Renungan Adven 19 Des 2015: Kembali dari Pembuangan

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari

Ketika kita sedang menunggu, terkadang kita merasa seperti dalam pembuangan.  Pembuangan adalah tema yang sangat besar dalam pikiran pengarang Kitab Suci karena dua pembuangan besar pada dasarnya menentukan sejarah Israel: pembuangan ke Mesir dan pembuangan ke Babel. Dalam kedua kasus ini, umat kudus Allah, ras yang dipilih secara khusus, diperbudak oleh kekuasaan asing.
Nabi Barukh, yang adalah sekretaris nabi Yeremia, menulis dari Babel, dari tanah pembuangan.  Pada masa itu, Yerusalem, kota kudus yang telah dirusak oleh orang-orang Babel dan ditinggalkan, kuil dan tembok-temboknya tinggal puing-puing.  Berdasarkan hal ini, Barukh mengatakan kepada orang Israel agar “Hendaklah, hai Yerusalem, menanggalkan pakaian kesedihan dan kesengsaraanmu, dan mengenakan perhiasan kemuliaan Allah untuk selama-lamanya” (Barukh 5:1). Dengan mata kenabiannya, beliau memimpikan hari, dimana Allah akan menuntun umatNya pulang ke rumah.
Dalam terang ramalan kenabian Barukh dan sejarah panjang pembuangan dan pengharapan, kita akan melihat pada Injil Lukas.  Lukas mulai dengan menyebutkan wakil semua kekuasaan besar yang menindas Israel: Kaisar Tiberius, raja dunia; Pontius Pilatus, wakil lokal; Herodes dan saudaranya Filipus, para boneka kerajaan Romawi; Hanas dan Kayafas, para pendukung.
Mereka adalah semua orang, yang dengan berbagai cara dan tingkatan, menindas Israel.  Tetapi lihatlah bagaimana kutipan ini ditulis dengan indah: setelah menyebutkan semua figur yang terhormat dan mulia,  Lukas mengatakan kepada kita bahwa sabda Allah bukan diberikan kepada mereka, melainkan kepada figur aneh di padang pasir Yudea, nabi yang aneh dan tidak jelas yang bernama Yohanes.  
Cara Allah bukanlah cara kita.  Allah tidak menilai orang dan kejadian sebagaimana kita menilai orang dan kejadian.  Betapa aneh bahwa Allah akan hadir kepada figur yang tampaknya tidak penting ini!
Pesan apa yang diberikan Allah kepada Yohanes?  Sang Pengirim sedang datang!  Juru Selamat!  Tidak hanya seseorang yang akan membebaskan Israel untuk sementara waktu dan secara politik, tetapi seseorang yang akan membebaskan mereka dari pembuangan yang pokok, pengasingan mereka dari Allah.
Israel pasti sedang diselamatkan, dibawa pulang pulang kepada Allah.  Jadi bersiaplah untuk menerima Sang Juru Selamat.