Renungan 2016: Hari Sabtu Suci

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari http://www.lentreflections.com/

Dia turun ke Tempat Penantian
Hari ini kita memperingati Hari Sabtu Suci, jeda yang tenang dan penuh duka antara Jumat Agung dan Minggu Paskah.  Saya tidak akan membagikan refleksi saya hari ini melainkan akan membagikan sebuah homili kuno, yang tidak diketahui penyusunnya.  Ini akan menghidupkan kalimat dalam doa Aku Percaya: “Dia turun ke Tempat Penantian.”

Apa yang terjadi?  Hari ini sangat tenang di seluruh bumi, sangat tenang dan hening, sangat tenang karena Sang Raja sedang tidur; bumi sedang ngeri dan hening, karena Allah, yang tidur dalam daging, membangkitkan mereka yang sedang tidur sejak lama sekali.  Allah telah mati dalam kedagingan dan tempat penantian bergetar.

Dia sungguh-sungguh pergi mencari orang tua awali kita seperti domba yang hilang; Dia berharap untuk mengunjungi mereka yang duduk dalam kegelapan dan dalam bayangan kematian.  Dia, yang adalah Allah dan anak Adam, pergi untuk membebaskan narapidana Adam dan teman narapidananya Hawa dari kesakitan mereka.

Tuhan mengunjungi mereka dengan memegang senjata kemenanganNya, salibNya.  Adam, manusia pertama, menepuk dadanya dengan ketakutan ketika melihatNya dan berteriak: “Tuhanku besertaMu” dan Kristus menjawabnya: “Dan bersama rohmu.”  Dia memegang tangannya dan membangkitkannya dengan berkata:

“Bangunlah, o yang sedang tertidur, dan bangkitlah dari kematian, Kristus akan memberimu terang.
Aku Allahmu, yang menjadi anakmu untuk kepentinganmu, yang untukmu dan untuk keturunanmu sekarang berkata-kata dan memerintah dengan kekuasaan kepada mereka yang berada dalam penjara: Marilah, dan kepada mereka yang dalam kegelapan:  Terimalah terang, dan kepada mereka yang sedang tidur: Bangkitlah.
Aku memerintahmu: Bangkitlah, o yang sedang tidur, Aku tidak menciptakanmu untuk dipenjara dalam dunia orang mati.  Bangkitlah dari kematian; Akulah kehidupan bagi yang mati.  Bangkitlah, o manusia, ciptaanKu, bangkitlah, kamu yang diciptakan menurut citraKu.  Bangkitlah, marilah segera pergi; karena kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu, kita adalah satu orang yang tidak terbagi.    
Untukmu, Aku Allahmu menjadi anakmu; untukmu, Aku Tuanmu menjadi sama sepertimu: seorang hamba; untukmu, Aku yang berada di surga datang ke dunia dan ke tempat penantian; untukmu manusia, Aku menjadi manusia tanpa pertolongan, hidup diantara para arwah; untukmu yang meninggalkan taman, Aku diserahkan kepada para Yahudi di taman dan disalibkan di taman.
Lihatlah pada ludah yang ada di wajahku, yang kuterima sebagai upaya mengembalikanmu pada nafas ilahi pertama pada saat penciptaan.  Lihatlah pada tamparan yang ada di pipiku, yang kuterima untuk mengembalikan kerusakanmu pada citraku.
Lihatlah luka pada punggungku, yang kuterima untuk memecah beban dosa-dosa yang ada di punggungmu.  Lihatlah tanganku yang dipaku pada pohon untuk tujuan yang baik bagimu, yang telah menggapaikan tanganmu ke pohon untuk kejahatan.
Aku tertidur di kayu salib dan sebuah pedang menusuk lambungku, untukmu, yang tertidur di surga dan menciptakan Hawa dari sisimu.  Lambungku menyembuhkan sakit di lambungmu; tidurku akan membangunkan tidurmu di taman Eden; pedangku telah mengalahkan pedang yang terarah kepadamu.
Tetapi bangkitlah dan marilah kita pergi.  Musuh telah membawamu pergi dari taman Eden; Aku akan mengembalikanmu, tidak lagi di taman Eden, tetapi di surga.  Aku menolakmu di pohon kehidupan, yang merupakan sebuah figur, tetapi sekarang Aku bersatu denganmu, Aku yang adalah kehidupan.  Aku menempatkan para kerub untuk menjagamu karena mereka adalah para hamba; tetapi sekarang Aku akan membuat para kerub memujimu karena mereka adalah Allah.

Tahta kerub telah disiapkan, para penggiring telah siap dan menunggu, panggung pengantin telah siap, makanan telah disiapkan, rumah-rumah dan ruangan-ruangan abadi telah siap, barang berharga yang baik telah dibuka, kerajaan Allah telah disiapkan sejak lama.”