Renungan Adven 21 Des 2015: Bunda Allah

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari


Dengan semakin dekatnya hari Natal, kita kembali pada kisah Injil, yang indah dan akrab di telinga kita, Maria Menerima Kabar Gembira sebagaimana ditulis oleh Lukas.  Malaikat Gabriel pergi kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf.  Mungkin kita melihat malaikat sebagai figur yang romantis, tetapi sebaliknya dalam narasi biblis, kita melihat reaksi orang yang ketakutan, kehilangan orientasi, dan kebingungan.  Kita mendengar Maria “sangat terganggu” dengan kehadiran malaikat.
Siapa yang ingin rutinitas hariannya terganggu, sikapnya dalam membayangkan dan melihat diremehkan?   Terobosan dari supernatural ke natural selalu berupa penjungkirbalikkan.
Kemudian ada kalimat yang mengerikan: “
Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki  Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. ” Dan semua ini tanpa kehadiran seorang laki-laki.  Maria pasti dengan segera bisa merasakan bagaimana reaksi yang akan terjadi, pertama-tama kepada Yusuf dan kemudian kepada semua orang lain: bahwa dia sudah tidak setia.
 Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. ” Kita, setelah beberapa abad Kristiani, mengartikan kalimat ini dengan seadanya.   Bagaimana kalimat ini terdengar oleh Maria?  Apakah Maria mempunyai ide yang jelas tentang apa artinya dan apa konsekuensinya?  Akan dinaungi, diserbu, dan dikontrol oleh kekuasaan yang berada di luar imaginasi seseorang. 
Dan apakah Maria mempunyai perasaan yang jelas bahwa kehamilan dan kelahiran ini akan mendatangkan pembunuhan massal anak-anak di bawah dua tahun, penyingkiran  ke Mesir, berpartisipasi dalam sengsara dan wafat putera tunggalnya? Apakah Maria sudah melihat hal-hal ini?  Semua hal ini tidak mungkin ada dalam rencana Maria.  Tetapi Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Teolog dan mistik dari Jerman Meister Eckhart melihat sesuatu dengan sangat jelas – setiap umat Kristiani mempunyai panggilan seperti Maria, melahirkan Kristus.  Kita melakukan ini dengan cara dan gaya kita masing-masing menurut keadaan panggilan unik kita.  Menurutnya, kita melakukan ini dengan cara yang sama dengan Maria: dengan mengabaikan proyek-proyek dan rencana-rencana kita, pengertian akan hidup yang baik, dan persetujuan akan kehendak Allah untuk bekerja melalui kita.