Renungan: Minggu Adven III 2010

(Yes 35:1-6a, 10; Yak 5:7-10; Mat 11:2-11)
Bacaan pertama diambil dari kumpulan nubuat Yesaya yang terhimpun dalam Yes 34-35, yang menggambarkan keadaan di masa mendatang ketika umat Israel akan mengalami kembali kejayaannya di bawah pimpinan Yahweh. Gagasan seperti ini timbul di kalangan umat ketika mereka mengalami kekalahan oleh Babel dan sulit untuk bangkit kembali. Dalam keadaan itulah mereka mengingat-ingat kembali apa yang terjadi pada mereka dulu dan kini dengan penuh kepercayaan berharap bahwa Tuhan tetap menolong umatNya.
Hari Minggu Adven III disebut juga Minggu Gaudete, yang berasal dari bahasa Latin yang berarti sukacita, melambangkan adanya sukacita di tengah masa pertobatan karena sukacita Natal hampir tiba. Ini ditandai dengan menyalakan lilin yang berwarna merah muda. Ada yang mendefinisikan sukacita sebagai perasaan yang sama dengan kebahagiaan, tetapi sukacita tidak membutuhkan syarat atau keadaan apapun karena penyebab sukacita dalam hati, yaitu dari Roh Tuhan. Orang yang bersukacita akan merasa hatinya tenang, rileks dan nyaman. Apapun yang terjadi di sekitarnya tidak membuatnya mudah panik dan gelisah. Jadi tidak selalu orang yang bersukacita memiliki perasaan yang meledak-ledak walaupun rasa senang dan gembira adalah dampak dari sukacita, namun lebih dari itu, orang yang bersukacita memiliki ketenangan yang stabil.
Konsili Vatikan II tetap mempertahankan makna Adven sebagai penantian untuk merayakan kelahiran Yesus sebagai Mesias dan kedatangan-Nya yang kedua (parousia). Adven menunjuk pada:
a. dimensi sejarah keselamatan, yaitu Allah yang dinantikan dalam diri Yesus dari Nazaret tampak nyata dalam sejarah hidup manusia di muka bumi.
b. dimensi eskatologis (akhir jaman) kehidupan murid-murid Yesus, oleh karena itu Minggu Adven III juga mengingatkan kita bahwa (harusnya) ada sukacita di tengah masa penantian untuk kedatangan Kristus yang kedua kalinya.

Kita bersukacita karena:
a. Dalam Yes 35: 1-4 dikatakan padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita. Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: ''Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!'' Pengalaman sukacita kita ini akan memampukan kita untuk membagikan sukacita bagi orang lain, terutama bagi mereka yang ”tersisihkan” dalam komunitas. Salah satu cerita favorit saya adalah dari buku Seven Habits of Highly Effective People. One day I returned home to my little girl's third-year birthday party to find her in the corner of the front room, defiantly clutching all of her presents, unwilling to let the other children play with them….I said to myself, "Certainly I should teach my daughter to share. The value of sharing is one of the most basic things we believe in." So I first tried a simple request. "Honey, would you please share with your friends the toys they've given you? "No," she replied flatly. My second method was to use a little reasoning. "Honey, if you learn to share your toys with them when they are at your home, then when you go to their homes they will share their toys with you." Again, the immediate reply was "No!" I was becoming a little more embarrassed, for it was evident I was having no influence. The third method was bribery. Very softly I said, "Honey, if you share, I've got special surprise for you. I'll give you a piece of gum." "I don't want gum!" she exploded. Now I was becoming exasperated. For my fourth attempt, I resorted to fear and threat. "Unless you share, you will be in real trouble!" "I don't care!" she cried. "These are my things. I don't have to share!" … I've learned that once children gain a sense of real possession, they share very naturally, freely, and spontaneously. (http://ee.sharif.edu/~commi/Comm1_files/SevenHabits.pdf). Lewat cerita ini kita diajak untuk mengalami rasa sukacita sebagai orang yang sudah ditebus terlebih dahulu sehingga kita bisa membagikan sukacita itu kepada orang lain dengan alami, bebas dan spontan.
b. Secara tegas dikatakan dalam Yak 5:9 Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu.
c. Allah sendiri hadir sebagaimana dikatakan dalam Yak 35: 5-6a, 10: Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh. Hal ini tergenapi saat pelayanan Yesus di dunia sebagaimana dinyatakan dalam Mat 11: 4-5: Yesus menjawab mereka: ''Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik."

Yohanes Pembaptis merasa perlu memastikan bahwa Yesus-lah Mesias yang dinantikan oleh bangsa Israel sebagaimana dalam Mat 11: 3: lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: ''Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?'' Seringkali lebih mudah untuk mengetahui karya-karya Kristus tetapi tidak mudah untuk sungguh-sungguh menjadikan Yesus sebagai satu-satunya Penyelamat hidup kita, terutama di saat-saat kesedihan dan kegagalan. Betapa banyak orang yang berusaha lari dari kenyataan dengan mencari ”penyelamat alternatif” seperti obat-obatan terlarang. Dalam Mat 11: 6 dikatakan Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku karena turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Dan dalam Yak 5: 10-11 dikatakan Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.
Gereja mengajak kita untuk menyambut Minggu Adven III ini dengan sukacita, bukan hanya karena perayaan Natal akan tiba, namun terlebih lagi karena kita, yang telah ditebus, sedang menantikan kedatangan Yesus yang kedua kalinya untuk menghadirkan KemuliaanNya untuk selama-lamanya. Selama penantian itu, kita hendaknya menguatkan sesama kita yang memiliki ”tangan yang lesu dan lutut yang goyah” dengan berbagai macam cara, baik secara materi, tenaga, maupun doa.
Sukacita karena penyertaan Tuhan dinyatakan kembali sebagaimana dalam Mzm 146:5-10: Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya. Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya.

Guangzhou, 10 Desember 2010

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible


P.S. Materi renungan ini dari HSM Surabaya, ditulis ulang untuk Komsel Zhongda pada 10 Desember 2010