four sisters and I left for Jeju Island on Oct 7, 2015 to attend our bi-annuallyMaryknoll Sisters Asia East World Section Meeting.  

There were presentations about “FAO and One Earth Community” by Sr. Teresa Dagdag, MM, “Korean Shamanism” by Dr. Hae Kyoung Koh, Ph.D including one day field trip to Shaman sites on Jeju island, “Vocation” by Sr. Lourdes Fernandez, MM, sharing from Congregational Leadership Team by Srs. Teruko Ito and Anastasia Lott besides open space technology and updates on regions.

The evening activities were DVD “Symphony of the Soil” (https://www.youtube.com/watch?v=K5QYZ-LRXW4), simplicity night to celebrate our foundress Mother Mary Joseph’s death anniversary, and sharing the field trip experience.

Maryknoll Affiliates Korea not only joined part our activities but also helped the preparation and during the meeting, especially Ms. Monica.

Fr. Jerry Cotter, SSC celebrated the Sunday Mass while Jeju priest Fr. Emmanuel celebrated the daily Masses.  Each region took turn to prepare our morning prayers.

All the younger sisters went for outing to Sunrise Peak and Yongduam Rock besides a meeting about our gathering and collaboration especially in vocation ministry.

It’s a fruitful meeting as it gives me better understanding about our Maryknoll matters, Shamanism and Food Problem besides the opportunity to exchange stories with the rest of the group.   Thank you very much! 


           

Hong Kong, October, 16, 2015

           

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible