Sharing: The Second Birthday in Guangzhou

         I had several activities during my birthday so I included all of these activities as part of my birthday celebration. I started my birthday celebration by attending the Mass for the Solemnity of the Sacred Heart of Jesus with intention to give thanks for all the blessings and grace.  After breakfast with two friends, I had the final exam in writing and then follow up a fund raising requests for Nias and Malang, Indonesia.  Thanks be to God as He provided several generous friends to help. 
        As a friend from Spain will leave Guangzhou, I spent the afternoon with her and several friends in her apartment and enjoyed the rural area of Guangzhou. 
        Three friends from Latin America wanted to celebrate my birthday so we planned to have Indonesian meal.  It’s their customs to have open invitation as everybody share the bill except the birthday girl so I also ask several friends and teachers whether they are interested to have Indonesian meal without informing it’s my birthday.  One of our teachers came on time and I arrived 30 minutes later.  While waiting, I saw my last semester Japanese friend, who said that he was invited by Haidie to attend my birthday celebration.  I didn’t know he came back to Guangzhou since last April and started to have contact with Haidie last week.  Then Mariella from Equador, Laura, Hendra and Melysa from Indonesia, Haidie and Liz from Mexico came to join the meal.  Two Chinese friends couldn’t find the place so they decided to go home.    We had “rendang, tahu tempe penyet”, stir and fry kangkoong, seafood fried noodle and fried fish and then enjoyed the birthday cake from Haidie and Liz after singing happy birthday in English, Mandarin, Spanish and Indonesia and also Japanese greetings.  It’s a multicultural birthday celebration!
        The next day morning, I joined the group organized by RCIA team of Cathedral to have pilgrimage to Shangchuan Island, Jiangmen and Zhongshan. Last Sunday after attending the English Mass, a friend informed me about the trip to Shangchuan Island so I re-check with the organizer whether it’s the place where St. Francis Xavier died since as I know St. Francis Xavier died in Sancian island, they didn’t know his English name and I also didn’t know his Chinese name so I asked Sr. Gan about it.  She said yes, it’s the place where he died and the group will visit the beautiful convent of Jiangmen sister.  There are 64 participants, baptized and not yet baptized, including Fr. Joseph, Fr. Li and Sr. Liu in a bus and a van.  We went to the pier around 2.5 hours drive from Guangzhou and then went by boat for around 30 minutes and by small car climbed the hill to the Francis Xavier’s Tomb Monument.  Fr. Joseph gave brief information about pilgrimage and the life of St. Francis Xavier including his mission in Indonesia.  Upon arriving Monument, we prayed Station of the Cross which is ended at the statue of Francis Xavier facing mainland China.   After praying and singing, I was moved when Sr. Liu said there are many people in mainland who didn’t know Jesus yet so she invited all of us to face mainland China and sung Hail Mary in Mandarin so that more people will know Him.  Whenever I attended Mass in Cathedral, there will be usually non Catholics beside or in front of me.  St. Francis Xavier hoped to enter (mainland) China but while waiting in Shangchuan island, he was ill and died in 1552,     After that we went to the beach and threw the small bottle of our wish to the sea and then stayed in a hotel in Jiangmen.
        We went to Immaculate Heart of Mary Cathedral to attend a bilingual Cantonese and Mandarin Sunday Mass with main celebrant Bishop Liang Jian-sen accompanied by Fr. Joseph, Fr. Li and Deacon Huang.  After Mass, Bishop Liang introduced the history of the Cathedral which was built by Maryknoll in 1923.  Then, we visited the Sacred Heart of Mary Convent to enjoy the fruits provided by the sisters.  Sr. Bao Lu got the most attention from all of us as she just turned 100 years old.  She was the oldest in their community and one of the first five sisters trained by Maryknoll Sisters in 1934.  The Mother Superior Sr. Maria Li, gave introduction about their congregation: there are 20 young sisters and 5 older sisters which served in 36 Churches in the Jiangmen Diocese.  I didn’t know that the beautiful Cathedral built by Maryknoll is in the same compound with the convent so it’s a holy coincidence that I could see both of them in the same time especially as the pilgrimage to Cathedral wasn’t the original plan of the RCIA team.
        After staying a while at the Immaculate Conception Church in Zhongshan, including listening to Fr. Li’s explanation about what’s in the Church, we had sharing session about the pilgrimage.   We continued the sharing in the bus as we should leave for Guangzhou at 4.00 p.m.  During the trip including on the boat, we sang and played games.  I also had time to ask to several participants, how did they come to Catholic Church and I only can wonder on how God leads them the way, which was including through the website of Guangzhou Diocese!  The pictures for this pilgrimage can be seen at
      As Srs. Annie and Sue came for graduation ceremony, they treated me for a birthday and graduation lunch.          
        The next day, Joanna treated me for an Indonesian lunch for my graduation and her new apartment.  She ordered turmeric rice, which is a thanksgiving meal in Indonesia, as she said that turmeric has possible benefit for Alzheimer’s disease.  After that, I visited her new apartment and helped to translate her conversation with her Chinese neighbour.   
        I attended the last biweekly Indonesian prayer meeting for this semester at Shamian Church the next day.  There was birthday celebration for Steaven and myself. 
        Thank you very much for your birthday greetings, wishes, gifts and especially your prayers.  May God continue to bless your missionary journey.         
Hong Kong, June 24, 2012

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Renungan: Ya dan Amin


            Tema renungan malam ini adalah Ya dan Amin dalam hubungannya dengan Bunda Maria karena bulan ini adalah bulan Maria.
             Saya mau mengawali renungan ini, dengan judul lukisan Dante Gabriel Rosseti dalam bahasa Latin Ecce Ancilla Domini, yang dilukis pada tahun 1849-1850, yang tergantung di Tate Britain- London.  Ecce Ancilla Domini secara tradisional merupakan jawaban Bunda Maria kepada Malaikat Gabriel pada waktu memberitahukan tentang kelahiran Yesus, seperti yang ada dalam Luk 1: 38: ''Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.''
            Sr. Claudette LaVerdierre, MM dalam bukunya “On the Threshold of the Future: The Life and Spirituality of Mother Mary Joseph Rogers, Founder of the Maryknoll Sisters (=Di Ambang Masa Depan: Hidup dan Spiritualitas Mother Mary Joseph Rogers, Pendiri Maryknoll Sisters)” menulis “ Seperti Bunda Maria, ketika kita, laki-laki dan perempuan, mengatakan ya pada hidup, ya pada memberikan diri kita sebagai berkat bagi orang lain, kita juga dinaungi oleh Roh Kudus dan kasih kita menyebar, seperti Bunda Maria.  Sabda Allah menjadi daging dalam hidup kita seperti dalam hidup Bunda Maria, dan kasih tercurah kepada semua orang yang kita jumpai.  Sadar sepenuhnya akan ketidakmampuannya untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki dan percaya bahwa bagi Alah tidak ada yang mustahil, Bunda Maria bersedia sepenuhnya walaupun dia tidak dapat membayangkan konsekuensi-konsekuensi dari “Ya”.  Bagi Bunda Maria, sebagaimana untuk semua umat Kristiani, ya di awal-dan setiap ya-hanyalah awal dari jalan menuju pemuridan Kristiani.”
            Salah satu konsekuensi dari “Ya” bagi Bunda Maria adalah menyimpan segala perkara dalam hati dan merenungkannya ketika orang lain heran tentang apa yang dikatakan para gembala tentang bayi Yesus sebagaimana dalam Luk 2: 17-19:  “Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” atau ketika orang lain tidak mengerti apa yang dikatakan Yesus bahwa Dia harus berada di rumah BapaNya sebagaimana dalam Luk 2: 49-51b: “Jawab-Nya kepada mereka: ''Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?''  Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.”  Bagi kita sekalian, menyimpan segala perkara dalam hati bukanlah perkara mudah, berapa sering kita mengeluh bila rencana yang sudah disusun dengan matang tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, ketika teman dan keluarga tidak sebaik yang kita harapkan, ketika ujian tidak semudah yang kita harapkan, ketika makanan tidak seenak yang kita harapkan, dan masih sederet daftar yang bisa kita buat.  Pernahkah kita berusaha menyimpan segala perkara dalam hati dan mendoakannya?  Bila tidak bisa berdoa dengan kata-kata yang panjang, bisa dengan mengatakan “Tuhan aku sedang mengalami….berilah aku rahmat untuk….”   
            Konsekuensi lain dari “Ya” bagi Bunda Maria adalah “Ya” sampai sakit, yaitu ketika menyertai Yesus mulai dari perjalanan memanggul salib sampai wafat di bukit Golgota.  Ada yang masih ingat bagaimana gelisahnya mama kalau kita sakit bahkan mungkin beliau ingin menggantikan sakit kita?  Ibu mana yang tidak merasakan ikut sakit kalau anakNya didera dan disiksa seperti Yesus?  Tentu Bunda Maria juga tidak penah menduga bahwa “Ya” yang diucapkanNya hampir tiga puluh empat tahun sebelumnya akan mendatangkan kesakitan sedalam itu.  Itu juga konsekuensi dari “Ya” kita terhadap kehendak Allah, seringkali “Ya” itu mendatangkan kesakitan terutama ketika harus melepaskan ego kita dan mengikuti kehendak Tuhan.  Siapa yang tidak merasa sakit kalau diminta mengalah atau untuk melakukan sesuatu tidak seperti yang dikehendakinya?  Misalnya orang tua melarang terlalu banyak main games karena nilai pelajaran mulai merosot, setamat kuliah diminta pulang ke Indonesia membantu orang tua padahal ingin mencari pengalaman di Guangzhou, orang tua minta bersekolah di sekolah A karena biayanya terjangkau, tapi teman-teman bersekolah di sekolah B yang biayanya lebih mahal. 
            Bagi Mother Mary Joseph, sebagaimana ditulis dalam buku di atas, mendengarkan dan melakukan kehendak Allah mengandung pokok dari ketaatan, yang berlaku untuk semua orang, apapun status hidupnya: sebagai imam, biarawan/biarawati, maupun sebagai awam termasuk sebagai kaum muda Katolik di Guangzhou.  Tiap orang dipanggil untuk hidup sejalan dengan kehendak Allah, yaitu dengan pertolongan Tuhan, memilih untuk melakukan hal yang paling bernilai kasih dalam segala situasi.  Dalam prakteknya, ini berarti melupakan diri sendiri dalam pelayanan kepada orang lain, atau dengan kata lain, melakukan hal yang benar untuk kebaikan bersama. 
            Kata “Amin”, artinya “dengan sesungguhnya”, sebuah pernyataan penegasan, yang dapat ditemukan dalam Kitab Suci Ibrani/Yahudi dan Perjanjian Baru.  Kata “Amin” secara umum digunakan dalam liturgi Kristiani sebagai kata penutup dari doa dan nyanyian pujian.
            Dengan mengatakan “Ya dan Amin,” kita mau mengatakan dengan penuh ketegasan akan kemauan kita melakukan kehendak Allah, apapun konsekuensinya.    Tentu sangat tidak mudah di dunia yang dilanda oleh ke-aku-an yang semakin meningkat.             
            Sebagai kaum muda Katolik di Guangzhou, apa yang perlu di Ya dan Amin-i? Pertama dan terutama tentunya menjadi pribadi seperti yang Allah inginkan, sebagai pelajar atau karyawan, sebagai anak, sebagai pacar atau suami atau istri seseorang dan tentunya sebagai warga Gereja.  Belajar serajin mungkin atau bekerja sebaik mungkin tentu sudah menjadi pengetahuan umum, tapi bagaimana melaksanakannya dalam hidup sehari-hari, bagaimana memilih untuk melakukan hal yang paling bernilai kasih dalam segala situasi sebagaimana sudah disebut di atas?  Ketika punya kesempatan mengambil keuntungan pribadi dari pembelian dari perusahaan, dilakukan atau tidak? Ketika punya kesempatan menyontek, menyontek atau tidak?  Ketika punya kesempatan untuk marah, bisakah kita menahan marah?  Ketika ada yang meminjam buku atau handphone, diberi atau tidak? Ketika belum punya pacar, bisakah kita tetap mengisi malam minggu dengan hal-hal yang bermanfaat? Ketika duduk di sebelah orang yang tidak tahu cara mengikuti Misa Mandarin atau Inggris, bisakah kita membantunya?  Ketika kita melihat orang yang berbeda dengan kita, bisakah kita tetap menerimanya sebagaimana dia adanya, termasuk yang cerewet, yang pemarah, yang pemalu?  Dan ketika kita merasa diberkati oleh Allah, bisakah kita membagikan berkat itu kepada orang lain?  Ini adalah contoh-contoh sederhana yang mungkin bisa dilakukan dalam hidup sehari-hari sebagai latihan untuk “Ya dan Amin” yang lebih besar.   Tentu masih banyak lagi contoh yang bisa diambil.  Dalam suratnya kepada umat di Roma, Rasul Paulus mengatakan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rm 12:2).
            Pertanyaan yang mungkin timbul adalah bagaimana membedakan mana kehendak Allah dan mana kehendak sendiri?  Sekarang ini mungkin tidak ada orang yang didatangi malaikat seperti Bunda Maria sehingga mendapat pesan dari Allah, yang demikian jelas.  Ada beberapa orang yang mungkin mendapat wahyu pribadi dari Allah, yang tentunya harus diuji kebenarannya.  Bagi kebanyakan orang, mungkin tidak mudah mengetahui mana yang merupakan kehendak Allah dan mana yang merupakan kehendak sendiri, terutama bila pilihannya bukan antara baik dan buruk, tetapi antara baik dan baik.  Untuk masalah-masalah yang besar, misalnya pilihan hidup menikah atau hidup selibat, tentu dua-duanya baik, biasanya dilakukan dengan mengikuti retret pribadi.  Karena beberapa dari kalian mungkin akan menikah dalam waktu dekat, saya menganjurkan agar di samping mengikuti kursus persiapan perkawinan dan mempersiapkan segala detail perkawinan, juga menyempatkan diri untuk mengikuti retret pribadi.  Sedangkan untuk masalah-masalah yang lebih sederhana, misalnya memilih peluang kerja di perusahaan A atau perusahaan B, konsentrasi menyelesaikan kuliah atau menerima tawaran kerja, melanjutkan kuliah atau membantu orang tua di Indonesia, bisa dilakukan dengan mencari informasi sebanyak mungkin, mendaftar semua konsekuensinya dan membawanya dalam doa sebelum mengambil keputusan.  Pengalaman saya, Tuhan seringkali menjawab pada saat-saat terakhir keputusan harus dibuat.  Jadi bersabarlah karena untuk segala sesuatu ada waktunya sebagaimana dalam Pengkotbah 3: 1-15:
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.
Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal,
ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;  
ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;  
ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?
Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.
Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.
Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.
Yang sekarang ada dulu sudah ada, dan yang akan ada sudah lama ada; dan Allah mencari yang sudah lalu.
            Karena hari Minggu adalah hari Pentakosta, maka saya akan menutup renungan ini dengan doa yang saya modifikasi dari doa Fr. Benedict Groeschel, CFR, seorang imam yang mengalami luka di kepala, patah tulang, lebih dari satu jam tanpa tekanan darah dan sekitar 20 menit tanpa detak jantung setelah kecelakaan di Florida-USA
            Roh Kudus, datang dan hadirlah bersama kami.  Bimbing dan terangilah kami dalam hidup kami sehari-hari.  Tolonglah setiap dari kami dalam perjalanan kami menuju Allah supaya kami, siapapun kami dan apapun talenta dan masalah yang kami miliki, dapat menjadi lebih loyal dan nyata sebagai murid dari Tuhan kami Yesus Kristus.  Tolonglah kami setiap hari untuk melakukan hal yang paling bernilai kasih dalam segala situasi, dibimbing olehMu, sebagai upaya untuk mencintai sesama, mengampuni musuh kami, dan khususnya untuk lebih serupa Kristus dalam hidup kami sendiri.  Tolonglah kami untuk mengikuti teladan Bunda Maria, murid pertama PutraMu Yesus, agar kami dapat selalu mengatakan “Ya dan Amin” terhadap kehendakMu.  Semuanya ini kami mohon dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Guangzhou, 25 Mei 2012
Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

P.S. Renungan ini dibawakan untuk PDKK Hati Kudus Yesus Guangzhou pada 25 Mei 2012, sebagian adalah terjemahan bebas dari komentar Christian Community Bible-Catholic Pastoral Edition,,,