Sharing: LKTD PMKRI St. Joseph Acupertino

Selama empat hari tiga malam, PMKRI cabang Bogor mengadakan LKTD sebagai acara tahunan, tepatnya dari tanggal 26-29 April 1990 di Wisma Sengked, Darmaga, Bogor.

LKTD kali ini selain diikuti oleh anggota PMKRI cabang Bogor juga diikuti oleh angota PMKRI cabang Lampung dan Palembang serta mahasiswa Katolik non PMKRI, yang semuanya berjumlah 27 orang. Sebagian besar peserta berkumpul di Marga Putra Riau II/3 untuk kemudian bersama-sama menuju Wisma Sengked lebih kurang 12 km dari Bogor.

Setelah beristirahat sejenak, diadakan upacara pembukaan dimana semua peserta wajib memakai pakaian putih hitam meskipun panitia berpakaian bebas. Dalam kesempatan ini diadakan pengangkatan ketua OC dan ketua SC (Christina Maria).

Acara yang rutin adalah renungan setiap pagi, pendalaman KS yang diberikan oleh Sr. Angela, RGS (tapi untuk hari pertama ditiadakan), ceramah dan diskusi setiap akhir ceramah, serta dinamika kelompok.

Renungan diberikan oleh ketua SC, kecuali hari terakhir, selama +/- 30 menit yang diawali dengan doa dan lagu pembukaan. Tugas Titus di Kreta adalah bacaan yang diambil untuk Renungan di hari ke-2. Renungan ini mengajak kita untuk berani menghadapi kesulitan dengan keyakinan bahwa Tuhan pasti menolong.

Pembicara yang tampil dalam LKTD ini adalah P. Alex Paat, Pr yang mengupas masalah Kristianitas, Bpk. P.N. Winarno dengan topik Teknik Dokumentasi, M. Soedibyo membawakan ceramah tentang Pancasila dan UUD’45, Cyrillius I. Kerong mengupas masalah dunia kemahasiswaan, Gaudens Woder dengan strategi dan kebijakan PMKRI secara Nasional, Romo Sandyawan membicarakan soal kemasyarakatan, Komisi Kepemudaan Keuskupan Bogor juga ikut menjadi pembicara, yang diwakili oleh Bpk. Yunus serta ceramah tentang keprofesian oleh Stefanus Faruk.

Selain itu juga ada Public Speaking, cara berbicara di depan umum, peserta dibagi dalam kelompok kecil untuk kemudian mempraktekkan public speakingnya. Baru kemudian secara pleno, meski tidak semuanya mempraktekkannya.

Pendalaman Kitab Suci pada hari ke-2 mengambil tema Gembala yang baik dan yang jahat (Yeh 34: 3-6, 11-16). Kita diajak untuk melihat korelasi antara gembala yang baik dan pemimpin sejati. Seperti Yesus-lah sifat pemimpin sejati yang mau melayani, taat, sabar, bertanggungjawab, dll. Pada hari ke-3 tema PKS adalah tanggungjawab terhadap masyarakat. Kali ini kita diajak untuk melihat masalah-masalah yang sedang hangat-hangatnya disorot oleh media massa seperti tukang becak dan pedagang asongan. Sr. Angela, RGS mengatakan kita boleh introspeksi tapi jangan terlalu lama, berbuatlah meski kecil tapi itu berarti, jangan hanya menelorkan ide-ide saja. PKS ditutup dengan menyanyikan lagu “Padamu Negeri” sambil bergandengan tangan dan memegang Bendera dan Kitab Suci, yang kemudian dilanjutkan dengan mencium Bendera dan Kitab Suci. Benar-benar mengharukan.

CERAMAH

Dalam ceramahnya tentang Kristianitas, P. Alex Paat, Pr mengawalinya dengan pengalamannya ketika berbincang-bincang dengan sutradara opera “Jesus Christ Superstar” yang tidak percaya kalau Kristus bangkit, padahal kebangkitan Kristus adalah inti iman Kristen.

Problem-problem manusia sekitar masalah existence, pain, death, and truth dijawab secara tuntas oleh Kristus, lewat Dialah Wahyu Allah diturunkan tanpa ditulis.

P. Alex yang membawakan ceramahnya dengan sangat menarik ini juga mengemukakan problema-problema yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dan apa yang bisa dilakukan mahasiswa. Mahasiswa harus mempunyai peran dan tanggungjawab dalam kehidupan politik. Mahasiswa Katolik diharapkan juga berpolitik meski politiknya harus lain dengan ciri-ciri politik parpol dan Golkar karena Paus sendiri mengharapkan kita menjadi 100% warga gereja dan warganegara. Politik mahasiswa haruslah dimotivasi dan berorientasi pada kepentingan umum.

Sedang Romo Sandyawan membuka ceramahnya dengan kejadian-kejadian yang membuat beliau terjun ke masalah-masalah sosial. Ceramah kebanyakan diisi dengan suka duka beliau ketika terjun ke masalah-masalah sosial. Yang paling menarik adalah ketika mengatasi masalah becak. Hanya dengan berlima, Romo Sandyawan mengantar para tukang becak ke DPR. Ketika ceramah juga diperdengarkan rekaman ketika menghadap DPR. Bagaimana para tukang becak itu berkata dengan lugunya kepada wakil-wakilnya yang duduk di DPR, yang terkadang membuat sebagian peserta LKTD tertawa, ada yang berpantun bahkan ada yang menangis. Memang masalah tukang becak di Jakarta cukup rumit. Sayang sekali dalam kesempatan ini Romo Sandyawan tidak mengajak Sulastri (korban penganiayaan) yang menurutnya sudah fasih dalam menceritakan musibah yang dialaminya.

Dalam LKTD ini juga ada tugas melobi dengan topik yang bermacam-macam, yang terkadang tidak sesuai dengan yang melobi. Tugas ini diberikan tidak dalam waktu yang bersamaan. Pada hari terakhir diadakan evaluasi hasil lobi.

Peserta juga diwajibkan membuat penilaian terhadap setiap acara yang diadakan sepanjang hari itu, selain itu juga ada tugas notulensi.

Agar para peserta dapat saling mengenal lebih dekat maka diadakan pertukaran kamar serta teman sekamar, dan tiap hari kebersihan dan kerapian kamar dinilai.

Mungkin yang perlu mendapat perhatian pada LKTD yang akan datang adalah soal kedisplinan waktu.

Setelah semua acara selesai, maka sebelum diadakan upacara penutupan, dipersembahkan Misa oleh pastor moderator PMKRI cabang Bogor, yaitu Pater Yustinus Semiun, OFM, kebetulan bertepatan dengan hari Minggu Paskah III. Dengan diketukkannya palu oleh Ketua DPC PMKRI cabang Bogor maka berakhirlah LKTD PMKRI cabang Bogor. Peserta telah kembali ke rumah masing-masing membawa sejuta kenangan, suka dan suka serta keinginan untuk berbuat sesuatu meski kecil tapi nyata lewat follow up. PRO ECCLESIA ET PATRIA.

Hong Kong, Aug 24, 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

P.S. Artikel ini ditulis ulang dari arsip di tahun 1990-an.