Renungan Adven 22 Des 2015: Yusuf yang Bijaksana

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari
 
Kita hanya mengetahui sedikit tentang Yusuf.  Tentu saja ada beberapa legenda dan cerita tentang Yusuf, tetapi pada akhirnya harus dikatakan hanya sedikit informasi tentang Yusuf.  Ada beberapa tema spiritual yang kuat tentang Yusuf, yang semuanya berpusat pada kelahiran Yesus.
Pertama, kita melihat kesedihan dan keraguan Yusuf.  Dia telah bertunangan dengan Maria dan berdasarkan hukum agama pada saat itu, pertunangan ini diberkati Allah.  Tetapi kemudian dia mengetahui bahwa tunangannya mengandung.
Ada hal yang secara universal dan kontemporer sangat mengerikan mengenai hal ini dan mengenai dinamika psikologis yang ada.  Pertunangan tersebut harus diputus: betapa memalukan dan sulit.  Apa yang akan dikatakan orang?
Tetapi lebih dari itu, pertunangan itu harus diputus karena kehamilan yang tidak wajar.  Untuk seseorang, yang mematuhi hukum dan memikirkan statusnya dalam masyarakat, hal ini sangat memalukan.  Dan lebih lagi, hal ini pasti sangat menyakiti lubuk hatinya: perasaan dikhianati oleh orang yang dicintainya.
Ada penghargaan yang sangat tinggi mengenai kesalehan dan kebaikan Yusuf, dimana dia tidak mengikuti rasa frustrasinya, yang bisa dimengerti oleh sebagian besar orang.  Dia menelan rasa sakitnya dan melihat pada perasaan Maria.  “Tidak bersedia untuk membuatnya malu,” dia memutuskan untuk menceraikan Maria secara diam-diam.  Bagaimanapun, hal ini pasti merupakan sebuah kekecewaan besar.
Pada taraf yang lebih dalam, hal ini merupakan krisis spiritual.  Apa yang direncanakan Allah?  Apa yang Allah ingin dia lakukan?  Yusuf tidak bisa melihat cara yang baik yang perlu dilakukan.
Kemudian malaikat menampakkan diri dalam sebuah mimpi dan mengatakan, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu.” Sejak saat itu Yusuf menyadari bahwa kejadian yang membingungkan ini merupakan bagian dari rencana Allah yang lebih besar.  Apa yang dilihatnya sebagai bencana, mempunyai arti dalam perspektif Allah.
Selanjutnya kita baca bahwa, “Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.  Ia mengambil Maria sebagai istrinya” (Mat 1:24). Yusuf bersedia bekerjasama dengan rencana ilahi, meskipun dia tidak mengetahui garis besar maupun tujuan terdalamnya.  Seperti Maria pada saat diberi kabar gembira, dia mempercayakan diri dan membiarkan dirinya dibimbing.