Sharing: Retret Komunitas Tritunggal Maha Kudus

Saya beruntung bisa mengikuti retret Komunitas Tritunggal Mahakudus di Pertapaan Karmel Tumpang pada 18 – 20 November 2005 meskipun saya baru bergabung dengan sel Yohanes Salib bulan Agustus 2005 (dan tidak bisa lagi mengikuti pertemuan sel karena bersamaan dengan jadwal kursus mandarin).
Setelah sempat kebingungan mencari tumpangan untuk berangkat retret akhirnya saya berangkat dengan Roy sekeluarga dan Ninik, yang merupakan teman-teman di sel Yohanes Salib. Kami tiba di Tumpang sekitar jam 18.30 bbwi langsung ikut misa meskipun Rm. Yohanes Indrakusuma O. Carm sedang kotbah.
Sebulan terakhir saya selalu menangis bila memikirkan tentang panggilan hidup dan berkat Tuhan dalam hidup saya. Karenanya secara khusus saya meminta bimbingan Roh Kudus dalam menemukan panggilan hidup dalam misa 19 November 2005 pagi. Saya berharap bisa mendapat nubuat tentang panggilan hidup saya, tetapi ternyata tidak ada nubuat yang menyentuh saya dalam adorasi 18 November 2005 malam.
Sebelum misa pagi, saya sempat mengatakan pada Ninik, saya akan menerima apa kehendak Tuhan seperti Bunda Maria apapun panggilan hidup saya tetapi masalahnya adalah saya tidak tahu apa panggilan hidup saya.
Bacaan Injil hari itu diambil dari perjamuan kawin di Kana (artinya tidak sesuai dengan kalender liturgi) dan Rm. Yohanes berkotbah tentang teladan yang sudah diberikan oleh Bunda Maria, taat pada kehendak Allah (bedakan Luk 1 : 38). Romo juga mengatakan bahwa Allah Maha Tahu, Allah mengasihi manusia, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah (bedakan Luk 1 :37) tetapi mengapa kita masih merasa khawatir? Kalau orang tua yang jahat saja bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anakNya apalagi Allah?
Setelah misa, ada 2 session pengajaran yang diberikan oleh Rm. Yohanes dan saya sangat mengantuk saat session pertama untunglah ada break yang membuat mata bisa diajak kompromi.
Setelah session saya menanyakan pada Rm. Yohanes tentang intensi saya, kebiasaan menangis kalau mengingat panggilan hidup dan berkat Tuhan dalam hidup saya serta kotbah pagi ini tetapi Rm. Yohanes hanya menyatakan bahwa perlu konseling dengan seorang suster karena panggilan hidup memerlukan discernment (mengenal kehendak Allah).
Saat antri konseling dengan Sr. Vianey, P. Karm (beruntung saya bisa bertemu dengan Sr. Vianey setelah pencurahan Roh Kudus 22 Oktober 2005 sehingga saya bisa mendaftar konseling), saya makan sambil memikirkan soal panggilan hidup dan anehnya saya sudah tidak menangis lagi. Sr. Vianey menyarankan untuk menemui Sr. Stefani P. Karm yang secara khusus menangani panggilan. Saya berusaha menceritakan apa yang saya alami akhir-akhir ini, tapi Sr. Vianey tetap bersikeras untuk menemui Sr. Stefani, padahal untuk mendaftar konseling dengan Sr. Vianey tidak mudah karena penuhnya jadwal beliau J.
Kapel Maria Bunda Karmel yang biasanya dipakai untuk konseling, sedang ada adorasi bergilir, jadi Sr. Stefani tidak ada di sana. Saya dan Ninik mencoba mencari Sr. Stefani di kapel bawah tetapi tidak ketemu juga. Akhirnya Ninik melakukan adorasi sedangkan saya memutuskan untuk mencari Sr. Stefani ke resepsionis dan aula Yohanes Salib tetapi tidak ketemu juga. Akhirnya saya putuskan untuk tidur saja dulu baru nanti sore adorasi setelah mandi.
Baru beberapa saat membaringkan badan, Ninik datang ke kamar memberitahukan bahwa Sr. Stefani menunggu saya untuk konseling di aula Yohanes Salib, padahal Ninik tidak tahu saya ada dimana sewaktu dia membuatkan janji konseling dengan Sr. Stefani.
Akhirnya saya antri untuk konseling dengan Sr. Stefani. Saya sudah sempat berpikir, suara saya akan serak karena harus berbicara dengan agak keras mengingat hujan yang cukup deras. Saya konseling mulai jam 14.30 termasuk cerita tentang kesukaan saya dengan warna pink dan baru berakhir jam 16.30 karena aula akan segera dipakai untuk acara sharing kelompok Penghayatan dalam Ekaristi. Saya hanya meneteskan airmata sebentar selama konseling, terutama sewaktu didoakan. Sr. Stefani meminta untuk retret pribadi dengan tinggal di Tumpang dan mengikuti jadwal suster karena menemukan panggilan hidup butuh discernment. Saya minta waktu untuk dibimbing retret pribadi dalam tahun ini juga mengingat saya juga sudah tidak tahan kalau tiap kali mengingat panggilan hidup lalu menangis (pernah sampai 3 kali dalam sehari). Akhirnya kami sepakat setelah Natal dan Sr. Stefani akan memberikan brosur tentang Suster Putri Karmel. Yang menarik Sr. Stefani juga mengatakan bahwa di Bajawa – Flores ada suster yang memakai baju pink tetapi kontemplatif, jadi umat hanya bisa melihat dari jauh lewat kawat-kawat (seperti kamar pengakuan).
Saya kemudian menuju kapel MBK untuk sharing kelompok dan dilanjutkan dengan pengajaran oleh Rm. Yohanes di aula Yohanes Salib.
Saat adorasi, saya meneteskan air mata ketika ada frater yang bernubuat ada gadis yang dipanggil untuk panggilan khusus. Setiap peserta retret lalu diberkati dengan Sakramen Maha Kudus dan didoakan satu persatu oleh Rm. Yohanes. Saya sempat akan resting in the spirit. Setelah acara adorasi selesai, saya mencari frater tersebut, Fr. Brandon, CSE, dan menanyakan tentang nubuat itu dan menceritakan apa yang saya alami. Fr. Brandon menyarankan untuk retret pribadi karena panggilan hidup butuh discernment dan tidak bisa dicari jawabannya dari orang lain tetapi beliau yakin ada yang dipanggil secara khusus meskipun tidak tahu siapa orangnya.
Sr. Stefani memberikan brosur tentang Suster Putri Karmel lewat Ninik setelah selesai pengajaran tentang Kuasa Penyembuhan Ekaristi 20 November 2005 pagi.
Umat yang hadir dalam misa minggu pagi mencapai ratusan orang. Saat adorasi setelah komuni, ada nubuat ada 2 pemudi yang dipanggil secara khusus tapi saya tidak merasakan seperti apa yang disampaikan dalam nubuat (jantung berdebar-debar atau menangis seperti saat ada nubuat tentang panggilan sewaktu misa Pantekosta di Tumpang tahun 2004).
Setelah misa, saya memberitahukan kepada Sr. Stefani, yang sudah memanggil saya dengan miss pink, tentang konfirmasi retret pribadi. Sr. Stefani juga mengatakan tidak perlu mengatakan kepada orang tua dulu sampai saya mantap dengan panggilan hidup saya.

“Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka." (Wahyu 7 : 17)

Surabaya, 24 November 2005


Linda AB (linda_ab06@yahoo.com)
Stasi St. Aloysius Gonsaga Mojoagung, Paroki St. Yosef Mojokerto