Sunday, July 18, 2021

Informasi Buku

                                         Tulisan Ilmiah Populer, Lowongan bagi Sarjana Baru

 

Judul Buku : Teknik Penulisan Ilmiah Populer

Penulis : Slamet Soeseno

Penerbit : P.T. Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : Pertama, 1993

Tebal : 176 halaman

 

Makin diminatinya berita iptek di media massa (Surya, 2 Mei 1994) tampaknya bisa merupakan lowongan kerja bagi sarjana baru dari berbagai disiplin ilmu,  Mereka bisa membagikan ilmunya kepada masyarakat lewat tulisan ilmiah populer dan menurut Slamet Soeseno (SS) di dalam bukuya Teknik Penulisan Ilmiah Populer, dengan melakukan ini dapat memperpanjang napas dan melipur lara dalam masa prihatin menunggu pengangkatan sebagai pegawai bergaji tetap.

Kehadiran buku ini tentunya bisa diharapkan untuk mengatasi kesenjangan antara meningkatnya minat pembaca akan berita iptek dengan masih kurang layaknya tulisan ilmiah populer yang masuk ke redaksi sebagaiman dilansir oleh Theodorus Tuerah (Surya, 2 Mei 1994).

SS mengawali bukunya dengan memberikan pengertian tentang tulisan dan bentuk penulisan, suatu hal yang tampaknya sepele tetapi ternyata tak jarang rancu seperti dialami oleh penulis buku ini.

Menurut Redaktur khusus Intisari ini, persiapan yang harus dilakukan sebelum menulis adalah menelaah tema, menguji kelayakan topik yang akan ditulis, mengumpulkan bahan sumber tulisan serta menyusunnya menjadi salah satu bentuk penulisan yang cocok.

Disarankannya untuk membuat catatan sumber literatur, yang dapat digunakan untuk menyusun tulisan yang baru atau menyusun penjelasan yang lebih terinci.

Pembuatan judul ternyata juga membutuhkan keahlian tersendiri.  Yang jelas tentu saja harus mencerminkan tema.  Untuk itu, SS menyatakan untuk membuat judul paling  sedikit tiga yang kemudian dipilih yang paling sesuai dengan sinopsis.

Hal-hal yang paling menarik sebaiknya diletakkan pada Pendahuluan sehingga dapat menarik minat pembaca.  Sedangkan hal-hal yang kurang menarik diletakkan pada tubuh tulisan, tetapi meskipun demikian harus tetap dibuat menarik, yaitu dengan menjadikan kalimat kedua sebagai penjelasan kalimat sebelumnya dan meletakkan gagasan baru pada alinea berikutnya.  Untuk Penutupnya dibuat sebuah alinea baru yang bergaya pamit dan terasa sebagai alinea akhir.

SS juga menjelaskan satu per satu jenis-jenis berita ringan, feature, artikel, laporan serta pantangan dalam penulisannya.  Semuanya disertai dengan contoh konkret, seperti halnya uraian-uraian terdahulu, sehingga memudahkan pembaca untk membedakannya dan tentu saja diharapkan lebih mudah menerapkannya.

Untuk menghasilkan karya tulisan yang bagus, SS menyarankan untuk melakukan penulisan ulang.  Hal ini sebaiknay dilakukan pada pagi hari sesudah bangun tidur karena pikiran masih jernih dan badan masih segar.  Yang pertama-tama harus diperbaiki adalah daya tariknya, baru kemudian bahasanya.  Bahasa yang dipakai hendaknya yang komunikatif, yaitu bahasa populer yang cepat ditangkap, ringkas tapi jelas, lengkap dan teliti, kata-kata yang kecil dan kalimat sederhana, serta alinea beruntun yang semakin memikat.  Selain itu juga perlu memperhatikan tata krama dalam penulisan feature, melakukan perombakan terhadap alinea yang naif dan pedant, serta menggunakn nada tulisan yang bersahabat.  Dengan demikian dapat diharapkan munculnya tulisan yang memikat dan berbobot.

Sebagai penutup bukunya SS menyarankan untuk menyertakan ilustrasi bagi tulisan berbentuk feature.

Kiranya kesediaan Pemred Majalah Hobi dan Bisnis Pertanian Trubus untuk berbagi pengalaman dan kemahirannya menulis seperti tertuang dalam buku ini benar-benar dapat menjadi pegangan dan pedoman yang amat berharga bagi calon penulis ilmiah populer. (A.B. Lindawati)

Liputan Jawa Timur

 100 Tahun Melayani Kesehatan Masyarakat

 



Rumah Sakit kristen Mojowarno (RSKM), sebuah rumah sakit yang merupakan bagian dari pelayanan gereja Kristen Jawi Wetan kepada masyarakat-akan memperingati ulang tahunnya yang ke-100 pada tanggal 6 Juni 1994 nanti.  Berbagai kegiatan digelar untuk menyambut peringatan ini, bahkan persiapan untuk itu telah mulai dilakukan sejak tiga tahun lalu.  Meski begitu Dr. Soedjatmoko (56), Direktur RSKM, menyatakan bahwa peringatan seratus tahun ini sebagai hal yang wajar-wajar saja, bukan diistimewakan tetapi lebih sebagai ucapan syukur.

 

Padat Acara

Dr. Edhy Sihrahmat, MARS (36), Ketua Panitia Peringatan 100 tahun RSKM, ketika dihubungi menyatakan bahwa ada beberapa kegiatan yang telah dipersiapkan oleh panitia.

Yang sudah dilakukan adalah mendorong upaya Dana Sehat Masyarakat, yaitu dengan melatih kader-kader kesehatan di desa-desa sekitar RSKM.  Di samping itu juga diadakan Lomba Cipta Lagu Mars, yang menurut rencana akan dinyanyikan ketika peringatan berlangsung serta Lomba Logo.

Sebuah seminar ilmiah dengan tema Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit akan diadakan pada tanggal 2-3 Juni 1994.  Hasil kerjasama dengan tim pengendaliann Infeksi Nosokomial RSUD Sr. Soetomo-Surabaya akan diadakan dalam bentuk in house training dan terbuka untuk para dokter dan perawat.   Selain itu juga akan diadakan seminar ilmiah tentang penyakit jantung sebagai hasil kerjasama dengan Unit Pelayanan Fungsional Kardiologi RSUD Dr. Soetomo-Surabaya pada tanggal 4 Juni 1994 dan terbuka untuk para dokter.

Panitia juga akan menggelar pameran di Pasar Malam Mojowaro dan ketika seminar ilmiah berlangsung.  Tak ketinggalan juga lomba olah raga antar karyawan maupun persahabatan dengan rumah sakit lain.  Untuk masyarakat, dibuka fun bike baik MTB maupun non MTB.

Para alumni Sekolah Perawat Kesehatan, yang kini sudah tersebar di berbagai daerah, menurut rencana juga akan dikumpulkan dalam sebuah reuni.  Sekolah Perawat ini kini sudah tidak ada lagi dan R.A. Kartini konon pernah ingin bersekolah di sini.

Bertepatan dengan Hari Raya Unduh-unduh (=Persembahan) bagi jemaat Mojowarno pada tanggal 5 Juni 1994 diadakan resepsi peringatan 100 tahun RSKM karena biasanya hari ini sekaligus menjadi home coming day bagi masyarakat Mojowarno yang ada di luar daerah.

 Peringatan 100 tahun ini juga ditandai dengan peresmian kamar operasi dan ruang radiologi pada tanggal 6 Juni 1994, yang kemudian dilanjutkan dengan seminar tentang aspek teologis pelayanan kesehatan RSKM serta antisipasinya.  Seminar ini diadakan untuk menindaklanjuti penyusunan buku sejarah RSKM, yang dimaksudkan agar RSKM tidak tercabut dari akarnya, yaitu sebuah unit sosial yang dengan charity melayani masyarakat.

 

Sejarah

Berdirinya RSKM ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari peran J.E. Yelesma, seorang penginjil yang memperkenalkan pengobatan modern kepada masyarakat Mojowaro.  Upaya ini dilanjutkan oleh Yohanes Kruyt, seorang penginjil juga tetapi dengan kemampuan lebih bila dibandingkan dengan pendahulunya, yang kemudian memunculkan barak-barak untuk perawatan dan akhirnya atas kesepakatan pihak gereja didirikanlah rumah sakit.

Pada tanggal 6 Juni 1894 Zending Zeikenhuis te Mojowarno Oegstgeest diresmikan berdirinya oleh kepala daerah pada waktu itu.  Pada tahun 1945 rumah sakit misi ini berganti nama menjadi Rumah Sakit Kristen Mojowarno dan di jaman perang kemerdekaan sempat menjadi rumah sakit pertahanan sebelum akhirnya dibumihanguskan sampai rata dengan tanah.

Keadaan ini tidak mematahkan semangat pihak gereja untuk tetap melayani dibidang kesehatan, diputuskan untuk membangun rumah sakit ini kembali.  Sedikit demi sedikit rumah sakit ini dibangun kembali dan praktis dengan swadaya masyarakat Mojowarno sampai akhirnya bisa seperti sekarang ini.

Kiranya rasa syukur atas ulang tahun ke-100 ini tidaklah berlebihan bilamana melihat bagaimana rumah sakit ini harus jatuh bangun, bukan tanpa konflik sampai akhirnya bisa menjadi rumah sakit swasta satu-satunya yang dikategorikan dalam kelas Madya di Kabupaten Jombang,

 

Pasien datang dari berbagai Kota

Meski terletak di sebuah kota kecamatan, 15 km dari kota kabupaten, tidak mengurangi minat pasien dari berbagai kota di Jawa Timur untuk berobat di sini.

Dengan tenaga medis yang ada, termasuk 12 tenaga ahli paro waktu, RS ini mencoba untuk bisa melayani semua lapisan masyarakat walau untuk itu terkadang harus menambah piutang rumah sakit.

Bila kita memasuki RS ini, kita akan disambut dengan tulisan Pangandelmu iku kang mitulungi kowe (Mat 9:22), sebuah motto yang menurut Dr. Edhy Sihrahmat, MARS tidak hanya dimaksudkan untuk memberi motivasi mitulungi dalam arti menolong orang sakit tetapi juga yakin akan karya Tuhan di sini sehingga tidak usah terlalu mata duitan.  Meski begitu, tambahnya, juga tidak bisa sekedarnya dalam memberikan pelayanan karena kalau beriman sungguh-sungguh, pelayanan harus tetap profesional sedangkan untuk masalah ekonomi, Tuhan pasti memberi.

Keyakinan ini tampaknya beralasan bilamana melihat bagaimana RS ini tetap dapat bertahan selama 100 tahun meski hanya mengandalkan swadaya masyarakat tetapi dapat memberikan standar gaji yang lebih tinggi dibanding pegawai negeri serta pensiun.

Pelayanan di RS ini tetap dapat terjangkau oleh semua lapisan masyarakat salah satunya karena untuk pembelian alat-alat yang mahal dimintakan dananya kepada para donatur.

Dengan tingkat hunian 70-80%, tingkat yang optimum, RS ini juga berusaha melengkapi perlengkapannya, termasuk juga ruang ICU menyusul nanti ruang operasi yang lebih besar serta ruang radiologi.  (A.B. Lindawati, dilahirkan di RSKM Mojowarno pada tahun 1971)

Liputan: Keuskupan Surabaya

                                                 


Komunikasi yang Baik, Kunci Sukses

 

Kongres XV WKRI di Yogyqkarta telah lama usai, tetapi ternyata keputusan kongres ini masih bergema di hati para anggotanya, setidaknya bagi WKRI cabang Gembala yang Baik Surabaya.  Menurut Ny. Nirma Pantouw, ketua DPC WKRI Gembala yang Baik,  keputusan kongres inilah yang menjadi inspirasi diadakannya seminar sehari dengan tema Kiat Berkomunikasi untuk Membina Pribadi Sukses.

Dalam sambutannya, Ny. Anglea Xenia Yuwono selaku ketua panitia menyatakan bahwa tujuan diadakannya seminar ini adalah membina kemandirian pribadi sukses dengan dasar kesetiakawanan dan kebersamaan, apalagi di masa sekarang setiap individu dituntut untuk mampu  dan siap dalam menghadapi era globaliasi yang selalu maju begitu pesat.

Seminar yang menghadirkan Harry Dharsono, Bill Saragih dan Maya Rumantir ini dibuka oleh Ibu Suharsono, yang mewakili Ibu Sunarto Sumoprawiro-istri walikota Surabaya-dan dipandu oleh Troy Pantouw.

 

Sukses tidak selalu Kasad Mata

Menurut Harry Dharsono, yang hadir sebagai pembicara di sesi pertama, komunikasi merupakan hal penting dalam hidup bersosialisasi, dimana cara seseorang berkomunikasi dengan orang lain merupakan refleksi komunikasinya dengan dirinya sendiri.

Desainer kondang ini juga menyatakan bahwa kesuksesan bisa diraih kalau seseorang itu konsisten dengan apa yang dikatakan dan dilakukan, benar-benar menerima apa adanya, jujur pada diri sendiri serta menyadari keterbatasn yang ada.  Sukses yang demikian ini tentunya tidak identik dengan sudah menjadi menteri atau memiliki barang-barang yang menjadi lambang status, inilah sukses yang tidak kasad mata itu, tambahnya.

Arek Suroboyo, yang lahir pada tahun 1950, ini menyatakan bahwa tidak ada satu orang pun yang dituntut untuk sukses ataupun gagal, yang lebih penting adalah bertanggungjawab.

Selama ini orang memang cenderung melihat penampilan fisik, sehingga muncul kecenderungan pula untuk menampilkan kesan yang baik. Apa yang pertama kali kelihatan ituah yang menimbulkan kesan, lanjut peraih penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto ini.

Lulusan Department of Clothing Technolgy, London College of Fashion ini juga menyatakan bahwa sebenarnya kemapanan adalah musuh orang hidup, karena kemapanan menunjuk pada garis lurus padahal garis lurus akan selalu jatuh ke bawah karena adanya gaya berat.  Karenanya kita harus selalu flow and floating, tambahnya.

Pemegang motto Let us grow like a big tree ini menyatakan cara perkenalan  yang efektif adalah tidak membuat jarak, dan bila kita mampu masuk dalam lingkungan yang baru maka itulah sukses yang pertama.

 

Kegagalan adalah Sukses yang Tertunda

Itulah motto dari Bill Amirsyah Saragih, yang lebih dikenal sebagai Bill Saragih, karenanya jangan menyerah dan berpikirlah positif, tambahnya.

Entertainer, yang telah melanglang buana, ini mengatakan ada tiga hal penting yang harus diperhatikan ketika berbicara di depan umum, yiatu mengetahui materi yang akan disampaikan, mempersiapkan materi tersebut dengan matang serta memyesuaikannya dengan hadirin atau judul makalah.  Disarankannya pula untuk berbicara secara jelas dan tegas serta tidak bertele-tele.

Setelah menyampaikan makalahnya, jazzer kondang ini menghibur peserta seminar, yang berjumlah sekitar 300 orang, dengan lagu Unforgetable dan Waht a Wonderful World.

 

Komunikasi, Kunci Pribadi Sukses

Menurut Maya Rumantir, Presiden Direktur IPSDM Maya Gita, komunikasi menjadi sarana penting untuk membina pribadi sukses karena merupakan keterampilan yang paling penting dalam kehidupan.  Meskipun begitu, komunikas yang baik tidak dapat muncul dengan sendirinya, tambahnya, dan untuk mencapai hal ini perlu diciptakan suatu komunikasi yag terarah dan benar.

Doktor lulusan Columbia University, Louisiana USA dalam bidang Human Communication ini menyatakan bawah komunikasi terutama dimaksudkan untuk meningkatkan partisipasi semua yang terlibat terutama dalam mengembangkan sikap mental dan perilaku positif.

   Pemilik lesung pipit yang pernah populer di tahun 1980-an sebagai seorang artis ini juga menyatakan bahwa ada beberapa cara yang dapat dipakai untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam berkomunikasi, yaitu berkomunikasi dua arah, menemukan titik pemahaman bersama, timing yang tepat, menggunakan bahasa sederhana serta menjadi pendengar yang baik.

Penerima penghargaan Career Woman of the Year 1992 ini menyebut kepercayaan mendalam pada diri sendiri dan orang lain, keberanian tidak malu dan ragu-ragu, inisiatif yang berkembang, bekerja secara intensif, efektif dan kreatif, semangat kerja dan antusiasme, jujur terhadap diri sendiri, menghargai diri sendiri dan orang lain, mampu  mengasih dan dikasih orang lain, lebih senang memberi daripada menerima, meninggalkan egoisme serta sifat kompetitif, mampu membedakan realitas dan angan-angan, bebas dari konflik dengan diri sendiri, mampu menyesuaikan diri, mampu mencapai integritas dalam kehidupan, perkembangan dan perwujudan diri sebagai ciri-ciri dari pribadi yang sukes. (A.B. Lindawati)

Liputan: Paroki St. Yosef Mojokerto

                                                     Geliat Mudika Mojoagung

 

Meskipun sebagian besar kaum mudanya berada di luar kota, untuk melanjutkan studi maupun bekerja, tak membuat stasi Santo Aloysius Gonzaga Mojoagung tidak mempunyai wadah bagi kaum mudanya.  Stasi yang terletak di Kabupaten Jombang tetapi termasuk Paroki Santo Yosef Mojokerto ini, setiap dua tahun mengadakan pergantian pengurus mudika.

Bulan Agustus lalu telah terbentuk kepengurursan periode 1994-1996 yang diketuai oleh E. Nurgahayati (selengkapnya dapat dilihat di box).

Bebagai program dilontarkan dalam rapat kerja, mulai dari doa rosario sampai pendalaman iman, mulai dari sensus anggota sampai ulang tahunan, mulai dari mengadakan Sabtu Gembira bagi anak-anak SD dan SMP sampai baksos alias bakti sosial yang akan diadakan menjelang Natal.  Dan setumpuk agenda lain.

Inilah langkah awal mereka, mewujudkan obsesi, idealisme dan kreativitas-yang tentunya tidak selalu sama dengan para orang tua,  Mereka juga masih butuh dukungan, bimbingan, dampingan, dana dan tentu saja doa.  Karena tidak hanya anggota mudika yang menentukan berhasilnya program-program mereka.

Bagaimana dengan mudika di tempat lain?  Bagaimana kalau kita saling bertukar informasi lewat majalah kita ini? (abe)

 

Susunan Pengurus Mudika Santo Aloysius Gonzaga Mojoagung

Periode 1994-1996

 

Ketua : E. Nurgahati

Sekretraris : Silvia Vita K,

Bendahara : K. Arsiwi dan Susiana

Sie Liturgi : Paulus Wowon dan Wisnu Kharisma

Sie Pendidikan: Rosa Deima dan Susmonowati

Sie Humas : Erwin dan Y. Ari

Sie Kesejahteraan: A.B. Lindawati P, M. Linggawati P. dan Susan

 

Memahami Advent dan Menyongsong Natal

 

Membangun sikap penantian, keterbukaan dan keterlibatan adalah beberapa hal yang perlu diwujudkan dalam masa Advent.  Demikian dikatakan Romo. J. Haryanto, CM dalam rekoleksi yang diadakan oleh Persekutuan Doa Karismatik Katolik Santo Stefanus Paroki Santo Yosef Mojokerto baru-baru ini di SDK Wijana.

Menurut Pastor Paroki Ngagel Surabaya ini, Advent juga bisa diartikan sebagai meningkatkan peran serta dalam hidup dengan orang lain.  Dalam masa penantian ini, bisa muncul 2 sikap yaitu sibuk atau justru tidak berbuat apa-apa, tambahnya.  Tetapi seharusnya justru diisi dengan kegiatan menggereja.

Sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik dilontarkan oleh Romo Haryanto, yang adalah Vikjen Keuskupan Surabaya ini, yaitu apakah sikap dan perbuatan kita sudah terarah ke kegiatan yang mengingatkan akan mimpi yang terlupakan, yaitu suatu cara hidup baru dengan teladan dan pengabdian, bila perlu juga bertindak sebagai nabi?  Ditambahkan juga, dalam diri orang lain walaupun tidak sempurna, bahkan yang berbeda keyakinan dan pendapat.  Allah menunjukkan kebesarannya.

Natal, menurut Romo Haryanto, berarti keramahtamahan di beranda dan kedermawan hati. Dalam kesempatan ini beliau juga menceritakan cerita Dietrich Bonhoeffer, seorang pengarang Jerman, tentang anak seorang Rabbi yang sedemikian asyik membaca Kitab Suci sampai-sampai tidak mendengar tangis adiknya.  Sang ayah kemudian bertanya, Mengapa kamu tidak mendengar tangis adikmu?  Dijawabnya, Aku sedemikian asyik dan tenggelam dalam Allah sampai aku tak mendengar apapun. Sang ayah menjawab, Siapa yang tenggelam dalam Allah, ia akan melihat seekor lalat yang merayap di tembok dan pasti mendengar tangis seorang anak.    Siapa yang tidak melihat lalat dan tak mendengar tangis bayi, tidak tenggelam dalam Allah tetapi tenggelam dalam dirinya sendiri.

Sebelum mengakhiri rekoleksi ini, Romo Haryanto mengajak peserta rekoleksi, yang berjumlah sekitar 150 orang dari berbagai stasi dan wilayah di Paroki Mojokerto, untuk mengadakan refleksi,Sudahkah kita mendengar tangis bayi yesus, yaitu Allah yang menyamakan diri dengan orang-orang yang menangis? (Abe)

 

Rekoleksi Advent

Dengan maksud untuk melihat kembali apakah talenta untuk mewartakan Kristus sudah dilakukan dengan sebaik-baiknya karena Kristus akan datang untuk melihatnya, stasi Santo Aloisius Gonzaga Mojoagung mengadakan rekoleksi pada tanggal 22 Desember 1994 bertempat di SDK Wijana.

Hadir sebagai pembimbing Frater Kristianus Ratu dan Frater Davis Don Wadin-keduanya sedang studi di STFT Widya Sasana Malang-dan diikuti oleh sekitar 30 orang umat dari berbagai kelompok umur.

Dalam kesempatan ini Frater Kris-panggilan Frater Kristianus-menyatakan bahwa buah-buah iman haruslah disebarkan dalam hidup sehari-hari.  Advent dimaksudkan untuk mempersiapkan diri menerima kedatangan Tuhan, dengan bertobat dan mendatangkan kedamaian dalam masyarakat di lingkungan kita/orang banyak, tambahnya.

Menurut Frater Davis, Kristus tidak dapat dipikirkan, aneh dan tidak dapat dimengerti.  Dikatakannya pula bahwa seringkali kita memaksa Allah untuk menuruti kehendak kita, apa yang kita mau, pikirkan, yakini, rindukan tetapi kita melupakan bahwa sebetulnya yang harus kita terima adalah yang sesuai dengan kehendak Allah lewat perbuatan.

Acara rekoleksi ini diakhiri dengan Lectio Divina, yang secara harafiah searti dengan bacaan ilahi, mengajak umat untuk berdoa dari Kitab Suci dengan melalui tahap membaca, merenungkan, tanya jawab dan berdoa.  Pengumatan Lectio Divina ini merupakan program dari STFT Widya Sasana Malang bagi para frater yang sedang menjalani tahun pastoral, yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dalam kesempatan ini juga muncul kerinduan umat akan kesempatan-kesempatan bertanya tentang berbagai masalah hidup menggereja maupun bernegara.  Akankah kerinduan ini mendapat jawaban? (Abe)

Liputan: Paroki Katedral Bogor

                                                     


P.S. Berita Umat Mei 91


Kidungkanlah Lagu, Pujilah Tuhan

 

Bertepatan dengan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam tanggal 24 November lalu di Aula Regina Pacis Bogor telah diadlkan Lomba Koor dan Festival Lagu Gereja Paroki Katedral Bogor.

Dengan mengambil tema Kidungkanlah Lagu, Pujilah Tuhan; lomba dan festival ini diikuti oleh sembilan kelompok koor dan sepuluh kelompok paduan suara peserta festival.

Lomba koor, yang merupakan acara pokok, dimaksudkan untuk menggiatkan umat dalam liturgi melalui koor wilayah, yang nantinya untuk bertugas di Perayaan Ekaristi di gereja Katedral Bogor.  Tahun ini, yang merupakan penyelenggaraan yang kelima kalinya, setiap wilayah diwajibkan untuk mengirimkan wakilnya tetapi karena wilayah Ciampea sedang sibuk dengan pembangunan Gereja maka untuk tahun ini mereka absen.

Salah satu wilayah yang pantas untuk disoroti adalah wilayah Cigudeg, yang terletak di perbatasan dengan paroki Rangkasbitung, karena meskipun sedikit jumlah umat Katoliknya dan terletak di daerah yang cukup berpencar mereka tetap mengirimkan wakilnya.  Sebuah partisipasi yang patut mendapat ancungan topi tampaknya.

Romo Haruna, Pr selaku Ketua Pelaksana dalam kesempatan terpisah mengemukakn bahwa penyelenggaraan kali ini paling meriah karena hampir semua wilayah mengirimkan wakilnya.  Wakil Ketua sie Liturgi Paroki Katedral ini juga mengemukakan bahwa lagu-lagu untuk lomba koor ini semuanya diambil dari Madah Bakti (wajib dan pilihan) dengan alasan lagu-lagu tersebut sudah dikenal oleh setiap umat sehingga tentunya akan memudahkan dalam menyiapkannya apalagi bila mengingat waktu persiapannya yang cukup pendek.

Penyelenggaraan lomba koor ini direncanakan akan diubah menjadi dua tahun sekali, demikian kata Romo Haruna, yang telah empat kali ini menjabat sebagai ketua panitia lomba koor, alasannya untuk meringankan beban wilayah-wilayah terutama dalam hal dana dan diharapkan dapat mengikutsertakan koor dari paroki lain sebagai pembanding bagi kelompok-kelompok koor wilayah di lingkungan Paroki Katedral.  Kalau kali ini hampir semua wilayah mengirimkan wakilnya, maka itu merupakan gebrakan dari Pastor Paroki Katedral Romo Hadjono, Pr yang mewajibkan semua wilayah untuk ikut serta dalam lomba ini, demikian tambah Romo yang gemar bersepakbola ini.

Sebagai hasilnya tampil kelompok koor dari wilayah Bogor Timur sebagai juara pertama sehingga berhak membawa pulang piala tetap dan piala bergilir Pastor Paroki Katedral, sedangkan juara kedua dipegang oleh kelompok koor dari wilayah Jalan Baru, wilayah Pondok Rumput berhak menggondol piala tetap untuk juara III.

Selain itu, para juri yang terdiri dari Ignasius Harya S, Y.S. Wibawa Singgih dan Ignatius Kristopo, ketiganya dari Paroki St. Paulus Depok, menetapkan tiga orang dirigen wilayah terbaik, yaitu Ibu Yanti Marhadi dari wilayah Bogor Timur, Bapak Gunarto dari wilayah Pondok Rumput dan Bapak Bambang dari wilayah Jalan Baru.

Untuk festival lagu gereja diikuti oleh kelompok-kelompok koor bukan wilayah dan untuk tahun ini merupakan penyelenggaraan yang kedua kalinya.  Yang ditentukan oleh panitia hanya jenis lagunya, misalnya lagu untuk pembukaan, persembahan dan lain-lain sedangkan peserta boleh memilih judul lagunya secara bebas.  Untuk lagu pilihan syartanya hanyalah harus terdapat di Madah Bakti seperti halnya lagu wajib.

Seperti halnya untuk peserta koor, peserta festival juga diperbolehkan untuk membawa teks, dan yang dinilai adalah mutu suara, penjiwaan serta teknik koor/paduan suara, yang meliputi homogenitas, ketepatan nada, pengucapan kata dan pernafasan, dan tentu saja penampilan.

Dewan juri, yang sama dengan lomba koor, akhirnya menetapkan PS SMP Regina Pacis berhak menggondol piala tetap juara pertama dan trophy bergilir Festival Lagu Misa Paroki Katedral Bogor.  Sedangkan yang berhak untuk piala tetap juara II dan II adalah PS SMA Regina Pacis dan PS Seminari Stella Maris Bogor.

Dalam kesempatan ini Christiani dari SMA Regina Pacis ditetapkan sebagai dirigen festival terbaik bersama Jackline dari SMP Regina Pacis dan Ibu Agustine dari PS Mudika Jalan Baru.

Romo Haruna dalam kesempatan terpisah mengungkapkan harapannya agar pada penyelenggaraan festival yang akan datang, peserta lebih banyak lagi meskipun untuk kali ini peserta sudah memenuhi target.

Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya kegiatan ini dan juga ucapan selamat berlomba serta semoga berhasil dengan baik.

Dan tampaknya ungkapan Romo Haruna bahwa kegiatan ini merupakan pesta paroki tidaklah salah bila melihat banyaknya umat yang hadir untuk melihat mereka-mereka yang sedang berlomba dan berfestival.

Lomba koor dan Festival Lagu Gereja telah usai, tentunya ada sepercik kenangan di hati setiap umat yang menghadiri acara tersebut semoga saja semuanya itu semakin memberi semangat agar kelompok-kelompok koor di lingkungan Paroki Katedral semakin bermutu, bukankah Santo Agustinus sendiri mengatakan Bene cantat bis orat, yang artinya orang bernyanyi dengan baik berdoa dua kali!  Akhirnya untuk para pemenang, Selamat untuk keberhasilannya!

 

Pengirim: A.B. Lindawati P

 

Selamat Ulang Tahun, Mo

 

Hujan deras yang mengguyur kota Bogor 13 Desember lalu ternyata tidak menghalangi niat sebagian umat Wilayah Bogor Timur untuk menghadiri Perayaan Ekaristi di SMKK Baranangsiang.

Perayaan Ekaristi ini dimaksudkan sebagai ungkapan syukur untuk hari ulang tahun imamat Romo Wilayah Bogor Timur, Romo Yoseph Hardjono, Pr, yang ke empat belas dan juga sebagai ungkapan syukur atas kemenangan koor Wilayah Bogor Timur sebagai juara I dalam Lomba Koor dan Festival Lagu Gereja yang baru lalu.

Tepat pukul tujuh dua puluh menit, dari bagian belakang kapel susteran Gembala Baik, mengalun intro lagu pembukaan.  Ya Yesus hamba sedia jadi karyawan setia, membaharui dunia, menuju bahagia..., demikian umat mengawali misa ini, yang diperkuat oleh barisan koor di bagian belakang.

Dalam kotbahnya, Romo Hardjono mengatakan bahwa kemenangan membutuhkan perjuangan dan juga mengandung kesulitan.  Tidak sedikit orang yang tidak bisa menerima kemenangan orang lain, iri hari terhadap kemenangan orang lain, demikian tambahnya.  Itu artinya yang bersangkutan tidak sportif, lanjutnya.

Hal ini juga dialami oleh koor Wilayah Bogor Timur, yang memang baru dibentuk beberapa saat sebelum pelaksanaan lomba koor, ada suara-suara sumbang yang beredar sehubungan dengan kemenangan koor wilayah yang satu ini.  Ada yang mengatakan bahwa selaku Pastor Paroki, Romo Hardjono telah mempengaruhi hasil penilaian tim juri sehingga yang mendapatkan kemenangan adalah koor-koor yang ada di wilayahnya.

Memang dalam rapat tim juri, Romo Hardjono hadir dalam kapasitasnya sebagai Pastor Paroki, demikian juga halnya Romo Haruna dalam kapasitasnya sebagai ketua pelaksana, tetapi peranan Romo Hardjono dalam rapat ini hanyalah sebagai notulis yang menyalin kembali hasil keputusan tim juri.  Dan bahkan beliau sendiri tidak tahu pemenangnya dengan pasti karena hasil keputusan itu menunjuk pda nomer urut peserta.

Sejak semula telah dikatakan bahwa keputusan juri tidak dapat diganggu gugat, sehingga apapun keputusan juri tentunya harus diterima, tambahnya.  

“Ini mungkin kado ulang tahun imamat saya yang ke empat belas,lanjutnya menanggapi adanya suara-suara sumbang itu.

Kini,  masih kata Romo Hardjono, ada kelompok koor yang sampai batas waktu yang tidak ditentukan tidak mau bertugas di gereja.  Padahal bertugas koor, bukanlah untk pastor tetapi untuk memuliakan Tuhan.  Sebagai seorang Pastor Paroki, beliau tentu senang bila koor-nya bagus tetapi sekali lagi bukan untuk beliau.

Romo Hardjono meminta koor wilayah Borogr Timur, yang belum mempunyai nama ini, tetap jalan terus karena tujuannya bukan hanya untuk menang tetapi lebih pada memuliakan Tuhan lewat lagu.

Tentang hari ulang tahun imamatnya, yang tepat pada tanggal 12 Desember, Romo mengatakan bersyukur.  ”Tetapi bahasa saya tidak cukup untuk mengungkapkan rasa syukur itu, tambahnya.  Rasa syukur itu tidak bisa dinyatakan sendirian, karenanya beliau mengajak umat yang hadir untuk bersama-sama bersyukut kepada Tuhan lewat perayaan Ekaristi ini.

Beliau juga mensyukuri segala apa yang ada padanya; pergaulan meskipun tidak terlalu luas tetapi cukup, kotbah yang tidak terlalu bagus tetapi bisa.

Dikatakannya bahwa yang dibutuhkannya adalah doa dan semangat dari umat.  Sering beliau ini ditanya oleh umat, Minta apa Mo? tetapi beliau selalu mengatakan, Saya sudah kaya, yang lebih saya butuhkan adalah doa.

Sebagai akhir dari kotbahnya, Romo mengucapkan terima kasih untuk semua doa, semangat dan perhatian dari umat Wilayah Bogor Timur.

Sebelum memberikan berkat, Romo Hardjono menawarkan tiga buah nama untuk dipilih salah satu sebagai nama koor dari Wilayah Bogor Timur ini seperti yang dijanjikannya di awal perayaan Ekaristi,  akhirnya nama yang dipilih adalah Santa Bernardin.  Dan kemudian Romo mengumumkannya secara resmi yang diikuti oleh tepuk tangan umat yang hadir.

Lagu Gereja bagai bahtera mengarungi jaman, Tuhanlah bintang pedoman arah dan tujuan...mengakhiri perayaan Ekaristi ini.

Acara selanjutnya adalah santap malam yang diawali dengan sambutan dari Ketua Wilayah Bogor Timur, Ibu Astrid W., yang dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan untuk Romo Hardjono dan Bapak-Ibu Marhadi (mewakili anggota koor) oleh Ketua Wilayah.

Pemotongan tumpeng nasi kuning dilakukan oleh Romo Hardjono untuk diri sendiri dengan diiringi lagu panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia....

Ibu Yanti Marhadi selaku dirigen koor wilayah Bogor Timur ketika ditanya tentang kemenangan koor Wilayah Bogor Timur mengatakan bahwa kemenangan ini merupakan titik awal bukan titik akhir dari koor Wilayah ini, yang dibutuhkan adalah kelanggengan.  Komentar tentang terpilihnya Ibu Yanti Marhadi sebagai salah satu dari tiga dirigen wilayah terbaik, wanita berusia 33 tahun ini hanya mengatakan bahwa semua dirigen juga baik asal benar-benar dihayati.

Perayaan Ekaristi dan acara santap malam bersama yang dihadiri oleh wakil-wakil dari semua lingkungan yang ada di Wilayah Bogor Timur ini akhirnya ditutup dengan doa penutup oleh Romo Hardjono, setelah sebelumnya para anggota koor memperdengarkan suaranya dengan menyanyikan lagu Yo ben (benar nggak cara nulisnya?) yang artinya, kalau tidak salah, ya biarkan.

Sebagai penutup dari tulisan ini, terucap Selamat ulang tahun imamat ke empat belas untuk Romo Hardjono dan Selamat untuk kemenangannya untuk kelompok koor dari Wilayah Bogor Timur. (ab)  

 

Yang Datang dan yang Pergi

 

Paroki Katedral melepas lagi kepergian salah seorang gembalanya di hari Sabtu, 14 Agustus 1993 lalu.  Tiga tahun sudah jabatan sebagai pastor Paroki Katedral dipegangnya.  Siapa beliau? (seperti kuis saja ya?)  Ya..tak salah lagi, Y. Hadjono, Pr namanya.  Tiga tahun bisa jadi masa yang panjang dan juga bisa jadi masa yang sangat pendek, tergantung darimana melihatnya.  Yang jelas pasti telah begitu banyak suka dan duka yang dialami, tentu juga ada kerikil-kerikil tajam yang menghadang di jalan dan bahkan mungkin badai.  Semua telah lewat...hari baru, tugas baru dan domba-domba baru menanti di Paroki Sukabumi.

Sebagai gantinya adalah Benyamin Soedarto, Pr , sebelumnya adalah Pastor Paroki Sukabumi, yang telah hadir di Pasturan Katedral sejak awal Agustus lalu.

Bertepatan dengan pesta paroki, Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, dilangsungkan upacara serah terima jabatan dalam sebuah perayaan Ekaristi dengan selebran utama Mgr. Leo Soekoto, SJ didampingi Y. Hadjono Pr dan B. Soedarto, Pr.

Upacara serah terima jabatan dilakukan sebelum berkat, yang diawali dengan pembacaan SK Bapa Uskup, Mgr. Ignasius Harsono, untuk Y. Hardjono, Pr dan untuk B. Soedarto, Pr sehubungan dengan tugas baru masing-masing oleh Heru Wihardono, Pr.

Setelah Perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan ramah tamah di BPK yang dihadiri oleh sekitar 200 orang, yang terdiri dari para imam, suster, umat serta Mgr. Leo Soekoto, SJ.

Acara dibuka dengan sambutan dari Romo Heru selaku ketua panitia dan dilanjutkan dengan sambutan dari wakil umat, yaitu Bapak Sarumpaet.  Dalam sambutannya, Pak Sarumpaet antara lain menyatakan bahwa Romo Hardjono termasuk salah satu dari pengkotbah yang terbaik.  Dikatakannya pula bahwa kalaupun sekarang beliau harus pindah, itu karena sebagai imam mirip dengan militer yang harus tunduk pada komando atasan.

Acara selanjutnya adalah sambutan dari Romo Hardjono.  Dalam kesempatan ini beliau membacakan sebagian dari memori serah terima yang dibuatnya dengan terburu-buru.  Antara lain tentang apa yang telah dilakukan selama ini dimana titik beratnya adalah pembangunan fisik, apa yang telah direncanakan tetapi ini diserahkan kepada pastor paroki yang baru mengenai realisasinya, yang menitikberatkan pada pengembangan sumber daya manusia serta dana yang sekarang dimiliki oleh Paroki, sekitar 150 juta (Lihat selengkapnya di memori serah terima).

Beliau juga mengucap terima kasih atas kerjasama yang sangat baik selama ini.  Dikatakannya bahwa umat selalu menyapa dan menyemangati.  “Bantulah dan doakanlah Romo Darto, adalah pesan terakhir beliau sebagai pastor Paroki Katedral kepada umatnya.  Diakuinya bahwa dalam karya pastoral banyak kekurangannya, umatlah yang melengkapinya.

Acara, yang dipandu oleh Ibu Uniarti Dicky ini, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Romo Darto.  Beliau mohon dengan sangat kerjasama dari ketua-ketua wilayah dan perangkatnya.  Dikatakannya bahwa dalam situasi keterbukaan yang sehat akan tercipta umat beriman yang dikehendaki oleh Allah sendiri.

Sambutan terakhir adalah dari Mgr. Leo Soekoto, SJ.  Dengan sikap yang santai, beliau menyampaikan sambutannya.  Menurut beliau pergantian pastor adalah hal yang biasa karenanya beliau tidak terharu.  Dikatakannya pula bahawa upacara serah terima tadi lebih hebat dari militer.  Beliau kemudian menceritakan bahwa ada umat dari salah satu paroki di Jakarta datang kepada beliau dan meminta agar pastornya diganti dengan berbagai alasan.  Kemudian Monsinyur menanyakan mau minta pastor yang seperti apa dan bahkan diberi kesempatan untuk mengutarakan sebanyak-banyaknya sampai-sampai umat bingung mau mengatakan apa lagi.  Dengan santai Monsinyur kemudian mengatakan bahwa di KAJ tidak ada pastor yang seperti itu, jadi tinggal pilih tetap dengan pastor yang lama atau pastor itu dipindah tetapi tidak diberi gantinya.

Beliau juga mengatakan bahwa mutu umat tergantung gembalanya tetapi lebih penting lagi mutu gembala tergantung umatnya.

Sebelum makan malam, umat diberi kesempatan untuk menyampaikan kenang-kenangan untuk yang akan pergi.  Sambil menikmati makan malam, yang hadir disuguhi beberapa atraksi dari sekolah-sekolah termasuk pembacaan puisi oleh Bapak Kusnadi (Lihat ”Selamat Jalan Gembalaku“)

Acara perpisahan telah usai (telah sebulan lebih, ketika tulisan ini dibuat) tapi tentu ikatan batin yang telah lama tercipta tidak mudah untuk dipisahkan.  Tentu kita semua berharap agar kenangan-kenangan yang telah terjadi bisa menjadi bahan refleksi untuk kemudian melangkah dengan lebih baik lagi.  Untuk Romo Hardjono, Selamat Jalan Romo dan Selamat bertugas di ladang baru! Dan untuk Romo Darto, Selamat datang Romo dan Selamat berkarya pastoral di Paroki Katedral!” (ab)