Saturday, December 31, 2011

Liputan: Perayaan Natal 2011 di Guangzhou









Konsulat Jenderal RI
Misa malam Natal berbahasa Indonesia di Konsulat Jendral RI diadakan pada pukul 19.00 diikuti oleh sekitar 100 orang mayoritas mahasiswa. Panitia Natal telah menyiapkan kartu Natal dan bingkisan Natal bagi semua umat yang datang. Mereka memasak makanan Indonesia dan menjualnya sebagai upaya panggalangan dana.
Misa Natal berbahasa Indonesia diadakan di tempat yang sama pada pukul 14.00, yang dihadiri oleh hampir 100 orang juga. Acara dilanjutkan dengan perayaan Natal dan ulang tahun kedua PDKK Hati Kudus Yesus, yang diisi dengan permainan, pemutaran video kilas balik PDKK, tiup lilin ulang tahun PDKK, tukar kado serta makan bersama.
Feliana Tandiono, Ketua Panitia Natal PDKK Hati Kudus Yesus 2011, mengharapkan agar dengan perayaan Natal kali ini, umat dapat merasakan kehadiran Kristus, tidak hanya di dunia tetapi juga di dalam hati mereka dan semakin banyak umat yang akan memuji dan menyembah Yesus lebih dalam lagi. Dikatakannya pula bahwa banyak orang datang ke Gereja untuk mengucapkan syukur kepada Allah tetapi hanya sedikit orang yang mengerti bahwa Allah dan umat manusia mempunyai hubungan yang sangat erat.

Katedral Hati Kudus Yesus
Misa malam Natal berbahasa Mandarin di Gereja Katedral Hati Kudus Yesus Guangzhou diadakan sebanyak pada kali pukul 16.30, 18.30, 20.00 dan 22.00 ditambah satu kali Misa bahasa Korea pukul 14.00, sedangkan di aula Katedral berlangsung tiga kali pada pukul 18.30, 20.00, 22.00. Sejak siang sudah banyak orang yang berkunjung ke Katedral, dan semakin bertambah banyak dengan semakin larutnya malam. Arus lalu lintas di depan Katedral dialihkan ke jalan lain karena jalan dipenuhi dengan orang-orang yang antri masuk Gereja maupun yang sekedar melihat-lihat dan mengambil foto dari kejauhan, tidak peduli dengan dinginnya malam yang sekitar 10 derajat Celcius. Sejak sore sudah terlihat puluhan polisi berada di area Katedral. Kebanyakan dari pengunjung adalah orang-orang muda, dengan bando berlampu bernuansa Natal. Sampai jam 24.00 masih sangat banyak pengunjung yang ingin masuk ke Katedral sampai akhirnya Katedral dibuka sampai 25 Desember pukul 01.30, yang diisi dengan lagu-lagu Natal dan berkat dari imam.
Jadwal Misa Natal berlangsung seperti jadwal Misa hari Minggu, yaitu pukul 6.30 (Cantonese), 7.30 (Cantonese), 10.30 (Mandarin), 15.30 (Inggris). Katedral masih dipenuhi pengunjung selain umat, tapi kali ini tidak tampak barisan polisi lagi. Pengunjung hanya ada di halaman Katedral, tidak sampai meluber ke jalan raya. Misa berbahasa Inggris, yang biasanya mayoritas diikuti oleh orang-orang Afrika, kali ini diikuti oleh cukup banyak orang lokal. Salah satu pengunjung mengatakan baru pertama kali mengikuti Misa karena ingin tahu meskipun dia tidak mengerti bahasa Inggris. Sebagaimana hari Minggu, ada petugas yang akan menanyakan kepada beberapa orang lokal yang diduga bukan umat Katolik, apakah mereka sudah dibaptis, meskipun sudah diumumkan bahwa hanya umat yang sudah dibaptis yang boleh menerima Komuni. Ada beberapa wanita yang berpakaian seperti malaikat membagikan brosur tentang Gereja Katolik kepada para pengunjung.
Kelas Katekumen Minggu pagi tetap berlangsung di hari Natal, yang dilanjutkan dengan perayaan ulang tahun bagi para peserta yang lahir di bulan Desember dan Januari.
Malam harinya diadakan perayaan Natal di aula Katedral yang terbuka untuk umum. Acara dibuka dengan lagu-lagu Natal berbahasa Mandarin dan Inggris oleh beberapa kelompok koor lokal dewasa, mahasiswa dan anak-anak, orang-orang Filipina, Afrika, serta Korea. Acara dilanjutkan dengan renungan oleh salah seorang imam, doa Taize dan ditutup dengan berkat untuk para pengunjung satu per satu dari imam. Aula dipenuhi dengan pengunjung baik Katolik maupun bukan Katolik. Katedral juga masih dipenuhi pengunjung ketika berlangsung acara di aula Katedral.

Kapel Our Lady of Lourdes Pulau Shamian
Misa Malam Natal berbahasa Mandarin di Kapel Our Lady of Lourdes dimulai pukul 20.30. Pengunjung juga memenuhi Kapel yang selesai dibangun pada tahun 1892. Pintu Kapel ditutup pada pukul 23.00 untuk persiapan misa pukul 23.30, yang diperuntukkan bagi mereka yang harus seharian bekerja. Ketika misa berakhir sekitar pukul 23.50, sudah banyak anak muda di depan pintu yang ingin mendengar lonceng Natal tepat pukul. 00.00. Maka imam dan umat menyanyikan beberapa lagu Natal dari menara Kapel lalu bersama-sama menghitung mundur sampai pukul 00.00 tiba dan kemudian membunyikan lonceng Kapel. Imam dan umat lalu mengucapkan “Shengdan kuaile” (=Selamat Hari Natal) dan pengunjung serentak menjawab “Merry Christmas” dengan gembira, ketika imam mengucapkan “Merry Christmas” mereka mulai meninggalkan Kapel. Di Pulau Shamian banyak terdapat gedung-gedung berarsitektur Eropa sehingga tempat tujuan orang-orang yang ingin mengetahui tentang Natal di sana.
Misa Natal berbahasa Mandarin diadakan pukul 08.00 dan masih dipenuhi pengunjung selain umat. Malam harinya diputar film “Nativity” di dalam Kapel.
Kelompok koor GIVEN yang terdiri dari beberapa mahasiswa lokal mengadakan konser Natal pada malam Natal pukul 19.00 dan hari Natal pukul 11.00.

Kapel St. Antonius Huashi
Di Kapel St. Antonius diadakan misa Malam Natal pada pukul 10.00, yang dikuti oleh sekitar 80 orang.

Diperkirakan jumlah orang yang berkunjung ke Katedral dan Kapel Shamian bertambah 30% dibanding tahun lalu. Di internet banyak beredar informasi tentang Hari Natal karenanya banyak kaum muda yang rela antri berjam-jam agar bisa masuk ke Gereja pada malam Natal. Natal bukanlah hari libur di China, meskipun demikian hiasan Natal tampak dimana-mana terutama di pusat-pusat perbelanjaan. Pusat grosir pernik-pernik Natal ada di sekitar Katedral sehingga di bulan Oktober sudah tampak pernik-pernik Natal di sana.

Hong Kong, January 1, 2012


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Christmas Letter 2011











Shalom!
It’s the last day of Christmas Octave today. I just finished the Christmas Fun day with my sisters in Hong Kong. It’s really fun time together by singing, playing and eating together.
Here are my Christmas Octave stories. Fr. Peter invited several Indonesians and GIVEN choir to sing Christmas songs and have communion service with the Indonesian patients at Fuda hospital on December 17. A week later, several Indonesians and I visited several Indonesian patients in Fuda hospital again to pray together with them and their families.
On December 24, I went to Cathedral around 4.00 p.m. to see the crowd before going to Our Lady of Lourdes Chapel to pick up the wine for the Indonesian Mass. There were many visitors and several policemen around Cathedral. There were five masses inside Cathedral including in Korean and three masses in the hall. The Indonesian mass was attended by around 100 Catholics and non Catholics. After mass, I went to Cathedral again and I saw more visitors with the lighted Christmas hairband. Most of them are young adult who were willing to queue in a cold night for more than one hour to go inside Cathedral.
A Chinese student and I attended the Mandarin CCD class followed by a birthday party for the CCD partisipants in the morning of December 25. He is studying master degree in Christianity. I accompanied him to attend Mass for the first time in the third Sunday of November and then he registered for CCD class on the second Sunday of December. As I would attend the Indonesian Mass, so I couldn’t accompany him to attend the Christmas Eve Mass. Unfortunately, it’s too crowded for him so he decided to go home. After lunch, I attended the English Mass in Cathedral. There were still many visitors and several “angels” were distributing booklets about the Church. There are more visitors than ordinary Sundays English Mass. Before attending the Christmas celebration in Cathedral, I had a supper with one of my sisters. There were several choirs singing the Christmas songs including GIVEN choir, Phillipines choir, African choir and Korean choir. A priest gave a reflection and then followed by Taize prayer and blessing by the priest one by one. Later on, Sr. Mary Clare invited me to see her new office so I arrived dorm around 11.00 p.m. Even though the last Christmas Eve Mass in Cathedral was at 10.00 p.m., the Cathedral was opened till December 25 around 01.30 a.m. as so many visitors wanted to go inside Cathedral. More information about the Christmas celebration in Guangzhou can be read in:http://anastasialindawatimm.blogspot.com/2012/01/liputan-perayaan-natal-2011-di.html
After class pictures taking on December 26, we had lunch together with two of our teachers. The last classes would be on December 30 as the final exam will be on January 4-6, 2012.
I enjoyed the visit of Br. Rano, Br. Herry and his father on December 27 while preparing the black sticky rice pudding. In the evening, two Chinese and one Equadorian friends were enjoying the Indonesian fried noodle and black sticky rice pudding. It has been several times that I cooked Indonesian desserts e.g. rice pudding, black sticky rice pudding, and sweet potato and banana with coconut milk on Tuesdays for several friends. A Vietnamese student moved to Xiamen last September so she gave me her rice cooker. I didn’t think to use the rice cooker until receiving invitation from one of the teachers to eat a Cantonese dessert. Her invitation gave me an idea to invite my friends for Indonesian desserts. So that’s how God put the two together, the idea and the utensil.
A Chinese friend called me on December 28 as she wanted to see me so badly. She said something happened to her that’s why she didn’t contact me for almost one year and she would tell the story when we meet. As I had a supper with friends that evening and she would leave Guangzhou the next day so I decided to accept her invitation to have second supper with our friends. Her baby is being hospitalized for four months and her husband went back to his country. For several months, she didn’t want to tell me the condition of her baby as she didn’t want to make me sad but now she is ready to tell me about it as she heard that there is a good treatment for her baby in Indonesia. I failed to get her number through our friends after her number couldn't be contacted for several months. Amidst all the problems that she has, she still as optimistic as the last time I met her. When I invited her to pray together, she said she didn’t know how to pray anymore as she prayed a lot already. I lead our prayer together and then after prayer, she said that she has a hope now.
After the optional class HSK exam on December 30, I went to Hong Kong for the New Year. It’s a time to be grateful (again) for what God has done in my life during this year especially in being presence in China, to be more aware that “Immanuel-God with us” in my daily life.
And, last but not the least, I want to thank you for all your support, gift, love and prayers during this year and wish you:

Merry Christmas
and
Happy New Year
May Jesus, born into this world…be good to you…and be your strength and consolation at the beginning of the New Year. (St. Louise de Marillac)

Hong Kong, December 31, 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Monday, December 19, 2011

Renungan: Minggu Adven IV 2011

(2Sam. 7:1-5,8b-12,14a,16; Mzm. 89:2-3,4-5,27,29: Rm. 16:25-27: Luk. 1:26-)

Minggu ini kita memasuki Minggu Adven ke-empat, tiba saatnya menyalakan lilin ke-empat pada krans Natal, artinya satu minggu lagi untuk menyiapkan kedatangan Sang Juru Selamat, memasang dekorasi Natal, mengirim kartu Natal, dan yang terutama membersihkan diri dari noda dosa sehingga dapat menerima Kristus dengan sukacita pada hari Natal. Di beberapa tempat mungkin sudah merayakan Natal pada masa Adven (ada tulisan yang bagus tentang merayakan Natal sebelum 25 Desember oleh Pdt. Daniel T.A. Harahap http://rumametmet.com/2008/11/27/tentang-perayaan-natal-surat-terbuka/ dan oleh Pdt. Joas Adiprasetya: http://rumametmet.com/2010/11/28/merayakan-natal-sebelum-25-desember-jangan-dong/. Pdt. Joas mengatakan: “…Nah, kini bayangkan kekacauan yang bakal muncul jika Natal dirayakan sebelum tanggal 25 Desember—katakanlah tanggal 16 Desember—yaitu ketika kita masuk pada masa adventus, yang pada intinya mempersiapkan diri kita untuk menyambut Natal dengan baik. Lalu setelah itu (17 Desember) kita kembali memasuki masa persiapan Natal (masa Adventus) menurut kalendar gerejawi. Apa bukan sebuah kekacauan? Jika ini dilangsungkan, maka kacaulah seluruh struktur kalendar gerejawi dan penghayatan kita terhadap makna Adventus dan Natal menjadi kabur dan tak lagi bermakna.”)

Lewat masa Adven, Gereja mengajak kita untuk belajar menunggu, sesuatu yang seringkali membosankan dan mungkin sudah bukan menjadi budaya masyarakat dewasa ini. Kita sudah terbiasa dengan makanan cepat saji, siapa yang cepat dia yang dapat, termasuk ketika mengantri MTR atau bus di Guangzhou ini. Sesudah doa Bapa Kami, imam akan mengatakan “…sehingga kami dapat hidup dengan tenteram sambil mengharapkan kedatangan Penyelamat kami.” Apakah kita menunggu kedatangan Sang Juru Selamat dengan tenteram, dengan kebosanan atau dengan tidak sabar
?

Dalam bacaan pertama Minggu Adven ke-empat ini, kita mendengar bagaimana Tuhan tidak mau Daud mendirikan rumah bagiNya karena keturunannyalah yang akan mendirikan rumah bagi Tuhan. Karenanya, Tuhan berjanji bahwa keluarga dan kerajaannya akan kokoh selama-lamanya. Janji Tuhan ini diulangi oleh malaikat Gabriel ketika memberitahukan tentang kelahiran Yesus kepada Maria, seorang perawan yang sudah bertunangan dengan Yusuf. Dalam silsilah Yesus yang terdapat dalam Injil Mateus, kita tahu bahwa ada empat belas keturunan Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel dan empat belas keturunan dari pembuangan Babel sampai Kristus (Mat 1: 17). Janji Tuhan itu masih digenapi sampai sekarang lewat GerejaNya, yang didirikan oleh Yesus sendiri, meskipun kini ada begitu banyak denominasi dan bahkan ritus dalam Gereja Katolik Roma.

Lewat bacaan Injil, kita mendengar pemberitahuan tentang kelahiran Yesus oleh malaikat Gabriel kepada Bunda Maria, seorang perawan, yang dikandung tanpa noda asal sebagaimana dogma Gereja Katolik sejak 1854, yang diperkuat dengan pesan yang disampaikan oleh Bunda Maria dalam penampakan kepada Bernadette Soubirous di Lourdes. Hal ini sudah dinubuatkan dalam Yesaya 7: 14 bahwa “…seorang perempuan muda (dalam Christian Community Bible dikatakan “The Virgin”) mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Immanuel.” Pemberitahuan ini tidak hanya menimbulkan pertanyaan bagaimana hal itu mungkin terjadi karena Bunda Maria belum bersuami tetapi juga konsekuensi yang berat. Kita tentu masih ingat tentang wanita yang tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah dan menurut hukum Taurat harus dilempari batu. Di sini kita mendengar pesan bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Bagaimana Allah menyiapkan segalanya bagi kelahiran Juru Selamat. Kalau Allah melakukan hal yang mustahil di zaman itu, maka kita juga percaya bahwa Allah juga tetap akan melakukan hal yang mustahil di zaman sekarang. Seringkali, kita juga dipanggil untuk berperanserta dalam mewujudkan hal yang mustahil, lewat bantuan materi, tenaga, waktu dan terutama lewat doa. Mungkin ada yang pernah membaca kisah hidup Hee Ah Lee, seorang pianis kondang dari Korea yang dikaruniai empat jari, prestasinya ini tentu tidak lepas dari bantuan orang tua, para guru dan orang-orang di sekitarnya. Ada banyak cara untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain agar mereka juga turut merasakan bahwa Tuhan beserta mereka, Immanuel. Ada pepatah China yang mengatakan “Tian bu shui jiao (=Tuhan tidak tidur).

Bunda Maria mendengar dan berkata “ya.” Inilah ketaatan. Rasul Paulus mengatakan dalam bacaan kedua bahwa dia mewartakan Yesus Kristus kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman. Artinya tidak hanya mendengar Kabar Gembira, tetapi mengatakan “ya” pada Kabar Gembira dengan menjadikannya sebagai bagian dari hidup sehari-hari.

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia dan Konferensi Wali Gereja Indonesia setiap tahun mengeluarkan Pesan Natal bersama. “Dalam pesan Natal bersama kami tahun ini, kami hendak menggarisbawahi semangat Kedatangan Kristus tersebut dengan bersaksi dan beraksi, bukan hanya untuk perayaan Natal itu saja, tetapi hendaknya juga menjadi semangat hidup kita semua:



  1. Sederhana dan bersahaja: Yesus telah lahir di kandang hewan, bukan hanya karena “tidak ada tempat bagi mereka di rumah pengiapan” (Luk. 2:7), tetapi justru karena Dia yang “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:5-7).


  2. Rajin dan giat: seperti para gembala yang “cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria, Yusuf dan bayi itu” (Luk. 2:16).


  3. Tanpa membeda-bedakan secara eksklusif: sebagaimana kanak-kanak Yesus juga menerima para Majus dari Timur seperti adanya, apapun warna kulit mereka dan apapun yang menjadi persembahan mereka masing-masing (lih. Mat. 2:11).


  4. Tidak juga bersifat dan bersikap separatis, karena Yesus sendiri mengajarkan bahwa “barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu" (Luk. 9:50).

Saya akan menutup renungan ini dengan kutipan dari “Until He Comes” oleh Charles E. Miller, CM dan John A. Grindel, CM: “Kalau kita ingin agar Natal punya arti khusus bagi kita tahun ini, kita harus mencoba melalui perayaan Natal untuk menjadi semakin serupa Yesus. Adalah benar bahwa kita membutuhkan teman-teman yang sependapat dengan kita dan sangat penolong bagi kita; bahkan Yesus juga mempunyai teman-teman special. Dan perasaan kasih ini berawal di rumah, tetapi hanya berawal di sana. Kasih dan perhatian kita harus menyebar melampaui lingkaran kecil kebersamaan. Kita tidak bisa memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama, tetapi kita tidak seharusnya dengan sengaja tidak memberikan kasih dan hormat kepada orang tertentu, apakah itu karena (warna kulitnya, agama dan kewarganegaraannya), atau hanya karena roh jahat. Dalam kenyataannya, jika kita ingin lebih serupa Kristus, “yang tidak diinginkan” dari dunia ini mendapat klaim khusus dalam diri kita.”



Guangzhou, 14 Desember 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible


P.S. Materi renungan ini untuk Komsel St. Theresia pada 14 Desember 2011

Saturday, December 3, 2011

Renungan: Minggu Adven II 2011

Yes 40: 1-5, 9-11, Mzm 85: 9ab, 10-14, 2 Ptr 3:8-14, Mrk 1:1-8

Hello PWKI-ers, jumpa lagi!
Minggu ini kita mendengar (kembali) bahwa Nabi Yesaya telah menubuatkan kedatangan Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun untuk mengajak orang bertobat sehingga meluruskan jalan bagi Tuhan. Banyak orang yang mengaku dosa dan meminta dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Ajakan pertobatan ini juga disampaikan oleh Petrus, dalam bacaan ke dua, ketika menyatakan bahwa kita harus berusaha agar pada hari penghakiman terakhir kita tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya dan dalam perdamaian dengan Dia. Di masa kini, ajakan pertobatan ini ditunjukkan juga oleh warna yang mendominasi perayaan liturgi, mulai dari pakaian imam sampai lilin adven, yang berwarna ungu kecuali pada Minggu Adven ketiga, yang berwarna merah muda. Ajakan pertobatan ini meliputi pertobatan terhadap dosa pribadi dan dosa sosial. Di sisi lain, kita juga juga diajak untuk melihat (kembali) pengakuan dosa sebagai suatu kesempatan untuk hidup lebih berkenan kepada Allah, dan tidak melihatnya sebagai suatu beban. Sesungguhnya dengan berlama-lama memikul beban dosa, membuat kita hidup semakin berat, meskipun mungkin tidak disadari. Ada sebuah cerita tentang ikan sapu-sapu. Ada orang yang mempunyai aquarium berisi ikan-ikan koki. Lumut mulai tumbuh dengan sehat di aquariumnya karena dia tidak sempat membersihkannya sehingga aca aquariumnya mulai buram dan ikan-ikan kokinya berkurang keindahannya. Jadi, dia menyempatkan untuk membeli ikan sapu-sapu. Tanpa membersihkan airnya, ikan sapu-sapu ini langsung dimasukkan ke dalam aquarium. Keesokan harinya, ikan-ikan kokinya tampak begitu indah .... Tetapi bukankah memang ikan-ikan koki itu warnanya indah. Ehhh .... tapi kok lain ya? Warnanya bukan saja indah, tapi begitu bersinar. Lalu diamatinya ikan-ikan koki itu dengan sirip mereka yang panjang bagaikan kain sutera yang berkibar-kibar seolah ditiup angin. Di pojok akuarium, ada seekor ikan hitam yang tidak bersinar sama sekali, seolah sedang menepi dalam dunianya sendiri dan takut untuk bergabung dengan koki-koki indah itu. Lalu disadarinya bahwa ikan-ikan kokinya terlihat begitu indah dan bersinar bukan karena ikan-ikan itu yang berubah, tetapi keadaan di sekitar merekalah yang berubah. Lumut-lumut yang membuat kaca akuarium buram sudah lenyap! Ya, lenyap! Kaca akuariumnya kembali bening sehingga ikan-ikan indahnya terlihat semakin indah. Ikan yang tidak menarik yang dibelinya dengan harga murah itu telah melahap habis lumur-lumut itu. Memang untuk itulah ikan itu dibeli, tetapi dia menyangka akan mendapat ketakjuban yang luar biasa seperti ini. Pertobatan adalah seperti ikan sapu-sapu yang memakan lumut-lumut dosa, sehingga aquarium hati kita menjadi bersih. Dengan demikian diri kita yang indah, sejak awal kita dijadikan oleh Allah, tidak buram tertutup lumut-lumut dosa melainkan kembali indah dan bersinar.
Adven juga menjadi masa untuk merenungkan (kembali) panggilan untuk menjadi profetik dan mistik, sebagaimana dilakukan Yohanes Pembaptis.
Menjadi Yohanes Pembaptis masa kini ini dapat diwujudkan lewat kesaksian hidup akan pertobatan pribadi. Adalah tidak mudah untuk bersikap menghadapi perubahan cuaca global, menghadapi arus konsumerisme, menghadapi perbedaan pendapat dengan orang lain, dan lain-lain. Tetapi, lewat masalah-masalah sehari-hari, besar dan kecil, terbuka peluang bagi pertobatan pribadi, lewat pilihan-pilihan hidup yang kita ambil, misalnya dengan berpikir dan bertindak “hijau”, bergaya hidup sederhana, atau bersedia bertumbuh lewat perbedaan pendapat.
Masa Adven memanggil kita pada pertobatan sehingga kita dapat semakin bersatu dengan Allah. Inilah masa yang disediakan oleh Gereja untuk hidup dalam keheningan, pengorbanan dan pengudusan.
Bagi sebagian orang, mungkin tidak mudah untuk menjadi hening mengingat begitu banyaknya kesibukan, termasuk kesibukan menyiapkan pesta Natal (atau pesta Adven?). Keheningan bisa dimulai dengan menyediakan waktu di pagi hari sebelum memulai kegiatan atau malam hari sebelum tidur (mulai dengan 10 menit doa Yesus misalnya) atau bahkan di sela-sela kegiatan sehari-hari.
Pengorbanan bisa dilakukan mulai dari hal kecil dengan memberikan sedekah kepada pengemis di pinggir jalan sampai menjadi donatur kegiatan sosial sebagaimana yang dilakukan PWKI, memberikan pakaian/sepatu/jaket layak pakai kepada mereka yang membutuhkan, menjadi tenaga sukarela di berbagai organisasi seperti Midwest Workers Association, Faith and Fellowship. Pengorbanan juga termasuk memberi lebih banyak waktu untuk berdoa.
Hanya Allah-lah yang Kudus sehingga pengudusan hanya ditemukan dalam Allah. Pengudusan kita adalah dengan memiliki hubungan pribadi dengan Allah, masuk dalam hidup Allah lewat Kristus, yang adalah jalan, kebenaran dan hidup. Kita dipanggil untuk semakin serupa dengan Kristus dengan menyadari bahwa hal ini tidak bisa kita lakukan sendiri tetapi “semuanya adalah rahmat” sebagaimana yang dikatakan oleh Santa Theresia Kanak-kanak Yesus.
Inilah saatnya untuk melakukan semua hal yang bisa kita lakukan untuk menyediakan penginapan bagi Yesus di hati kita sehingga menjadi semakin serupa Kristus ketika Adven berakhir, karena kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi orang baik tetapi dipanggil untuk menjadi kudus. Saya akan mengakhiri renungan ini dengan kutipan dari buku “Surprised by Canon Law II” karangan Pete Vere dan Michael Trueman: “Jawaban pendek atas pertanyaan siapa yang bisa menjadi Santo/Santa adalah bahwa Anda mungkin menjadi Santa/Santo. Allah memanggil kita semua untuk menjadi Santo/Santa, dalam pengertian bahwa Ia menginginkan kita semua untuk menjadi kudus dan hidup bersamaNya selamanya di Surga. Tetapi mungkin hanya sedikit dari kita yang akan dikanonisasi menjadi Santo/Santa….”

Guangzhou, 27 November 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible




P.S. Renungan ini ditulis untuk milis Paguyuban Warga Katolik Indonesia Chicago

Article: Cybermission: New Ways to Pray, Connect, Minister, and Cross Border




In order to further efforts in mission education, the Maryknoll movement has long engaged all the available communications media. Throughout the 1990s, interest in the world wide web as a means of mission education grew. Individuals and organizational offices learned to use email, blogs, and emerging social media as a way to spread the word about mission. More than simply a means of communication, this was also a new culture in which to discover a means of approach.
Although the Sisters’ website, www.maryknollsisters.org, had long hosted a “post-a-prayer” section, inviting visitors to indicate their prayer intentions, the web as ministry media grew. In Hong Kong, Anastasia Lindawati complemented her ministry with a project to create a twenty-four-hour prayer presence. Her goal is to organize a presence that makes prayer companioning available through a chat-room type environment. More than an on-line perpetual adoration, the idea is to pray together with another person in a moment of need. https://books.google.com.hk/books?id=lQZQX36w6OcC&pg=PA282&lpg=PA282&dq=anastasia+lindawati&source=bl&ots=mI0VrSFGAt&sig=ACfU3U27WqeU9hWauwzgT0So1igzlpbcag&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwic2-TsparoAhUNMN4KHWgDBZc4ChDoATAAegQIChAB#v=onepage&q=anastasia%20lindawati&f=false




P.S. This article was published in Lernoux, Penny. Centenary Edition: Hearts on Fire: The Story of the Maryknoll Sisters. New York: Orbis Books, 2011.

Saturday, November 26, 2011

Sharing: The First Two Months of the Third Semester










I went back to Guangzhou on Sept 4 from Macau as the registration for the new semester was begun on Sep 5.
During English Mass on Sep 11, I sat beside a Chinese student who spent her Mid Autumn Festival Vacation in Guangzhou. She is not a Catholics but spending the day to attend service at Church of Shamian and Cathedral. I invited her to attend Mid-Autumn Festival Celebration with Guangzhou Chinese students in Our Lady of Lourdes Chapel Shamian. She decided to stay with them as I should leave for a birthday dinner. The next day, she visited my dorm and we walked around the campus while sharing our life stories.
Our classes began on Sep 16. I was in intermediate class level 1 with five subjects intensive reading, extensive reading, writing, listening and speaking. I went to Hong Kong on the week end for our regional meeting.
On Sep 22, I was thinking to move to beginner class level 4 as I felt that there are so many new words in intermediate class level 1 and it’s too fast. I asked my tutor and former class teacher about it and both of them asked to try it first. I also asked my community and they supported whatever my decision as I am the one who knows my level. Starting Sep 26, I moved to beginner class level 4. I believe it's a holy coincidence that morning I heard a quotation from Mother Teresa: “If we were humble, nothing would change us-neither praise nor discouragement. If someone were to criticize us, we would not feel discourage. If someone would praise us, we also would not feel proud.” and in the evening, our prayer cell also talk about humility as we reflect on the reading of the twenty sixth Sunday. I felt I was called to be humble in acknowledge my weakness especially in memorizing. It’s much better especially after three months summer break without classes. I also have tutorial using conversation book intermediate level 1. For the optional class I am attending the tourism cities in China and HSK class (=Hanyu Shuiping Kaoshi=Chinese Proficiency Test).
I spent the Independence Day holiday in Hong Kong. As there were several Chinese sisters and a Chinese priest from mainland China visiting our community so I had a chance to practice my Mandarin. It’s also time to reconnect with Sr. Alice Wengrzynek, MM and Sr. Cathy Rowe, MM. I attended the Indonesian Catholic Community barbeque at Chung Hom Kok Beach and then met Fr. Brian, Br. Edward, Fr. Bob and Br. Sebastian at Marykoll Stanley House.
Attending the baptism of Celine was my next agenda upon back to Guangzhou. Her father asked me to become her Godmother but it’s not a common practice here for a priest or a sister to become a Godmother and I think it’s a better idea.
Our school arranged a trip to China Cultural Folk Village in Shenzhen http://en.wikipedia.org/wiki/China_Folk_Culture_Village on Oct 8. There were around 200 foreign students in 5 buses. It’s my first time to see the cultures of the minorities in China.
Several sisters and I attended the golden jubilee celebration of Our Lady of Maryknoll Hospital which was founded by the Maryknoll Sisters in 1961 http://en.wikipedia.org/wiki/Our_Lady_of_Maryknoll_Hospital. I was moved when listening to the last part of Sr. Janice McLaughlin, MM speech over the projector. It’s also a time to reconnect with Sr. MaryLou Radjl, MM, Sr. Gloria Ruiz, MM and Sr. Bernie Higa, MM.
I am still attending the Indonesian prayer group in Consulate General and St. Therese’s prayer cell twice a month each including meeting Team Thomas (Richard Widjaja, Fr. Soebroto Widjojo, SJ, etc) who came to gave reflection and Gratia Community (Joppy Taroreh, Yvonne Taroreh and Haryanto Onggodiputro) who came to lead a retreat for the Indonesian Catholics community.
Last semester, I was sat beside a Chinese woman in a canteen near our dorm so I asked several questions and she gave her business card with an invitation to visit her garment office. She sent me a text message while I was in Indonesia, unfortunately I couldn’t reply it. Upon arriving Guangzhou, we are in contact again. One evening, she said that she was around our campus so she would pick me up to go to her office. We went to one of the wholesale stores nearby to pick up her order. It’s my first time to see how crowded the area with car, motorbike and bike. She invited to eat Guangdong meal in Dongpu and decided to order quite a lot of dishes even though I told her that I couldn’t eat a lot. Later on, one of her subcontractors came. Both of them are married and younger than me but they thought I am younger than them. They spoke Mandarin slowly so I could understand. I was moved by their generosity to a foreigner. We went to her office to chat, drink tea and listen to Chinese songs.
I visited Martyr’s Park and Guangzhou Tower besides visiting Ma Han and her auntie. I also had lunch with the Chinese Sisters of the Immaculate Conception after bringing second hand clothes for people with Hansen’s disease. Several sisters and I had an intercultural lunch and I cooked “pecel” (=Indonesian salad with peanut butter). I enjoyed the visit of my uncle, Sr. Sue and Sr. Annie in three different times.
Our classmates decided to have Thai food last Nov 1 and the Indonesian food after our midterm exam. There were 18 students from Korea, Japan, Thailand, Mexico, Vietnam, Rusia and Indonesia enjoyed the Indonesian food “rendang, gado-gado, sate ayam, ikan goreng, soto ayam, tahu telur, sayur asem, tahu tempe penyet, lemper, sum-sum and es dawet.”
My first article about the retreat for the Indonesian was published in the Indonesian Catholic Weekly HIDUP. It was my first article after 17 years of absent. I met one of their journalists in Malang-Indonesia last July and he asked me to be their correspondence. It’s a holy coincidence to meet him as we never had a contact for many years. Later on, I found draft of my application to be their correspondence but I forgot whether I sent it or not. God finds the way to lead me to be a correspondence as my wish.
I decided to attend the Mandarin CCD class to help me to learn Church vocabulary. My first class was taught by the Archbishop Gan about the Characteristic of Catholic Church. He prepared a power point presentation with the picture of Pope Benedict XVI in several sheets so it helped to see the Chinese characters. Later on, I looked for Sr. Angela to introduce myself as I got the info from her sisters. She said that one night before, one of the catechumen told her that he wants to help foreigner to learn Mandarin. We called him and I had my first class on Nov 1. He usually has business trips so he will teach irregularly. Another holy coincidence.
The Indonesian Catholics Community usually visits the patients at Fuda Hospital on Fridays since last semester. I was thinking to go to another hospital to accommodate the students who have classes on Fridays. It never happened. I continue to join the group to visit patients in Fuda hospital early of this semester. I couldn’t visit the patients on Oct 29 so I decided to join an Indonesian Eucharistic Minister to go to Modern Hospital the next day. We sat down in the lobby for a while as he wanted to send text message to Fr. Peter about returning the Body of Christ and then I saw a familiar face in an open doctor room. She was the doctor I met in their representative office in Surabaya last January 2010. She knew my state of life as she asked me why I didn’t marry yet. I waited for a while as she still met a patient. She still recognized me as the elder sister of the translator in their Surabaya office. She asked me why I didn’t look for her as I said that I was in Guangzhou since last year. I told her that my friend and I just prayed with the Indonesian patients. She said that I also can pray with the Philippines patients. I said I will do it next time. Later on the evening, Koh Chai introduced me to his new friend, Allison, who works as an English translator in Modern Hospital. The next day, an Indonesians, who got my number from Yvonne Taroreh, sent me a text message that her friend will accompany her son to have cancer treatment in Guangzhou. I only could wonder how God lead me to this new place of ministry when I knew that they will stay at Modern Hospital! And a German student, who attend St. Therese’s prayer cell since this semester, is interesting to visit patients so I think that visiting the Philippines patients will be better for him. Finally after changing the time for visiting several time to accommodate his time, the time of the new patient from Indonesia and the time of the Philippines patients, finally both of us visited one Indonesian patient and prayed with one Philippines patient on Nov 6 evening. The next Sunday, Allison, who is learning Catholics’ prayers, introduced me to the Philippines patients and accompanied me to pray with them. Later on, Fr. Heribertus, SJ and I prayed together with the rest of the Philippines patients and one Indonesian patient. After visiting Allison’s apartment, Koh Cai invited me to have dinner with his family and Allison.
There were many students and teachers with Xavier School jacket attending Sunday Mass at Cathedral. I asked one of them who they are. They are coming from Philippines to learn Putonghua and other subjects for 42 days at South China Normal University. There are around 130 students and they are staying in the university's dormitory.
The classes are in the eight weeks so it’s time for the midterm exam. My reading-writing grade is 86, listening is 86, and conversation is 94. It’s the first time that my conversation grade is higher than my reading-writing and listening grades.

Guangzhou, November 24, 2011
Happy Thanksgiving Day!



Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Sharing: 我很喜欢中大国际汉语学院




黄莉莉(Anastasia Birgitta Lindawati) 初级3C班 印尼(Indonesia)

第一天来到中大的时候,我去国际汉语学员报名。 办公室里有很多学生, 大家排队报名。 老师给我们一些文件。告诉我们上课的地方和时间, 还都解答了几个问题。老师们都很年轻,那时候我不能说中文所以我用英文,老师们多能说英文,我很高兴。
我以前在印尼学了四个月汉语,可是后来我没有练习,所以全忘了。上课以后,我的中文比以前好多了,我觉得写汉字和口语比较难,但是听力和语法比较容易。我很喜欢写作课,因为我不太喜欢说话。还有,中大国际汉语学院也有很多选修课,比如发音,书法,唱歌和写作,所以可以学习到更多知识。有时候我参加汉沙龙,这个是汉语学原理的研究生们搞的活动,很有意思,因为能学习中国文化。
我们班有二十多个学生,有日本人,韩国人,印尼人,越南人,美国人,但桑尼亚人和法国人,十分热闹。我们班有很多活动,上个月,我们班参加拔河比赛,赢得了第五名,所以学院给我们100元,然后我们在南门附近一起吃饭。周末的时候,我会跟朋友们一起去吃饭,万和祈祷。有一次,我跟同学们去卡拉OK完。我们唱了一首”HOLY NIGHT”,有英文,越南问,印尼文和中文,不同国家的同学都唱这首歌。跟他们一起很快乐,认识他们我很高兴。
我在中大国际汉语学院时间不是很长,可是我过得很高兴,学习了很多东西。我还要继续学习,你们也一起来吧!


P.S. This is the third winner of Spring 2011 writing competition.