Sunday, December 20, 2015

Renungan Adven 19 Des 2015: Kembali dari Pembuangan

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari

Ketika kita sedang menunggu, terkadang kita merasa seperti dalam pembuangan.  Pembuangan adalah tema yang sangat besar dalam pikiran pengarang Kitab Suci karena dua pembuangan besar pada dasarnya menentukan sejarah Israel: pembuangan ke Mesir dan pembuangan ke Babel. Dalam kedua kasus ini, umat kudus Allah, ras yang dipilih secara khusus, diperbudak oleh kekuasaan asing.
Nabi Barukh, yang adalah sekretaris nabi Yeremia, menulis dari Babel, dari tanah pembuangan.  Pada masa itu, Yerusalem, kota kudus yang telah dirusak oleh orang-orang Babel dan ditinggalkan, kuil dan tembok-temboknya tinggal puing-puing.  Berdasarkan hal ini, Barukh mengatakan kepada orang Israel agar “Hendaklah, hai Yerusalem, menanggalkan pakaian kesedihan dan kesengsaraanmu, dan mengenakan perhiasan kemuliaan Allah untuk selama-lamanya” (Barukh 5:1). Dengan mata kenabiannya, beliau memimpikan hari, dimana Allah akan menuntun umatNya pulang ke rumah.
Dalam terang ramalan kenabian Barukh dan sejarah panjang pembuangan dan pengharapan, kita akan melihat pada Injil Lukas.  Lukas mulai dengan menyebutkan wakil semua kekuasaan besar yang menindas Israel: Kaisar Tiberius, raja dunia; Pontius Pilatus, wakil lokal; Herodes dan saudaranya Filipus, para boneka kerajaan Romawi; Hanas dan Kayafas, para pendukung.
Mereka adalah semua orang, yang dengan berbagai cara dan tingkatan, menindas Israel.  Tetapi lihatlah bagaimana kutipan ini ditulis dengan indah: setelah menyebutkan semua figur yang terhormat dan mulia,  Lukas mengatakan kepada kita bahwa sabda Allah bukan diberikan kepada mereka, melainkan kepada figur aneh di padang pasir Yudea, nabi yang aneh dan tidak jelas yang bernama Yohanes.  
Cara Allah bukanlah cara kita.  Allah tidak menilai orang dan kejadian sebagaimana kita menilai orang dan kejadian.  Betapa aneh bahwa Allah akan hadir kepada figur yang tampaknya tidak penting ini!
Pesan apa yang diberikan Allah kepada Yohanes?  Sang Pengirim sedang datang!  Juru Selamat!  Tidak hanya seseorang yang akan membebaskan Israel untuk sementara waktu dan secara politik, tetapi seseorang yang akan membebaskan mereka dari pembuangan yang pokok, pengasingan mereka dari Allah.
Israel pasti sedang diselamatkan, dibawa pulang pulang kepada Allah.  Jadi bersiaplah untuk menerima Sang Juru Selamat.

Renungan Adven 18 Des 2015: Menunggu dalam Pengharapan yang penuh Harapan

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari   http://adventreflections.com/advent-day-20-waiting-in-hopeful-expectation/

Kita adalah orang-orang Adven - orang-orang yang menunggu.
Sesuatu (atau lebih tepat seseorang) akan datang, dan hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah menunggu dengan pengharapan yang penuh harap.
Para nabi besar Adven mengatakannya sebagai berikut: “
Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” (Yesaya 64:8).
Apakah dengan demikian kita tidak melakukan apapun? Kita duduk seperti gumpalan daging menunggu Allah untuk melakukan sesuatu dalam hidup kita? Tidak.  Sebenarnya ada hal yang sangat "aktif" tentang menunggu.

Apakah kamu ingat betapa kamu  bersemangat dan penuh perhatian ketika menunggu kedatangan seseorang?  Kamu mengawasi dengan penuh harap setiap mobil yang lewat ketika kamu menunggu di bandara.  Semua indra tersedot pada apa yang sedang terjadi; pikiranmu penuh dengan pengharapan.  Ragamu melompat.  Saya pikir, beginilah menunggu dalam arti spiritual; inilah mood Adven.
Berikut ini beberapa saran praktis selama waktu yang tersisa dalam menunggu. Pertama periksalah batinmu secara teratur. Sadari berapa besar dan kekuatan dosa dalam hidupmu, khususnya perhatikan pada dosa-dosa yang kambuh kembali. 
Kedua, berdoa. Brevir, membaca Kitab Suci, rosario, adorasi, doa Yesus-apapun yang cocok untukmu.  Tetapi bersandar pada Allah dengan perhatian khusus selama beberapa hari terakhir Adven.


Ketiga, meminta maaf. Mintalah maaf kepada orang yang sudah terluka karena dosamu.  Tidak ada cara lain yang lebih baik untuk mencapai ketidakberdayaan kita di hadapan Allah. 

Friday, December 18, 2015

Renungan Adven 17 Des 2015: Apa yang harus kita lakukan?

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari  http://adventreflections.com/advent-day-19-what-should-we-do/

Pada dasarnya, setiap orang ingin bertobat. Setiap kali muncul panggilan untuk bertobat yang jelas dan tidak berkompromi, orang cenderung akan merespons.  Orang pada akhirnya merindukan Allah, tidak peduli betapa tinggi kedudukannya dalam masyarakat, tidak peduli betapa besar rasa percaya dirinya.
Dan sebagaimana mereka yang hidup pada masa Yohanes Pembaptis, kita juga bertanya “Apa yang harus kita lakukan?  Bagaimana seharusnya kita menghidupi hidup kita?”  Tentu saja pertanyaan ini menyatakan tentang pertobatan:  lebih berhubungan dengan tindakan daripada sekedar perubahan dalam pikiran.
Kita tahu bahwa hidup kita, dengan berbagai cara, telah berjalan di luar jalur dan kita ingin mengembalikannya pada jalur yang seharusnya.  Hal ini hanya mungkin terjadi melalui beberapa hal tertentu yang kita lakukan.  Hidup spiritual pada akhirnya adalah satu set tindakan.
Jadi apa yang dikatakan Yohanes Pembaptis untuk kita lakukan?  Rekomendasi pertamanya adalah: “siapapun yang mempunyai dua mantel harus berbagi dengan orang yang tidak mempunyainya” (Luk 3: 11). Hal ini sangat fundamental dan mendasar – tetapi hampir sepenuhnya dilupakan!  Ada sebuah peringatan yang terus menerus dalam ajaran social Gereja, meskipun kepemilikan pribadi adalah baik adanya, penggunaannya harus berorientasi sosial.
Paus Leo XIII menulis dalam Rerum Novarum, “Jika pertanyaannya adalah bagaimana kepemilikan pribadi seharusnya digunakan, Gereja menjawab tanpa ragu-ragu bahwa seseorang seharusnya tidak menganggap kepemilikan pribadi sebagai miliknya tetapi sebagai kepemilikan bersama.”  Dan hal ini adalah kalimat yang mengejutkan, yang sangat efektif untuk memeriksa batin: “ketika kebutuhan pribadi sudah terpenuhi, dan ketika dengan jujur memikirkan hal ini, maka membagikan kelebihannya kepada fakir miskin adalah sebuah kewajiban.”  
Seorang Bapa Gereja Awali, St. Basil Agung, bahkan mengungkapkan ide ini dengan lebih radikal senada dengan Santo Yohanes Pembaptis: “ Roti yang ada di lemarimu adalah milik yang lapar.  Mantel yang ada di lemarimu adalah milik yang telanjang.  Sepatu yang kamu biarkan rusak adalah milik yang telanjang kaki.  Uang yang ada di lemari besimu adalah milik orang miskin.  Kamu melakukan ketidakadilan ketika kamu tidak menolong orang yang dapat kamu tolong.”

Jadi apa yang seharusnya kita lakukan pada masa Adven ini, sebagai bentuk pertobatan dan menunggu datangnya Juru Selamat?  Mengabdi pada keadilan, menyerahkan sesuai hak masing-masing dan berbagi dengan mereka yang membutuhkan.

Thursday, December 3, 2015

Sharing: Second Couple Day at Holy Family Church

I organized the second couple day at Holy Family Church Shenzhen last November 28, 2015.  There were 3 couples and several women.  There were games, sharing and presentation about “Love, Sex, Marriage and Life.”  Fr. Lu couldn’t be back to Church on time due to traffic nearby so I should  adjust the itinerary.
I edited presentation from Hong Kong Diocesan Pastoral Centre for Marriage and Family, Hong Kong Catholic Marriage Advisory Council and Fr. He and asked a couple to help in reading part of the presentation.


Hong Kong, December 2, 2015

         

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible


Thursday, November 26, 2015

Thanksgiving Letter 2015 (updated on Mar 23, 2021)

Gratitude can transform common days into thanksgivings, turn routine jobs into joy, and change ordinary opportunities into blessings. (William Arthur Ward)
Happy Thanksgiving!
May God continue to bless you with good health, peace and joy!

          First of all, I want to thank you very much for all your support, love, gifts and especially your prayers as we celebrate Thanksgiving Day.    How is your Thanksgiving celebration? Our community was invited to celebrate Thanksgiving at Maryknoll Society House Hong Kong this evening.  It's a very nice celebration.
     It’s my farewell time at Holy Family Church these days as I will leave for USA on December 7, 2015 so I want to share the farewell story.
On my way to Shenzhen last Sunday morning, Ms. Liang asked me to arrive at the Church before Mass as she needs help.  Our community organized an open day last Saturday afternoon as part of the Year of Consecrated Life celebration so I went to Shenzhen last Sunday instead of Saturday. Not so long, Mrs. Liu also asked me to arrive as soon as possible because they are waiting for me.  I could guess that there would be a surprise for me.   I arrived just before “Our Father” and immediately Mrs. Liu asked me to sit with Ms. Liang in the front section.            
After announcing the couple’s gathering on Nov 28, Fr. Lu asked me to sit on the first pew because Ms. Luo, Mr. Wu and Ms. Xiong (who was intentionally removed her choir uniform and wore pink blouse) would share their appreciation on my voluntary works while showing the compilation of my pictures with parishioners.  Ms. Xiong then led the choir to sing “不简单的路=not a simple road and gave her gifts. Mr. Li, the leader of parish council, expressed his appreciation including on the presentation about “How to build together the Holy Family Church" and asked me to come back next year.  Fr. Lu also expressed his appreciation and asked me to come back besides sharing how I love the parishioners.  Fr. Lu asked me to speak so I said that I am grateful for what God prepares for me at Holy Family Church: the parishioners are generous, care and understand my limitation on Putonghua.  I couldn’t hold my tears.  Two children presented a card from the Sunday’s School Team, Mr. and Mrs. Fan with their daughter presented a pink rose bouquet and then Mr. Li gave a Holy Family Statue.  Here is the link of the video of the pictures: https://youtu.be/kVKErS3Gxo4
          Several parishioners expressed their gratitude after Mass and wish I will come back.  After praying with a non-Catholic guy, whom we visited at the hospital two weeks ago, I went to the back of the Church as the children and parishioners were waiting for the gathering.  Mrs. Cai provided a pink cake for the gathering.  Ms. Huang asked me to make a wish while Fr. Lu invited all of them to sing “祝你平安”(=Peace be with you.  It’s really a big surprise, which was organized by several youth.
          After the celebration, we had a meeting for youth gathering.  I expressed my gratitude for their help, informed the summary of survey and gave some guidance in planning for the 2016 gatherings.  Then, I divided them in small groups and asked each group to write a youth gathering plan and they are ready with 6 plans!  They always did more than I thought for surprise requests of e.g. pick up the cigarette butt on the street in doing charity work and gave away the bookmark on the street in doing evangelisation work.   
          Then, Fr. Lu, several parishioners and I attended Mass at the Christ the King Church of Bao An District for the feast of Christ the King followed by dinner, rosary prayer and Mass at Holy Family Church.
        Mrs. Wu and her husband invited me for hot pot dinner after evening Mass as she missed the dinner with her circle and me on Nov 9.  The Sunday’s School Teachers invited for lunch last Sunday.  
   Here is the link of the pictures: share.shutterfly.com/action/welcome?sid=0EbuWrFm4ZM2aj 
          Ok...that's it for now.  Once again, Thank you very much!  Terima kasih banyak!  多谢你!

Hong Kong, November 26, 2015
with love and prayer,


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible


Dec 4, 2015:

Fr. Lu and 8 parishioners accompanied me to go back to our convent on Dec 1, 2015.  Fr. Gabriel, MG was our host at St. Theresa’s Church.   One of the youth Ms. Xu visited our convent in the evening as she is working in Hong Kong. 

Thursday, November 12, 2015

Sharing: The Second Volunteer Training of Holy Family Church



Almost 20 volunteers attended the second volunteer training of Holy Family Church on November 8 after Sunday Morning Mass.  Fr. Lu taught the song “请你告诉我该如何爱你“(Qing Ni Gao Su Wo Gai Ru He Ai Ni=Please tell me how should I love You.  Fr. Lu gave the welcome note and led the opening prayer by sing 请你告诉我该如何爱你
I started the training by showing part of the first training survey result and then gave presentation on “How to build together Holy Family Church?”   I edited part of presentation on “How to build a Parish together with Parishioners” and “The Duty of a Catholics” by Ms. Yang Yu Lian for a Parish Management workshop in Maryknoll Stanley House Hong Kong.   As usual, I asked the participants to read part of the presentation.
After lunch, we watched the washing of the feet ceremony by Pope Francis while listening to John 13: 1-15 and then washed the next person’s feet and also pray for her/him followed by a quiet reflection.  There was small group sharing and report to the whole group.  

 Fr. Lu gave the summary and gave a blessing.   Two of them brought forward the drawing of small group sharing as one of the offering at the anticipated Sunday Mass.  Several volunteers were volunteering for the Mass while the rest went home.
Three participants will give presentation on “How to build together Holy Family Church” in three different Masses on the following week end.
Here is the link of the pictures: share.shutterfly.com/action/welcome?sid=0EbuWrFm4ZM2YY

Hong Kong, November 12, 2015


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible