Renungan: Tuhanlah Kekuatan Kita





Shalom!

Untuk mengawali renungan pada malam hari ini, mari kita baca dari Mzm 28: 7-9: TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya. TUHAN adalah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya! Selamatkanlah kiranya umat-Mu dan berkatilah milik-Mu sendiri, gembalakanlah mereka dan dukunglah mereka untuk selama-lamanya.

Saya mengambil bacaan di atas sesuai tema pada malam hari ini, yaitu Tuhanlah kekuatan kita. Apa artinya menjadikan Tuhan sebagai sumber kekuatan kita di semester yang baru ini? Artinya, bersama pemazmur, kita mau mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, karena Dia-lah yang akan menolong, mendukung dan memberkati kita. Artinya setiap aktivitas yang kita lakukan: berdoa, bekerja, belajar, bermain, makan, beristirahat, berolahraga, pelayanan, mau kita percayakan kepada Tuhan.

Kini saya akan mempresentasikan sebuah slide show berjudul ”Dimana Tuhan Menginginkan Saya Berada”, yang menceritakan tentang beberapa pengalaman orang yang selamat dari Tragedi Twin Towers, karena hal-hal kecil: membeli donat, mengantar anak yang baru masuk TK dan memakai sepatu baru sehingga membuat kaki lecet dan harus membeli plester sehingga terlambat sampai di kantor. Dari cerita-cerita ini kita tahu bagaimana hal-hal kecil yang mengganggu bisa merupakan cara Allah untuk menyelamatkan hidup kita.

Ada yang mengatakan Tuhan memberikan 24 jam sehari untuk semua orang. Ada 4 hal yang tak akan kembali. Sebutir batu, .....setelah ia dilontarkan. Kata, ...setelah ia diucapkan atau ditorehkan. Kesempatan, ...setelah ia hilang. Waktu, ...setelah ia berlalu,” maka kita semua dipanggil untuk menggunakan waktu yang kita miliki dengan efisien dan efektif. Salah satu kebiasaan dari orang-orang yang sangat efektif menurut Stephen Covey adalah mendahulukan yang utama, jadi kalau kita mau menempatkan Tuhan sebagai sumber kekuatan kita, maka ini artinya kita mau menempatkan Tuhan sebagai yang utama dalam hidup kita. Dalam Mrk 14: 37-38, Yesus berkata kepada Petrus ''Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.'' Stephen Covey memberi contoh kebiasaan mendahulukan yang utama dengan menempatkan terlebih dahulu batu besar dalam tabung, sehingga semakin banyak kerikil dan pasir yang bisa dimasukkan juga. Dari cerita ini, kita bisa mengatakan bahwa ketika kita menempatkan hubungan kita dengan Tuhan sebagai yang utama, maka kita akan bisa melakukan lebih banyak hal. Ketika ditawari untuk mengikuti Sekolah Evangelisasi Pribadi di Surabaya, saya mengatakan tidak punya waktu karena sepulang kerja saya sudah merasa capek. Tetapi ketika saya mulai berdoa doa Yesus di pagi hari sebelum melakukan kegiatan lain, karena kalau sudah melakukan kegiatan lain akan terlupakan, saya bisa mengikuti Sekolah Evangelisasi Pribadi ditambah beberapa kelas lain sepulang kerja dan sabtu-minggu.

Hari Minggu 13 Maret adalah Hari Minggu Pra Paskah Pertama. Kita akan mendengar tentang Pencobaan di padang gurun dari Mat 4: 3-10 (Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: ''Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.''

Tetapi Yesus menjawab: ''Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.''

Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: ''Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.''

Yesus berkata kepadanya: ''Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!''

Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,

dan berkata kepada-Nya: ''Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.''

Maka berkatalah Yesus kepadanya: ''Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!''

Lewat bacaan Injil di atas, kita diajak untuk menyadari bahwa pencobaan-pencobaan itu masih berlangsung sampai sekarang tetapi juga untuk menjadikan Tuhan Allah sebagai sumber kekuatan kita dalam mengalahkan pencobaan-pencobaan itu. Fr. Michael Sloboda, MM mengatakan: “di masa sekarang ini, pencobaan-pencobaan ini tetap hadir dalam tiga kategori: kenikmatan, kekuasaan dan nama besar. Dosa menyebar seperti virus. Kita tahu bagaimana virus komputer menyebar dengan cepat, menyerang harddisk dan merusak komputer. Ketika kita mengaku dosa, itu seperti menghapus spam dan virus dari harddisk kita, ah, maksud saya dari jiwa kita. Jadi, pertimbangkanlah dengan serius untuk menerima Sakramen Pengampunan Dosa pada masa Pra Paskah ini. Kabar Baiknya adalah bahwa Yesus, dengan mengorbankan diriNya, telah mengalahkan kuasa dosa dan maut, Dia, Sang Penyembuh Ilahi, telah menyembuhkan kita dari dosa dan pada akhirnya akan membangkitkan kita pada akhir jaman. Tetapi kita tetap harus mencuci tangan kita sebelum makan, tetap harus menjauhi kesempatan berbuat dosa, dan menghindari apa saja yang akan mengkontaminasi kita dengan dosa.”

Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Galatia 5: 19-21 mengatakan: Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Orang berusaha untuk melakukan apa saja mengejar kenikmatan, kekuasaan dan nama besar dengan segala cara sampai akhirnya meninggalkan Tuhan yang sudah memanggil kita terlebih dahulu sebagaimana dalam Katekismus Gereja Katolik #2567 dikatakan: ”Sebelum manusia memanggil Tuhan, Tuhan memanggil manusia. Juga apabila manusia melupakan Penciptanya atau menyembunyikan diri dari hadapan-Nya, juga apabila ia mengikuti berhalanya atau mempersalahkan Allah, bahwa Ia telah melupakannya, namun Allah yang hidup dan benar tanpa jemu-jemunya memanggil setiap manusia untuk suatu pertemuan penuh rahasia dengan-Nya di dalam doa....

Lalu, bagaimana menjadikan Tuhan sebagai sebagai sumber kekuatan kita? Meskipun sudah disebut beberapa kali, saya akan mengulang kembali dengan mengutip dari Lukas 21: 36: Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia. Dalam Katekismus Gereja Katolik #2559 dikatakan: "Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik"

Jadi, Tuhan menjadi kekuatan kita lewat doa-doa kita, baik doa pribadi maupun doa bersama, baik dalam peristiwa-peristiwa besar maupun peristiwa kecil.

Dari beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas, saya akan memberi contoh dari dua-tiga hal yang menyita waktu lebih dari setengah dari hari kita. Sebagai pegawai, yang pada umumnya bekerja selama 8 jam sehari, bawalah dalam doa semua yang bersangkut paut dengan pekerjaan: ketika menghadapi godaan untuk mengambil keuntungan pribadi, ketika bermasalah dengan rekan sekerja maupun atasa, ketika menghadapi pekerjaan yang menumpuk, ketika mendapatkan promosi ataupun ketika mendapatkan tawaran pekerjaan baru. Suatu kali, ketika menghadapi staf yang tidak bisa bekerjasama dengan koordinatornya sehingga mengganggu kelancaran kerja di kantor, saya merencanakan untuk memindahkannya ke bagian yang lain sembari mendoakan supaya dia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan tidak lama kemudian dia mengundurkan diri karena mendapat tawaran yang lebih baik. Biasanya waktu tidur yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah 8 jam sehari meskipun ”setiap orang mempunyai kebutuhan tidur yang berbeda-beda, dan anda akan mengetahuinya kalau tidur anda sudah cukup, ketika anda tidak merasa terkantuk-kantuk dalam situasi yang membosankan di sore hari, demikian kata seorang psikolog dari Universitas New York, Joyce Walsleben, PhD.” http://puskesmassimpangempat.wordpress.com/2009/10/16/kumpulan-artikel-tentang-tidur-ubtuk-bayi-dan-orang-dewasa/, maka kalau kita mulai menambah jam main game sehingga mulai kurang tidur dan mengantuk di kelas, bawalah juga dalam doa. Menurut Romo I. Sumarya, SJ, jika selama di sekolah mengikuti proses pembelajaran secara efisien, efektif dan afektif dan ditambah dua jam di luar sekolah, maka pasti akan sukses dalam tugas belajar dan yang tidak kalah penting adalah memboroskan waktu secara efisien, efektif dan afektif. http://www.ekaristi.org/artikel/sumarya.php?misc=search&subaction=showfull&id=1285982849&archive=&cnshow=news&ucat=15&start_from=&go=search.

Saya memberi contoh-contoh di atas karena sebagaimana dikatakan Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia 5: 17: ”Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging -- karena keduanya bertentangan -- sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” Saya sendiri sering berdoa singkat seperti ”Tuhan, berilah saya sinar matahari” ketika akan mencuci pakaian dan cuaca mendung. Puji Tuhan, matahari bersinar dan pakaian kering. Atau ”Tuhan, semoga acaranya belum mulai ketika saya tiba” ketika berangkat terlambat ke pertunjukan tentang SantoAgustinus. Puji Tuhan acara dibuka dengan pengantar sehingga pertunjukkan belum mulai. Atau ”Tuhan, Engkau tahu saya tidak tahan dingin” ketika harus berangkat ke sekolah setelah turun salju pertama semalam. Puji Tuhan, saya merasa hangat sehingga saya harus membuka retsluiting jaket musim dingin saya. Hubungan kita dengan Tuhan harus dibangun secara konsisten dari hidup sehari-hari dengan doa pribadi di saat hidup kita tenang atau dilanda badai, sehingga Tuhan sungguh menjadi kekuatan kita. Ada yang mengatakan bahwa yang penting kualitas bukan kuantitas, tetapi kalau kita pikirkan kembali, ketika kita membutuhkan bantuan, kita akan mencari teman yang sering kita hubungi daripada teman yang jarang kita hubungi. Bila kita menyandarkan kekuatan kepada Tuhan dalam hidup sehari-hari, maka kita akan cenderung untuk mencari penyelesaian dari Tuhan dan bukan dari minuman keras, rokok, narkoba, dll.

Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai kekuatan kita, kita akan melihat buahnya sebagaimana lagu yang pertama kali kita nyanyikan tadi, yang diambil dari Yohanes 15: 5-8: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.''

Tentu saja terkadang Tuhan tidak memberikan sama persis seperti yang kita inginkan, tetapi seringkali justru lebih baik, meskipun mungkin saat itu kita tidak bisa melihatnya sebagai lebih baik, karena ada hikmah yang ingin Tuhan sampaikan.

Saya akan menutup renungan ini dengan sebuah presentasi tentang hal-hal yang bisa dilakukan untuk selama masa Pra-Paskah. Yaitu: berpuasa dari marah dan benci, berpuasa dari menghakimi orang lain, berpuasa dari rasa putus asa, berpuasa dari mengeluh, berpuasa dari kepahitan dan dendam, berpuasa dari menghabiskan uang dengan menyumbangkan 10% dari pengeluaran kepada orang miskin serta menambah waktu untuk berdoa. Semoga masa Pra Paskah kali ini, menjadi sarana yang memampukan kita untuk semakin menjadikan Tuhan sebagai kekuatan kita sehingga hidup kita akan semakin diberkatiNya. Amin.

Guangzhou, 11 Maret 2011

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

P.S. Renungan ini dibawakan untuk PDKK Hati Kudus Yesus Guangzhou pada 11 Maret 2011