Friday, October 14, 2011

Sharing: 给妈妈的一封信



黄莉莉(Anastasia Birgitta Lindawati) 初级3C班 印尼(Indonesia)

亲爱的妈妈:
您好!
最近您身体好吗?我离开家七个月了。最近家乡天气怎么样?这里的天气每天都不一样,昨天没有太阳,所以很冷,今天太阳出来了,所以很舒服,好像已经到了夏天。
刚到中国的时候,我觉得不太习惯,那时候什么人都不认识,只有几个印尼朋友。还有,中国菜有很多油,所以吃得很少。我觉得你做的菜好吃多了。我的体重一下子比原来减少了三公斤。
但是现在不一样了。我学汉语学了七个月了,汉语比以前说得好多了,可以跟朋友一起聊天。我们班的同学来自几个不同国家,所以我们用英语和汉语交流。星期一到星期五我去教室上课。每天我上三个半小时:读写,听力和口语课。我也学太极拳,书法,写作和剪纸。不用上课的时候,我有时候跟朋友一起吃饭,有时候去旅游。还有,每个星期天我去教室,教室很大和很漂亮,坐地铁就能去到。我们清明节放假三天,所以我打算自己去泉州。
虽然现在的生活没有在印尼的舒服,可是我在这里不但学会说汉语,还交到很多朋友,学到不少生活的知识,我觉得很幸福。
下个月我们有期中考试,六月我们有期末考试,我要好奥学习才能取得好成绩。这学期结束后我打算回印尼去,那是您给我做好吃的东西,好吗?我很想吃您做的菜,我很想见家人,有空给我回信吧!
祝您身体健康!
女儿 莉莉
2011年3月31号

评语:这封信写得很真实,叙述很清楚。黄莉莉同学告诉她妈妈自己在广州留学的情况,广州的天气,自己的生活和学习方面的情况。这是刚开始上写作课一篇文章,虽然很简单,但是感情很真,很有意思! (老师:王意颖)

Tuesday, October 4, 2011

Serba Serbi: Mengenal Kitab Hukum Kanonik


PENGANTAR
Kitab Hukum Kanonik (=Codex Iuris Canonici) telah diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II sepuluh tahun lalu, tepatnya pada tanggal 25 Januari 1983, dimana Kitab Hukum ini (KHK) merupakan pembaharuan dari Kitab Hukum Kanonik yang berlaku sejak tahun 1917 dan merupakan realisasi dari program Paus Yohanes XXIII di awal masa kepausannya, yaitu Aggiornamento Gereja.
Meski telah berusia sepuluh tahun, bisa jadi banyak umat Katolik yang tidak tahu bahwa Gereja juga mempunyai Kitab Hukum yang berlaku untuk Gereja di seluruh dunia, yang bertujuan untuk menunjukkan kepada semua warga Gereja setempat, hak dan kewajiban masing-masing dalam keseluruhan umat Allah dan di dalamnya tertulis pula apa dan bagaimana pelaksanaan peranserta mereka dalam karya penyelamatan Gereja (Kata Pengantar Ketua MAWI, Mgr. F.X. Hadisumarta, O.Carm).
Dengan dasar pemikiran seperti itulah, maka mulai edisi ini muncul Ruang baru, yaitu Mengenal Kitab Hukum Kanonik. Tulisan ini akan dibuat sependek mungkin, meski dengan akibat akan lama tamatnya karena ada 1752 kanon, dimana untuk kanon-kanon yang dianggap penting akan dituliskan sebagaimana aslinya, sedangkan yag lain hanya akan dituliskan intinya.
Apa yang dituliskan di ruang ini bukanlah teks resmi, tulisan ini hanya dimaksudkan agar KHK ini dikenal oleh umat tidak hanya menjadi koleksi para imam dan calon imam agar apa yang diharapkan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam Sacrae Disciplinae Leges dapat terwujud, yaitu “Kitab Hukum sama sekali tdak bertujuan untuk mengganti iman, rahmat, karisma-karisma dan terlebih-lebih cinta kasih dalam kehidupan Gereja atau kaum beriman Kristiani. Sebaliknya Kitab Hukum bertujuan terutama untuk menumbuhkan ketertiban yang sedemikian rupa dalam masyarakat Gerejawi, yang memberikan tempat utama kepada cinta, rahmat dan karisma-karisma, namun sekaligus ia memudahkan perkembangan yang teratur dari semuanya itu baik dalam kehidupan masyarakat gerejawi maupun dalam kehidupan tiap-tiap orang yang termasuk di dalamnya.”
Sumber yang dipakai adalah Kitab Hukum Kanonik cetakan ketiga, tahun 1991, yang merupakan edisi yang telah direvisi oleh Panitia Hukum Gereja KWI dan merupakan edisi terjemahan resmi.
Selamat membaca! (A. B. Lindawati)
PENDAHULUAN
Kebiasaan untuk menghimpun kanon-kanon suci dalam satu kesatuan sudah dikenal sejak jaman Gereja Purba, meskipun pada masa-masa awal lebih merupakan prakarsa pribadi. Dan karena pada perkembangan selanjutnya, yang muncul adalah ketidakteraturan, ketidakpastian, ketidakgunaan sehingga makin hari makin membawa tata tertib Gereja ke dalam bahaya dan krisis yang besar, maka sejak masa persiapan Konsili Vatikan I, para Uskup telah meminta untuk dipersiapkannya himpunan undang-undang baru dan tunggal untuk melaksanakan reksa terhadap umat Allah dengan lebih pasti dan aman.
Selama dua belas tahun dengan kerjasama dari para ahli, para penasehat dan para Uskup dari seluruh Gereja diselesaikanlah pekerjaan mengumpulkan dan memperbaharui semua hukum gerejawi, yang kemudian diundangkan oleh Paus Benedictus XV pada tanggal 27 Mei 1917 dan mendapat kekuatan hukum sejak tanggal 19 Mei 1918. Kitab Hukum yang baru ini tidak bermaksud membuat hukum baru, melainkan terutama mengatur hukum yang berlaku sampai waktu itu dengan metode baru.
Tetapi dengan terjadinya perubahan-perubahan ekstern Gereja di dunia masa kini serta perubahan-perubahan intern Gereja, maka revisi baru atas kitab hukum kanonik merupakan hal yang perlu bahkan mendesak. Tanda-tanda jaman ini telah ditangkap dengan jelas oleh Paus Yohanes XXIII, yang ketika mengumumkan akan diadakannya Sinode Roma dan Konsili Vatikan II, juga menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa itu juga merupakan persiapan untuk melakukan pembaharuan hukum.
Komisi Pembaharuan Kitab Hukum Kanonik dibentuk pada tanggal 28 Maret 1963 tetapi pada akhirnya memutuskan bahwa pekerjaan yang sebenarnya dan khusus untuk mengadakan pembaharuan harus ditunda dan hanya dapat dimulai setelah Konsili selesai, sebab pembaharuan harus dilakukan sesuai dengan anjuran-anjuran dan prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh konsili itu sendiri.
Baru dua puluh tahun kemudian pekerjaan pembaharuan itu selesai, yang kemudian diundangkan pada hari ulang tahun pengumuman pertama pembaharuan Kitab Hukum yang dilakukan oleh Paus Yohanes XXIII.
Kini tersedialah bagi para gembala dan kaum beriman Kristiani hukum Gereja yang terbaru, yang sederhana, jelas, harmonis dan sesuai dengan ilmu hukum; di samping itu sembari tidak bertentangan dengan cinta kasih, kewajaran, kemanusiaan dan diresapi sepenuhnya oleh semangat Kristiani sejati, berusaha menjawab cirri ekstern dan intern yang diberikan oleh Tuhan kepada Gereja dan sekaligus menjawab situasi dan kebutuhan Gereja di dunia jaman sekarang ini.
Para Gembala memiliki norma-norma yang pasti untuk mengarahkan kegiatan pelayanan suci mereka secara tepat; setiap orang juga diberi kesempatan untuk mengenal hak-hak dan kewajiban-kewajiban masing-masing dan ditutup jalan untuk bertindak sewenang-wenang; penyalahgunaan yang mungkin timbul dalam tata tertib gerejawi karena tidak adanya undang-undang, dengan lebih mudah dapat dilenyapkan dan dicegah; semua karya kerasulan, lembaga-lembaga dan prakarsa-prakarsa memang mempunyai dasar untuk maju dan berkembang, sehingga ketertiban yang sehat dalam tatanan yuridis memang perlu agar persekutuan gerejawi menjadi kuat, bertumbuh dan berkembang.
BUKU I
Kanon 1-6 menyatakan antara lain, KHK ini berlaku hanya untuk Gereja Latin, tidak menentukan tatacara yang harus ditepati dalam perayaan-perayaan liturgis, status perjanjian-perjanjian, hak-hak, previlegi-revilegi, kebiasaan-kebiasaan yang berlaku sekarang serta penghapusan beberapa hukum dan undang-undang.
Pemberlakuan undang-undang gerejawi baik mulai pemberlakuan, cara diundangkan, orang-orang yang terikat oleh undang-undang gerejawi penafsiran undang-undang, status undang-undang yang lama, serta status undang-undang sipil diatur dalam Kanon 7-22.
Kebiasaan-kebiasaan yang dapat memperoleh kekuatan hukum serta waktu pelaksanaan yang dibutuhkan bila kebiasaan tersebut melawan atau berada di luar hukum kanonik diatur dalam kanon 23-28.
Kedudukan dekret umum, yang boleh mengeluarkan dekret umum, pengeluaran dekret umum eksekutif (termasuk siapa saja yang terikat kekuatan hukumnya) serta pengeluaran instruksi (termasuk kekuatan hukumnya) diatur dalam kanon 29-34.
Tindakan administratif dapat dilakukan oleh orang yang mempunyai kuasa eksekutif dan harus dimengerti menurut arti kata-kata itu sendiri dan pemakaian umumnya sehari-hari. Pemberian harus secara tertulis bila menyangkut tata lahir (Kanon 35-37). Kekuatan hukum tindakan administratif, pelaksanaan tindakan administratif (keabsahan pelaksanaan tugas, norma yang harus dituruti, kemungkinan pengganti) dan masa berlakunya diatur dalam Kanon 35-37.
Dekret individual adalah suatu tindakan administratif yang dikeluarkan oleh kuasa eksekutif yang berwenang, sedangkan perintah individual adalah suatu dekret yang mewajibkan secara langsung dan menurut hukum, seseorang atau orang tertentu untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (Kanon 48-49). Dekret individual harus diberikan secara tertulis, sebelum dikeluarkan, kuasa yang bersangkutan harus mencari informasi dan bukti yang perlu dan sedapat mungkin mendengarkan mereka yang haknya mungkin dirugikan, hanya berlaku mengenai hal-hal yang diputuskan dan untuk orang-orang yang diberi dekret itu (Kanon 50-52). Kedudukan dekret khusus, pemberitahuan dekret, waktu pengeluaran dekret serta masa berlakunya diatur dalam Kanon 53-38.
Reskrip adalah suatu tindakan administratif yang dibuat secara tertulis oleh kuasa eksekutif yang berwenang, dapat diperoleh oleh semua orang yang tidak dilarang dengan tegas dan dapat diperoleh untuk orang lain kecuali kalau nyata lain (Kanon 59-61). Efek reskrip, penyebab penghalang sahnya reskrip, tentang penolakan (baik oleh salah satu departemen Kuria Roma, Ordinarisnya sendiri maupun oleh Vikaris), pemberitahuan reskrip Takhta Apostolik kepada Ordinaris, pengguna reskrip, perpanjangan reskrip serta pembuktiannya bila diberikan secara lisan diatur dalam Kanon 62-75.
Previlegi atau kemurahan yang diberikan lewat suatu tindakan khusus demi keuntungan perorangan atau badan hukum tertentu, dapat diberikan oleh pembuat undang-undang maupun kuasa eksekutif yang berwenang dan selalu harus ditafsirkan sedemikian rupa sehingga sungguh-sungguh memberikan kemurahan bagi yang menerimanya (Kanon 76-77). Masa berlakunya suatu previlegi diatur dalam Kanon 78-84.
Dispensasi atau pelonggaran dalam kasus tertentu dari undang-undang yang semata-mata gerejawi dapat diberikan oleh kuasa eksekutif dalam batas-batas kewenangannya dan oleh mereka yang memiliki kuasa memberikan dispensasi (Kanon 85). Undang-undang yang tidak dapat diberi dispensasi, pemberian dispensasi oleh Uskup Diosesan, imam dan diakon yang boleh memberikan dispensasi, syarat pemberian dispensasi, serta masa berlakunya diatur dalam Kanon 86-93.
Statuta atau peraturan-peraturan yang ditetapkan menurut norma hukum untuk kelompok orang atau benda dan didalamnya dirumuskan tujuan, tatanan, kepemimpinan dan tata kerjanya (Kanon 94 $1). Kelompok yang diwajibkan oleh statuta serta pengaturan ketentuan-ketentuan statuta yang dibuat dan diundangkan atas dasar kuasa legislatif diatur dalam Kanon 94 $2-3.
Tertib-acara adalah aturan-aturan atau norma-norma yang harus ditepati dalam rapat-rapat dan mengikat mereka yang mengambil bagian di dalamnya (Kanon 95)…..
P.S.
Dimuat di Berita Umat Paroki Katedral Bogor Desember 93 – Januari 94, selengkapnya bisa dibaca sendiri dari Kitab Hukum Kanonik Edisi Resmi Bahasa Indonesia, Juni 2006.
Diketik ulang pada 3 Oktober 2011.

Saturday, October 1, 2011

Opini: Penyerahan Diri kepada Tuhan = Masih Relevankah di Jaman yang Serba Canggih ini??

Sidang pembaca tentu sangat mengenal Bunda Maria, teladan orang beriman, bagaimana Dia menjawab tugas yang diberikan Allah kepadaNya. Tanpa bertanya ba bi bu lagi, Dia menerima tugas untuk mengandung Kristus dengan penuh kerendahan hati pula, padahal waktu itu Dia belum menikah meskipun sudah bertunangan. Dia tidak memikirkan bagaimana tanggapan orang bila melihatNya mengandung sebelum menikah.
Tetapi itu terjadi lebih kurang 2000 tahun yang lalu, pada saat belum banyak, kalau tidak boleh dikatakan sedikit sekali terjadi pergeseran nilai-nilai ke-Tuhan-an oleh nilai-nilai duniawi. Sekarang jaman telah berubah begitu banyak, dimana manusia dituntut untuk bersikap rasional, sikap yang mau tidak mau telah merubah hubungan manusia dengan Tuhan.
Penyerahan diri kepada Tuhan tidaklah mudah karena menyangkut iman. Dengan iman, kita percaya bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu dan kita bisa berharap daripadaNya.
Tapi tidakkah hal ini akan membuat kita menjadi orang yang pesimis, tidak percaya pada kemampuan sendiri, senantiasa merasa dirinya lemah? Jawaban atas pertanyaan ini berbunyi “tidak,” sekali lagi “tidak!!” Mengapa demikian? Ini semua karena penyerahan diri kepada Tuhan tidak hanya sekedar penyerahan diri, hanya sebagai dalih.
Misalnya saya sebenarnya kita mampu mendapat nilai yang lebih baik tapi karena merasa ingin menjadi orang Katolik yang baik, maka kita serahkan saja semuanya kepada Tuhan. Baik ya diterima, jelek ya diterima karena itu sudah kehendak Bapa, padahal sebenarnya kita malas untuk belajar lebih giat. Ini hanya sekedar contoh sederhana, masih banyak contoh yang bisa diambil sebagai bahan refleksi.
Sebenarnya dalam menyerahkan diri kepada Tuhan, kita juga harus punya suatu keyakinan yang menurut kita sudah baik, pas, bagus. Karena dengan adanya keyakinan ini, kita dilecut untuk berusaha meskpun kita tidak tahu keyakinan kita itu sudah sesuai belum dengan kehendak Tuhan. Hasil akhir tetaplah di tangan Tuhan, manusia hanya bisa berusaha, Tuhanlah yang menentukan.
Satu hal lagi, yang dituntut dari penyerahan diri kepada Tuhan adalah usaha kita. Kemalasan tidak bisa dijadikan dalah bahwa kita telah menyerahkan segalanya ke tangan Tuhan.
Dengan berserah diri kepada Tuhan, ingat tidak hanya sekedar menyerahkan diri, tetapi dengan penuh kerendahan hati mau menerima segala kehendak Tuhan, kita menjadi tenang setidak-tidaknya tidak terlalu kecewa bila kita mengalami cobaan, kita bisa menilai cobaan itu sebagai suatu hikmah, ada pelajaran yang bisa kita petik.
Tidak hanya itu, penyerahan diri kita kepada Tuhan akan membuat kita selalu ingat akan keterbatasan-keterbatasan kita. Tidak menjadikan kita sebagai orang yang sangat ambisius, karena bagaimanapun juga bagi orang yang bercita-cita terlalu tinggi tentu sangat sakit kalau jatuh. Ambisius boleh-boleh saja, asal ingat dengan keterbatasan-keterbatasan kita.
Jadi penyerahan diri kepada Tuhan masih relevan, bahkan sangat relevan di jaman yang serba canggih ini. Minimal sebagai kontrol diri.
Kita semua harus masih belajar banyak kepada Bunda Maria dalam hal penyerahan diri. Hendaknya kita tidak hanya mengatakan “Ya Bapa, saya serahkan segalanya kepadaMu.” Tetapi juga “Berilah saya kerendahan hati supaya saya dapat menerima apapun kehendakMu.” Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu (Mat 7:7). Kita juga dapat memintanya kepada Bunda Maria agar memberi bimbingan kepada kita supaya berani seperti Dia.

Bogor, 27 Agustus 1990


A.B. Lindawati P.

Saturday, September 17, 2011

Opini: Kristen atau Katolik

Sugeng: Maria, kamu Kristen ya?
Maria : Oh…bukan!
Sugeng: Trus…
Maria : Aku Katolik

Penggalan percakapan di atas mungkin sudah sering kita dengar atau bahkan mungkin kitalah yang menjadi pelakunya. Sebagai seorang Katolik bisa jadi kita akan menjawab seperti jawaban Maria bila mendapat pertanyaan yang serupa. Adakah yang aneh pada jawaban Maria tersebut sampai-sampai harus ditulis di awal opini ini?

GEREJA KRISTUS
Menurut A. Heuken, SJ dalam Katekismus Konsili Vatikan II yang disebut Gereja Kristus adalah “Israel Baru” yang bermusafir pada jaman ini sambil mencari tempat tinggal yang akan datang dan tetap. Dikatakan demikian karena Kristus telah memperoleh Gereja ini dengan darahNya, menjiwainya dengan RohNya dan melengkapiNya dengan sarana-sarana yang cocok untuk membina suatu kesatuan kemasyarakatan yang tampak.
Dalam Syahadat Para Rasul, Gereja Kristus ini kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, Katolik dan Apostolik. Kekatolikan Gereja Kristus adalah anugerah Allah sendiri, yang artinya universal atau umum. Dari sinilah munculnya istilah Gereja Katolik, yang berusaha secara keras dan terus menerus untuk merangkum seluruh umat manusia dengan segala harta rohaninya di bawah Kristus sebagai Kepala dan kesatuan RohNya.
Hanya melalui Gereja Kristus yang satu, kudus, Katolik dan Apostolik inilah orang dapat memperoleh semua sarana penyelamatan. Sebab kita percaya bahwa hanya kepada kerekanan Para Rasul yang diketuai oleh Santo Petrus itulah Tuhan menyerahkan semua berkat Perjanjian Baru untuk membentuk satu Tubuh Kristus di dunia ini.
Tetapi, meskipun Gereja Kristus bersifat satu sejak awal sejarahnya telah diwarnai oleh perpecahan-perpecahan. Ini diawali dengan pengkhianatan Yudas Iskariot, yang merupakan perpecahan “Umat” yang masih embrional. Perpecahan besar dalam sejarah Gereja Kristus adalah timbulnya Protestantisme pada tahun 1517 di bawah pimpinan Martin Luther. Sejak saat itulah muncul istilah umat Protestan.
Dengan berpegang pada uraian di atas, maka jawaban Maria-dan mungkin jawaban kita juga-seperti tersebut di atas akan dicoba untuk ditelaah.
Jadi, semua orang yang percaya kepada Kristus dan dibaptis dengan tepat secara sah dapat disebut sebagai umat Kristen. Tetapi yang dapat disebut sebagai umat Katolik adalah orang Kristen yang mengakui kepemimpinan Paus di Roma, dan oleh karenanya sering juga disebut Roma Katolik.
Tetapi istilah yang biasanya ada dalam masyarakat adalah Kristen dan Katolik. Hal ini, oleh orang awam khususnya, dapat ditafsirkan orang Katolik bukanlah orang Kristen! Tentu ini tidak tepat, dan yang lebih tepat adalah orang Protestan dan orang Katolik karena seperti telah diuraikan di atas bahwa umat Kristen bukan hanya umat yang mengikuti aliran Protestanisme.
Oleh karena itu sebaiknya Maria menjawab demikian:
Sugeng: Maria, kamu Kristen ya?
Maria : Iya…tapi Katolik
Jadi, sebutan yang paling tepat untuk umat Katolik adalah umat Kristen Katolik bila dipadankan dengan umat Kristen Protestan. Bisa juga disebut umat Katolik bila dipadankan dengan umat Protestan (bukan umat Kristen) dengan pemikiran bahwa Katolik juga tetap umat Kristen berkat pembaptisan yang telah diterima dari Gereja Kristus. Pemikiran ini perlu karena bukan tidak mungkin orang Katolik tidak merasa sebagai orang Kristen karena sebutan orang Kristen identik dengan orang Protestan!
Akhirnya, semoga pemikiran ini ada manfaatnya bagi sidang pembaca!

A.B. Lindawati P. (Pengamat masalah sosial kemasyarakatan dan gerejani, tinggal di Mojoagung)

P.S. Tulisan ini dimuat di Berita Umat Jul 91 dan Buletin SUKA Juli 1994




Sharing: The Last Month of Summer Break









As I waited for boarding at Jakarta airport, I met two guys from Hong Kong and Guangzhou so we had a conversation in English and Mandarin during the trip, one of them told me about Qin Shi Huang the first Emperor in China http://en.wikipedia.org/wiki/Qin_Shi_Huang.
I brought my old writing in the early 1990 from home so I started to re-type and upload it in my blog. I think it’s still worth reading besides it’s also broadened the content of my blog.
During my stay with my sisters in King’s Park convent, I had a surgery to remove an impacted wisdom teeth so I was resting as per doctor’s suggestion. Thank’s God I didn’t feel painful so I didn’t have to take the pink pain killer pills from the doctor even though it’s little bit swollen for a week. I continued to read “Dalam Bimbingan Santo Vinsensius” (=In the guidance of St. Vincent de Paul).
During the Indonesian Mass on August 21, 2011 at Christ the King Chapel, I shared my vocation journey. I was moved when I said “I realize that how little I can do in service to the universal mission of the Church but how big I am encouraged to keep move forward because mission is not just a matter of doing things for people, it is first of all a matter of being with people, of listening to, sharing and praying with them,” so I should stop in the middle of my sentence. Later on, I was moved again when Ross gave a support to continue my religious journey through facebook and then I was in tears as I felt I couldn’t hold the differences in love and prayer. The next morning, I saw a rainbow on my way to St. Jerome’s Church. Rainbow is a sign that God keeps his promise (to be with me always, to the very end of the age). What a consolation!
While staying with my sisters at Hung Shui Kiu, I attended the farewell party of Fr. Memo, MG and also had lunch with his community as he would go back to Mexico.
Sr. Helen’s friend invited us to join a boating trip from Tsim Sha Tsui Pier to have lunch at Lamma Island and then went to Repulse Bay. I also attended Sr. Helen’s 80th birthday party held by Keswick Foundation http://www.keswickfoundation.org.hk.
As I took a rest after walking around the compound of the Giant Budha http://www.np360.com.hk/html/eng/lantau/po-lin.html#back, I met a woman whose husband passed away during their vacation in Hong Kong. I only could say that I would pray for him and the rest of the family. I also watched the Ngong Ping Shaolin Showcase.
For Sunday Masses, I had a chance to attend English Mass at St. Anne’s Church, Tung Chung Catholic Secondary Church, Mandarin Mass with traditional characters at Wah Yan College, Indonesian Mass at Catholic Center and Christ the King Chapel.
I am grateful to hear from people whom I prayed with, that God answered our prayers. God answers our prayers in God’s time for many reasons as St. Paul said in Ecclesiastes 3:1: “There is a time for everything, and a season for every activity under the heavens.”
I was staying with my sisters in Macau on Sep 1 - 4. I attended a trilingual Mass: Indonesian, English, Portugese at Trappistine Community Our Lady Star of Hope, visited Ruin of St. Paul, Canossian Convent, Maritime Museum, St. Lawrence’s Church, St. Agustine’s Church, Sr. Anne’s favourite library and had supper with the choir members of St. Joseph the Worker’s Church.
My Chinese classes will begin on Sep 16, it means three months without regular classes. I am sure I forget a lot of it. For several times, I said “zhe ge” when I wanted to say “this one” or “ini.” Once, I saw 这,and I forgot what character is that! Then I checked my dictionary and it’s “zhe!” I usually listen to the listening lessons through my ITouch.
Thank you very much for your warm welcome, hospitality, generosity during my last month of summer break 2011. May God continue to bless your missionary journey.

Guangzhou, Sep 6, 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Saturday, September 3, 2011

Puisi (updated on Jul 15, 2021)

Teruntuk Seorang Clara
Suatu hari,
berbulan yang lalu
kamu datang dengan sebuah berita,
berita yang cukup mengejutkanku
sebuah tawaran datang kepadamu
Ketua Mudika, itulah isi tawarannya.
Tentu saja aku tidak bisa memberi apa-apa
kecuali anjuran untuk menerima dan sebentuk dukungan.
Hari demi hari berlalu
dan bulan pun berganti
sudah cukup banyak cerita bergulir dari bibirmu
segala suka dan duka sebagai seorang ketua
tapi di atas semuanya itu
kulihat kamu cukup sukses
dalam mendinamiskan kegiatan mudika.
Tapi,
hari ini
Kamu datang lagi dengan sebuah berita,
berita yang lagi-lagi mengejutkanku.
Pengunduran diri, itulah isi beritamu.
Tapi kali ini bukan dukungan yang aku berikan
karena…
ini bukanlah berita yang bisa aku duga sebelumnya
dan juga tentunya tidak aku harapkan
sekitar jam sembilan kamu masih sempat mengatakan
“Paskahan, koor sukses”
Tapi jam satu kamu datang dengan berita yang mengejutkan itu.
Terus terang aku menyayangkan keputusanmu yang satu ini
karena aku berharap kamu bisa menjadi contoh
bagi kaum muda yang lain
yang mau memberi dari kekuranganmu.
Mungkin aku tidak akan pernah mendengar lagi
Cerita tentang kegiatan Mudika di Paroki kamu
Malam ini,
ketika kutulis tulisan ini
aku masih sangat berharap kamu masih membuka untuk sebuah pertimbangan
karena aku juga masih berharap
keputusanmu itu kamu ambil dengan “emosi.”
Tidakkah kamu lihat
adik-adikmu masih butuh sosok kamu
sosok yang siap membimbing dan mendampingi mereka
Aku masih berharap…
dan semoga harapku ini sama dengan mereka,
adik-adikmu
Bogor, 20 April 1992
Yang masih berharap,


A.B. Lindawati

NB: Kugoreskan ini untuk C.Selly
Tambahan dari Selly 24 Agustus 2011: Ketua mudika pengganti adalah adik kelas yang selama ini dekat dengan Selly sehingga merupakan kaderisasi. Hikmahnya jadi ketua itu masalah mudah, bertahan di tengah badai adalah perkara tersulitnya.

Jakarta, 28 Januari 1995

Syukur pada-Mu ya Allah...

atas segala berkat dan bimbingan...

kesempatan dan pelajaran...

sehingga aku dapat hadir di sini

menjalani hidup di sini

mengalami perubahan di sini

Aku percaya itulah rencana-Mu

yang pasti indah bagiku

Engkau tahu pergulatan hidupku

Ketika aku jatuh...

dan tak kuat berdiri lagi...

Begitu menyakitkan...

Tapi...

sekali lagi aku tahu...

ada sebuah rencana indah bagiku

Sebuah pendidikan dengan hidup kini dan di sini

meski untuk itu aku harus menghadapi

begitu banyak kecewa

begitu banyak kesendirian

Aku ingin menjalani proses ini

supaya aku dikuatkan

diteguhkan...

dimotivasi...

menjadi aku yang adalah citra Putra-Nya

yang diciptakan untuk memuji, menghormati dan..

mengabdi keagungan Ilahi...

 

Di dalam Rumah-Mu

Pada awalnya

adalah sebuah perjalanan

yang mengantar ke sebuah taman

indah penuh bunga

bermain dan bercanda sepuas hati

langkah kaki melangkah dan melangkah

menuju pintu sebuah rumah

tinggi menjulang ke angkasa

berlantai iman

berdinding kesucian

berpintu kebijaksanaan

berpilar ketaatan

dan beratap keberanian

begitu indah

perlahan pintu itu membuka

seakan menyambut setiap yang datang

langkah kaki takut-takut memasukinya

ouw…

begitu banyak hal menarik

setiap jengkal berpenik-pernik

meski empunya tidak kelihatan

tak puas-puas mata memandang

langkah kaki ke lantai berikutnya

semakin banyak hal menarik

mata, tangan dan telinga bekerja

mengamati , memegang dan mendengar

setiap apa yang ada

sadari akan waktu yang semakin pendek

langkah kaki kembali menapaki tangga

tiba-tiba…

kaki terantuk dan terjungkal

tubuh menggelinding bagai bola

pada akhirnya

terduduk di tangga terbawah

sakit…

terdiam…

membisu…

 

Mojoagung, medio Maret 94

 

A. B. Lindawati P.

Untuk Seorang Sahabat

Ada kesan istimewa…

Ketika kali pertama kukenal dirimu

Ramah tapi bisa tegas…

Jarang kutemui wajahmu sedang kusut

Aku jadi suka ngobrol berjam-jam denganmu

Walau terkadang kita saling membisu

Satu kebahagiaan tersendiri…

Ketika tahu kamu mempercayaiku…

Bahkan menganggapku sebagai bagian dari hidupmu

Akhir-akhir ini…

Begitu banyak kerikil-kerikil tajam…

Yang sengaja ditebarkan untuk halangi langkahmu…

Tapi…

Kau tetap bisa tegar, bersemangat dan tersenyum

Aku salut padamu…

Sekarang…

Batu besar yang halangi langkahmu…

Aku tahu begitu berat beban yang harus kamu pikul…

Aku tahu kamu lelah…

Tapi aku tak ingin kau berhenti melangkah…

Meski aku hanya bisa menyemangatimu…

dari pinggir jalan…

Aku merasa bersalah akan hal ini…

Tapi kuharap kamu mau mengerti…

Ketika akhirnya kamu harus pergi…

Aku tidak ingin memberati langkahmu…

Mungkin inilah sebabnya…

Mengapa rasa berat melepas kepergianmu…

Baru kerasakan tiga hari sebelum kepergianmu…

Semoga kamu tidak melupakan perjumpaan-perjumpaan kita

Ada kebahagiaan-kebahagiaan di sana…

Meski juga ada kekecewaan

Terima kasih untuk semuanya

Dan…

Selamat jalan…

Selamat berjuang…

 

Bogor, 16 Agustus 1993

 

A. B. Lindawati

 

Kenangan akan Seorang Sahabat

Aku sudah tidak ingat dengan pasti…

kapan dan dimana pertama kali kita bertemu…

yang jelas, kita bertemu dan bertemu…

sampai akhirnya aku punya panggilan baru darimu…”ABL”

Meski aku bawel…ini menurutmu…

kamu tetap dengan senang hati menerima kedatanganku

Idealis, itu salah satu cirimu…

meski kau selalu menasehatiku…

agar mempunyai idealisme yang membumi

Tegas, itu cirimu yang lain…

bahkan kau tak segan-segan untuk menggebrak meja…

Untuk memperjuangkan prinsipmu

Keprihatinan-keprihatinanmu…

membuatku mengagumimu…

karena kamu berani menentang arus…

untuk mengemukakan ketidakberesan-ketidakberesan…

meski pada akhirnya itu menjadi bumerang

Kau harus menghadapi cobaan besar dalam sejarah hidupmu

Ketika pada akhirnya kau memutuskan untuk pergi…

ada kehilangan yang tiba-tiba menyelinap

Tentu kau tidak tahu…

betapa aku berharap banyak kepadamu…

di hari-hari terakhir ini, hari-hari menjelang kepergianmu

Aku hanya bisa berharap…

semoga ini merupakan pilihan yang terbaik…

walau mungkin dari yang jelek-jelek…

sehingga kau mampu memulai lembaran baru dalam hidupmu,

merajut kembali hatimu,

dan…

mencari arti baru bagi sisa hidupmu sebagai seorang manusia

Tahukah kamu…

betapa aku begitu salut terhadapmu…

ketika kau memutuskan untuk bertahan…

dengan menunggu dan melihat…

tentu saja dengan bantuan doa

Doaku selalu untukmu…sahabatku…

Bogor, medio Juli 1993

 

A. B. Lindawati

N.B. Kado ulang tahun untuk seseorang “Selamat ulang tahun”

 

Kamu tetap Sahabatku, Bagaimanapun Kamu

Aku mulai mengenalmu di hari Minggu pertama…

aku menginjakkan kaki di kota hujan ini

Semula aku hanya sekedar tahu,

hanya mengenal kulit luarmu

Tapi yang aku tahu pasti…

Kamu adalah tokoh panutan,

tokoh yang selalu diharapkan untuk selalu tampil sempurna

Akhir-akhir ini kita begitu dekat,

kedekatan yang entah darimana awalnya…

saling bertukar cerita, ide, saran dan bahkan kritik

Persahabatan…itulah yang sedang kita bangun

Tapi tahukah kamu betapa aku terkejut bercampur heran

ketika kali pertama mendengar cerita negatif tentangmu?

ketika kali kedua kudengar hal yang sama?

Tapi kali ketiga dan…

yang terakhir, entah kali ke berapa, datang

Aku hanya bisa manggut-manggut

dan…

menyimpannya dalam hati dengan tanda tanya besar

seperti yang dilakukan Maria (lih. Luk 2:5b)

Aku hanya bisa semakin bingung…

ketika kamu datang dengan cerita yang berbeda

Aku tak pernah bisa menemukan sebuah jawab…

mungkin benar apa kata seorang teman,

bahwa jawaban bukan pada yang bertanya-tanya…

tapi pada yang bersangkutan

Sering aku ingin berbuat sesuatu,

karena aku begitu prihatin ketika mendengar…

bahwa kamu mulai mengingkari kesetiaanmu

bahwa kamu mulai lebih suka “option for the rich”

bahwa kamu mulai suka menjelekkan nama rekan sekerjamu

bahwa kamu mulai otoriter, sombong dan…entah apa lagi!

(Semoga saja ini tidak terlontar dari mulut orang yang iri hati terhadapmu!)

tapi aku tak pernah tahu apa yang harus aku perbuat!

Aku juga begitu prihatin ketika tahu…

bahwa dedikasimu mulai menurun

Dan aku menjadi semakin prihatin…

ketika kamu bertanya padaku “untuk apa?”

saat kita berbicara tentang pelayanan kita

Aku tahu kamu sedang kecewa,

dan saat itu aku hanya bisa berkata…

“Tuhan memberi kita talenta yang harus dikembangkan…

dan inilah sarana untuk mengembangkan talenta kita”

Aku sangat prihatin saat itu…

karena aku pernah mengalami hal yang sama…

dan aku tahu pasti,

yang sangat menguasaiku saat itu adalah ego-ku

Aku yakin…

bahwa ego-mulah yang kini sedang berbicara

Aku jadi teringat kata-kata seorang teman…

“Kalau kamu ingin melayani,

lakukanlah itu untuk Tuhan…

jangan karena orang tertentu atau sesuatu yang lain,

karena kamu akan mudah patah bila itu motivasimu”

Tentu aku ingin…

bahkan sangat ingin kamu berubah…

kembali pada idealisme-mu,

sesuatu yang aku yakin masih kamu punya

Dan aku yakin kamu mampu melakukannya,

Tapi di atas semuanya itu…

ingatlah selalu…

bahwa aku tetaplah sahabatmu,

bagaimanapun kamu…berubah ataupun tidak

 

Bogor, 27 Januari 1993

 

Sahabatmu, Elsa

 

Hanya ini Tuhan, Persembahanku

Malam ini aku berada dalam suatau keheningan

Keheningan yang kucipta ‘tuk merenung

Ya…merenung dan merenung

Akan apa yang telah kuperbuat selama ini

Selama 19 tahun lebih 12 hari…

Selama aku diperbolehkan menikmati indahnya alam ini

Tidak ada…tidak ada…

Ya…tidak ada yang telah kuperbuat

Yang pantas kupersembahkan kepada-Mu

Yang ada hanyalah kedosaan-kedosaan yang kian menumpuk

Oh…baru kuingat sekarang

Aku masih punya sesuatu…

Sesuatu yang mungkin pantas untuk-Mu

Ya…tubuhku ini…

Hanya ini Tuhan, persembahanku

Jadikanlah satu dengan kurban Kristus…

agar layak bagi-Mu

Hanya ini Tuhan…semoga berkenan

 

Rain city, akhir Agustus 1990

A. B. Lindawati P.

N. B. Kupersembahkan ‘tuk Sr. Angela dan Fr. Driyanto, Pr.  Thank’s untuk bimbingan-bimbingannya

 

Dwijana Svara

Dwijana Svara adalah nama majalah dinding di kelasku

Dwi artinya dua

Atau kelas dua

Jana dari kata Wijana

Svara dari kata suara

Jadi arti seluruhnya adalah

Suara-suara anak SMPK Wijana kelas dua

Lewat hasil karya sastra melalui majalah dinding

 

Mojoagung, 25 Februari 1985

 

Oei Li Li

 

Bunga Kebanggaan

Bunga kebanggaanku adalah mawar, anggrek, melati

Setiap pagi dan sore aku siram

Warnanya bermacam-macam

Stiap temanku datang selalu kutunjukkan bungaku itu.

Teman-temanku pun senang melihatnya.

 

Pengemis

Setiap hari kau duduk bersimpuh di depan toko

Menunggu belas kasihan sesamamu

Kadang-kadang engaku dihina dan diolok-olok

Oh…betapa malang nasibmu

 

Ibuku

Ibuku sebagai seorang istri yang penuh dengan kewajiban

Mendidik putra-putrinya supaya menjadi orang yang berguna

Dengan tekad bulat yang kuat ia mendorong kaumnya untuk ikut menjadi anggota KB lestari

Betapa bangga hatiku karena ibuku juga sebagai penerus cita-cita Kartini (Oei Li Li, 9 Des 1982)

 

Mawarku

Mawarku yang indah

Mawarku warnamu bermacam-macam

Tumbuh subur di depan rumahku

Juga menghias meja belajarku

Engkau begitu cantik menawan hati

Sungguh bangga hatiku

Suatu hari aku lupa memetikmu

Kau berayun-ayun diterpa angin pagi

Makin lama rontok semua helai bungamu

Betapa sedih hatiku karena engkau rontok diterpa angin (Oei Li Li, 9 Des 1982)

 

Donor Darah

Aku ingin sekali menjadi donor darah

Tapi…aku masih terlalu kecil untuk menyumbangkan darahku

Jika aku besar nanti akan aku sumbangkan darahku

Kepada mereka yang menunggu uluran tangan sesamanya

Kuberikan darahku dengan hati yang tulus ikhlas (Oei Li Li, 9 Des 1982)

 

Ayam Jagoku

Aku mempunyai seekor ayam jago

Setiap hari selalu berkokok

Untuk membangunkan aku

Sejak saat itu aku tidak pernah terlambat masuk sekolah

Ayam jagoku kuberi nama Hayam Wuruk (Oei Li Li, 9 Des 1982)

 

Sajak untuk Guruku

Setiap hari engkau selalu membimbingku

Agar aku menjadi orang yang berguna

Oh…guruku terima kasih

Atas jasamu kini aku telah pandai membaca dan menulis (Oei Li Li, 9 Des 1982)

 

Merah Putih

Merah adalah ayah kita

Putih adalah ibu kita

Merah Putih

adalah orang tua kita

Mereka patut dihormati

Mari kita berbakti kawan

 

Pelarian

Ketika tangan-tangan kecil itu

masih nakal

Kau memanjakannya

Kini ia lari dengan citanya sendiri

Cita kedewasaan

Tiada mau tahu lagi

Kalau kau ibunya

 

Kotaku

Mojoagung kotaku

Kota kecil di daerah Jombang

Ya, memang tiada yang istimewa

dari kotaku

Tetapi aku merasa bangga,

Sebab aku masih bisa menikmati

udara yang bersih dari polusi

 

Manusia

Sekian pasir di pantai

Segitu angin

Sebanyak ikan

Sebanyak burung

Namun Surga neraka tidak penuh

 

Ketika ajalku tiba

Ketika aku sudah merasa bahwa,

Ajalku sudah dekat

Aku semakin mendekatkan diri kepada Tuhan

Agar aku merasa bahagia di alam baka

Aku semakin yakin

bahwa ajalku telah dekat

Tinggal menunggu malaikat maut

datang menjemputku

Aku berangan-angan bertemu Tuhan

Akan kutanyakan,

Apa-apa yang selama ini menjadi tanda tanya besar

Dalam diriku ini

Aku telah menyiapkan segalanya

Aku telah menyiapkan surat

Untuk keluarga, sahabat dan handai tolan

Selamat tinggal

 

 

Perpisahan

Kawan, kita telah lama bersahabat

Tak terasa tiga tahun sudah

Dalam waktu dekat kita harus berpisah

Berpisah untuk menuntut ilmu

Kawan janganlah kamu bersedih

Akan perpisahan yang akan terjadi

Ini memang sudah takdir

Bahwa ada perjumpaan adapula perpisahan

Ingatlah selalu pepatah

Jauh di mata dekat di hati

Selamat berpisah…

Kawan….