Renungan Natal 2015: Sang Penyelamat

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari

Dalam Injil Lukas, kita mengetahui tentang Kabar Gembira kepada Maria.  Ini yang dikatakan malaikat Gabriel kepadanya, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.  Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah yang Mahatinggi.  Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurnya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaanNya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:31-33).
Orang Israel abad pertama tidak ada yang tidak tahu arti ayat ini:  anak ini akan menjadi pemenuhan janji kepada raja Daud.  Dia akan menjadi raja dunia, yang akan membawa damai dan persatuan kepada bangsa-bangsa.
Seoarang malaikat mengatakan kepada para gembala di padang, “Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Luk 2:11). Juru Selamat dalam bahasa Yunani adalah Soter, yang berarti “penyembuh.” Dalam bahasa Latin adalah Salvator, Saviour dalam bahasa Inggris. Dalam mitos-mitos dan legenda-legenda tua, raja yang sejati akan mendatangkan penyembuhan di negaranya, sedangkan raja yang jahat akan membuat seluruh negara sakit.
Penyembuh ini adalah “Kristus dan Tuhan.” Christos berarti yang diurapi, dan ini merupakan penekanan yang jelas tentang ke-Daud-annya, karena Daud telah diurapi sebagai raja oleh nabi Samuel, dan semua penggantinya telah diurapi. Bayi ini akan menjadi pusat pemerintah di seluruh dunia; dia akan menjadi pengatur dan gubernur, seseorang yang menentukan.
Hal ini lebih jauh ditekankan dengan panggilan “Tuhan”—Kyrios dalam bahasa Yunani dan Dominus dalam bahasa Latin. Dia adalah orang yang seharusnya mendominasi kita, mengatur setiap aspek hidup kita.
Segala sesuatu diputarbalikkan dengan kata-kata malaikat selanjutnya, “Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Luk 2:12) Daud yang baru, Kristus Tuhan, Sang Dominus, pusat dan pengatur segala sesuatu, raja alam semesta…adalah seorang bayi?  Seorang bayi yang dibungkus lampin sehingga tidak bisa bergerak?  Terbaring dimana?  Di tempat yang kotor, tempat makan binatang-binatang?
Semua ini adalah puisi dan drama Natal.  Tetapi kekuasaan ilahi dibuat nyata dalam kelemahan, sebab kekuasaan ilahi tidak lain adalah cinta, memberikan diri sendiri, terhubung dengan yang lain, menjadi makanan bagi mereka yang ada di sekitar kita.
Bersama sang malaikat, muncullah sejumlah bala tentara surga.  Kita seharusnya tidak menjadi sentimentil mengenai para malaikat ini.  Mereka tidak lucu dan bukan bayi-bayi montok yang bermain harpa.  Mereka mewakili bala tentara surga, yang jauh lebih berkuasa daripada semua bala tentara di bumi.  Raja damai mempunyai bala tentara yang lebih kuat daripada yang ada di bumi.

Ada kabar gembira tentang Natal.  Seorang raja baru telah lahir, yang membawa bala tentara surga, dan bermaksud membawa damai dan persatuan kepada bangsa-bangsa.