Sharing: Women Ignatian Retreat


Setelah mempertimbangkan beberapa hal, saya memutuskan mengikuti “Women Ignatian Retreat” di Puri Indah Golf Resort Batam dengan menempati beberapa kamar apartemen. Perjalanan dimulai dari Surabaya dengan transit di Jakarta. Terima kasih kepada Rm. Antun, SS.CC, yang telah memberikan hospitalitas selama di Batam. Ini adalah kunjungan pertama ke Batam.Retret dimulai 8 Jul 2007 sore, yang diberikan dalam bahasa Inggris oleh Rm. Daniel Couture, SSPX dan Rm. Roy Dolotina, SSPX karenanya Ekaristi dilakukan sesuai buku misa Pius V (imam menghadap altar dan berbahasa latin, selengkapnya bisa dilihat di website Society of Saint Pius X di http://www.sspxasia.com/, artikel berbahasa Indonesia dapat ditemukan dengan memilih bendera Indonesia, tetapi saya baru tahu kemudian bahwa pendiri Society of St. Pius X telah diekskomunikasi oleh Vatikan).Sebelum berangkat, saya sudah mengatakan kepada Rm. Dolotina bahwa saya tidak mempunyai rok dan beliau mengatakan boleh datang apa adanya. Saya menjadi satu-satunya peserta yang memakai celana jeans dan Veronica meminjamkan kerudung putihnya (dan di akhir retret memberikannya kepada saya). Veronica dan Giok berasal dari Indonesia tetapi keduanya bekerja di Singapore. Secara umum, acara harian adalah ibadat pagi, meditasi/kontemplasi (5 kali sehari @ 15-20 menit), Ekaristi, instruksi, doa rosario dan ibadat malam. Doa dan meditasi dilakukan dengan berlutut dan di hari ketiga saya membawa bantal (sekamar dua ranjang tapi hanya diisi satu orang) untuk berlutut sebagaimana yang dilakukan oleh Susan di hari kedua. Meskipun begitu saya masih tidak tahan berlutut di semua doa, biasanya saya bersila ketika meditasi atau ketika sudah tidak kuat berlutut lagi. Pada waktu makan, peserta bergantian membacakan artikel dari buku “Mengikuti Jejak Kristus” atau dari tulisan tentang St. Theresia Lisieux yang ditulis oleh Celine, saudarinya. Selama retret berlaku “full silentium” sehingga saya nyaris hanya berbicara dengan Rm. Dolotina sewaktu konseling. Meskipun setiap hari mengikuti Ekaristi, tidak ada penerimaan Komuni sampai 11 Juli 2007, yaitu setelah menerima sakramen pengampunan dosa termasuk pengakuan dosa umum, yaitu pengakuan dosa sejak mulai dibaptis atau sejak menerima Komuni Pertama). Sebagai informasi, St. Theresia Lisieux mempersiapkan diri beberapa tahun sebelum menerima Komuni Pertama.Ada sebelas peserta wanita, tiga diantaranya single. Ini merupakan retret Ignatius (30 hari), yang mengikuti semangat dan norma Rm. Vallet (1883 – 1947) sehingga hanya lima hari. Beberapa hal yang disampaikan oleh Rm. Couture adalah Prinsip dan Dasar Hidup, dimana manusia diciptakan untuk mengetahui, mencintai dan melayani Allah tetapi tidak banyak orang tahu dimana letak kebahagiaan sejati. Tidak ada lagi kerahiman Allah setelah kematian. Iman bukan perasaan (bukan “saya percaya karena saya nyaman”), bukan melihat (bukan “saya percaya karena saya melihat”), bukan menyetujui (bukan “saya percaya karena saya setuju”). Neraka harus dilihat dalam konteks kerahiman Allah, dimana neraka ada, kekal, sebuah tempat, dimana setan dan jiwa yang meninggal dalam keadaan berdosa berat. Tidak perlu percaya akan adanya neraka untuk pergi ke neraka. Tidak ada iman di surga karena sudah melihat dan memiliki Allah, tidak ada harapan tetapi hanya ada cinta. Iman tidak berubah karena Tuhan tidak berubah. Menurut St. Pius X, moderisme menggantikan iman dengan perasaan. Iman dapat meningkat atau hilang, merupakan berkat Allah. Berdoa dengan yakin, teguh, dan kerendahan hati. Menurut St. Paulus, hidup kita adalah panggilan pada hidup kekal. Melakukan hal biasa dengan maksud luar biasa. Empat luka akibat dosa asal adalah : “wound of ignorance” (kesulitan dalam mengingat), “wound of will“ (keinginan untuk melukai), “wound of weakness” (kurang teguh), “wound of concupience” (tubuh menolak mematuhi jiwa). Pendidikan dimulai sejak dalam kandungan dan anak-anak terbentuk secara lengkap pada usia empat tahun. Neraka terdiri dari empat lapisan: “limbo of the fathers” (tempat para bapa bangsa sebelum kematian Kristus, sekarang sudah tidak ada lagi), “limbo of the children” (tempat anak-anak yang meninggal dengan dosa asal), purgatory (api penyucian, tempat mereka yang meninggal dalam keadaan rahmat tetapi harus menjalani denda dosa) dan “hell of the damn” (tempat setan dan mereka yang meninggal dalam keadaan dosa berat). Kita harus hanya mempertimbangkan tujuan penciptaan manusia, yaitu untuk memuji Allah Tuhan kita dan untuk penyelamatan jiwa. Beberapa hal yang disampaikan oleh Rm. Dolotina adalah Kristus menganugerahkan semua rahmat dari korban salibNya melalui Ekaristi, yang merupakan pujian, penghapusan dosa, ucapan syukur dan permohonan rahmat. Bahasa Latin adalah bahasa mati (tidak berkembang). Imam adalah mediator antara manusia dan Tuhan dalam Ekaristi. Beberapa bahan meditasi dan kontemplasi (meditasi: berfikir, sedangkan kontemplasi: melihat) adalah hidup, sengsara dan kebangkitan Kristus, standar setan vs standar Kristus, tiga kelas manusia (“no made use of any means”, “not to decide to give up sum of money in order to go to God” dan “ accepting anything or relinquishing it”), kerendahan hati (subject and humble myself as to obey the law of God; promote equally the service of God our Lord and salvation of my soul; desire and choose poverty with Christ: poor rather than riches, insult with Christ rather than honours). Retret ditutup dengan “Benediction” dan saya harus meninggalkan tempat retret sebelum makan siang untuk mengejar pesawat ke Jakarta. Saat makan pagi di hari kedua, saya harus menahan senyum (juga di beberapa kesempatan lain), tetapi ketika berpikir bahwa saya tidak mengerti mengapa saya ada di sana, saya tidak dapat menahan air mata. Saya hanya bisa percaya bahwa ada hikmah yang dapat saya peroleh. Saya mendapat jawabannya ketika pengarahan tentang dua standar. Saya mengatakan kepada Rm. Dolotina bahwa saya sudah mengambil keputusan, ketika tiba waktunya untuk melakukan “discernment” diantara dua pilihan sebagaimana prosedur retret Ignasius. Sebagai informasi, pada tanggal 7 Juli 2007, Paus Benediktus XVI mengeluarkan “Motu Proprio, Summorum Pontificum”, yang menegakkan kembali Misa Tridentine “in its legal right” dan menyatakan Misa Tridentine tidak pernah dibatalkan.

Ossining - New York, 22 Agustus 2007


Linda AB, M.M.
Let’s make God’s love visible