Sharing: Tim Pendamping IPB


Berbicara tentang Tim Pendamping IPB tentu tidak bisa dilepaskan dari Asisten Agama Katolik IPB (AAK IPB) dan Kelompok Pendamping Mahasiswa UI (KPM UI).
AAK IPB terdiri dari mahasiswa katolik senior, dengan tujuan membantu pastor mahasiswa (waktu itu Pater Yustinus Semiun, OFM) dan Bang Felix (dosen sosiologi di IPB) dalam kelas agama Katolik termasuk mengorganisir retret tahunan bagi para mahasiswa katolik Tingkat Persiapan Bersama (TPB) yang baru datang dari berbagai daerah. Tidak ada pelatihan resmi bagi para asisten ini.
Sejak tahun akademik 1990/1991 saya menjadi AAK IPB. Beberapa teman (kalau tidak salah Toro, Yosaphat dan mas Kunto) dan saya mengikuti Malam Minggu Mahasiswa (MMM) yang diadakan oleh KPM UI di Wisma Sahabat Yesus (Wisma SY), Depok. Saya kemudian mengikuti Pelatihan Dasar Pendamping Mahasiswa (PDPM) yang diadakan oleh KPM UI sebagai pembekalan bagi para pendamping yang akan mendampingi di MMM. Kami mengenal KPM UI dari Rm. Ismartono, SJ selaku pastor mahasiswa UI.
Adanya keluhan tentang sikap senioritas para asisten, termasuk adanya perploncoan ringan di awal kuliah agama katolik, dan pengalaman positif selama mengikuti MMM dan PDPM mendorong saya, selaku koordinator AAK IPB 1992/1993, meminta kesediaan KPM UI (Harris Sunyoto, F.X. Buntoro, Surya, dll) untuk mengadakan PDPM bagi calon AAK IPB 1993/1994. Rm. Is bersedia meminjamkan Wisma SY, Depok sebagai tempat pelatihan sedangkan dana sepenuhnya meminta dari APP Keuskupan Bogor. Saya pun menyiapkan proposal untuk acara pelatihan perdana ini.
Pada hari H pelatihan sebelum berangkat ke Wisma SY, mata saya sampai berkaca-kaca karena saya belum bisa menerima dana dari Tim APP. Saya tetap berangkat ke Wisma SY karena pelatihan tidak bisa ditunda lagi. Tuhan menyediakan seorang penolong. Ketika saya menyampaikan kepada Rm. Is bahwa saya belum memegang dananya, beliau bersedia meminjami dulu. Nasi bungkus dipesan di kantin sebelah Wisma SY. Air minum masak sendiri.
Malam pertama PDPM, ada beberapa peserta yang tidak puas karena PDPM lebih cenderung bottom up dan bukan top down sebagaimana umumnya pelatihan. Tetapi acara berjalan terus sebagaimana sudah direncanakan dan akhirnya menjadi model untuk pelatihan pendamping selanjutnya. KPM hanya tahu lebih dulu dan bukan serba tahu dari calon pendamping, KPM dan calon pendamping berproses bersama-sama selama proses pelatihan yang bertujuan untuk menyiapkan calon pendamping untuk menjadi pendamping. Materi pelatihan cukup padat (sayang saya sudah tidak ingat lagi).
Karena perubahan konsep ini, yang melepaskan senioritas, berproses bersama-sama dengan yang didampingi, maka nama AAK IPB diganti menjadi Tim Pendamping mulai tahun akademik 1993/1994.
Ketika ditanya bagaimana tim pendamping di masa depan, saat itu (akhir 1993) pada intinya saya hanya bisa mengatakan, tergantung mereka yang ada di tim pendamping masa depan. Hal ini karena materi yang diberikan di masa sekarang belum tentu sesuai dengan masa depan tetapi tentu konsep sebagai seorang pendamping, dan bukan senior baik bagi para mahasiswa TPB maupun bagi calon pendamping, tetap harus dipertahankan.
Saya hanya sempat mengikuti pelatihan pendamping satu kali setelah lulus, itupun hanya beberapa jam. Kalau tidak salah di daerah Puncak. Tahun 2002an saya ikut milis tim pendamping tetapi kemudian tidak aktif karena kapasitas mailbox yang terbatas dan baru bergabung lagi Juli 2007, itupun tidak bisa mengikuti semua perbincangan di milis.
Lebih dari lima belas tahun telah berlalu, sekarang tim pendamping jauh lebih terorganisir dalam program-programnya termasuk adanya milis yang menjadi penghubung antara semua pendamping (aktif dan pasif).
Pengalaman didampingi dan mendampingi mempengaruhi saya dalam upaya melepaskan senioritas, meski seringkali tidak mudah, dalam hidup sehari-hari di masa-masa selanjutnya. Inilah salah satu bentuk non-kekerasan, sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus sendiri.

Hyde Park – Chicago, 1 Maret 2008



Linda AB, M.M. - KP 1993
Let’s make God’s love visible

P.S.
Saat ini Tim Pendamping sedang mengadakan Pelatihan Pendamping ke-19 selama seminggu di Vila Brevi Puncak-Cisarua. Kemarin siang, saya sempat membaca detail persiapan PP, termasuk materi, menu makanan, pembagian tugas, dll, yang membuat saya salut dengan komitmen dan dedikasi Tim Pendamping dalam menyiapkan program-programnya.
Pada PP pertama di tahun 1993, semuanya (pendamping, materi pelatihan, dan dana) tergantung pada pihak lain, tapi dengan berjalannya waktu Tim Pendamping sudah mampu mengadakan open house, pencarian dana, upgrading, wawancara calon pendamping, retret, milis, blog http://timpendamping.com/, dll.
Sembilan belas tahun lalu, Tim Pendamping adalah seekor ulat dan kini telah menjadi kupu-kupu berkat dedikasi dan komitmen para pendamping. Saya tahu ini tentu tidak lepas dari proses kerja dan tidak, duka, amarah, sakit hati, dendam, tangis, ketegangan, bimbingan, perintah, paksaan, kebingungan, tekanan, kerumitan, kepura-puraan, keegoisan, kegagalan, namun ada suka, main, tawa, pengampunan, kebersamaan, dan keberhasilan sebagaimana ditulis oleh Lumban dalam ide pelatihan pendamping. Pengalaman selama menjadi pendamping tidak hanya berguna semasa menjadi pendamping tetapi juga di masa-masa selanjutnya, sebagaimana yang disampaikan oleh Dyo: “…namun sekarang mulai terlihat hasilnya, beruntung aku telah memberanikan diri untuk memilih sebagai bola tenis saat semua hal yang tidak sesuai dengan keinginanku terjadi di dalam Tim Pendamping. Bukan sebagai sebutir telur. Karena telur terlihat kuat cangkangnya namun saat jatuhkan ke lantai akan langsung pecah, berbeda halnya dengan sebuah bola tenis…. terlihat lembek luarnya namun saat dilemparkan ke lantai dia akan bisa meloncat ke atas dan semakin keras kita melemparkannya ke lantai makin tinggi pula bola itu akan melambung.” http://timpendamping.com/catatan-kehidupan/telur-vs-bola-tenis.
Saya doakan dari jauh semoga Tim Pendamping terus bisa menjadi tempat berubahnya ulat menjadi kupu-kupu, di tengah berbagai perbedaan yang ada, bagi setiap pendamping yang sudah dan akan bergabung dan semoga PP kali ini berjalan sesuai dengan rencana.

Hong Kong, Aug 12, 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible