Renungan 2016: Jumat Agung

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari http://www.lentreflections.com/

Musuh Terakhir
Allah membenci kematian dan tidak ingin berhubungan dengannya.  Berikut ini adalah kata-kata nabi Yehezkiel:   “Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, ….  (Yeh 37 :12)  Ini dikatakan setelah pemandangan yang menakjubkan tentang tulang-tulang kering yang hidup kembali.

Ada sebuah petunjuk penting dari pemandangan di atas.  Tulang-tulang kering ini ada di tempat itu karena telah terjadi pertempuran di tempat itu.  Kematian, ketakutan akan kematian, dihadapkan pada kematian menguasai manusia dan menjadi dasar dari dosa dan penindasan.   Berpikirlah sejenak: semua dosa berasal dari ketakutan akan kematian.  Setiap tirani, yang pernah ada, telah berhasil menimbulkan ketakutan akan kematian dalam diri masyarakat.

Tetapi bagaimana kalau kematian, sebagaimana yang kita ketahui dan alami, bukanlah yang Allah maksudkan.  Bagaimana jika ada sesuatu yang Allah ingin lakukan sekali saja dan untuk semua orang dalam rangka menghapuskan kematian?  Kitab Kejadian menyatakan bahwa kematian berasal dari dosa.  Ingatlah bahwa kematian bukanlah pembubaran badan, yang tampak sebagai bagian dari proses alami.  Kematian sebagaimana yang kita alami, sebagai sesuatu yang menakutkan dan mengerikan – dikarenakan kita telah berpaling dari Allah.

Pada hari Jumat Agung ini, penting untuk mengingat bahwa Yesus datang sebagai pendekar, yang musuh terakhirnya adalah kematian.  Saya tahu betapa mudah menganggap Yesus sebagai guru moral yang baik dan memberi inspirasi, tetapi ini bukan sebagaimana yang dipaparkan dalam Injil.  Dia adalah pendekar kosmis, yang telah datang untuk berperang melawan semua kekuatan yang menghalangi kita untuk hidup sepenuhnya.

Sepanjang Injil, Yesus berhubungan dengan pengaruh-pengaruh kematian dan budaya yang terobsesi pada kematian : kekerasan, kebencian, egoisme, pengusiran, agama dan komunitas palsu.

Tetapi musuh terakhir yang harus dihadapinya adalah kematian itu sendiri.  Dan dia menghadapinya di atas kayu salib.