Saturday, March 31, 2012

Renungan 2012: Hari Minggu Palma

(Bacaan Mrk 11: 1-10, Yes 50: 4-7, Fil 2: 6-11, Mrk 14: 1-15:47)
Hari Minggu ini adalah hari Minggu Palma, yang menandai dimulainya Pekan Suci, yang meliputi Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, Minggu Paskah.
Lewat bacaan prosesi daun palem, kita mendengar bagaimana Yesus naik keledai memasuki kota Yerusalem, dielu-elukan sebagai Dia yang datang dalam nama Tuhan oleh orang-orang yang melambaikan ranting-ranting hijau dan menghamparkan pakaiannya di jalan. Keledai dalam budaya Timur adalah simbol binatang damai, seorang raja akan menunggang kuda bila akan memulai perang dan menunggang keledai bila datang dengan damai. Karenanya masuknya Yesus ke Yerusalem dengan menunggang keledai ini melambangkan kedatanganNya sebagai Raja Damai. Di beberapa tempat bahkan sampai sekarang, ada kebiasaan untuk menutupi jalan yang akan dilalui seseorang yang dianggap dihormati dengan kain atau karpet. Yesus juga mendapat perlakuan yang sama karena orang Yahudi berpikir bahwa Yesus akan memaklumkan diriNya sebagai Mesias tetapi Yesus menolak untuk dimaklumkan sebagai Mesias sebagaimana gambaran mereka tentang Mesias, yaitu sebagai Raja yang penuh kuasa, yang membebaskan mereka dari penindasan, kelaparan dan pemimpin yang tidak bertanggungjawab. Dalam bacaan tidak disebut pemakaian daun palem, tetapi dalam tradisi Yahudi, daun palem adalah lambang kemenangan. Sesudah Minggu Palma, daun palem disimpan dan dibakar tahun berikutnya untuk digunakan sebagai abu untuk Rabu Abu. Warna liturgi minggu ini adalah merah, warna darah, yang melambangkan kurban penebusan Kristus, yang digenapi dengan memasuki kota Yerusalem, untuk memenuhi kisah sengsara dan kebangkitanNya.
Yesus sudah mengetahui tentang penderitaan yang akan dialaminya di Yerusalem, sebagaimana dalam Mat 10: 33-34, tetapi karena ketaatanNya pada kehendak Bapa, maka Dia berangkat juga ke Yerusalem. Dalam bacaan pertama kita mendengar tentang ketaatan seorang hamba Tuhan, yang percaya bahwa Tuhanlah yang menolongnya dan tidak akan mendapat malu. Beranikah kita taat kepada kehendak Bapa sepenuhnya, yang tahu rancangan terbaik untuk hidup kita? Kalau kita melihat kejadian-kejadian yang dialami Yesus secara terpisah, kita mungkin tidak mengerti rencana Allah di balik kisah sengsaraNya, seperti halnya kita mungkin tidak mengerti ada begitu banyak penderitaan di dunia ini.
Ketaatan Yesus sampai mati di atas kayu salib berbuah karunia nama di atas segala nama sebagaimana yang kita dengar dalam bacaan kedua. Kekristenan selama seratus tahun terakhir berkisar 33 persen, artinya satu dari tiga orang di bumi adalah orang Kristen (entah Katolik, Protestan, Orthodox), sedangkan pada tahun 2010, jumlah orang Katolik berkisar 17.5 persen dari populasi dunia, yaitu sebesar 1.196 bilyar.
Dalam Injil Markus kita mendengar tentang rencana pembunuhan Yesus, pengurapan Yesus, pengkhianatan Yudas, Perjamuan Paskah Yesus dengan murid-muridNya, penangkapan, pengadilan, kisah sengsara dan kematian Yesus. Alasan penyiksaan dan penyaliban Yesus oleh pemerintah Ramawi adalah seperti yang tertulis di salibNya, yaitu pengakuanNya sebagai Raja orang Yahudi, meskipun KerajaanNya bukan dari dunia ini.
Lewat Minggu Palma ini, kita diajak untuk menyadari bahwa hidup kita mengambil bagian dalam hidup Yesus, ada penderitaan-besar dan kecil-meskipun sangat mungkin, tidak sampai mati di kayu salib. Bahwa kita dipanggil tidak hanya untuk bersorak-sorak menyambut kedatangan Yesus seperti orang Yerusalem, tetapi juga untuk meringankan penderitaan sesama sehingga Kerajaan Allah datang di muka bumi; sebagaimana yang kita doakan dalam doa Bapa Kami, lewat panggilan perutusan kita masing-masing, lewat ketaatan kita kepada kehendak Bapa.

Untuk bisa taat, kita harus bersedia mengosongkan diri. Jean-Marie Howe dalam “Cistercian Monastic Life/Vows: A Vision,” p. 367, (7) mengatakan …Tidak cukup kalau hanya terbenam dalam…kehidupan. Kita harus membiarkan diri kita dibajak sehingga alur diri kita menjadi semakin dalam, sehingga bumi kita menjadi semakin lembut. Ini adalah saat dimana diri kita dipahat, saat membajak diri ini adalah pengosongan diri (kematian yang harus mendahului hidup yang baru, kelahiran kembali) dan pengosongan diri tidak mudah. Ketika kita menjadi terbuka, rahmat dapat tercurahkan…
Yesus memberi Hukum terutama, yang pertama, Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Kalau kita akan naik pesawat atau kereta api yang sudah terjadwal, tentu kita berusaha untuk tidak terlambat kalau tidak ingin membeli tiket yang baru. Apakah kita juga tepat waktu dalam memenuhi kewajiban kita sebagai orang Katolik: menerima sakramen-sakramen Ekaristi dan Pengakuan Dosa, berpuasa dan berpantang, dll. Minggu ini adalah minggu terakhir kita bersama-sama dengan Gereja melakukan pertobatan, tentu pertobatan pribadi bisa dilakukan kapan saja sepanjang tahun.
Yesus juga memberi Hukum terutama, yang kedua, Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Paus Paulus VI mengatakan kalau kita menginginkan perdamaian, bekerjalah untuk keadilan. Bagaimana kita bertindak dengan adil terhadap orang-orang di sekitar kita? Bagaimana kita melihat orang lain yang berbeda agama, suku, ras, pekerjaan, dll? Bagaimana kita membawa damai ketika terjadi pertikaian dan perbedaan pendapat? St. Theresa Avila dalam Puri Batin mengajak kita untuk melihat kelemahan kita sendiri dan membiarkan orang lain dengan hidupnya sendiri: karena mereka yang hidup dengan teratur seringkali terkejut dengan segala sesuatu, dan kita belajar pelajaran penting dari orang yang mengejutkan kita. Beliau juga mengatakan Penampilan luar dan tindakan kita mungkin lebih baik dari mereka, tetapi ini, meskipun baik, bukanlah hal yang paling penting; tidaklah beralasan bila kita mengharapkan bahwa semua orang akan mengikuti jalan kita, dan kita harus berusaha untuk tidak mengarahkan mereka pada jalan rohani yang mungkin kita sendiri tidak tahu…Adalah lebih baik untuk…hidup dalam keheningan dan harapan dan Tuhan akan memperhatikan milikNya.
Bagaimana kita berusaha untuk menjadi pribadi yang semakin sesuai kehendak Allah, menjadi wajah Kristus di saat ini dan di sini? Ada yang mengatakan mungkin kita adalah satu-satunya wajah Kristus yang pernah dilihat oleh orang-orang tertentu, jadi jangan lewatkan kesempatan langka ini!

Guangzhou, 29 Maret 2012


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

P.S. Sebagian materi renungan ini merupakan terjemahan bebas dari http://en.wikipedia.org, http://www.liturgies.net/Lent/holyweek/RC/palmsundayyeara.htm dan Community Christian Bible dan dibawakan untuk Komsel St. Theresia Guangzhou pada 29 Maret 2012

Saturday, March 17, 2012

Sharing: 我的第一次普通话避静





叶修女告诉我说:。3月10-11日广州义工组安排了四旬期的避静。我原以为是3月 17-18日,所以我告诉她我不能参加参加慕道班避静,因为3月17-18日我有别的安排。然后她请我3月10-11日参加避静。我说我考虑一下,因为星 期六我跟印尼朋友们去医院看印尼病人,和他们一起祈祷。一天后,我告诉叶修女我要参加避静。
10号早上我们大概8点出发。除了叶修女和我以外,还有二十三位兄弟姐妹。从石室到博罗,我们一边唱歌一边看风景;一路上绿油油,很漂亮。
第一天,叶修女讲马尔谷福音5:21-43和诗篇23还有默想。吃完晚饭后,我们一起看电影《BEN-HUR》。
这是我第一次参加普通话避静,虽然很多词语的意思我不明白,可是叶修女说的很清楚所以我能掌握话题,因为她也讲圣经故事所以我更容易理解。在个人自我介绍 的时候,有的人介绍说,他很感谢天主,是主的恩赐使他们能认识天主。我也告诉大家,天主的安排比我想的更好和赐予给我更多的恩宠,就好像这次避静一样,我 没想到我能参加这个普通话避静,尤其在四旬期的时候;然后我又能认识很多很热情的教友,愿光荣归于天主。他能找他在我们身上所发挥的德能,成就一切,远超 我们所求所想的。
避静的地方很漂亮、很安静和很干净,修女做的饭也很好吃。这是我第一次喝汤不用汤匙,用不太标准的普通话聊天,因为大家都知道我是印尼华裔,所以都很照顾我。
第二天,我们在圣若瑟教堂一起参加普通话弥撒,然后听叶修女讲马尔谷福音9:14-29,最后轮流分享我们的避静感受。在分享中有些兄弟和姐妹还留下了感恩的泪水--感谢主无限的恩宠和眷顾。
午饭后,我们来到惠东梁化的耶稣圣心堂朝圣。本堂范神父和好几位教友已为我们准备好了客家饭和糯米酒来欢迎我们。回广州的时候我们也一起唱歌,除了我讲印尼的我们的天父 “Bapa Kami”,大家也一起轮着唱歌。
我感谢天主,也谢谢叶修女,能参加这个避静。感谢可以和兄弟姐妹一起唱歌、听课、祈祷、吃饭、洗碗、聊天,也感谢范神父和好几位惠东教友准备的晚饭。愿天主保佑大家。

P.S.This article was edited by 叶修女and can also be read in http://www.gzcatholic.org/info_Show.asp?InfoId=616&ClassId=49&Topid=0. The pictures can be accessed in: http://share.shutterfly.com/action/welcome?sid=0EbuWrFm4ZM2E9&emid=shareprintviewer&linkid=link5&cid=EM_sharview

Tuesday, February 7, 2012

Sharing: 朋友让我的留学生活很快乐


黄莉莉(Anastasia Birgitta Lindawati 初级4A 印尼(Indonesia


刚来中国的时候,我只认识几个印尼朋友。 现在,除了许多外国留学生以外,我还认识了好一些中国朋友。我想给你们介绍我认识的几个中国朋友。

又一次,我和几个印尼朋友跟中国学生一起去白云山附中当志愿者。在车上,我旁边坐了一个中国男生,我还不认识他。他写了他的名字,然后问我的名字。可是我看不懂他写什么,口语也不太好,所以我们用手机打拼音来沟通。他很耐心地教我手语,很有意思,他还告诉我,不是只有口语才可以和他沟通,这让我有了更多信心。从那天起,他叫我莉莉姐姐,他还请我到他姑姑家和他的家人一起吃饭。我也自己做了印尼点心,叫米粉布丁,请他和他女朋友吃,他们都很喜欢。现在,他,他的家人,他的女朋友,都是我的朋友。我很高兴认识他们。

我常常在中大南校门附近吃饭,有一天,我旁边坐了一个陌生女人。我想到老师说过,一定要多和中国人聊天,于是我问了她好几个问题。她给了我她的名片,并且邀请我去她的公司,我们就这样认识了。后来,暑假的时候她还给我发了短信,但是我在印尼无法发复她。一到广州,我就给他回复短信,他给我打电话说她在中大,说要请我吃饭。她带我去东圃,请我吃粤菜。吃完饭,我们一起步行到他的公司。在她的公司里,我们边喝茶边聊天,度过了很愉快的晚上。

那个星期天,我的朋友告诉我有个先生教外国人中文。我们就给他打电话,但是他常常出差,所以他说有时间再通知我。虽然他不是老师,但是很耐心教我,我很开心。

以上的三位都是我的中国朋友,他们给我的留学生活带来了很多乐趣。虽然我的朋友不多,但是他们让我觉得中国并不陌生。

P.S. the above article was edited by the teacher.

Wednesday, January 25, 2012

Sharing: The Last Two Months of the Third Semester





Today it’s the third day of the Lunar New Year and I just came back from celebrating Lunar New Year with my family in Quanzhou-Fujian Province. When I left the Tianhe Coach bus terminal Guangzhou on Jan 19 evening, it’s was packed with passengers who could enter the waiting area around one hour before their departure. The passengers in front of the ticket counter not as much as the previous ten days when I bought my ticket. I went to Xiamen by sleeping bus and arrived the next morning to visit my mother’s cousin. In the evening, I went to Nan’an by bus for two hours. No traffic jam during the trip Guangzhou-Xiamen-Nan’an. Ming bought the Xiamen-Nan’an ticket through his cellphone and when I was in Xiamen, I entered the booking number in a ticket machine to get the ticket. Ming’s family has a shop which is selling the lunar new year decoration so it’s a busy time. The next day, I stayed in another family in Da Xia Mei after having supper with the other family. The son or grandson of the family will paste the 对联 (dui lian = pair of lines of verse written in red paper vertically down the sides of a doorway) several days before 除夕(chu xi=the lunar new year eve). I helped to wrap a local food made of flour with fish inside. I attended the Mandarin Lunar New Year eve Mass in Quanzhou, there would be Mandarin New Year Mass too. After mass, there was a memorial prayer for a man who died a year ago. I had Lunar New Year dinner with Ming’s family and then watched the live show on CCTV (China Central Television). It’s a common practice to prepare an offering altar at home with the head, tail and or foot of a pig (represent the wish to have good health, well-being and joy to everyone), a whole chicken and or duck, a whole fish. The fish is represent the wish to have balance at the end of the year: 年年有余(nian nian you yu because the word for fish is 鱼yu which have the same pronounciation with 余)。There were fireworks before midnight and firecrackers even two days before as people went to the temple. After praying at home right after midnight, people usually go to the temple. The common practice is visiting the parents and siblings of the husband on the first day of lunar new year and visiting the parents and siblings of the wife on the second day of lunar new year. Usually people will go to the ancestor hall (and not go to the grave) and spend the rest of the two days at home. Many (or maybe all) stores are closed and there is no bus from Nan’an to Quanzhou on the first the of lunar new year. In the evening, I went to Da Xia Mei again till Jan 24 evening as I leave for Shenzhen-HongKong by a sleeping bus with cctv (closed circuit television) camera. For this five days trip, I stayed overnight in three houses, visiting 13 houses, and had meals in six houses; learned a little bit about Chinese New Year and Wedding customs and also heard about the people who have much better (economic) life after the opening of China. It’s a new year’s customs to give red envelopes to the children, wear new clothes, have new hairdo (the hairdo fee usually goes up before new year), use new dishes even though it’s not as special as before as people have better (economic) life now so many things are common daily expenses instead of special for the new year. I arrived in Shenzhen bus station the next morning 4.00 am and wait in a hotel lobby as the Lowu immigration open at 6.30 a.m. There were long queue before 6.30 a.m. That’s about this Lunar New Year celebration, which is the year of dragon. The pictures during my visit are available at http://www.facebook.com/media/set/?set=a.497658716555.267289.658706555&type=3#!/media/set/?set=a.10150509111291556.360432.658706555&type=1.
Our optional tourism class had an outing to Foshan, around one hour from Guangzhou to visit a big statue of the God of Mercy (观音Guan Yin), Xiqiao Mountain, and Huang Fei Hung’s place including watching the lion dances http://www.travelchinaguide.com/cityguides/guangdong/foshan/.
The final exam was on Jan 4-6 and the graduation ceremony was on Jan 13. My grade in reading-writing is 89, listening is 91, conversation is 96.1. My article for the writing competition was published in the school magazine. Several of our classmates visited my room after the graduation ceremony to have Indonesian instant noodle.
After buying the bus ticket for going to Xiamen on Jan 7, I visited two Filipino patients in Modern Hospital and heard that one of the patients whom I visited several weeks ago passed away in the Philippines. As we finished praying together, the wife of one of the patients told me that she saw light when we prayed so she took a picture but I couldn’t see the light in the picture at her cellphone. I believe God can show up in so many ways and it’s a personal experience so I only can give thanks to God for her experience.
I attended the Thanksgiving Mass of silver jubilee of Filipino Diocesan Pastoral Center for Filipino (and other Asian Migrants and Ethnic Minorities) at St. Paul Convent’s School Chapel on Jan 8. There were performances from the Philipinos and Indonesians after the Mass. For more about it can be read in http://anastasialindawatimm.blogspot.com/2012/01/liputan-hidup-menggereja-buruh-migran.html.
I visited four mandarin speaking women in Lo Wu Correctional Institution on Jan 9. Most of the times, I asked questions and listened to their sad stories and if I don’t understand what they said, we change the topics. All of them are from mainland China. I couldn’t hold my tears as I listened to one of their stories.
The school arranged an outing to Nanxiong city to see the ancient passage of Meiguan pass and Zhuji Lane http://legacy1.net/nanxiong-county/, and then go to Shaoguan city the next day to see Danxia Mountain http://en.wikipedia.org/wiki/Mount_Danxia and Shaoguan University. On the way to Guangzhou, we stopped at a farm to pick Shatang orange up from the tree.
As we are still celebrating lunar new year so I want to wish you:
Happy Lunar New Year! Wish you all the best in the year of Dragon.
Xin nian kuai le! Gong xi fa cai, shen ti jian kang, wan shi ru yi.
新年快乐!恭喜发财,身体健康,万事如意。

Hong Kong, January 25, 2012


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Tuesday, January 24, 2012

Liputan: Hidup Menggereja Buruh Migran Indonesia di Hong Kong





Dalam rangka ulang tahun ke-25 Diocesan Pastoral Center for Filipino (and other Asian Migrants and Ethnic Minorities), diadakan Ekaristi Syukur dengan tema “As we gather to give thanks, and with courage we continue our journey…” pada tanggal 8 Januari 2011 bertempat di Kapel Biara St. Paul Hong Kong. Perayaan Ekaristi, yang dihadiri lebih dari 600 buruh migran dari Filipina dan Indonesia ini, dipimpin oleh Rm. Edward Khong didampingi oleh delapan konselebran termasuk Rm. Johannes Indarta, SVD, serta dua orang imam tamu Rm. Hariawan Adji, O.Carm dan Rm. Alexander Agung, O.Carm. Perayaan Ekaristi diadakan dalam bahasa Inggris, Tagalog dan Indonesia serta lagu-lagu berbahasa latin oleh kelompok koor Indonesia. Acara dilanjutkan dengan penampilan tari dan lagu beberapa kelompok buruh migran Filipina dan buruh migran Indonesia termasuk tari Jaipong. Sr. Felicitas Nisperos, RGS selaku direktur Pusat Pastoral untuk Migran mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam acara ini.
Sekitar dua minggu sebelumnya, diadakan misa Natal berbahasa Indonesia di Kapel Biara St. Paul, yang diikuti oleh sekitar 500 umat. Tema Natal kali ini adalah “Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya” sebagai ucapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam kehidupan para buruh migran di Hong Kong. Pada perayaan agung ini, Rm. Johannes Indarta, SVD dibantu oleh Rm. Reginaldus Amleni, SVD menerimakan Sakramen Baptis kepada lima orang calon baptis. Acara kemudian dilanjutkan dengan ramah-tamah dan hiburan persembahan kreatif dari umat.
Di samping itu juga diadakan Natal Oikumene yang bertema “Kesukaan besar….”di Gereja ICA North Point. Lebih dari 1000 jemaat dari 14 Gereja Indonesia di Hong Kong bergembira bersama Pangeran Siagian, yang secara khusus diundang oleh Panitia Natal untuk membawakan pujian Natal. Pada kesempatan yang indah ini, Konsulat Jendral Indonesia, Bapak Teguh Wardoyo , S.H. turut hadir dan memberikan kata sambutan. Acara juga dimeriahkan oleh dua lagu Natal persembahan dari kelompok koor Gereja Katolik. Perayaan yang berlangsung selama tiga jam ini ditutup dengan berkat dari para gembala gereja.
Ketiga kegiatan di atas adalah bagian dari karya pelayanan Gereja kepada para buruh migran, yang bermula di tahun 1987, dimana Bapa Uskup Hong Kong John Baptis Wu meresmikan satu ruangan di gedung Catholic Centre sebagai tempat pelayanan bagi para buruh migran Filipina. Kemudian dibentuk sebuah komisi pelayanan untuk para buruh migran di tingkat Keuskupan, yang terdiri dari Bapa Uskup atau wakilnya, para biarawati, imam dan awam. Pada bulan Maret 2006, Keuskupan Hong Kong mulai melayani buruh migran Indonesia dan saat ini dilayani oleh Rm. Johannes Indarta, SVD dan Sr. Flora Nirmala, RGS. Jumlah buruh migran Indonesia saat ini ada sekitar 140 ribu orang, yang semuanya wanita dan bekerja dengan gaji sebesar HKD. 3,740.00/per bulan dengan kontrak selama dua tahun untuk membersihkan rumah, menjaga anak, atau merawat anggota keluarga majikan mereka yang sakit. Para buruh migran ini berasal dari berbagai tempat di Indonesia melalui agen tenaga kerja, yang akan memotong gaji mereka sebesar HKD 21,000 selama tujuh bulan pertama kontrak. Pada kenyataannya, ada begitu banyak penyimpangan, seperti gaji yang di bawah standar, tidak ada libur satu hari/minggu, bekerja pada hari libur tanpa uang lembur, penyiksaan secara fisik maupun secara mental oleh majikan, kekerasan seksual, dll.
Pusat Pastoral untuk Migran ini melayani semua kaum buruh migran yang mendapat permasalahan, mulai dari masalah kesehatan sampai masalah keimigrasian, yang dilakukan dengan memberikan pembinaan, pendampingan dan pendidikan. Saat ini, Pusat Pastoral untuk Migran memiliki tenaga tetap beberapa orang awam Filipina, tiga biarawati RGS, dan tiga imam SVD di samping para sukarelawan. Mereka juga menyediakan dua rumah penampungan masing-masing berkapasitas 30 orang, di samping bekerjasama dengan pekerja sosial dari lembaga sosial tingkat Keuskupan Caritas. Secara rutin di rumah penampungan diadakan pembinaan kerohanian yang bersifat umum (menjangkau semua keyakinan), group sharing, rekreasi bersama, seminar tentang berbagai aspek kehidupan dan hukum, kursus bahasa dan pelatihan keterampilan, seperti menjahit dan memasak.
Selama ini Konsulat Jendral RI menawarkan tempat untuk beribadah, yang bisa menampung 70 orang. Umat Indonesia pada awal tahun 2006 sekitar 50-60 orang, tetapi terus bertumbuh. Mengingat terbatasnya personel dan sarana (tempat dan peralatan gereja), para suster dari Serikat Gembala Baik dan para imam dari Serikat Sabda Allah mencoba mendampingi umat dengan bekerja sama dengan paroki, organisasi sosial, dan sekolah Katolik. Atas kebaikan para Suster FSP (Daughters of St. Paul) dan dukungan dari keuskupan Hong Kong, umat Katolik Indonesia diijinkan memakai kapel besar yang bisa menampung 800 orang beserta fasilitasnya, yang berada di kompleks sekolah St. Paul di kawasan Causeway Bay (di depan Konsulat Jendral RI). Selain itu, untuk semua akitivitas gerejani, mereka juga dapat memakai lapangan dan ruang terbuka sekolah yang beratap dan dilengkapi dengan meja dan kursi. Saat ini untuk misa hari Minggu, diikuti oleh lebih dari 200 orang umat, sedangkan untuk misa Natal/Paskah sekitar 600 orang. Banyak di antara mereka yang tidak dapat mengikuti Misa setiap minggu, karena tidak dapat hari libur atau karena tempat tinggal yang jauh dari lokasi gereja sehingga membutuhkan biaya yang banyak untuk menjangkaunya.
Meskipun tidak memiliki sarana sendiri dan juga waktu libur yang hanya satu hari seminggu, kegiatan komunitas ini tidak ubahnya seperti kegiatan yang dilakukan oleh umat di paroki dengan biaya bersumber dari umat.
Pendampingan yang dilakukan oleh para imam dan biarawati berlandaskan empat nilai utama, yaitu: nilai kerohanian, nilai pembentukan kepribadian, nilai pembinaan berorganisasi dan nilai cara hidup bermasyarakat / hidup sosial. Berikut ini adalah kegiatan yang berakar dari ke empat nilai tersebut: pembentukan kepengurusan dari dan untuk umat, Misa, persekutuan doa, rekoleksi, koor, tari, drama, Katakese bagi mereka yang ingin menerima Sakramen Pembaptisan, kursus bahasa Cantonese, keterampilan tangan, seminar – seminar berdasarkan kebutuhan umat, konseling dengan waktu dan tempat yang fleksibel mengingat umat tidak memiliki kesempatan untuk menelepon selain jam istirahat atau malam hari, media (Warta Katolik, Website, Katalog Keuskupan, artikel di majalah), rekreasi bersama yang diadakan dua kali dalam setahun pada hari libur selain hari minggu, kegiatan Oikumene termasuk perayaan Natal/Paskah bersama, lomba volley antar Gereja dan warta Oikumene.
Kerjasama dengan ‘Gereja pengirim’ dari Indonesia sudah berjalan dengan baik, misalnya salah satu pasangan belajar kursus pernikahan di Keuskupan Hong Kong, kemudian bisa diteruskan di Keuskupan di Indonesia. Selain itu melalui Pastor Paroki di Indonesia, umat yang dibaptis di Keuskupan Hong Kong bisa meminta dengan mudah kapan saja pembaharuan surat Pembaptisannya, karena semua urusan administrasi sudah dipusatkan di Paroki St. Joseph Hong Kong, sebagai paroki para buruh migran.
Banyak persoalan yang dialami para buruh migran bersumber pada masalah keluarga. Keluhan umum yang sering terdengar adalah: suami menyeleweng, anak-anak terlantar, sekolah anak terbengkalai, uang yang dikirim dipakai untuk berfoya-foya oleh suami. Persoalan-persoalan semacam ini membuat seorang buruh migran tidak dapat berkonsentrasi dalam pekerjaan dan akhirnya mempengaruhi kualitas pekerjaannya. Kesalahan dalam pekerjaan dan kondisi psikologis (gelisah, murung, marah) yang dialami bisa berakibat pada pemecatan atau bahkan bunuh diri.
Menurut Rm. Indarta, terbatasnya tenaga imam dan biarawati, yang bisa mendampingi para buruh migran menjadi salah satu kendala pelayanan kepada para buruh migran ini, di samping terbatasnya tempat untuk melakukan aktivitas rohani. Karenanya beliau mengharapkan agar ‘Gereja penerima’ dengan ‘Gereja pengirim’ dari Indonesia bisa bekerjasama dengan lebih baik, sehingga para buruh migran yang sudah dibantu penyelesaian masalahnya di Hong Kong, dapat dibantu sewaktu tiba di Indonesia.

Hong Kong, January 12, 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Sunday, January 1, 2012

Liputan: Perayaan Natal 2011 di Guangzhou









Konsulat Jenderal RI
Misa malam Natal berbahasa Indonesia di Konsulat Jendral RI diadakan pada pukul 19.00 diikuti oleh sekitar 100 orang mayoritas mahasiswa. Panitia Natal telah menyiapkan kartu Natal dan bingkisan Natal bagi semua umat yang datang. Mereka memasak makanan Indonesia dan menjualnya sebagai upaya panggalangan dana.
Misa Natal berbahasa Indonesia diadakan di tempat yang sama pada pukul 14.00, yang dihadiri oleh hampir 100 orang juga. Acara dilanjutkan dengan perayaan Natal dan ulang tahun kedua PDKK Hati Kudus Yesus, yang diisi dengan permainan, pemutaran video kilas balik PDKK, tiup lilin ulang tahun PDKK, tukar kado serta makan bersama.
Feliana Tandiono, Ketua Panitia Natal PDKK Hati Kudus Yesus 2011, mengharapkan agar dengan perayaan Natal kali ini, umat dapat merasakan kehadiran Kristus, tidak hanya di dunia tetapi juga di dalam hati mereka dan semakin banyak umat yang akan memuji dan menyembah Yesus lebih dalam lagi. Dikatakannya pula bahwa banyak orang datang ke Gereja untuk mengucapkan syukur kepada Allah tetapi hanya sedikit orang yang mengerti bahwa Allah dan umat manusia mempunyai hubungan yang sangat erat.

Katedral Hati Kudus Yesus
Misa malam Natal berbahasa Mandarin di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Guangzhou diadakan sebanyak pada kali pukul 16.30, 18.30, 20.00 dan 22.00 ditambah satu kali Misa bahasa Korea pukul 14.00, sedangkan di aula Katedral berlangsung tiga kali pada pukul 18.30, 20.00, 22.00. Sejak siang sudah banyak orang yang berkunjung ke Katedral, dan semakin bertambah banyak dengan semakin larutnya malam. Arus lalu lintas di depan Katedral dialihkan ke jalan lain karena jalan dipenuhi dengan orang-orang yang antri masuk Gereja maupun yang sekedar melihat-lihat dan mengambil foto dari kejauhan, tidak peduli dengan dinginnya malam yang sekitar 10 derajat Celcius. Sejak sore sudah terlihat puluhan polisi berada di area Katedral. Kebanyakan dari pengunjung adalah orang-orang muda, dengan bando berlampu bernuansa Natal. Sampai jam 24.00 masih sangat banyak pengunjung yang ingin masuk ke Katedral sampai akhirnya Katedral dibuka sampai 25 Desember pukul 01.30, yang diisi dengan lagu-lagu Natal dan berkat dari imam.
Jadwal Misa Natal berlangsung seperti jadwal Misa hari Minggu, yaitu pukul 6.30 (Cantonese), 7.30 (Cantonese), 10.30 (Mandarin), 15.30 (Inggris). Katedral masih dipenuhi pengunjung selain umat, tapi kali ini tidak tampak barisan polisi lagi. Pengunjung hanya ada di halaman Katedral, tidak sampai meluber ke jalan raya. Misa berbahasa Inggris, yang biasanya mayoritas diikuti oleh orang-orang Afrika, kali ini diikuti oleh cukup banyak orang lokal. Salah satu pengunjung mengatakan baru pertama kali mengikuti Misa karena ingin tahu meskipun dia tidak mengerti bahasa Inggris. Sebagaimana hari Minggu, ada petugas yang akan menanyakan kepada beberapa orang lokal yang diduga bukan umat Katolik, apakah mereka sudah dibaptis, meskipun sudah diumumkan bahwa hanya umat yang sudah dibaptis yang boleh menerima Komuni. Ada beberapa wanita yang berpakaian seperti malaikat membagikan brosur tentang Gereja Katolik kepada para pengunjung.
Kelas Katekumen Minggu pagi tetap berlangsung di hari Natal, yang dilanjutkan dengan perayaan ulang tahun bagi para peserta yang lahir di bulan Desember dan Januari.
Malam harinya diadakan perayaan Natal di aula Katedral yang terbuka untuk umum. Acara dibuka dengan lagu-lagu Natal berbahasa Mandarin dan Inggris oleh beberapa kelompok koor lokal dewasa, mahasiswa dan anak-anak, orang-orang Filipina, Afrika, serta Korea. Acara dilanjutkan dengan renungan oleh salah seorang imam, doa Taize dan ditutup dengan berkat untuk para pengunjung satu per satu dari imam. Aula dipenuhi dengan pengunjung baik Katolik maupun bukan Katolik. Katedral juga masih dipenuhi pengunjung ketika berlangsung acara di aula Katedral.

Kapel Our Lady of Lourdes Pulau Shamian
Misa Malam Natal berbahasa Mandarin di Kapel Our Lady of Lourdes dimulai pukul 20.30. Pengunjung juga memenuhi Kapel yang selesai dibangun pada tahun 1892. Pintu Kapel ditutup pada pukul 23.00 untuk persiapan misa pukul 23.30, yang diperuntukkan bagi mereka yang harus seharian bekerja. Ketika misa berakhir sekitar pukul 23.50, sudah banyak anak muda di depan pintu yang ingin mendengar lonceng Natal tepat pukul. 00.00. Maka imam dan umat menyanyikan beberapa lagu Natal dari menara Kapel lalu bersama-sama menghitung mundur sampai pukul 00.00 tiba dan kemudian membunyikan lonceng Kapel. Imam dan umat lalu mengucapkan “Shengdan kuaile” (=Selamat Hari Natal) dan pengunjung serentak menjawab “Merry Christmas” dengan gembira, ketika imam mengucapkan “Merry Christmas” mereka mulai meninggalkan Kapel. Di Pulau Shamian banyak terdapat gedung-gedung berarsitektur Eropa sehingga tempat tujuan orang-orang yang ingin mengetahui tentang Natal di sana.
Misa Natal berbahasa Mandarin diadakan pukul 08.00 dan masih dipenuhi pengunjung selain umat. Malam harinya diputar film “Nativity” di dalam Kapel.
Kelompok koor GIVEN yang terdiri dari beberapa mahasiswa lokal mengadakan konser Natal pada malam Natal pukul 19.00 dan hari Natal pukul 11.00.

Kapel St. Antonius Huashi
Di Kapel St. Antonius diadakan misa Malam Natal pada pukul 10.00, yang dikuti oleh sekitar 80 orang.

Diperkirakan jumlah orang yang berkunjung ke Katedral dan Kapel Shamian bertambah 30% dibanding tahun lalu. Di internet banyak beredar informasi tentang Hari Natal karenanya banyak kaum muda yang rela antri berjam-jam agar bisa masuk ke Gereja pada malam Natal. Natal bukanlah hari libur di China, meskipun demikian hiasan Natal tampak dimana-mana terutama di pusat-pusat perbelanjaan. Pusat grosir pernik-pernik Natal ada di sekitar Katedral sehingga di bulan Oktober sudah tampak pernik-pernik Natal di sana.

Hong Kong, January 1, 2012


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Christmas Letter 2011











Shalom!
It’s the last day of Christmas Octave today. I just finished the Christmas Fun day with my sisters in Hong Kong. It’s really fun time together by singing, playing and eating together.
Here are my Christmas Octave stories. Fr. Peter invited several Indonesians and GIVEN choir to sing Christmas songs and have communion service with the Indonesian patients at Fuda hospital on December 17. A week later, several Indonesians and I visited several Indonesian patients in Fuda hospital again to pray together with them and their families.
On December 24, I went to Cathedral around 4.00 p.m. to see the crowd before going to Our Lady of Lourdes Chapel to pick up the wine for the Indonesian Mass. There were many visitors and several policemen around Cathedral. There were five masses inside Cathedral including in Korean and three masses in the hall. The Indonesian mass was attended by around 100 Catholics and non Catholics. After mass, I went to Cathedral again and I saw more visitors with the lighted Christmas hairband. Most of them are young adult who were willing to queue in a cold night for more than one hour to go inside Cathedral.
A Chinese student and I attended the Mandarin CCD class followed by a birthday party for the CCD partisipants in the morning of December 25. He is studying master degree in Christianity. I accompanied him to attend Mass for the first time in the third Sunday of November and then he registered for CCD class on the second Sunday of December. As I would attend the Indonesian Mass, so I couldn’t accompany him to attend the Christmas Eve Mass. Unfortunately, it’s too crowded for him so he decided to go home. After lunch, I attended the English Mass in Cathedral. There were still many visitors and several “angels” were distributing booklets about the Church. There are more visitors than ordinary Sundays English Mass. Before attending the Christmas celebration in Cathedral, I had a supper with one of my sisters. There were several choirs singing the Christmas songs including GIVEN choir, Phillipines choir, African choir and Korean choir. A priest gave a reflection and then followed by Taize prayer and blessing by the priest one by one. Later on, Sr. Mary Clare invited me to see her new office so I arrived dorm around 11.00 p.m. Even though the last Christmas Eve Mass in Cathedral was at 10.00 p.m., the Cathedral was opened till December 25 around 01.30 a.m. as so many visitors wanted to go inside Cathedral. More information about the Christmas celebration in Guangzhou can be read in:http://anastasialindawatimm.blogspot.com/2012/01/liputan-perayaan-natal-2011-di.html
After class pictures taking on December 26, we had lunch together with two of our teachers. The last classes would be on December 30 as the final exam will be on January 4-6, 2012.
I enjoyed the visit of Br. Rano, Br. Herry and his father on December 27 while preparing the black sticky rice pudding. In the evening, two Chinese and one Equadorian friends were enjoying the Indonesian fried noodle and black sticky rice pudding. It has been several times that I cooked Indonesian desserts e.g. rice pudding, black sticky rice pudding, and sweet potato and banana with coconut milk on Tuesdays for several friends. A Vietnamese student moved to Xiamen last September so she gave me her rice cooker. I didn’t think to use the rice cooker until receiving invitation from one of the teachers to eat a Cantonese dessert. Her invitation gave me an idea to invite my friends for Indonesian desserts. So that’s how God put the two together, the idea and the utensil.
A Chinese friend called me on December 28 as she wanted to see me so badly. She said something happened to her that’s why she didn’t contact me for almost one year and she would tell the story when we meet. As I had a supper with friends that evening and she would leave Guangzhou the next day so I decided to accept her invitation to have second supper with our friends. Her baby is being hospitalized for four months and her husband went back to his country. For several months, she didn’t want to tell me the condition of her baby as she didn’t want to make me sad but now she is ready to tell me about it as she heard that there is a good treatment for her baby in Indonesia. I failed to get her number through our friends after her number couldn't be contacted for several months. Amidst all the problems that she has, she still as optimistic as the last time I met her. When I invited her to pray together, she said she didn’t know how to pray anymore as she prayed a lot already. I lead our prayer together and then after prayer, she said that she has a hope now.
After the optional class HSK exam on December 30, I went to Hong Kong for the New Year. It’s a time to be grateful (again) for what God has done in my life during this year especially in being presence in China, to be more aware that “Immanuel-God with us” in my daily life.
And, last but not the least, I want to thank you for all your support, gift, love and prayers during this year and wish you:

Merry Christmas
and
Happy New Year
May Jesus, born into this world…be good to you…and be your strength and consolation at the beginning of the New Year. (St. Louise de Marillac)

Hong Kong, December 31, 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible