Renungan 2016: Minggu Pra Paskah IV

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari http://www.lentreflections.com/

Segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu

Pada dasarnya perumpamaan tentang Anak yang Hilang (Luk 15:1-32), sesuai bacaan Misa hari ini, mengatakan segala sesuatu yang perlu kita ketahui tentang hubungan kita dengan Allah.  

Kita mendengar: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.  Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku.”  Kita adalah anak-anak Allah; kita telah diberi hidup, keberadaan dan segala sesuatu; setiap saat kita ada melalui Dia.

Tetapi kemudian muncul sikap yang salah: “berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku.”  Hidup dengan baik dalam Allah memerlukan sikap menerima dan murah hati, menerima berkat dari Allah dan selalu siap untuk membagikannya.

Tetapi Allah menghormati kebebasan kita, maka “ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.” Hal ini merupakan saat yang tragis.  Apa arti aliran rahmat yang dibagi, terpisah dan terbagi menjadi milikmu dan milikku.

Kemana si anak bungsu pergi?  Dia pergi ke negeri yang jauh.”  Frasa chora makra dalam bahasa Yunani berarti “kekosongan yang terbuka lebar.” Dia menghabiskan uang warisannya dengan sia-sia.  Kita kehilangan hidup ilahi jika kita melekat padanya sebagai milik pribadi.  Dia terpaksa bekerja sebagai penjaga babi.  Dalam chora makra hanya ada hubungan berdasarkan perhitungan ekonomi, setiap orang berusaha bersandar pada apa yang dimilikinya.  “Tidak ada orang yang tergerak untuk memberinya sesuatu.” Hal ini terjadi di negeri yang jauh: di tempat dimana tidak ada pemberian.

Ketika menyadari keadaannya, dia memutuskan untuk kembali kepada ayahnya dan mengatakan: jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.”  Dia tahu bahwa para buruh ayahnya pun berada dalam hubungan yang menghidupkan.

Ketika ia masih jauh, ayahnya, yang pasti telah mencarinya, telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkannya lalu merangkul dan menciuminya.  Kisah dalam Kitab Suci bukanlah kisah tentang pencarian kita akan Allah, melainkan tentang kasih Allah dan pencarian-Nya akan kita, yang tak  kunjung henti. Kemudian ayahnya berkata, kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.” Ini adalah cincin perkawinan, yang melambangkan penyatuan kembali hubungan kita dengan Allah.

Si anak sulung sebenarnya berada pada taraf rohani yang sama dengan adiknya, meskipun secara sekilas sangat berbeda dengan adiknya,  mereka berada pada ruang rohani yang sama, karena dia juga melihat hubungan dengan ayahnya hanya dalam hubungan ekonomi. Sama seperti kebanyakan orang religius yang tulus dan banyak dihormati, dia merasa tersisihkan oleh perayaan untuk seseorang yang pasti tidak berhak mendapatkannya.  Dengarkanlah bahasanya: “ Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.”

Si anak sulung adalah seorang buruh dan seseorang yang sangat menaati – tetapi bukan seseorang mewarisi jiwa ayahnya.  Dia merasa bahwa dia harus memperoleh atau berhak atas cinta ayahnya.  Dia membenci adiknya dan membenci kemurahan ayahnya.  “Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuknya.”  Ketika kita berada di luar cinta Allah, kita jatuh pada kebencian pada sesama.

Sang ayah dengan sabar menerangkan: “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.” Ini adalah kunci dari perumpamaan ini dan sesuai untuk kedua anak laki-laki ini meskipun mereka tidak menyadarinya.


Semua telah diberikan Allah kepada kita.  Seluruh keberadaan-Nya adalah “for-giving,” yang artinya mengampuni dan berasal dari kata “for” artinya untuk dan “giving” artinya memberi.