Renungan 2015: Hari Minggu Pra Paskah Ke-5


Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari "FREE daily Lent Reflections from Fr. Robert Barron" ( http://www.lentreflections.com/)

Suara Sang Gembala

Seorang gembala yang baik, yang sungguh memperhatikan domba-dombanya, mengenali suara yang digembalakannya.  Seperti seorang ibu yang dapat mengenali suara anak-anak-nya, demikian juga seorang gembala dapat mengenali suara domba-dombanya.  Dan hebatnya, domba juga dapat mengenali  suara gembalanya.  Ketika mereka mendengarnya, meraka akan berbaris dengan baik, sebab mereka tahu bahwa gembala adalah kunci dari kebaikan mereka.

Tuhan Yesus, sebagai Gembala yang Baik, mengatakan bahwa Dia datang untuk menyatukan para bangsa, dan sebagai implikasinya, para bangsa akan mengenali suaraNya ketika mereka mendengarnya.  Apa yang mendorong orang untuk menerima Tuhan Yesus?  Apa yang menarik perhatian mereka ketika mereka membaca Kitab Suci atau menerima Sakramen?

Kita dapat mengatakan bahwa jawabannya adalah kebiasaan, latar belakang atau keberuntungan tetapi saya pikir sedang terjadi sesuatu yang lebih mendalam.  Ada resonansi ketika suara Kristus didengar dengan tepat karena seluruh dunia telah terhubung untuk mendengarnya.  Suara Tuhan Yesus adalah suara penggumpul.  Kita, para domba yang hilang, secara implicit dapat mengenali dan menanggapinya.

Tuhan Yesus jauh lebih dari sekedar model inspirator moral dan jauh lebih dari seorang santo yang kita kagumi dedikasi dan kasihnya.  Tuhan Yesus adalah seorang yang mengenal kita secara pribadi.  Dia adalah seseorang, yang dapat mengenali suara kita diantara keributan di sekitar kita, yang mengetahui nama, kebutuhan dan hasrat kita yang khusus.  Kita dikenaliNya.  Ketika kita berdoa dengan cara yang khusus, kita didengarkan.

Dan lebih dari itu, kita mendengar suaraNya dan mengenaliNya karena suaraNya adalah kunci dari kebaikan kita.  Kita telah terhubung dengan Sabda Allah, dan Tuhan Yesus adalah Sabda yang menjadi manuasia.  Secara insting kita mengetahui bahwa Dia memiliki sabda untuk hidup kekal.  Dan seperti domba yang rindu untuk diperintah, kita juga rindu untuk diatur oleh Sabda Allah.

Kutipan: Semua budaya mengarahkan kita menuju otonomi, tetapi hal ini bukan yang memuaskan jiwa.