Saturday, March 19, 2011

Renungan: Tuhanlah Kekuatan Kita





Shalom!

Untuk mengawali renungan pada malam hari ini, mari kita baca dari Mzm 28: 7-9: TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya. TUHAN adalah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya! Selamatkanlah kiranya umat-Mu dan berkatilah milik-Mu sendiri, gembalakanlah mereka dan dukunglah mereka untuk selama-lamanya.

Saya mengambil bacaan di atas sesuai tema pada malam hari ini, yaitu Tuhanlah kekuatan kita. Apa artinya menjadikan Tuhan sebagai sumber kekuatan kita di semester yang baru ini? Artinya, bersama pemazmur, kita mau mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, karena Dia-lah yang akan menolong, mendukung dan memberkati kita. Artinya setiap aktivitas yang kita lakukan: berdoa, bekerja, belajar, bermain, makan, beristirahat, berolahraga, pelayanan, mau kita percayakan kepada Tuhan.

Kini saya akan mempresentasikan sebuah slide show berjudul ”Dimana Tuhan Menginginkan Saya Berada”, yang menceritakan tentang beberapa pengalaman orang yang selamat dari Tragedi Twin Towers, karena hal-hal kecil: membeli donat, mengantar anak yang baru masuk TK dan memakai sepatu baru sehingga membuat kaki lecet dan harus membeli plester sehingga terlambat sampai di kantor. Dari cerita-cerita ini kita tahu bagaimana hal-hal kecil yang mengganggu bisa merupakan cara Allah untuk menyelamatkan hidup kita.

Ada yang mengatakan Tuhan memberikan 24 jam sehari untuk semua orang. Ada 4 hal yang tak akan kembali. Sebutir batu, .....setelah ia dilontarkan. Kata, ...setelah ia diucapkan atau ditorehkan. Kesempatan, ...setelah ia hilang. Waktu, ...setelah ia berlalu,” maka kita semua dipanggil untuk menggunakan waktu yang kita miliki dengan efisien dan efektif. Salah satu kebiasaan dari orang-orang yang sangat efektif menurut Stephen Covey adalah mendahulukan yang utama, jadi kalau kita mau menempatkan Tuhan sebagai sumber kekuatan kita, maka ini artinya kita mau menempatkan Tuhan sebagai yang utama dalam hidup kita. Dalam Mrk 14: 37-38, Yesus berkata kepada Petrus ''Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.'' Stephen Covey memberi contoh kebiasaan mendahulukan yang utama dengan menempatkan terlebih dahulu batu besar dalam tabung, sehingga semakin banyak kerikil dan pasir yang bisa dimasukkan juga. Dari cerita ini, kita bisa mengatakan bahwa ketika kita menempatkan hubungan kita dengan Tuhan sebagai yang utama, maka kita akan bisa melakukan lebih banyak hal. Ketika ditawari untuk mengikuti Sekolah Evangelisasi Pribadi di Surabaya, saya mengatakan tidak punya waktu karena sepulang kerja saya sudah merasa capek. Tetapi ketika saya mulai berdoa doa Yesus di pagi hari sebelum melakukan kegiatan lain, karena kalau sudah melakukan kegiatan lain akan terlupakan, saya bisa mengikuti Sekolah Evangelisasi Pribadi ditambah beberapa kelas lain sepulang kerja dan sabtu-minggu.

Hari Minggu 13 Maret adalah Hari Minggu Pra Paskah Pertama. Kita akan mendengar tentang Pencobaan di padang gurun dari Mat 4: 3-10 (Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: ''Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.''

Tetapi Yesus menjawab: ''Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.''

Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: ''Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.''

Yesus berkata kepadanya: ''Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!''

Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,

dan berkata kepada-Nya: ''Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.''

Maka berkatalah Yesus kepadanya: ''Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!''

Lewat bacaan Injil di atas, kita diajak untuk menyadari bahwa pencobaan-pencobaan itu masih berlangsung sampai sekarang tetapi juga untuk menjadikan Tuhan Allah sebagai sumber kekuatan kita dalam mengalahkan pencobaan-pencobaan itu. Fr. Michael Sloboda, MM mengatakan: “di masa sekarang ini, pencobaan-pencobaan ini tetap hadir dalam tiga kategori: kenikmatan, kekuasaan dan nama besar. Dosa menyebar seperti virus. Kita tahu bagaimana virus komputer menyebar dengan cepat, menyerang harddisk dan merusak komputer. Ketika kita mengaku dosa, itu seperti menghapus spam dan virus dari harddisk kita, ah, maksud saya dari jiwa kita. Jadi, pertimbangkanlah dengan serius untuk menerima Sakramen Pengampunan Dosa pada masa Pra Paskah ini. Kabar Baiknya adalah bahwa Yesus, dengan mengorbankan diriNya, telah mengalahkan kuasa dosa dan maut, Dia, Sang Penyembuh Ilahi, telah menyembuhkan kita dari dosa dan pada akhirnya akan membangkitkan kita pada akhir jaman. Tetapi kita tetap harus mencuci tangan kita sebelum makan, tetap harus menjauhi kesempatan berbuat dosa, dan menghindari apa saja yang akan mengkontaminasi kita dengan dosa.”

Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Galatia 5: 19-21 mengatakan: Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Orang berusaha untuk melakukan apa saja mengejar kenikmatan, kekuasaan dan nama besar dengan segala cara sampai akhirnya meninggalkan Tuhan yang sudah memanggil kita terlebih dahulu sebagaimana dalam Katekismus Gereja Katolik #2567 dikatakan: ”Sebelum manusia memanggil Tuhan, Tuhan memanggil manusia. Juga apabila manusia melupakan Penciptanya atau menyembunyikan diri dari hadapan-Nya, juga apabila ia mengikuti berhalanya atau mempersalahkan Allah, bahwa Ia telah melupakannya, namun Allah yang hidup dan benar tanpa jemu-jemunya memanggil setiap manusia untuk suatu pertemuan penuh rahasia dengan-Nya di dalam doa....

Lalu, bagaimana menjadikan Tuhan sebagai sebagai sumber kekuatan kita? Meskipun sudah disebut beberapa kali, saya akan mengulang kembali dengan mengutip dari Lukas 21: 36: Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia. Dalam Katekismus Gereja Katolik #2559 dikatakan: "Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik"

Jadi, Tuhan menjadi kekuatan kita lewat doa-doa kita, baik doa pribadi maupun doa bersama, baik dalam peristiwa-peristiwa besar maupun peristiwa kecil.

Dari beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas, saya akan memberi contoh dari dua-tiga hal yang menyita waktu lebih dari setengah dari hari kita. Sebagai pegawai, yang pada umumnya bekerja selama 8 jam sehari, bawalah dalam doa semua yang bersangkut paut dengan pekerjaan: ketika menghadapi godaan untuk mengambil keuntungan pribadi, ketika bermasalah dengan rekan sekerja maupun atasa, ketika menghadapi pekerjaan yang menumpuk, ketika mendapatkan promosi ataupun ketika mendapatkan tawaran pekerjaan baru. Suatu kali, ketika menghadapi staf yang tidak bisa bekerjasama dengan koordinatornya sehingga mengganggu kelancaran kerja di kantor, saya merencanakan untuk memindahkannya ke bagian yang lain sembari mendoakan supaya dia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan tidak lama kemudian dia mengundurkan diri karena mendapat tawaran yang lebih baik. Biasanya waktu tidur yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah 8 jam sehari meskipun ”setiap orang mempunyai kebutuhan tidur yang berbeda-beda, dan anda akan mengetahuinya kalau tidur anda sudah cukup, ketika anda tidak merasa terkantuk-kantuk dalam situasi yang membosankan di sore hari, demikian kata seorang psikolog dari Universitas New York, Joyce Walsleben, PhD.” http://puskesmassimpangempat.wordpress.com/2009/10/16/kumpulan-artikel-tentang-tidur-ubtuk-bayi-dan-orang-dewasa/, maka kalau kita mulai menambah jam main game sehingga mulai kurang tidur dan mengantuk di kelas, bawalah juga dalam doa. Menurut Romo I. Sumarya, SJ, jika selama di sekolah mengikuti proses pembelajaran secara efisien, efektif dan afektif dan ditambah dua jam di luar sekolah, maka pasti akan sukses dalam tugas belajar dan yang tidak kalah penting adalah memboroskan waktu secara efisien, efektif dan afektif. http://www.ekaristi.org/artikel/sumarya.php?misc=search&subaction=showfull&id=1285982849&archive=&cnshow=news&ucat=15&start_from=&go=search.

Saya memberi contoh-contoh di atas karena sebagaimana dikatakan Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia 5: 17: ”Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging -- karena keduanya bertentangan -- sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” Saya sendiri sering berdoa singkat seperti ”Tuhan, berilah saya sinar matahari” ketika akan mencuci pakaian dan cuaca mendung. Puji Tuhan, matahari bersinar dan pakaian kering. Atau ”Tuhan, semoga acaranya belum mulai ketika saya tiba” ketika berangkat terlambat ke pertunjukan tentang SantoAgustinus. Puji Tuhan acara dibuka dengan pengantar sehingga pertunjukkan belum mulai. Atau ”Tuhan, Engkau tahu saya tidak tahan dingin” ketika harus berangkat ke sekolah setelah turun salju pertama semalam. Puji Tuhan, saya merasa hangat sehingga saya harus membuka retsluiting jaket musim dingin saya. Hubungan kita dengan Tuhan harus dibangun secara konsisten dari hidup sehari-hari dengan doa pribadi di saat hidup kita tenang atau dilanda badai, sehingga Tuhan sungguh menjadi kekuatan kita. Ada yang mengatakan bahwa yang penting kualitas bukan kuantitas, tetapi kalau kita pikirkan kembali, ketika kita membutuhkan bantuan, kita akan mencari teman yang sering kita hubungi daripada teman yang jarang kita hubungi. Bila kita menyandarkan kekuatan kepada Tuhan dalam hidup sehari-hari, maka kita akan cenderung untuk mencari penyelesaian dari Tuhan dan bukan dari minuman keras, rokok, narkoba, dll.

Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai kekuatan kita, kita akan melihat buahnya sebagaimana lagu yang pertama kali kita nyanyikan tadi, yang diambil dari Yohanes 15: 5-8: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.''

Tentu saja terkadang Tuhan tidak memberikan sama persis seperti yang kita inginkan, tetapi seringkali justru lebih baik, meskipun mungkin saat itu kita tidak bisa melihatnya sebagai lebih baik, karena ada hikmah yang ingin Tuhan sampaikan.

Saya akan menutup renungan ini dengan sebuah presentasi tentang hal-hal yang bisa dilakukan untuk selama masa Pra-Paskah. Yaitu: berpuasa dari marah dan benci, berpuasa dari menghakimi orang lain, berpuasa dari rasa putus asa, berpuasa dari mengeluh, berpuasa dari kepahitan dan dendam, berpuasa dari menghabiskan uang dengan menyumbangkan 10% dari pengeluaran kepada orang miskin serta menambah waktu untuk berdoa. Semoga masa Pra Paskah kali ini, menjadi sarana yang memampukan kita untuk semakin menjadikan Tuhan sebagai kekuatan kita sehingga hidup kita akan semakin diberkatiNya. Amin.

Guangzhou, 11 Maret 2011

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

P.S. Renungan ini dibawakan untuk PDKK Hati Kudus Yesus Guangzhou pada 11 Maret 2011


Renungan: Menang Terhadap Godaan

(Kej 2:7-9.3:1-7; Rm 5:12-19; Mat 4:1-11)
Shalom!
Saya akan menerjemahkan penjelasan dari Christian Community Bible seputar bacaan pertama. Bagi kita, Laki-laki dan Perempuan di Taman Eden, adalah seperti sebuah mimpi tentang kehilangan kebahagiaan, tetapi ini bukan yang dimaksudkan pengarangnya. Pada masa itu, orang tidak bertanya: Kemana kita pergi? Mereka berpikir hanya dalam kerangka masa lalu: pada awalnya, Allah atau allah-allah telah membentuk semuanya sebagaimana seharusnya dan kemudian semuanya berjalan dengan baik. Karenanya cerita tentang pasangan pertama adalah seperti cermin dimana orang menemukan kembali keberadaan umat manusia, pilihan-pilihan mereka dan masa depan mereka. Konsekuensinya, kita seharusnya tidak berpikir bahwa manusia pertama seperti Tarzan, Adam, yang dosanya membawa semua pencobaan kepada kemanusiaan. Beberapa Bapa Gereja seperti St. Irenaneus, mempunyai perspektif yang lebih baik ketika mereka mempertimbangkan bahwa sejarah manusia diarahkan oleh pengajaran akan Allah, yang ambisi utamanya adalah untuk mempercepat pertumbuhan “Adam,” atau umat manusia dan untuk membawanya pada kedewasaan. Haruskah kita berbicara tentang dosa Adam atau dosa Laki-laki? Dalam bahasa Ibrani, Adam berarti semua manusia. Ketika kata ini digunakan sebagai nama tanpa artikel, kita mengatakan Adam. Di sini, bagaimanapun Alkitab mengatakan “the” Adam, yaitu Laki-laki, yang adalah manusia. Dalam hal ini, marilah kita mengingat kembali kata-kata Origen, ahli Kitab Suci terkemuka yang hidup pada abad ke 3, yang mengatakan: Mengenai Adam dan dosanya, hanya mereka yang mengetahui bahwa dalam bahasa Ibrani Adam berarti laki-laki, akan sungguh-sungguh mengerti arti sesungguhnya dari cerita ini. Umat manusia dalam harmoni dengan alam semesta, di Taman Eden, Adam adalah seperti sebuah oasis di tengah padang gurun. Dan dengan pasangan yang bersatu, semua yang alami ada dalam keteraturan. Apa arti pohon pengetahuan akan yang baik dan yang jahat? Baik dan jahat berarti: apa yang baik dan berguna dan apa yang tidak. Jadi pohon ini adalah pohon kebijaksanaan, dari seni hidup dan menjadi bahagia. Allah membuka jalan kebijaksanaan di depan umat manusia, tetapi umat manusia mempunyai kebebasan. Apakah mereka akan menolak menjalani jalan itu, tidak menjadi yang tahu dan memutuskan dengan otoritas, apa yang baik untuk mereka. Dalam literatur Timur Tengah, seekor ular adalah makhluk jahat tetapi juga membawa kekuatan ilahi. Pada saat itu, kata kerja “makan” digunakan untuk mengindikasikan belajar dengan hati. Ular mengulang pada manusia, apa yang benar: tidak ada yang terlalu besar untuk mereka, pada saat yang sama ular juga mengarahkan mereka untuk meragukan Allah. Mungkin pengarang menyaksikan eksploitasi wanita dan seni dari orang yang tereksploitasi untuk mengatur tuannya. Melihat bahwa penderitaan tidak dibagi secara merata, dia menyimpulkan bahwa wanita adalah, yang pertama tidak taat. Allah tidak akan menerima alasan laki-laki. Selanjutnya dikatakan bahwa mereka menyembunyikan diri dari Allah. Takut akan Allah muncul sebagai konsekuensi dosa.
Bacaan Injil berbicara tentang pencobaan yang dialami oleh Tuhan Yesus:
a. Pencobaan untuk mengubah batu menjadi roti: berbicara tentang godaan untuk mencari kenikmatan. Pada masa sekarang, bentuknya antara lain: percabulan, judi, kemabukan, pesta pora, internet, ”game”, termasuk juga mundur dari sel / persekutuan / pelayanan/ komunitas ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Apakah kita sungguh mengusahakan untuk menghadiri pertemuan sel.
b. Pencobaan untuk menjatuhkan diri dari bubungan bait Allah: berbicara tentang godaan untuk mencari nama besar. Pada masa sekarang, bentuknya antara lain: menfitnah, egoisme, dan kesombongan.
c. Pencobaan untuk memiliki seluruh dunia dengan ’hanya’ menyembah iblis: berbicara tentang godaan untuk mencari kekuasaan. Pada masa sekarang, bentuknya antara lain: penyembahan berhala.

Perbedaan dan persamaan antara Adam dan Kristus:
ADAM KRISTUS
1. ketidaktaatan Adam membawa masuk dosa ke dalam dunia yang mengantar orang pada kematian. 1. ketaatan Kristus membawa perdamaian hubungan antara manusia dengan Allah yang mengantar orang pada kehidupan baru.
2. merupakan lambang dari manusia jasmani yang hidup dalam kedagingan. 2. menjadi lambang dari manusia roh yang hidup seturut kehendak Allah.
3. manusia hidup di bawah penghukuman / kutuk. 3. manusia dibenarkan dan hidup dalam kasih karunia Allah.
4. manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup. 4. Adam yang terakhir menjadi Roh yang menghidupkan.
5. sama-sama mengalami pencobaan 5. sama-sama mengalami pencobaan

Godaan selalu hadir dalam hidup kita sehingga kita tidak taat kepada Allah. Bagaimana cara untuk meraih kemenangan terhadap godaan ?
a. Menyadari bahwa kebahagiaan hidup kita bergantung sepenuhnya pada Allah. Jadi, melaksanakan kehendak Tuhan adalah syarat mutlak untuk bisa masuk ke tanah terjanji dan hidup dalam kemenangan. Mau untuk hidup taat, dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana sebagai tanda kerendahan hati untuk mau dipimpin oleh Roh.
b. Belajar dari pengalaman Adam dan Hawa :
i. Tidak bernegosiasi dengan iblis dalam menghadapi suatu tawaran tertentu. Memperkuat diri dengan firman Tuhan sebagai santapan kehidupan kita. Firman Tuhan sanggup membedakan segala pertimbangan dan pikiran hati kita.
ii. Segera ’lari’ dari situasi godaan tersebut sebagaimana dilakukan oleh Yusuf ketika digoda oleh istri Potifar (Kej 39: 11- 13).
c. Berjaga-jaga senantiasa dalam doa & pantang - puasa untuk mematikan kedagingan dan menghidupkan kerohanian.
d. Hidup dalam kasih karunia Allah dan pertobatan terus menerus. Kemampuan untuk melaksanakan kehendak Allah dan hidup benar hanya dapat terjadi karena kasih karunia dan hidup rohani yang terus menerus diberikan kepada kita melalui Yesus Kristus (Ef 2:5). Tuhanlah yang memberikan kehidupan kepada manusia.
Kesimpulan :
a. Sejak awal penciptaan, manusia cenderung untuk hidup memberontak kepada Allah. Pilihan untuk hidup taat dan memberontak sepenuhnya tergantung pada manusia sebagai konsekuensi dari kehendak bebas yang dimiliki. Dengan keputusan pilihan yang berbeda, akibatnya juga berbeda. Ketaatan membawa Berkat dan Kehidupan. Ketidaktaatan membawa Kutuk dan Maut. Sama seperti ketidaktaatan satu orang membawa kematian bagi semua manusia, ketaatan satu orang juga dapat membawa keselamatan bagi banyak orang.
b. Masa Prapaskah = masa pertobatan, masa untuk kita kembali kepada tujuan kita diciptakan yaitu untuk menjadi anak-anak Allah yang sejati.

Guangzhou, 10 Maret 2011

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

P.S. Materi renungan ini dari HSM Surabaya, ditulis ulang untuk Komsel Zhongda pada 10 Maret 2011

Friday, March 18, 2011

Information: Prayer Line


Greetings from Guangzhou!
If you need somebody to pray for/with you at this time, please add at your Yahoo Messenger ID schoolofloveandprayer@yahoo.com with the note “School of Love and Prayer” so your name will not be ignored. Somebody will pray for/with you with below schedule:
Wednesdays 09.00 am - 05.00 pm (GMT +8) Indonesian and English
Please leave a message if it’s not online so we can make an appointment.You are welcome to email your experience during or after the prayer.

Kalau Anda membutuhkan seseorang untuk berdoa bagi/bersama Anda pada saat ini, Anda bisa menambahkan pada Yahoo Messenger ID schoolofloveandprayer@yahoo.com dengan catatan “School of Love and Prayer” sehingga nama Anda tidak akan diabaikan. Seseorang akan berdoa bagi/bersama Anda, dengan jadwal sebagai berikut:
Rabu 09.00 am - 05.00 pm (GMT +8) Bahasa Indonesia dan Inggris
Mohon meninggalkan pesan kalau kami tidak online sehingga kita bisa mengatur janji online.Anda boleh mengirimkan pengalaman Anda selama dan sesudah doa ke alamat email tersebut di atas.

“…For where two or three gather in my name, there am I with them.” (Mat 18:20)Guangzhou, March 2, 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Sharing: School of Love and Prayer


When I visited Home of Love of Missionaries of Charity, Nam Cheong Community on 29 May 2010, I was inspired to have a project “House of Love and Prayer” in the future. I didn’t have any concrete idea how it will be. Later on, I was thinking about a place for prayer and hospitality ministry.
As one of the readers of my blog was asking the telephone number of Trappistine Rawaseneng-Indonesia, I also checked the website of Trappistine Gedono-Indonesia http://www.gedono.trappist-rawaseneng.org. They named their monastery as “Sekolah Cinta Kasih” (=School of God’s Love). It’s inspired me to the idea of “School of Love and Prayer.”
After learning from School of Healing Prayer Level 1 off campus http://www.christianhealingmin.org/categories.asp?cat=51, I usually offer to pray together with the people who ask me to pray for them. It means I will offer he/she to say his/her own prayer in the middle of our prayer. By praying together, I learned to be humble as the prayer is answered because of our prayer instead of my prayer. Besides, the person knows better about his/her deep desire. Francis MacNutt said: "who will get healed and when (and why some people get healed and others do not) is a mystery. Our job is just stay obedient, do what we can, and leave the rest up to God."
After praying together three times over the phone in less than 24 hours on Feb 14-15, 2010, I got the idea to launch a prayer line through internet. It’s the first ministry of the School of Love and Prayer.
The prayer line will be available in both English and Indonesian at Yahoo Messenger ID schoolofloveandprayer@yahoo.com on Wednesdays 9.00 am - 5.00 pm (Hong Kong time, GMT+8). For more details information can be read at http://anastasialindawatimm.blogspot.com/2011/03/information-prayer-line-of-school-of.html.
Hopefully this simple project will be 24/7 prayer line. Of course, it will need many prayer line ministers around the world, religious and lay persons, who are willing to pray with our brothers and sisters. It will need at least (24 x 7) - 3 = 165 persons if one person is willing to spend one hour per week. A simple handout will be sent to all ministers including the prayer and how to access the prayer line. Learning from School of Healing Prayer either on or off campus would be very helpful.
School of Love and Prayer is not an institutional school but hopefully it will become the place to learn how to love our neighbours and pray with humility. As Francis MacNutt said, “Christians often concentrate on the future and going to heaven. This can divert us from concentrating on the present and bringing the kingdom of God to earth. We are not just trying to escape a wicked world, but God has sent us his power in the Spirit to transform the evil in the world. This attitude is modeled in the Lord’s prayer: The kingdom come, thy will be done, on earth as it is in heaven.”


Give me a man of prayer and he will be capable of anything. He may say with the apostle, “I can do all things in him who strengthens me.” (St. Vincent de Paul)

Guangzhou, March 2, 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Tuesday, February 22, 2011

Sharing: First Winter Break






Joanna and I went to Macau by bus from our school on Jan 21. Sr. Annie picked us up at the border including giving the Macau bus card and accompanied us to the hotel for Joanna. As it’s my second time to Macau and first time for Joanna, so it’s like a blind leading another blind when we were on our way to A-Ma Temple Coloane. Finally, we realized that there are two A-Ma Temple that’s why we got two opinions regarding the bus. My sisters invited her to have a Portugese fish as she wished but she finally chose a wonton noodle.
Sr. Arlene and I visited Trappistine Sisters at Penha Hill. They are coming from Trappistine Sisters Gedono http://www.youtube.com/watch?v=ZuCH8S7dFcU.
After attending Sunday mass at Our Lady of Fatima, Sr. Annie and I joined the calligraphy class, went around a park nearby and visited an elderly woman.
Upon arriving Hong Kong, I applied for renewal of my passport. It finished in 3 working days. Then, I applied for Hong Kong working visa extension. I got two years. Thank s be to God.
I attended funeral mass at St. Stephen Catholic Church and memorial mass for Sr. Dorothy Rubner, MM, and also go to the wake at Funeral Parlour twice in black suit as it’s a customs for the Chinese to go to wake and funeral in non-red cloth. Here is the link about Chinese Funeral http://www.chinaculture.org/gb/en_chinaway/2004-03/03/content_46092.htm.
Sr. Joanna gave a complimentary ticket to watch the play “The Empress of China” at Hong Kong Repertory Theatre http://artblog.hk/hong-kong-repertory-theatre-the-empress-of-china/. I attended an English charismatic praise and worship the Feast http://www.facebook.com/album.php?fbid=135367566515065&id=100001254675235&aid=33868#!/profile.php?id=100001638765283 at Tung Chung.
After mass at St. Theresa’s Church on the night before Lunar New Year, Ai Lusia-Christ-Sylvia-Nico-William invited for supper. I also attended a gathering with several Indonesians and had lunch with my extended family in Hong Kong several days later. My last Lunar New Year celebration was with Maryknoll Sisters, Fathers and Brothers. Here is the link about Chinese New Year http://education2.uvic.ca/Faculty/mroth/438/china/chinese_new_year.html.
Sr. Agnes and I went to Noah’s Ark http://www.noahsark.com.hk/eng/index.php and made our Chinese New Year card from a paper cut sticker. Sr. Louise and I went to Happy Valley cemetery and Stanley. I also went to Wong Tai Sin Temple.
My sisters and I had a FUTURING workshop for three days to explore how our past has shaped our present and informs our future.
I visited my sisters in Yuen Long and Ho Man Tin, Lo Wu correctional institution, Monty and Vincent. Fr. John, Rita-Sugi-Celina-Ira-Julian, Sharon-Hubert, and ai Suen-ai Yen invited for meal.
I gave a reflection on “Doa” (=Prayer) http://anastasialindawatimm.blogspot.com/2011/02/renungan-doa_2874.html at Indonesian Prayer Group. My prayer ministry is still going on, either over the phone or face to face.
I went back to Guangzhou to register the second semester on Feb 16-17. Fei gave her friend registration’s number so I could finish it in one day.
Next week Feb 28, 2010 will be my one year in China region. I can easily go to Hong Kong. I have part time ministry with the Indonesians. I started my Mandarin study in Guangzhou. I am experiencing “give and you shall receive” more than I imagine (cf. Ef 3: 20: Now to him who is able to do immeasurably more than all we ask or imagine, according to his power that is at work within us). And, I am ready to start my second semester of Mandarin study.
Thank you very much for your hospitality, love, support, gifts, red envelopes and especially your prayers. May God continue to bless your missionary journey.
There is nothing more astonishing than life, just as it is, nothing more miraculous than growth and change, just as revealed to us. And as happens so often when we stop to regard God’s work, there is nothing to do but wonder and thank God.
(Mother Mary Joseph, 1936).
Kowloon Tong-Hong Kong, February 22, 2011
Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Sunday, February 6, 2011

Renungan: Doa


Selamat siang semuanya.
(Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!
Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!
Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!
Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!
Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!
Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!
Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!
Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.
Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.
Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! Rom 12: 12-21)
Saya mengambil bacaan di atas karena siang ini saya akan membagikan tentang doa, untuk itu saya akan mengutip dari Katekismus Gereja Katolik tentang Doa.
Dalam Katekismus #2559 dikatakan:"Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik" (Yohanes dari Damaskus, f.o.3,24).... dan dalam Katekismus #2567 dikatakan: ”Sebelum manusia memanggil Tuhan, Tuhan memanggil manusia. Juga apabila manusia melupakan Penciptanya atau menyembunyikan diri dari hadapan-Nya, juga apabila ia mengikuti berhalanya atau mempersalahkan Allah, bahwa Ia telah melupakannya, namun Allah yang hidup dan benar tanpa jemu-jemunya memanggil setiap manusia untuk suatu pertemuan penuh rahasia dengan-Nya di dalam doa. Dalam doa, gerak cinta kasih Allah yang setia ini, pertama-tama datang dari Dia; gerak manusia selalu merupakan jawaban.
Nah sekarang tentang Doa Yesus.
Saya akan menuliskan kembali beberapa hal tentang doa Yesus, yang ditulis oleh Romo Yohanes Indrakusuma, O.Carm (http://www.indocell.net/yesaya/id563.htm) . Doa Yesus amat populer dalam tradisi Gereja Timur dan sudah tersebar luas juga dalam Gereja Katolik. Inti doa Yesus ini adalah penyeruan nama Yesus, yang bukan hanya secara mekanis saja, tetapi harus disertai dengan iman, harapan, dan kasih. Ada banyak rumusan doa ini, seperti “Yesus, Yesus, Yesus kasihanilah aku,” atau “Yesus, Yesus” atau “Yesus” saja. Doa Yesus ini hendaknya bukan hanya aktivitas lahiriah saja, namun harus membawa kita kepada doa yang lebih batiniah. Untuk mencapai tujuan itu kita dapat mengiramakan doa itu dengan pernapasan, seturut keluar masuknya napas. Misalnya: waktu menarik napas mendoakan “Tuhan Yesus Kristus”, waktu mengeluarkan napas menyerukan “kasihanilah aku.” Dapat pula “Tuhan” dan “Yesus” atau “Ye” dan “sus.” Dengan mengatur doa seturut pernapasan, roh kita menjadi tenang, menemukan damai.
Doa Yesus bisa dilakukan dengan duduk di kursi/bantal doa/bersila setengah lotus, punggung tegak, pandangan lurus ke depan, tangan diletakkan di pangkuan dengan posisi terbuka atau tertelungkup, pejamkan mata, bernapas biasa.
Bisa dilakukan 5-10 menit di pagi hari sebelum melakukan aktivitas, dan bertambah sampai sekitar 30 menit seiring dengan berjalannya waktu. Biarpun sering melantur atau merasa kering, dengan setia tetap dilakukan sebab dalam keheningan dan ketenangan, Allah dapat menyatakan diri secara rahasia kepada jiwa. Sama seperti bila kita berjemur di bawah sinar matahari, maka tanpa kita tahu bagaimananya kulit kita akan menjadi lebih gelap. Berdoa dalam keheningan dan ketenangan, seperti berjemur di bawah sinar kasih Allah, yang bisa membuat hati kita mulai berkobar dalam cinta kasih Allah dan lebih merindukan Dia.
Dalam doa Yesus kadang-kadang timbul gejala seperti: badan bergoyang ke depan atau ke belakang, ke samping, melihat terang / sinar, melihat vision / penampakan, tangan bergetar, merasa dipeluk Yesus, air mata mengalir, mengalami aliran hangat atau dingin, dll. Kalau ada pengalaman-pengalaman tersebut tidak usah diperhatikan, dalam doa janganlah mencari pengalaman-pengalaman. Kalau ada pengalaman bersyukur, tidak ada pengalaman juga tetap bersyukur. Sebab dalam doa itu, kita tidak mencari hiburan/pengalaman, melainkan mencari Yesus yang hadir dalam hati kita. Kalau terjadi pelanturan jangan menjadi marah atau jengkel, tetapi dengan tenang kembali lagi menyadari kehadiran Tuhan dan menyerukan nama Yesus.
Lewat doa Yesus, kita dapat mengalami penyembuhan dari kekacauan psikis, kekosongan hidup masa lampau, dibebaskan dari ikatan-ikatan yang tidak teratur, mengalami cinta kasih Allah yang tak terkatakan, dibebaskan dari segala macam kerisauan, lebih tahan menanggung segala beban dan salib kehidupan, akan lebih dapat menyelami misteri Allah, baik dalam Kitab Suci maupun karya Allah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat membantu kesehatan kita karena pernafasan yang teratur.
Bila suatu saat merasa tertarik untuk diam saja tanpa mengucapkan sesuatu, maka turuti saja dorongan untuk diam itu tanpa menyebut nama Yesus. Asalkan dalam diam itu, kita secara samar-samar menyadari bahwa Allah hadir.
Doa Yesus juga bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, misalnya ketika sedang cemas, ketika tidak bisa tidur, dan ketika melakukan tugas sehari-hari seperti ketika menunggu menjemput anak majikan di sekolah, dll.
Demikianlah tentang doa Yesus.
Dalam bacaan tadi, kita mendengar tentang bagaimana hidup berkomunitas: saling membantu, memberkati, ber-empati, berdamai dengan semua orang, mengalahkan kejahatan dengan kebaikan, dll.
Kini saya akan mengutip dari tulisan Francis MacNutt (http://www.christianhealingmin.org/): Para rasul bukanlah sarjana teologi atau orang genius, tetapi mereka dipilih dan diberi kuasa oleh Tuhan Yesus dan Roh Kudus untuk meneruskan karya Allah, sebagaimana pelayan doa sekarang ini dipanggil untuk menjadi mata, telinga, tangan dan hati Allah di dunia ini. Kita harus kembali pada evangelisasi yang dilakukan oleh Gereja Perdana: Umat Kristen harus mengenal Allah, diberi kuasa melalui Pembaptisan dalam Roh dan kemudian menghabiskan waktu dengan orang yang terluka, menyembuhkan mereka dan menceritakan kepada mereka tentang Allah, yang adalah sumber penyembuhan, kebebasan dan hidup. Allah tidak membutuhkan orang dengan talenta/sumber daya yang spektakuler. Allah membutuhkan orang biasa yang menawarkan kasih dan pertolongan kepada seseorang yang sedang terluka. Menjawab panggilan Allah sebagai pelayan doa berarti kita bersedia menjangkau orang lain kapan pun, dimana pun, dan kepada siapa pun Allah meminta kita melakukannya, baik ketika melakukan pelayanan secara formal maupun ketika berada bersama orang lain ketika melakukan aktivitas sehari-hari. Ada dua elemen dalam doa penyembuhan: kata-kata yang diucapkan dan penumpangan tangan”
Dari tulisan di atas tampak bahwa kita semua, tidak hanya kaum religius tetapi juga kaum awam, dipanggil untuk menjadi pelayan doa dalam hidup kita sehari-hari. Jadi bila ada orang yang sedang terbeban, kita bisa mendoakannya, baik sendiri maupun bersamanya.
Salah satu rumusan yang bisa dipakai adalah sebagai berikut:
Tanda Salib
(Hening, tumpangkan tangan di atas bahu/dahi/bagian yang sakit dengan memberi jarak)
Terima kasih ya Allah atas kehadiranMu pada saat ini.
Terima kasih atas rahmat kehidupan (Nama).
Terima kasih atas segala berkat dan rahmat yang telah Engkau curahkan kepadanya.
Terima kasih atas cinta yang ada diantara (Nama suami/istri/anak) yang mengalir dari cintaMu sendiri yang tidak bersyarat.
Engkau tahu …(sebutkan beberapa kenyataan yang ada) dan betapa kami berharap akan…..(sebutkan permohonannya)
Kami tahu kami tidak berkuasa melakukan apapun, tapi kami percaya bahwa rahmatMu cukup untuk mengabulkan permohonan kami ini.
Atas nama Yesus Kristus, kami mohon (ulangi lagi permohonannya)
Berikanlah penghiburan sebagaimana yang Engkau janjikan sejak awal mula kehidupannya dalam rahim ibunya.
(tawarkan ybs untuk berdoa)
Sekali lagi yang Allah, terima kasih atas rahmat kehidupan, segala berkat dan rahmat, cinta, penghiburan,….
Semuanya ini kami mohon dengan perantaraan Kristus Tuhan kami.
Bapa Kami
Salam Maria
Kemuliaan
Sebaiknya memberitahu yang bersangkutan, bahwa setelah tanda salib kita akan hening sejenak dan setelah kita berdoa, kita akan menawarkan yang bersangkutan untuk berdoa juga dan kemudian kita akan melanjutkannya. Juga menanyakan apakah kita diperbolehkan menumpangkan tangan. Dengan mengajak yang bersangkutan untuk berdoa bersama, menjadikan kita rendah hati karena terkabulnya bukan karena doa kita pribadi tetapi karena doa yang bersangkutan juga. Berdoalah dengan membuka mata sehingga kita bisa melihat kondisi yang bersangkutan, seperti menangis, duduk dengan nyaman/tidak, dll sehingga kita bisa memberinya tissue atau membuatnya merasa nyaman, dll. Terkadang yang bersangkutan merasa hangat pada bagian yang sakit.
Ajakan untuk berdoa bersama ini juga bisa dilakukan melalui telepon, bisa dengan meminta yang bersangkutan untuk menumpangkan tangan pada bahu/dahi/bagian yang sakit.
Janganlah kecewa bila mereka menolak untuk diajak berdoa bersama, karena tidak semua orang terbuka untuk melakukannya, tetapi kita tetap bisa mendoakannya secara pribadi. Perlu juga diingat untuk menjaga kerahasiaan pembicaraan dengan yang bersangkutan.
Saya akan menutup renungan ini dengan mengutip St. Vincensius a Paulo: “Berilah aku seorang pendoa, maka ia akan mampu melaksanakan segalanya.”
Hong Kong, 5 Februari 2011
Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible
P.S. Renungan ini dibawakan untuk PDK Hati Kudus Yesus Hong Kong pada 6 Feb 2011

Sunday, January 23, 2011

Sharing: First Semester of Mandarin Study




New Year was coming and there was no class on Jan 3. I attended Chinese Corner “New Year” and learned to do “nian hua” (=drawing a picture for the New Year) on Dec 31. I went to Hong Kong the next day for Christmas party with my sisters. Fortunately, my cousin and her husband were coming from Singapore so I had a vegetarian supper with them and also uncle, grand uncle, cousin and her husband who live in Hong Kong.
After around 3.5 months of classes, we had final exam on Jan 10-11, 2011. For the last dictation on “hanzi” and “pinyin,” I got 100, the second times during this semester, as there were no words from previous lessons. We had homework of 40 lessons of reading and writing class and then a review of it on Jan 5. I typed all the new words (around 650 words) with the help of a friend and sorted it alphabetically based on “pinyin” so it looks like a mini dictionary. As there are many grammar and structure patterns, I made a summary of all the grammar and structure patterns and also the notes (around 100 notes) for quick references. I also shared the files to my friends as it might help them to prepare for the exam on Jan 10 a.m. I knew that I forgot how to write most of the “hanzi” and “pinyin” but I decided to concentrate on the grammar and structure patterns as it would have bigger portion. On exam, I forgot how to write several “hanzi” and “pinyin” of the recent lessons.
Upon finishing the reading writing exam, I prepared for the listening exam of the 22 lessons on Jan 10 p.m. I think I am better in getting the idea of the conversation than getting the “pinyin” of the words even though we learned all of the “pinyin”.
I prepared conversations for buying things and changing money and also introductions about buying thing, asking direction, favourite places and life in Guangzhou as requested for the conversation exam of the last 10 lessons. We could choose the one of conversations and pick one of the introductions.
There was “Hanzi” exam on Dec 27 and I only could prepare on the day of the exam. It was mostly recognizing the “hanzi” instead of writing the “hanzi,” so it’s easier. According to the teacher, I got 90s.
I practiced for the pronounciation exam with my tutorial teacher one day before the exam. The teacher recorded our pronounciation and compared it with our first recording. I got 86 and the teacher wrote期末评语:语音虽仍有许多问题,但有子很大进步,希望继续努力。(=…still many problems especially z,c,s,zh,ch,sh相混,d,g/t,k, and 3rd tone but there is a big improvement, hopefully continue to be diligent).
Two days before graduation ceremony, I got text message to come earlier for the graduation ceremony as I was the “qinfen xuesheng” in our class. I didn’t know what the meaning of “qinfen” so I asked to the sender, later on I knew that the sender was our classroom teacher. She said “feichang nuli” and my tutorial teacher said “diligent.”
The graduation ceremony was on Jan 14 p.m. We got the newest edition of our school magazine. There were speeches from somebody (I assumed one of leaderships in the school) and a teacher followed by the announcement for the winners of calligraphy, composition, photography competitions, diligent students and best students. As I was the diligent student, I got a certificate and RMB 200. The best 3 students (in our class only 2 students) got RMB 400 each. After graduation, we could see our marks in the office. My marks are 88.9 for conversation, 94 for listening and 90 for writing reading classes. Thanks be to God, as I always said “God, You know I can’t do it” before the exam.
I had several outings after the exam including tutorial twice. I went to Dr. Sun Yat-sen Memorial Hall http://www.travelchinaguide.com/attraction/guangdong/guangzhou/sun.htm, Lotus Hill http://www.travelchinaguide.com/attraction/guangdong/guangzhou/lotus-hill.htm; rode a boat along the Pearl River to Fangzi (near Beijing lu), Xidi, and Fangcun wharf; visited a friend who has a newly born baby, a patient in hospital, home for people with mental disabilities “Huiling” http://www.gzhl.org/ and a Leprosy hospital, and also ice skating. I walked slowly near the bar for two and a half rounds and then I felt down so I walked again till the 4th rounds. I used to fall down and got bruise when ice skating in Jakarta.
From my experience of learning English since grade 4 till the first year of college, I know that even though I got 9.66 in my senior high school national exam, my English is still not good enough so I should be ready to have the same experience with my mandarin, be ready for whole life learning.

Macau, Jan 23, 2011

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible