Renungan Adven 17 Des 2015: Apa yang harus kita lakukan?

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari  http://adventreflections.com/advent-day-19-what-should-we-do/

Pada dasarnya, setiap orang ingin bertobat. Setiap kali muncul panggilan untuk bertobat yang jelas dan tidak berkompromi, orang cenderung akan merespons.  Orang pada akhirnya merindukan Allah, tidak peduli betapa tinggi kedudukannya dalam masyarakat, tidak peduli betapa besar rasa percaya dirinya.
Dan sebagaimana mereka yang hidup pada masa Yohanes Pembaptis, kita juga bertanya “Apa yang harus kita lakukan?  Bagaimana seharusnya kita menghidupi hidup kita?”  Tentu saja pertanyaan ini menyatakan tentang pertobatan:  lebih berhubungan dengan tindakan daripada sekedar perubahan dalam pikiran.
Kita tahu bahwa hidup kita, dengan berbagai cara, telah berjalan di luar jalur dan kita ingin mengembalikannya pada jalur yang seharusnya.  Hal ini hanya mungkin terjadi melalui beberapa hal tertentu yang kita lakukan.  Hidup spiritual pada akhirnya adalah satu set tindakan.
Jadi apa yang dikatakan Yohanes Pembaptis untuk kita lakukan?  Rekomendasi pertamanya adalah: “siapapun yang mempunyai dua mantel harus berbagi dengan orang yang tidak mempunyainya” (Luk 3: 11). Hal ini sangat fundamental dan mendasar – tetapi hampir sepenuhnya dilupakan!  Ada sebuah peringatan yang terus menerus dalam ajaran social Gereja, meskipun kepemilikan pribadi adalah baik adanya, penggunaannya harus berorientasi sosial.
Paus Leo XIII menulis dalam Rerum Novarum, “Jika pertanyaannya adalah bagaimana kepemilikan pribadi seharusnya digunakan, Gereja menjawab tanpa ragu-ragu bahwa seseorang seharusnya tidak menganggap kepemilikan pribadi sebagai miliknya tetapi sebagai kepemilikan bersama.”  Dan hal ini adalah kalimat yang mengejutkan, yang sangat efektif untuk memeriksa batin: “ketika kebutuhan pribadi sudah terpenuhi, dan ketika dengan jujur memikirkan hal ini, maka membagikan kelebihannya kepada fakir miskin adalah sebuah kewajiban.”  
Seorang Bapa Gereja Awali, St. Basil Agung, bahkan mengungkapkan ide ini dengan lebih radikal senada dengan Santo Yohanes Pembaptis: “ Roti yang ada di lemarimu adalah milik yang lapar.  Mantel yang ada di lemarimu adalah milik yang telanjang.  Sepatu yang kamu biarkan rusak adalah milik yang telanjang kaki.  Uang yang ada di lemari besimu adalah milik orang miskin.  Kamu melakukan ketidakadilan ketika kamu tidak menolong orang yang dapat kamu tolong.”

Jadi apa yang seharusnya kita lakukan pada masa Adven ini, sebagai bentuk pertobatan dan menunggu datangnya Juru Selamat?  Mengabdi pada keadilan, menyerahkan sesuai hak masing-masing dan berbagi dengan mereka yang membutuhkan.