Wawancara: Evangelisasi


Paroki St. Fransiskus Asisi yang terletak di Keuskupan Bogor memiliki jumlah umat sekitar 7000 orang, dengan 1800 kepala keluarga yang terbagi menjadi 5 wilayah. Paroki yang selalu mengadakan Novena Besar St Antonius dari Padua ini sudah mengadakan Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) angkatan ke V dengan peserta 40-50 orang setiap angkatan, dimana topiknya sama dengan kursus evangelisasi pada umumnya hanya saja ditambah dengan topik yang sesuai kebutuhan paroki seperti keluarga dan perkawinan, iman Katolik serta dewan paroki.
Menurut Romo Ridwan Amo, KEP di parokinya secara umum baik, terutama untuk kemajuan paroki. Khususnya umat menjadi terlibat dalam hidup mengereja. Kurang baik karena tidak semua yang ikut KEP mempunyai motivasi yang baik. Ada yang hanya sekedar ingin tahu atau bahkan terpaksa karena diajak temannya karena untuk menolak tidak enak. Ada yang tidak baik, merasa sudah tahu semua, sok tahu, padahal yang diterima baru dasar atau bagian kecil saja.
Alumni KEP ( bentuk jamak atau beberapa ) diharapkan ikut serta dalam warta gereja seperti yang tertera pada bagian akhir Injil Matius ( membawa kabar gembira ke segala bangsa) dengan mengikutkan dirinya dalam Gereja, bukan hanya menjadi penonton atau pendengar tetapi menjadi pemain. Secara konkrit terlibat dalam kelompok kecil dulu, mulai dari rukun,lingkungan, wilayah, paroki. Di rukun, walau tidak menjadi ketua rukun, membuat rukun bergerak dengan baik. Begitu juga di lingkungan , berperan mengaktifkan umat, supaya mereka menjadi contoh warga gereja yang baik. Kalau ada kesempatan untuk menjadi ketua atau staf kepengurusan gereja diterima dengan baik dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab sebagai anak-anak Allah.
Dalam prakteknya, menurut imam yang ditahbiskan pada 9 Februari 1990 ini, KEP ini belum lengkap meskipun sudah mengarah ke evangelisasi baru yang dicanangkan oleh Paus Yohanes Paulus II.
Sebagai imam yang baru bertugas di Paroki Sukasari pada 8 Januari 2006, mengharapkan alumni KEP senantiasa terus berkumpul, supaya tak hilang begitu saja, selesai. Namun senantiasa membagi pengalaman dalam menggereja dan berusaha menambah wawasannya.

Sedangkan Paroki St. Yosef yang terletak di Keuskupan Surabaya memiliki jumlah umat sekitar 3500 orang yang tersebar di kecamatan-kecamatan di Kabupaten dan Kotamadya Mojokerto (stasi Wunut, Pacet, Trawas dan kota) , Kabupaten Jombang (stasi Mojoagung), Kabupaten Gresik (Lingkungan Kedamean) serta Kabupaten Sidoarjo (stasi Krian). Paroki yang data awalnya ada di Paroki Santa Perawan Maria Kepanjen Surabaya ini sudah mengadakan Kursus Kitab Suci yang dimotori oleh awam.
Menanggapi evangelisasi, Romo Joko menyatakan bahwa dalam Mat 28 : 19 tertulis “ Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. Ekaristi dilihat sebagai puncak dan sumber iman kita. Setiap mengakhiri Ekaristi, selalu ada perutusan. Selama ada Ekaristi selalu evangelisasi karena dalam Ekaristi selalu diperdengarkan Sabda Tuhan, yang tentu tidak akan kita miliki sendiri. Kita diutus untuk terus melakukan evangelisasi. Sifat perutusan yang terus menerus ini juga karena jaman yang terus berubah. Paus Yohanes Paulus II dalam pesan untuk Minggu Misi tahun 2004 juga mengingatkan karena evangelisasi kita tidak pernah sempurna. Evangelisasi adalah tugas pokok yang harus terus kita lakukan.
Di Paroki Mojokerto sudah ada kursus Kitab Suci meskipun ada kesan peserta tidak segera berani membagikan apa yang telah didapat dalam kursus. Tetapi ini juga menyangkut legitimasi dari umat yang lain juga. Walau secara umum, umat keseluruhan diajak untuk semakin dekat dengan Kitab Suci karena evangelisasi selalu harus mendasarkan diri pada Kitab Suci.
Menurut imam yang ditahbiskan 9 September 1993 ini, kita tidak perlu mempersoalkan kata baru dalam evangelisasi baru karena semua terus berubah sebagai konsekuensi logis dari jaman yang terus berubah, yang tentu mempengaruhi evangelisasi kita.
Gerakan mendekatkan umat pada Kitab Suci harus semakin gencar. Ini sebenarnya sudah dilakukan dengan banyaknya renungan-renungan yang berhubungan dengan Kitab Suci yang sesuai dengan kalender liturgi, yang diharapkan akan membantu umat untuk dapat akrab dengan Kitab Suci karena seringkali umat yang tidak mengerti Kitab Suci menjadi malas untuk setia membaca Kitab Suci.

Linda AB