Renungan 2015: Rabu Abu

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari "FREE daily Lent Reflections from Fr. Robert Barron" ( http://www.lentreflections.com/)

Kembali ke Dasar

Pada permulaan musim pertandingan baseball (semacam kasti), pelatih harus mengajak para pemainnya belajar kembali ke dasar. Dia harus mengingatkan mereka pada tiga poin penting: cara membuat gerakan tangan, waktu untuk mengayun, dan pentingnya untuk melihat bola, dll.  Kehebatan pemain di musim pertandingan sebelumnya tidak berpengaruh.  Dia harus memulai latihan musim semi dengan hal-hal mendasar sebab sebelum dia dapat melakukan hal-hal yang besar dalam olah raga, dia harus yakin bahwa dia telah melakukan hal-hal yang sederhana dan mendasar dengan baik.  

Hal ini juga berlaku dalam hidup rohani.  Masa Pra Paskah adalah waktu untuk perbaikan, untuk kembali ke dasar, untuk mengingat hal-hal yang mendasar. Inilah alasan mengapa Gereja meminta kita melihat pada permulaan Kitab Kejadian, kisah tentang penciptaan dan kejatuhan manusia.

Mungkin kita berpikir bahwa kita telah sering mendengarnya – tetapi kita perlu mendengarnya lagi: “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kej 2: 7)  Pada hari Rabu Abu, kita mendengar gema dari kalimat ini, “Ingatlah, Engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu” (Kej 3:19).

Pada hari Rabu Abu, kita diingatkan bahwa hidup kita berasal dari Tuhan.  Keberadaan kita berasal dari Tuhan.  Kita tidak memiliki apapun.  Kita tidak mempunyai apapun yang berasal dari diri kita sendiri.  Setiap tarikan nafas kita adalah sebuah pengingat akan ketergantungan kita kepada Tuhan, setiap denyut jantung kita adalah sebuah pengingat bahwa Tuhan adalah Allah.  

Dengan dimulainya masa Pra Paskah, mari kita mengambil waktu beberapa menit untuk merenungkan kenyataan bahwa tanpa Tuhan, kita bukan siapa siapa dan bersyukur bahwa Tuhan mencintai keberadaan kita.  

Kutipan:  Berserah kepada Tuhan berarti kepenuhan hidup, bukan kompromi dari kebebasan kita.