Renungan 2015: Kamis Putih


Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari "FREE daily Lent Reflections from Fr. Robert Barron" ( http://www.lentreflections.com/)

Tubuh dan Darah Kristus

Pusat dan pengakuan yang masih mengejutkan dalam Gereja Katolik adalah bahwa Yesus hadir secara real and substansial dalam rupa roti dan anggur.  KehadiranNya tidak hanya sekedar evokatif dan simbolik, tidak hanya sekedar hasil pemikiran ataupengharapan kita, tetapi real dan substansial.

Kalau Anda ingin membuktikan hal ini secara Biblis, cobalah melihat pada kisah Perjamuan Terakhir dalam Injil Matius, Markus dan Lukas – dan juga dalam surat St. Paulus.  Cobalah melihat secara khusus pada Injil Yohanes bab VI.  Yesus mengidentifikasikan diriNya sebagai “roti hidup yang telah turun dari Surga,” (Yoh 6: 51) dan kemudian Dia mengatakan, “Sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darahNya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.” (Yoh 6: 53).  

Ini adalah ungkapan yang sangat tidak bisa diterima orang Yahudi di masa Yesus.  Makan daging seseorang adalah istilah yang sangat tidak dapat diterima.  Lebih dari itu, minum darah binatang dilarang dalam Perjanjian Lama – apalagi minum darah manusia.  Tetapi ketika mereka menyampaikan keberatannya, Yesus tidak menghaluskan bahasaNya, Dia lebih menekankannya.  “DagingKu adalah benar-benar makanan dan darahKu adalah benar-benar minuman.” (Yoh 6: 55).

Bagaimana kita membuatnya masuk akal?  Semuanya ada hubungannya dengan siapa Yesus itu.  Kalau Dia hanya orang biasa, kata-katanya hanya merupakan kata-kata simbolik.  Saya dapat mengatakan, “Cincin ini adalah lambang cintaku kepadamu.”  Tetapi Yesus adalah Tuhan, dan apa yang dikatakan Tuhan, demikianlah adanya.

Sabda Tuhan mempengaruhi kenyataan pada level yang paling fundamental.  Jadi, ketika kata-kata Yesus atas roti dan anggur diucapkan, mereka berubah sesuai kata-kata itu.  Mereka menjadi tubuh dan darah Tuhan secara real dan susbstansial. 

Kenyataan dari sakramen ini sangat penting karena, “Barangsiapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup yang kekal.” (Yoh 6: 54a)  Sakramen Ekaristi, sebagai kehadiran Allah yang kekal, mengekalkan siapa yang memakannya, membuat kita siap untuk kekekalan.  Kita berpartisipasi dalam Yesus Kristus melalui sakramen ini.

Itulah sebabnya kita harus sangat hati-hati, bahkan sedikit waspada, ketika kita menuju meja perjamuan.  Apakah kita mengetahui apa yang kita masuki?

Kutipan: Kita disatukan dengan Yesus Kristus, menjadi serupa dengan Kristus